
Bagaimana dengan Vano? Ya, masih tetap dalam keadaan yang sama. Meski tangan dan pikirannya masih berjibaku dalam pekerjaannya di dalam ruangan perusahaannya. Di sela sela pikirannya, masih teringat gadis itu. Siska.
"Huahhh!!" Vano melepaskan semua genggaman tangan dan jarinya dari semua berkas berkas database perusahaan yang sedang di periksanya secara perlahan dan teliti.
Menyandarkan bahunya ke bagian belakang penahanan kursi kerjanya. Lalu menoleh menatap langit langit plafon atas ruangannya itu, memeremkan matanya sejenak. 'kenapa aku masih ragu dengannya?' argghhhh! Batinnya kacau.
Mengingat kejadian itu saja, Vano begitu geram. Ingin mencabik cabik wajah pria brengs*k itu. Rafael. Tapi bagaimana dengan Siska? Sungguh kah bukan dia yang dengan suka rela naik ke atas ranjang untuk tidur dengan dia?
Hufff ahhhhhh arghhhkkk @$@$@_-#&!!! Semua hal itu terus berkecamuk tidak jelas dalam pikirannya. Di sela sela ia lagi beradu dalam pikirannya, matanya melirik layar ponsel yang menampilkan pesan singkat. Dengan malas, Vano membuka pesan tersebut.
💌 Bi Lina
Tuan, keadaan non Siska sekarang baik baik saja.
Vano kembali meletakkan ponselnya di atas meja usai membaca pesan singkat dari bi Lina tersebut. Ia menarik nafas lega mendengar Siska baik baik saja. Iya, sebenarnya Vano masih diam diam peduli dengan keadaan gadis itu. Sebelum berangkat untuk bekerja, ia sudah lebih dulu berpesan kepada bi Lina untuk mengabarkan kondisi Siska jika sudah membaik. Dan yah, tangannya kembali membolak balik semua kertas kertas putih yang tertata rapi dengan ketikan. Menekennya satu persatu.
✨✨✨
Singkat cerita, besoknya lagi. Seperti pada sebelumnya. Vano masih tetap saja bersikap vakum dengan Siska. Bahkan pergi begitu saja ke kantor perusahaan, tidak seperti biasanya yang selalu bersemangat untuk minta kiss dari gadis tersebut. Siska hanya terdiam saja, dengan hati yang sedikit sakit melihat sikap Vano yang begitu berubah sangat signifikan terhadap dirinya semenjak kejadian itu. Andaikan saja fakta itu bisa di buktikan nya sekarang, pasti hubungannya dengan Vano tidak akan seperti ini.
Dengan langkah berat, Siska berjalan menuju kamar mandi untuk segera berbesih setelah sarapan pagi itu. Setelahnya, ia segera menghanged handuk yang sudah siap di pakainya untuk mandi setelah berhasil keluar dari walk in closet untuk memakain baju kaos kasualnya.
Hufff hari yang sungguh membosankan. Harus berapa lama lagi kah ia menunggu Vano untuk percaya dengannya. 'Vano sayang .... sayangggg hiks' batinnya. Tanpa di sadari ia terisak sendiri dalam ruangan itu. Ya kamar Vano. Ia menelungkup kan kakinya dan mencoba membenamkan wajahnya yang perlahan lahan basah karena air matanya sendiri di atas tempat tidur itu.
Ia terus terisak. Hingga beberapa menit setelahnya, Siska merasa perutnya begitu sakit hingga mual rasanya. Segeralah dia merangkak turun dari atas tempat tidur itu. Glekkk!! Mendorong pintu kamar mandi dengan agak sedikit kuat karena tidak tahan lagi. Sepertinya ia akan muntah.
Hoeekkk hoeekkk hoekk
Siska mengeluarkan suara memuntahan, tapi sedikit pun tak ada makanan yang keluar selain hanya air liur yang bersamaan keluar. Aneh. Pekiknya dalam hati sambil memukul mukul dadanya kuat.
Kemudian ia menghidupkan keran air segera membasuh tangan dan mulut nya yang kotor terkena dengan air liur nya sendiri. Kemudian keluar.
Bug! Astaga terkejutnya. Siska melongok kan kepalanya ke atas menyadari sebuah benda yang begitu lebar dan bidang di tabrak olehnya. Ya, itu Vano.
"Sa-sayang____" ucap Siska bercampur senang bahagia melihat pria yang sedang sangat di inginkan nya itu tepat berada di depannya sekarang. "Kamu? Kamu kenapa balik lagi?" Lanjutnya lagi. Tak luput, senyum manis masih terus meneruah untuk berbinar, walau pun bibir matanya sudah lusuh akibat keseringan terisak tangis. Lalu dup! Memeluk tubuh pria itu dengan erat. Sedangkan yang di peluk tidak menunjukkan ekspresi yang sama, melainkan membuat tampang yang biasa saja bahkan nyaris tampang datar.
"Ehemmm" akhirnya pun Vano berdehem. Mendengar Vano seperti itu. Dengan berat hati, Siska membiarkan pelukannya longgar bahkan melepaskan tangannya dari tubuh pria tersebut.
"Sayang___"
"Ada sesuatu yang tertinggal. Jadi aku harus kembali lagi untuk mengambilnya" ucap Vano tetap datar "kamu kenapa? Sakit?"
"Aaa?? Itu. Ak-aku ga apa apa" Siska berbohong. Walau sebenarnya Vano sudah menduga kalo ia habis muntah muntahan.
"Baiklah"
__ADS_1
Setelah berucap begitu, Vano membelakangi gadis itu hendak mengambil apa yang akan di ambilnya. Lalu berniat segera keluar dari apartemen itu.
Dua langkah, tiga langkah, empat langkah dan___ BRUKKK!!!
