
Devan memegang tangan vania, dan kini mereka saling menatap. tidak pernah devan melihat sorot mata vania yang begitu sedih dan rapuh, dalam hati devan mengatakan mana sanggup untuk melakukan balas dendam dengan cara menyakiti vania, melihat seperti ini saja devan sudah tidak sanggup.
"lupakan saya, saya tidak bisa bersama kamu"devan menatap tajam dan memegang erat tangan vania
"kamu pikir hati semudah itu, dan alasan nya apa"
"saya lelaki berengsek, bahkan saya bisa melakukan tanpa bertanggung jawab"
"lakukanlah, saya tidak yakin kamu lelaki seperti itu"vania membuka kancing kemejanya satu-satu.
"baiklah kamu yang meminta"
devan mencium vania, dari bibir, lalu ke leher membuat vania terbuai dan mengalungkan kedua lengan keleher devan, tangan devan membuang kemeja vania kesembarang arah, lalu menampakan kain berenda yang di dalamnya terdapat 2 gundak yang menyembul, devan menurun kan talinya dari pundak vania dengan mudah devan melepaskan pengait yang berada di belakang tanpa menjauhkan bibirnya dari yang menyembul itu.
setelah berhasil terlepas devan meraup puncaknya, membuat vania meremang dan mendesah.
__ADS_1
"Devv" vania memegang rambut devan karena merasakan tidak tahan di bagian bawahnya.
dan kini tinggal segetiga pelindung vania yang belum terlepas, pada saat devan akan membukanya, tangan vania menahan tangan devan, devan memandang wajah vania, melihat semua tanda merah di tubuh vania, devan pun menarik selimut lalu menutup tubuh vania dengan selimut itu.
vania menutup wajah dengan kedua tangannya lalu menangis, devan memasuki kamar mandi lalu mengguyur kepalanya dengan shower. mendinginkan tubuhnya yang panas, sungguh devan merasa tidak akan pernah bisa terlepas dari vania. pada saat devan hanya merasakan bibir vania , bibir merah itu lah yang selalu devan rindukan, dan sekarang tubuh vania devan sudah merasakan pasti akan merindukan nya lagi.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, devan mendekati vania yang sedang tertidur , tubuh vania masih belum menggunakan pakaianya devan membaringkan tubuhnya di samping vania lalu menarik tubuh vania agar berada dalam pelukannya.
"jangan lakukan itu lagi, aku takut, aku hanya ingin memberikan pada lelaki yang mau menikahi ku" vania melingkarkan tangannya ke pinggang devan.
"tolong ambil pakaianku" ucap vania sambil menatap wajah devan yang ada di atas nya
Devan merapihkan pakaian vania, vania pun membalikan badannya agar bagian depan yang tadi telah devan nikmati tidak terlihat oleh devan.
"aku sudah melihat jelas semuanya buat apa malu lagi" ucap devan menggoda.
__ADS_1
"kalau tadi kan lagi engga sadar, kalau sekarang aku malu" dengan posisi membelakangi devan vania memakai pakaiannya.
belum selesai vania memakai kemeja nya devan memeluk vania dari belakang menjadikan pundak vania untuk menumpu dagunya.
"aku akan menikahi kamu, tetapi aku ingin kamu melepaskan keluarga gutama, aku ingin kamu pergi bersamaku ke inggris menetap di sana"
deg jantung vania seolah berhenti, tidak mungkin dia memilih antara orang tuanya atau devan. vania membalikan badannya agar bisa melihat devan.
"dev aku mohon ,, aku tidak mungkin memilih"
"aku hanya bisa memberikan mu pilihan itu, untuk sekarang tidur lah ini sudah malam"
vania membuang nafas kasar ke udara, lalu membaringkan tubuhnya kembali di sisi devan, tetapi saat ini dengan posisi membelakangi devan.
devan yang tahu vania sedang merajuk, langsung menarik tubuh vania.dan kini keduanya telah tertidur pulas.
__ADS_1