
Dring ....
Pesan WeChat masuk di ponsel nya. Vano segera membuka dan membacanya.
💌 David
Nona Siska sedang berada di kafe Y sekarang
(Disertai sharelock kafe)
Dengan segera Vano memutarkan setir mobil menuju kafe itu. Setidaknya dia masih bisa tenang sekarang. Gadis itu telah di temukan.
***
Vano masuk ke dalam kafe dan memutarkan semua pandangan nya. Dia mendapati Siska sendirian sedang duduk di meja yang dekat dengan tempat meja barista. Vano mendekatinya.
"Ternyata kau ada di sini. Gadis bodoh!" Sengaja memasang wajah datar di hadapan Siska.
Siska mengerjap sambil mengalihkan pandangannya ke arah suara itu 'Vano!!!'
"kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kau ada di sini? Bukannya aku telah melarang mu untuk keluar begitu saja hah?!"
"Bodoh! Kenapa mengatur ngatur ku"
Cihh! Vano tidak membalas lagi ucapannya, dia mengangkat tubuh Siska dengan mudahnya dan membopong nya keluar lagi. Tidak peduli orang yang memperhatikan mereka dari tadi.
"Apa ini yang kau inginkan hah?!"
"Gila. Lepaskan aku, turunkan aku!!" Sambil menggeliat di dalam dengkapan Vano "did your hear that?" Memukul dada Vano "turunkan aku!" Vano tidak menggubris kan kata katanya, terus melangkah hingga membawa Siska ke dalam mobil. Tut ... mengunci pintunya.
"Hei brengs*k!! Apa kau tidak dengar? Lepaskan aku!!" Teriak Siska dari dalam mobil.
Sesaat Vano membuka ponselnya dan mengetik beberapa pesan
💌Vano send to David
Suruh semua pengawal untuk kembali ke perusahaan. Gadis itu sedang bersama ku sekarang
Lalu menaruh ponselnya di saku jasnya dan masuk ke dalam mobil.
"Mengapa kau begitu lama, apa kau tidak mendengarkan aku. Turunkan aku!!"
"Tenang sayang, kamu mau kemana?"
"Tidak perlu tau. Itu urusan ku. Cepat turunkan aku"
"Aku berhak tahu. Aku tunanganmu"
__ADS_1
Siska menelan ludah dalam dalam mendengar Vano menyebut dirinya sebagai tunangannya.
"Bukan! Kau bukan tunanganku. Aku membencimu"
Vano mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan cincin tunangan yang ia pasangkan di jarinya "apa kau tau ini?"
'ada apa dengan dia? Mengapa dia mengenakan cincin itu?' desis Siska dalam hati, dan melihat jarinya yang sama sekali tidak mengenakan cincin itu.
Terakhir kali ia mengenakan nya hanya pas malam pertunangan.
"Kita telah bertunangan" Vano menatap lekat lekat ke arahnya "tolong ... Dengarkan aku, aku berhak untuk mu sekarang. Kemana pun kau pergi sekarang, aku harus berhak tahu"
Siska tidak lagi berbicara dan memilih untuk diam saja. Memang ada benarnya apa yang di bilang Vano barusan. Tapi bagaimana pun juga, dia tidak mau jika terus terusan berada dalam apartemen.
Huffff .... menghembuskan nafasnya.
"Kau mau kemana? aku akan membawamu. Kita akan kesana"
Siska menoleh ke arahnya "sungguh?"
"Emm iya" menganggukkan kepala. Reflek tangan Siska mendengkap bahunya dan memeluknya. Dia tidak menyadari dengan apa yang dia lakukan sekarang.
Uh ... Uh ... Uh ... Pelukan itu membuat Vano menjadi tak karuan. Berharap agar Siska memeluknya lebih lama... dia ingin memuaskan dirinya untuk di peluk oleh gadis itu.
Siska menyadari apa yang ia lakukan, cepat cepat ia melepaskan pelukannya "maaf ... maaf ..." Memperbaiki tempat duduknya "reflek"
'reflek? jadi dia tidak benar benar berniat memeluk ku?' sedikit kecewa "baiklah tidak apa apa" Vano mulai menyetir "kita akan kemana?"
"Kau mau kemana?"
"Kelab"
"Apa?!" Vano menghentikan mobil mendadak "kamu mau ke kelab?"
"Hee'eem kenapa?"
"Jangan ke situ, aku melarangnya"
"Kenapa kau yang ngatur?! Aku mau ke kelab"
"Tidak, aku akan membawamu ke tempat lain. Tapi tidak di kelab"
Siska menyilangkan kedua tangannya, menatap ke luar "iya deh, terserahmu aja huh!!!" ucapnya kesal.
