
Keesokan harinya Vania terbangun lebih pagi dari biasanya, Devan memeluk erat tubuh Vania seperti tidak ingin istrinya pergi kemana pun, terpaksa Vania tetap di posisi nya agar suaminya tidak terbangun. Vania memandang wajah Devan dengan lembut tangan Vania membelai pipi Devan, tanpa disadari air matanya tiba-tiba menetes , membayang kan suaminya akan menikahi perempuan lain
Seperti tidak ada pilihan Vania mau tidak mau harus terima, karena jika dia egois banyak orang yang akan menderita. awalnya air mata Vania saja yang mengalir, tapi lama-kelamaan isak tangis Vania sudah tidak bisa tertahan lagi, membuat Devan terbangun.
"Sayang , kamu kenapa? apa ada yang sakit?" dengan muka yang sangat panik Devan menghapus air mata Vania.
"Aku ga apa-apa Dev, aku cuman membayang kan saja kenyataan bahwa akan ada wanita lain di hidup kita" ucap vania
"sayang itu tidak akan pernah terjadi, hanya kamu dan anak kita saja yang ada dalam keluarga kita. Devan mengelus perut Vania
"Tapi bagaimana dengan ancaman ayah kamu dev?
"Kita akan pulang ke indonesia, aku masih memiliki saham di sana , dan aku rasa itu bisa membuat perusahaan gutama tetap kuat.
"Benarkah sayang kita akan pulang? tanya vania dengan wajah yang sangat Berseri-seri.
"Aku sudah menyuruh Marvin mempersiapkannya hari ini, jadi kamu harus selalu bahagia , aku tidak mau anak aku nanti ikut menangis didalam sana. ucap devan menerangkan.
Tidak membuang kesempatan Devan pun menarik tubuh Vania lalu mencium bibir vania dengan lembut, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Vania sampai kapan pun,
"Dev pelan-pelan, aku takut kenapa-kenapa sama anak kita" ucap Vania dengan sedikit mendesah karena mereka sedang berada di puncak kenikmatan.
"Aku sudah sangat pelan sayang, memang punya kamu nya aja yang selalu sempit, membuat aku harus harus mendorongnya dengan sedikit tenaga. ungkap Devan yang terus melalukan gerakan yang membuat Vania melayang.
Hentakan demi hentakan di lakukan oleh Devan, rasanya Devan tidak ingin berhenti, tetapi Devan tidak ingin egois karena jika terlalu lama takut pengaruh ke anaknya yang masih di dalam perut, Sampai lah mereka di puncak kenikmatan, setelah mengeluarkan, Devan ambruk di samping vania, memeluk tubuh istrinya, tidak lupa mengucapkan terimakasih, lalu mencium puncak kepalanya. Vania yang di buat lemas oleh Devan akhirnya memilih untuk tidur kembali di dalam pelukan sang suami, yang selalu membuatnya nyaman
***
Pagi pun tiba, waktu menunjukan pukul 9 pagi, Devan terbangun dari tidurnya karena terdengar suara ponsel nya yang terus menerus berdering, didalam kamar mandi terdengar suara gemercik air, karena Vania sedang mandi. Devan memakai jubah tidur nya lalu mengangkat ponselnya.
__ADS_1
"Halo marvin , bagaimana?
"Maaf tuan, untuk pesawat pribadi sudah di blok oleh pak max" ucap marvin dengan nada terbata.
"Itu artinya saya dan Vania tidak akan bisa keluar dari negara ini" ucap Devan sambil memijat kening nya.
"Betul tuan, Hanya tuan Rafa yang bisa meyelamatkan anda saat ini , karena kekuasaan dia lebih tinggi dari pada tuan max, tetapi tuan Rafa sedang berobat.
"Tidak apa-apa marvin, paman alex mengatakan hanya butuh waktu 2 bulan, untuk om Rafa berobat di jerman, yang harus kamu lakukan jangan sampai ayah saya mengetahui paman Rafa masih hidup, kalau tidak alat komunikasi kita bisa di blok" Devan memberikan perintah kepada tangan kanannya tersebut, sambil memutus sambungan teleponnya.
