Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 1 : Awal Pertemuan


__ADS_3

"Whattt! Bagaimana aku harus menikah dengan usiaku yang sekarang?" Siska memberontak bersikeras untuk menolak perjodohan itu


"Tapi nak, ini demi masa depanmu"


"Enggak mommy" berbagai ucapan yang sebisa mungkin Siska lontarkan agar mommy dan Dadynya tidak memaksa dia menerima perjodohan itu.


Mommy dan Dadynya tidak bisa berkutik dan memilih untuk diam saja, tetapi yang pasti Siska tetap harus menerima perjodohan itu.


Siska tetap terus saja memilih untuk mencari berbagai alasan walaupun kedua orangtuanya sudah mantap untuk menjodohkannya dengan seorang pengusaha miliarder muda


"tapi mom, Siska masih ga berniat buat nikah"


Tanpa menjawab pertanyaannya, mommy dan dadynya saling bertatapan dengan kode mata dan kompak meninggalkan Siska yang termangu kebingungan di ruang besar itu


"Akhh mom, dad come on! ayolahh" akan tetapi satu pun tak ada yang menggubris kata-katanya.


Siska adalah seorang gadis cantik namun tidak memiliki kemampuan di bidang apa-apa (di sini, Siska bukan berarti tidak memiliki keahlian. Hanya saja dia terlalu malas untuk melakukan usaha). Dia masih berusia 22 tahun dan baru saja mengakhiri studynya di luar negeri di universitas Boston di Amerika serikat. Wajar saja kalo sifatnya suka bersenang-senang, dan mau hidup bebas. Dia merupakan putri semata wayang dari orangtuanya Herlino Duckwill dan Jenita Duckwill. Dadynya seorang pengusaha sukses yang telah membangun berbagai cabang baru buat usahanya, dia seorang blasteran Indo-Jerman dan menikah dengan momynya yang asli orang Jakarta tanpa pertalian darah dari negara manapun.


Keduanya saling bertemu ketika dua-duanya menempuh pendidikan kuliah sewaktu masa-masa ospek di salah satu kampus ternama Indonesia, setelah lulus keduanya baru menikah. Entah bagaimana perjalanan cinta mereka.


✨✨✨


"What's wrong?" Siska menelan ludah untuk kesekian kalinya. Di usianya yang masih muda yang baru saja menginjak usia 22 tahun, haruskah dia menikah? Oh no no no itu jangan sampai terjadi.


Siska melakukan berbagai cara untuk lari dari masalah yang sedang dia hadapi, kira-kira begitulah dianggapnya perjodohan itu.


Dia melangkah mantap menuju garasi mobil setelah menganti pakaian terlebih dahulu. Dengan sentuhan make up yang tak terlalu menor, di sertai gaun merah yang sepaha di sertai juga Haigh-less, semua yang dikenakannya adalah barang-barang branded yang membuat dia tampil tampak seksi dan elegan.


"Pak, siapkan mobil yang biasa ku setir"


"Iy... Iya non" dengan tergopoh-gopoh seorang supir yang di pekerjakan di rumah besar itu berlari menuju garasi mobil


"Sudah siap non"


"Ok, kamu boleh pergi sekarang. Aku akan menyetir sendiri"


"Tap...tapi non, Mr. Herlino..."


"Jangan di permasalahkan, itu masalah kecil"


"Tapi non, saya harus mengan..."


"Udah siap basa-basinya? Udah sana pergi" tanpa memperdulikan supir tersebut.


Supir itu hanya mematung melihat mobil yang di setir Siska tak terlihat lagi melaju di atas jalan raya. Dia merasa tidak enak hati dengan Mr. Herlino karna tidak bisa menjalankan perintahnya.

__ADS_1


Akhir-akhir ini, Siska memang agak di batasi untuk keluar rumah sesuka hatinya. Terlebih dengan dadynya yang berinisiatif sangat protektif terhadap Siska. Dia tidak mau Siska kembali ke kebiasaan lamanya yang sering mendatangi kelab malam, berbagai cara telah di upayakan namun sia-sia saja tanpa hasil. Hingga dia kembali mendengar bahwa anaknya telah pergi ke kelab.


✨✨✨


Di waktu yang sama, di sebuah bangunan yang di bangun bertingkat-tingkat yang menghadap langsung bagian selatan daerah Jakarta. Di dalam ruangan besar yang bertepat di lantai paling atas tempat direktur utama mengadu kesibukannya.


Jarum jam menunjukkan angka 22:10 WIB. Tetapi ruangan itu masih memiliki tanda kehidupan di dalamnya di tambah dengan suara papan keyboard komputer yang di tekan oleh ke sepuluh jari jemari


"Permisi tuan, ini udah jam 22:10"


"Kamu boleh pergi"


"Tapi tuan bagaimana?"


"Masih ada beberapa pekerjaan dan berkas yang harus ku periksa, kamu duluan saja"


David, Asisten pribadi Mr.Vano mengangguk tanpa penolakan walaupun tadinya berniat untuk menunggu sampai atasannya itu pulang.


Vano di kenal dingin, tidak mau dengan hal yang basa basi. Mempunyai kebiasaan yang efesien, tegas dalam memimpin sebagai seorang direktur. Dia di kenal miliarder sebagai pengusaha sukses dan muda, tak jarang kalo kebanyakan perempuan yang berupaya mencoba berbagai hal untuk mendapatkan hati Vano walupun itu sia-sia saja tanpa hasil.