✨✨✨
Taman hiburan
Keduanya turun dari mobil, masuk ke dalam taman hiburan. Keduanya mengambil tempat duduk dekat wahana permainan kuda kudaan. Awalnya Siska berpikir kenapa mereka malah ke tempat seperti ini, ini kekana kanakan baginya.
__ADS_1
"Kenapa kau membawa kita ke sini? Ini taman hiburan bagi anak anak" melihat sekeliling mereka, semua hanya ada anak anak yang menikmati taman hiburan, dengan orangtua mereka yang mendampingi.
"Justru itu, tempat ini .... Aku sangat menyukainya"
"Apa?" Siska setengah tidak percaya, orang seperti Vano akan suka di tempat seperti ini, taman hiburan untuk anak anak.
"Aku menyukai tempat ini"
"Suka? Huh! Kau bukan anak anak. Bagaimana kau suka dengan tempat seperti ini?
Vano diam sejenak, menyilangkan kakinya "dulu orangtua ku sering membawa ku ke sini ..." Menghentikan ucapannya sejenak dan menoleh Siska "aku menyukai tempat ini tanpa alasan. Bagi ku tempat ini satu satunya pelarian ku di saat aku sering merasa kesepian di dalam rumah. Mama dan ayahku terlalu sibuk dengan urusan mereka, sangat sedikit ... bahkan jarang mereka kembali ke rumah dan mengajak ku ke tempat seperti ini setelah ayah mengembangkan cabang perusahaan nya di luar negeri"
"Lalu kenapa ibu mu tidak punya waktu untuk mu?" Tanya Siska mulai nyaman mendengarkan kata kata Vano.
Vano menarik nafas yang berat, sebenarnya dia tidak ingin mengingat hal itu bahkan mengungkitnya. Tapi Siska telah bertanya...
"Ibu ku adalah seorang wanita pengejar karir, dulu ... Sebelum ia menikah dengan ayah ku. Dia sudah memiliki saham perusahaan sendiri dari perusahaan alm ayahnya. Cukup lama setelah itu. Ayah dan ibuku bertemu, mereka di pertemukan karena sama sama menunjang usaha yang sama di bagian perbisnisan dan membangun kerja sama yang baik sebagai sesama kolega bisnis. Cukup lama, hubungan keduanya begitu dekat dan setelah itu mereka menikah"
Siska mengangguk kan kepala mendengar nya, sedangkan Vano melanjutkan kata katanya "dia ikut dengan ayahku di luar negeri, mereka membuka cabang baru di sana sekarang. Ketika aku kecil mereka mempercayakan aku kepada babysiter"
Siska semakin ingin lebih dalam mendengar nya, ternyata masa kecil laki laki itu tidak sebaik yang semua orang bayangkan. Hidup di dalam kesepian dan kesendirian. Dia mendapatkan semuanya, tapi kurang perhatian dari se sok sok seorang ibu. Jauh berbeda dengan hidupnya yang tidak pernah kekurangan apa pun.
Vano kembali menatap Siska dalam, mata keduanya bertemu dan saling menatap satu sama lain "untuk terakhir kalinya.. aku kesini lagi. Dan aku membawamu, dulu di sini, aku pernah berjanji kepada ibuku. Aku akan kembali ke sini, di taman hiburan ini Ketika aku telah menemukan gadis yang aku cintai"
Siska mengalihkan pandangannya ke depan, dia menebak Vano mungkin akan membuat pengakuan lagi terhadap dirinya.
"Aku telah memutuskan, gadis itu adalah kamu" tersenyum ramah ke arahnya. Entah kenapa Siska merasa dirinya sedikit terpengaruh dengan cara Vano mengatakan pengakuan itu lagi. 'tidak Siska.. jangan! Kamu tidak boleh terpengaruh. Kamu tidak menyukainya kan?'
"Kenapa kami membawa ku, sedangkan aku tidak menyukaimu?"
"Aku telah memutuskan nya. Aku akan menunggu sampai kamu membuka hati untuk ku"
"Enggak ..."
"Dengarkan aku, aku menyukaimu" memegang kedua pundak milik Siska dengan kedua tangannya "aku tidak akan memaksa mu menyukai ku sekarang. Aku akan menunggu mu sampai kamu menyukai ku juga" menghentikan ucapannya sejenak dan menghela nafasnya "kita tidak akan menikah sebelum kamu memiliki keyakinan dengan ku. Dan aku menunggu hal itu dari mu"
"Apa?"
Vano melepaskan tangannya dari pundak Siska dan menoleh ke depan "keyakinan dari mu untuk menyukai ku juga"
Keduanya diam setelah itu, entah berapa lama mereka akan tetap seperti itu. Vano berdiri dari tempat itu dan beranjak "ayo! Kita pulang. Kita sudahi saja hari ini" dan keduanya pun pergi tanpa saling melontarkan ucapan apa pun.
✨✨✨
Bersambung...
Happy Reading ~
.
__ADS_1
.