
Seharian penuh berlalu, akhirnya acara pernikahan pun selesai. Sebagian para hadirin mulai mengambil langkah untuk pergi yang sebelumnya sudah berpamitan dengan pemilik acara. Termasuk juga salam untuk orangtua kedua mempelai. Tuan dan nyonya Angkara serta tuan dan nyonya Duckwill.
Dan sekarang, kini kita beralih kepada pengantin yang sudah sah menjadi pasangan suami istri.
"Malam ini, kalian menginap di sini saja. Mommy sama Dady akan pergi. Lebih baik dan nyaman tidur di rumah saja. Ga apa kan Dady dan besan?" Hehehe mommy panggil ayah sama ibunya Vano dengan sebutan besan dari kemarin. Terlalu bersemangat karena putri dan putra mereka akhirnya menikah.
"Dady oke oke aja mom" limpah Dady setuju "besan bagaimana?"
"Saya sendiri ga keberatan kok. Iyah kan yah?" Kini ibu Vano berkomentar memberi anggukan setuju. Sedangkan yang disebut namanya pun tersenyum mengangguk.
Aaaww orangtua mereka ada ada sih, Vano udah dibikin makin ga sabaran lagi. Tau aja kek gimana keadaan Vano sekarang yang udah semakin tersiksa.
Siska bagaimana? Jelas Siska sudah malu dengan kata-kata orangtua mereka barusan. Masa tentang itu juga langsung dikata-katain, begitu terbuka juga.
Membayangkan melakukan itu dengan Vano membuatnya semakin merinding, apakah Vano tidak akan memberikannya celah habis itu? Kalo boleh pun, Siska sudah keluar dari hotel itu saja. Rasanya menginap di rumah sendiri lebih aman. Tunggu dulu waktu yang bagus hingga dirinya benar-benar siap melakukan itu. Akhh itu lagi, jadi malu.
"Dear hello hello" mommy mencoba menyadarkan Siska dari lamunannya "mikir apa dear, sampai bengong begitu? Hmmm"
"Ahh iy__iyaaa apa? Iya mom? Siska kenapa?"
Ceklakk huaaa so shy!! Begitu malu! Siska segera tersadar akan lamunannya itu.
Hahaha semuanya pun terkekeh tertawa hingga pun Vano ikut tertawa melihat tingkah Siska yang begitu kikuk di depan mereka. "Takut di apa-apain ya habis ini?" Goda Vano
"Ikh Vanoooo!"
"Udah udah, mommy dan kami semuanya akan segera pulang. Takut mengganggu aktivitas kalian malam ini" huaaa kata-kata mommy lebih membuat Siska kikuk jadinya
'mommy ga tau apa? Anak lagi nahan malu juga. Ngapain mesti bahas-bahas hal itu pula. Huff' Siska membatin kesal.
"Ingat ya dear, mommy cepat kepengen cucuk. Ngerti kan? Jadi berusaha malam ini"
"Aman mom, Vano akan berusaha menanam benih yang baik. Supaya cucu-cucu kalian entar bisa terjamin__ awww"
Dengan cepat kilat, tangan Siska mencubit pinggang milik Vano yang sekarang telah menyandang status menjadi suaminya itu. "Sayang kenapa sih main cubit segala. Ini nih sakit" ucap Vano dengan nada manja. Padahal itu cubitan ga sesakit ketika berteriak aww kalo di kira-kira. Siskanya sendiri cuma mencubitnya pelan saja.
"Rasain tuh. Mulut itu seharusnya di jaga!"
"Tega banget sama suami sendiri" huf
"Yaudah. Kami akan segera pulang. Nak Vano ayah akan kasih ijin untuk tidak bekerja di perusahaan selama tiga hari kedepan. Ayah akan meminta David untuk menghendel untuk sementara kegiatan perusahaan. Jika ada hal yang tidak bisa terelakkan barulah kamu keperusahaan" Vano pun menerimanya tanpa keberatan, apalagi hal ini membantunya sekali.
"Boleh yah, Vano ga keberatan" senyum smirk Vano menjadi jadi sesekali memandang ke arah Siska.
Sedangkan yang dilihat terlihat kikuk di tempat.