Vania keluar dari kamar mandi, wajah begitu bahagia karena , sesuai apa yang di ucapkan Devan, bahwa hari ini dia akan pulang ke indonesia. Devan berjalan menghampiri istrinya yang sudah begitu cantik lalu memeluknya.
"Maafkan aku , Ayah telah memblok jet pribadi aku, kemungkinan nama kita juga, aku tidak bisa menepati janji ku lagi"Devan memeluk erat tubuh istrinya agar istrinya bisa mengerti.
Vania yang tiba-tiba mendengar kabar itu, langsung merasa sedih, kini hidupnya memang tidak ada pilihan, selain membiarkan suaminya menikahi pilihan ayah max. Vania perlahan mengangkat tangan nya mengelus pundak sang suami.
"Hanya kamu sayang, tidak akan ada yang lain" Devan pun sudah tidak bisa menahan air matanya.
Vania yakin di balik cobaan yang menimpanya, pasti akan ada hadiah terindah. Suara ketukan pintu terdengar, asisten rumah tangganya.
"tuan di bawah ada tuan besar max, menyuruh anda cepat turun"
"Baiklah "jawab Devan
Devan menggandeng tangan istri dan masuk kedalam Lift,
"Sayang aku mohon kamu jangan pikirkan hal ini, lalu menjadi stres tidak baik pertumbuhan anak kita, saya hanya akan menikah, dan tika akan melakukan hal seperti kewajiban suami, Istri aku cuman kamu aja.
Vania tersenyum lalu mencium bibir Devan singkat"aku percaya itu sayang" Vania menggenggam erat tangan devan. Akhirnya sampailah mereka di ruang utama, dimana ada ayah max, wali kota tom, dan maria.
__ADS_1
Ayah max langsung berdiri, lalu Devan mengikuti nya menuju ruangan bekerja, sebelumnya Devan meminta Vania untuk menunggunya. Vania hanya tersenyum lalu melanjutkan duduk di Ruang keluarga.
"Nyonya tuan menyuruh anda untuk meminum susu hamil dan beberapa buah-buahan" ucap sang kepala pembantunya.
"Baiklah bi, terimakasih" Vania pun meninggalkan maria dan ayahnya di ruang keluarga dan berjalan menuju dapur.
Di ruang kerja ayah Max dan Devan sedang bersitegang.
"Ayah apa maksudnya dengan memblok perjalan luar negri Devan"tanya Devan dengan suara keras.
"Karena Ayah tidak mau kalau kamu pergi"ucap ayah.
"Tolong yah, dari kecil Devan belum pernah mendapat kebagian, Devan tidak mau apapun , devan hanya ingin hidup devan Bahagia dengan wanita yang devan cintai dan anak Devan nanti. jelas Devan
"Walaupun kamu nantinya akan hidup miskin , karena tidak mendapatkan apapun dari ayah?
"Jika harus saya meninggalkan semua ini, tetapi ayah mengizinkan saya untuk hidup bahagia dengan keluarga kecil saya, dengan tidak memaksa saya menikahi perempuan lain, maka saya akan melepaskan semuanya" ucap devan dengan suara yang begitu tegas.
Devan menarik nafas nya, lalu berusaha berbicara lagi dengan suara bergetar. "Saya bukan lah Ayah yang rela meninggalkan ibu demi harta, hingga ibu harus menderita penyakit keras, dan mengurus saya sendiri lalu akhirnya meninggal"
"Cukup Devan, baiklah Ayah akan melihat kamu dalam 6 bulan , jika kamu memang kuat dan bisa bertahan hidup susah selama 6 bulan itu, maka ayah akan menyerah dan membiarkan kan mu hidup bahagia dengan pilihan mu"ucap ayah sambil pergi
Ibu devan sebenarnya adalah orang indonesia, Max pergi meninggalkan ibu nya Devan dalam kondisi sedang mengandung, cinta mereka tidak di restui oleh orang tua max.
Max di ancam akan di hapus dari keluarga jika tidak meninggalkan Diana ibunya Devan, akhirnya Max memilih kembali ke keluarganya, meninggalkan Diana yang sedang mengandung Devan, hal ini menjadi penyesalan terbesar dalam hidup Max karena pada saat dia bisa berdiri sendiri, Diana telah meninggal.
__ADS_1