Bahkan untuk saat ini saham perusahaan yang tengah di pimpinannya naik secara signifikan, telah banyak cabang dia kembangkan di berbagai bidang.


Sejauh yang telah di ketahui, dia masih single atau pun masih dalam status lajang, dia tidak tertarik dengan masalah percintaan, dia hanya terfokus pada pekerjaannya sebagai seorang direktur.


✨✨✨


"Hei you, yes you are there.... bla bla bla" ucap Siska meracau ga jelas, dengan suara serak khas orang yang tengah mabuk Siska melontarkan kata-kata yang kurang mengenakkan untuk di dengar.


Untung itu di dalam kelab, karena suara musik yang keras yang di putarkan oleh seorang DJ jadi ucapannya tak ada yang mendengar. Semuanya sibuk untuk mencari sensasi diri masing-masing.


"Aku ga mau menerima perjodohan itu" lagi-lagi Siska meracau hingga kedua kakinya membawanya keluar dari kelab itu dan mencapai pinggiran jalan dengan mulut yang masih komat kamit.


BRAKKK!!


suara mobil yang tiba-tiba di rem tengah berusaha untuk berhenti, untung saja hanya menyerempet sedikit mobil yang di parkir sembarangan di sertai seorang gadis di samping mobil tersebut.


Dengan sesegera, Vano membuka pintu mobilnya lalu turun. Dia mau memastikan apakah tidak terjadi suatu kesalahan dari kejadian yang baru saja matanya saksikan. Vano memang di kenal dingin dan tidak mau berurusan dengan hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaannya, tapi di sisi lain dia tipe orang yang akan bertanggung jawab atas kesalahan yang dia lakukan.


"Maaf sebelumnya, apakah kamu baik-baik saja?" gadis itu mengangguk lalu tersenyum ga jelas dan tetap menjalankan aksi racaunya di hadapan Vano. Dari bau nafasnya saja, Vano tau bahwa gadis itu sedang mabuk.


"Emmm aak.. non.. nona" Vano agak risih harus mau bilang apa terhadap gadis itu, apalagi tangannya mulai liar ga jelas di atas dada bidang yang Vano miliki


"Pokoknya aku tidak mau itu! Aku tidak mau dijodohkan"


"Maaf?" Vano kebingungan dengan setiap kata-kata yang di ucapkan gadis itu

__ADS_1


"Siapa namamu?"


"Siska... Siska Amelia" walau tengah dalam keadaan tak sadar diri karna mabuk Siska masih bisa menjawab pertanyaan Vano. Vano agak tidak nyaman dengan tingkah gadis itu, memeluk tubuhnya yang kekar itu seenaknya. Kalo boleh jujur, ini lah pertama kali seorang gadis memeluk dirinya.


"Arkhhhhh!" Desah Vano jijik melihat muntahan Siska di atas jas warna biru dongker yang ia kenakan.


"Hei gadis! Kamu muntah di atas baju ku"


"Hahaha apakah itu jijik?"


"Arkhhhhh" Vano berdesah lagi sambil mencari sapu tangan di salah satu kantong jasnya lalu sibuk membersihkan muntahan tersebut.


Dia menepi sedikit dari gadis itu agar dia lebih leluasa membersihkan dirinya.


Sebenarnya dia berniat untuk menelfon David, asisten pribadinya untuk mengurus gadis itu. Tapi karna jarum jam udah menunjukkan angka 23:45 dia mengurungkan niatnya tersebut, dia berpikir bahwa David juga butuh istrahat setelah seharian penuh bekerja di perusahaan, benar-benar pengertian bukan?


"Hei mbak, mau kemana? Kamu masih belum membayar semua tagihannya" seseorang gadis lain berteriak dan menghampiri tempat Vano dan Siska berada


"Maaf?" Vano kebingungan dengan sedikit menaiki salah satu alis matanya yang tebal


"Mbak ini masih belum membayar tagihannya" ucap gadis itu menjelaskan sambil menyerahkan tas Siska yang tertinggal di dalam kelab ke tangan Vano.


Vano terkesiap kaget membelalakkan mata "tas ini? Tas ini punya siapa?"


"Mas ga tau ya... Tas ini milik kekasih mas, mbak yang ini" ucap gadis itu asal sambil menunjuk Siska yang tengah asyik memainkan tangannya di atas dada Vano


"Apa? Hei jangan sembarang kalo ngomong"


Yakali seorang Vano punya kekasih apalagi gadis yang tidak jelas, suka mabuk-mabukan seperti Siska


"Ohw maaf mas, saya pikir..."


"Udah-udah, berapa total tagihannya? Biar saja yang bayar?"


"Total tagihannya semua 20 juta"


"Apa?" Vano kaget setengah tak percaya mendengar semua tagihan untuk Siska.


Sebenarnya, bukan karena Vano tidak punya uang untuk membayar tagihan itu, baginya itu hanya hal kecil. Tapi hanya saja dia heran, bagaimana gadis itu bisa menghabiskan uang sebesar itu sampai dia bisa mabuk. Apakah Siska seorang yang kuat minum? Berapa botol yang dia habiskan?


"Baiklah ini, selebihnya ambil semua anggap aja itu uang TIP buat kamu" Vano memberikan uang kes kepada gadis itu lalu menerimanya sebelum beberapa saat dia pergi meninggalkan Siska dan Vano


"Terimakasih atas kerjasamanya dan terimakasih..."


"Iya iya, kami boleh pergi sekarang" potong Vano karena muak dengan gerak-gerik gadis itu yang mencoba menggodanya.

__ADS_1


__ADS_2