Vano segera berbalik badan mendengar suara ambruk itu. Wajah Vano seketika berubah dalam mode fase panik. Siska pingsan.
"Siska? Siska? Tolong bangun!!!" Tidak ada kejernihan dalam kepalanya. Segeralah Vano mengangkat tubuh Siska melarikan diri ke rumah sakit.
"Bi!!! Bibi" teriaknya panik sambil terus berlari lari kecil. Sesekali menolehkan mata untuk melihat wajah gadis itu, Siska.
"Iy-aa tuan. Ada apa?"
"Aku akan membawa Siska ke rumah sakit. Bibi tetap stay di sini saja! Jangan mencarinya dulu"
"Apa! Non Siska kenapa tuan?" Huah huah wajah panik wanita paruh baya itu juga menyamai wajah milik tuannya Vano saat itu juga.
"Aku akan menelfon bibi jika ada perlu" lalu Vano melenggang terbirit ke arah luar apartemen. Segera memacu mobilnya di atas jalan raya.
"Sa-sayangg___ Siska bangun! Tolong__" kata kata itu terus saja terlontar keluar dari mulutnya. Dia benar benar takut jika sesuatu terjadi dengan gadis itu, Siska.
✨✨✨
Rumah Sakit
Vano pun langsung menghampirinya. "Dok? Bagaimana keadaan tunangan saya?" Tanya Vano yang masih dengan mode super panik. Mengusap wajah miliknya kasar.
"Kondisi nona Siska telah membaik. Bapak di perbolehkan masuk untuk melihat ke dalam"
'apa aku harus ke dalam?' batin Vano sejenak, kembali ragu. Apa iya? Ia harus masuk dan mendapati tubuh gadis itu terbaring di atas ranjang. Arghhhkkk merasa di khianati sungguh sulit baginya sekarang untuk melihat gadis itu.
"Pak__" ucap dr. Rere yang mampu membuyarkan lamunan Vano. "Bapak kenapa? Nona Siska sepertinya sudah siuaman. Dari tadi ia terus menyebut nyebut nama bapak"
"Oh begitu?"
"Iya pak. Kalau begitu saya permisi dulu. Saya akan kembali melakukan check up kepada nona Siska jika sudah sadar sepenuhnya"
"Check up dok?"
"Iya pak. Sepertinya gejala yang barusan di alami oleh nona Siska barusan adalah gejala yang mirip dengan ibu hamil jika awal memasuki bulan tri mester pertama"
Vano membulatkan matanya lebar sempurna mendengar hal itu barusan. Tidak bisa di percaya 'dia hamil?' wajahnya sudah merah dan kini rahang bawah dagu miliknya sudah naik turun. Rasa percaya diri bahwa dirinya sudah di khianati 100% benar adanya. "Siska___"
Sungguh gadis itu tidur dengan laki laki itu. Dan___ dan janin yang ada dalam kandungan nya saat ini adalah benih dari Rafael. Si laki laki brengs*k itu. Bukan darinya. Pikiran Vano membuar ke situ. Tunangannya sudah lebih duluan hamil dengan pria lain sebelum mereka akan menikah. Arghhhkkk!! Nafas Vano bisa di pastikan sesak saat itu. Lebih sakit rasanya mendengar hal ini, dari pada menyaksikan sendiri pemandangan buruk ketika Siska dan Rafael berada di atas satu ranjang. 'dia hamil pria sialan itu??' hiks. Hingga rasa sakit yang beririsan dalam hatinya membuat matanya menitik air mata kekecewaan.
Pelan pelan kakinya beringsut ke belakang. Menduduki kursi yang berada di lorong rumah sakit itu. Ia terus mengusap wajahnya dengan kasar dan terus mengepalkan tangannya berulang. Dan kini, entah hal itu sudah ke berapa kalinya. Ia tidak lagi menghiraukan dr. Rere yang menatap nya bingung.
__ADS_1
Kenapa seperti ini? Bukannya jika mendengar hal KEHAMILAN adalah hal yang membahagiakan terutama dengan sepasang pasangan seperti mereka. Pikir dr. Rere meski tahu betul, jika seorang perempuan hamil sebelum nikah itu tidak halal, haram.
Tapi kan? Mereka akan tetap menikah toh.
"Pak Vano? Maaf sudah lancang. Tapi bapak baik baik saja?"
Vano menyeka air matanya yang sudah terlanjur keluar dari matanya. "Iya dok"
"Tapi untuk hal ini (*kehamilan maksudnya) saya masih belum menyatakan pasti jika nona Siska hamil. Apalagi keadaannya masih belum begitu stabil"
"Maksud dokter?" Vano beringsut dari duduknya lalu berdiri.
"Iya pak. Diagnosa kehamilan nona Siska masih belum pasti benar adanya. Jika sudah sadar, rekan saya dr. Silvani akan melakukan diagnosa kembali terhadap nona Siska"
(Sedikit keterangan : dr. Silvani adalah rekan sesama dr. Rere. Hanya saja ia adalah spesialis dokter kandungan. Oleh sebab itu, akan lebih baik jika yang memeriksa kandungan Siska adalah dia. Diagnosa kehamilan Siska bisa saja salah dan benar jika sudah di periksa).
"Baik dok"
"Baiklah pak. Kalo begitu saya permisi dulu. Mari pak" ucap dr. Rere meninggalkan tempat itu. Yang juga bersamaan dengan anggukan kepala dari Vano.
✨✨✨
Bersambung ...
haiii !!
author akan memberikan visual cast novelnya lagi yaa. semoga readers bisa berhalu dengan ria nantinya hehehe
Devano Putra Angkara
Siska Amelia Duckwil
masih penasaran enggak?
koment ya kalo masih mau lanjut ðŸ¤
.
__ADS_1