"Yasudah. Kami akan segera pergi. Baik-baik dengan menantu ayah dan ibu. Jangan sampai di buat lelah malam ini" tercengang iya, barulah Vano mendengar ayahnya berucap seperti ini. Iya kali ini pertama sekali bagi Vano.
Semuanya pun tertawa renyah satu sama lain.
Keempat orangtua itu pun berlalu dan pergi dari hotel itu. Dengan masuk ke dalam lift dan turun ke lantai dasar berhubung mereka sekarang tengah berada di lantai 19, lantai pertengahan hotel tersebut.
Sebelum berlalu pun, mommy masih sempat-sempatnya berbisik kepada anak dan mantunya itu.
"Ingat kata-kata mommy tadi ya. Mommy mau cucu, jadi buatkan cucu sama mommy. Pelan saja saat mencetak gol nantinya ya mantu, jangan buat putri mommy ini kesakitan"
"Mom!"Siska memekik kesal sekaligus malu dengan ucapan mommy.
__ADS_1
"Aman mom, Vano akan berusaha membuat Siska rileks hehehehe"
"Ih dasar. Mertua sama mantu sama saja" Siska makin sebel. Hahaha bukan sebel sebenarnya. Apa harus membahas hal yang iya-iya sampai segitunya, begitu intens dan jelas pula!
"Ok, sekarang mommy pulang yaa. Mau go ke rumah" satu kecupan untuk kening putrinya itu sebelum akhirnya benar benar berlalu dari tempat itu mengikuti suami dan kedua besannya yang udah lebih dulu berlalu.
***
Akhirnya tinggal Vano dan Siska lah yang tinggal. Suasana pun begitu canggung.
"Masuk yuk" Vano mengawali ucapannya dengan mengajak untuk masuk ke kamar di mana mereka akan tidur. Siska pun berjalan mengikuti Vano yang sudah lebih duluan masuk.
Masih dengan keadaan canggung. Vano kaku apalagi dengan Siska. Entah dimana semangat Vano yang tadinya berapi-api. Tapi entah kenapa hal yang dia inginkan sudah di depan mata malah ciut nyali untuk melakukannya.
Mungkin karna suasananya dingin yaa? Hehehe
"Emm aku__ak__uu mau berbesih dulu. Mau mandi" memecahkan kekakuan, Siska ingin sesegera berlalu ke kamar mandi.
"Mau ngapain?"
"Mau mandi, udah gerah pakai baju ini seharian"
"Ikut!!"
"Huahh?" Siska membelalakkan kedua matanya mendengar Vano yang ingin ikut mandi dengannya.
"Apa?"
"Mau ikut mandi sayang, apa ga boleh?" Jawab Vano dengan santai tanpa dosa. Mungkin jiwa berapinya kembali aktif.
Di dalam kamar mandi pun Siska ngos-ngosan mengatur ritme nafasnya yang tidak menentu. Seperti habis lari maraton yang berkilo-kilo jauh saja. Berdiri menghadap cermin yang terpajang di sebelah atas wastafel kamar mandi. Melihat wajahnya.
"Ahhh kenapa aku jadi deg degan begini sih? Kenapa begitu malu dengan Vano"
Otak milik Siska terus saja traveling kemana-mana. Huhuhu Siska kasihan yaa?
Lima belas menit berlalu, akhirnya Siska pun selesai mandi. Pelan-pelan memutar kenop pintu dan membukanya, lalu keluar dari kamar mandi. Melirik kesana kemari, namun matanya tidak menangkap sok-sok kehidupan seseorang.
'dimana dia? Loh kok ga nongol? Apa udah keluar?' mata Siska terus mencari dimana Vano ada. Tanpa mempedulikan bahwa dia masih belum memakai bajunya selain daster mandi yang disediakan oleh pelayan hotel yang ia kenakan.
"Vanooo?"
"Vanoo?"
"Sayang? Kamu ada dimana??"
Entah berapa kali nama itu ia panggil. Selang menit itu, matanya akhirnya melihat Vano tengah duduk lemas di bawah samping tempat tidur.
"Vano? Sayang kamu kenapa?" Siska mendekat kepada Vano saking cemas takut melihat Vano yang tiba-tiba lemas.
"Sayang, kamu sakit?" Siska mengarahkan punggung tangan kanannya ke kening Vano, akh tidak panas juga.
"Sayang kamu kenapa?"
Vano menatap wajah gadis itu akhirnya "aku mau itu"
Siska menurunkan tangannya dari kening suaminya itu buru-buru dan beringsut menjauh sedikit.
__ADS_1
"Kamu bilang apa sih sayang? Mau makan?" Siska mengalihkan suasana. Bukan gimana-gimana sih sebenarnya, tapi Siska masih mau butuh waktu untuk mempersiapkan dirinya untuk hal ini.
Vano menggelengkan kepala "bukan"
Siska makin beringsut kebelakang hingga akhirnya ia pun berhasil berdiri ketika Vano mulai memegang tangannya.
"Kenapa sayang? Kamu masih belum siap untuk__"
"Bilang apa sih Van_ sayang maksudku"
"Habis kenapa terus menjaga jarak?"
Siska terpaku diam saja tidak berucap apa-apa, bingung harus mau menjawab Vano gimana. Vano pun terdiam. Keadaan kaku kembali menguasai diri masing-masing.
"Ehemm" batuk Vano memecah kekakuan antara mereka "yasudah. Aku ga mau maksa kamu melakukannya malam ini kok sayang jika kamu belum siap. Aku akan menunggu saja ketika kamu sudah siap" ucap Vano singkat padat dan jelas, lalu berdiri menuju pintu kamar mandi ingin segera mandi agar rasa gair*h yang sudah tak bisa ia bendungkan sebenarnya menghilang.
Bagaimana dengan Siska? Yaa, perasaan bersalahnya pun meluap dalam dirinya. Haruskah ia menolak permintaan suaminya itu di kala suaminya itu sudah tersiksa sekali? Haruskah first night mereka dikisahkan dengan kisah kekakuan di antara mereka? Haruskah ia terus mempertahankan rasa egonya? Apakah gengsinya lebih utama dan penting? Vano adalah pria yang normal, bukan pria impo**n. Yaa wajar kalo ia mengingini hal itu.
"Sayang___"
Panggilan Siska menghentikan tangan Vano yang segera memutar kenop pintu kamar mandi lalu berbalik menghadap Siska. "Iya kenapa sayang?"
"Kamu__kaa_muu boleh___" Siska menggigit bibir bawahnya bergantian dengan bibir atasnya, mengatur nafasnya sebaik mungkin "kamu boleh melakukannya jika mau"
Betapa bahagianya Vano mendengar jawaban Siska sebagai lampu hijau baginya "apa kamu sudah siap sayang?"
Siska mengangguk mengiyakan dengan ragu tanpa sepatah kata.
"Aku berencana untuk tidak berhenti malam ini"
Siska hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan Vano barusan. Kata-kata Vano begitu mengerikan membuat dirinya bergidik ngeri, mungkin hal yang sebelumnya ia pikirkan tentang Vano yang tidak akan memberinya celah adalah hal yang benar.
Yasudah, udah terlanjur di iyain dan dianggukkan. Siska mengangguk kembali lagi.
Mendapati lampu hijau kedua dari Siska yang tandanya ia sudah benar benar siap. Tidak ada ba bi bu lagi, Vano dengan cepat mendekat dengan siska lalu melahap buas bibir milik wanitanya itu. Mengecup bibir itu berkali-kali hingga Siska pun akhirnya membalasnya. Keduanya saling berbalas ciuman hot masing-masing.
Lama dan lama, tangan Vano mulai aktif menggerilya di mana-mana. Yang tentunya di bagian sensitif tubuhnya Siska.
Bibir Vano yang tadinya mengecup bibir Siska kini beralih mengecup lengkuk lehernya, hingga suskes membuat Siska merasa geli dan menikmati setiap sensasi sentuhan yang di berikan oleh Vano kepadanya.
Baru permulaan sih😅
Malam yang begitu panas pun semakin berlalu, hingga akhirnya keduanya pun tidur setelah merasa cukup **** melakukannya.
Hingga besok hari kembali menyapa mereka lagi__
✨✨✨
**Update lagi yaaaa
Maaf jika kata-katanya pada eps ini sedikit vulgar
Like, komentnya dimana sih readers? sedih aku tuh😢
author tunggu yaaa!
Semoga suka dengan ceritanya♡**
__ADS_1