Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 67 : Bibit yang berkualitas


__ADS_3

Angkara Djaram Hotel


"Sayang, mommy mau nelfon tuh"


"Iya katakan sebentar dulu" terlihat Siska yang masih nampak memoleskan make up tipisnya di wajahnya itu. Terlihat natural sekali dengan wajahnya yang cantik dan seksi itu. Dia lebih memilih berias setelah makan siangnya dan Vano selesai.


Vano hanya mengangguk saja lalu berbincang sebentar dengan ibu mertuanya itu melalui sambungan via telfon.


"Udah sayang"


"Yaudah ini, ada yang mau mommy bilang"


Siska menerima uluran tangan suaminya itu dan menerima handphone nya.


"Iya mom. Kenapa?"


"Bagaimana kabarmu dear?"


Siska tersenyum "sehat mom. Mom sendiri sehat?"


"Sehat dear. Dady juga begitu, tidak perlu dicemaskan" panjang lebar mommy berkutat dengan jawabannya padahal Siska hanya menanyai kabarnya.


"Dear. Jadi gini, tepat hari ini kamu sama mantu mommy sudah tiga hari di sana. Malam ini adalah hari terakhir kalian untuk berduaan tanpa ada gangguan apa pun ...."


"Mom?! Kenapa sih?!" Siska segera memotong ucapan mommynya itu. Pasti ucapan mommy menjuru ke hal yang iya-iya entar.


"Dengar dulu dong dear"


"Tapi mom__"


"Usaha yaa, biar mommy cepat nimang cucuk. Udah ga sabar ini" terdengar mommy membuat sebuah harapan atas putrinya itu untuk segera menghadirkan cucu "bilang sama suami mu juga, biar bibit yang berkualitas yang dikasihinya"


Akhhh! Tu kan! Mommy sih mulai bahas yang iya-iya lagi. Siska jadi tak berselera buat telfonan lagi. Dibuat malu tuh huhuhu


"Dear, masih dengar mommy enggak?" Ucap mommy merasa tak ada respon anaknnya dari telfon untuknya.


"Hallo mom, ini Vano" kini Vano beralih mengambil alih telfon. Sedangkan Siska masih stay di sampingnya Vano.

__ADS_1


"Ohh iya mantu. Siska kenapa?"


"Enggak enggak mommy. Katanya ga mood aja buat telfonan sekarang"


"Lagi ga mood atau malas dengar permintaan mommy yaa" kekehen kecil terdengar dari sambungan telfon lagi.


"Emang mommy bilang apa?"


"Minta cuculah mantu. Dibuatkan segera yaa, udah ga sabar lagi nih mommy uhhh"


Vano menggeleng kepala mendengar permintaan mertuanya itu. Begitu antusias sekali menantikan anak cucu.


"Oke mom. Ini lagi usaha"


"Amin! Mudahan cepat yaa mantu. Tancapkan bibit yang berkualitas, biar berkualitas juga cucu-cucu mommy nantinya"


"Sejauh ini udah mom"


"Bagus. Bilangin ke Siska agar___"


"Mom!" Akhirnya Siska pun mengambil alih lagi hp dari genggaman suaminya. Menghentikan ucapan mommy dari seberang sana. "Iya Siska sama Vano akan usaha. Jadi bersabar dong mom. Apa iya harus selalu bahas tentang itu sih?! Ga penting amat" ucapnya celutus hampir kesal sendiri.


Perbincangan lewat telfon pun berjalan selama beberapa menit. Akhirnya sambungan pun terputus.


Vano dan siska saling pandang setelahnya. Dengan muka yang masih celetus kesal pasang di depan Vano. Sedangkan Vano hanya mendelik tawa gemas melihat sang istri memasang wajah seperti itu.


"Udah sayang. Wajar mommy minta begitu" Vano memulai lagi percakapan yang sempat hening dengan saling pandang.


"Tau akh! Wajar gimananya?"


Kemudian Vano hanya tersenyum sumringah sewajarnya saja membalas ucapan itu tanpa sekata apa pun. Menoleh tempat tidur yang sekarang mereka sudah di atasnya.


"Mau coba lagi?"


"Hah?" Siska mendongakkan kepala menatap suaminya itu karna mereka sedang dalam posisi pelukan sekarang "apa__"


Vano merasa dimenangkan berkali kali, inilah kesekian kalinya ia berhasil menggoda istrinya itu dan sukses membuatnya sering salah tingkah.

__ADS_1


"Bercanda sayang" Vano lebih mengerat kan pelukannya "ini adalah hari terakhir kita di sini untuk tinggal. Dan malam nanti adalah malam terakhir"


Siska mengangguk mengiyakan "kita tinggal di apartemen aja sayang"


"Jika kamu mau itu aku juga mau"


"Uhhh thank you a lot my hubby. I love you"


Vano mengangguk saja pertanda senang mendengar ucapan istrinya barusan. Cup! Satu kecupan untuk kening istrinya itu tak lupa juga dengan belaian bibir lembutnya.


"I love you too sayang. Aku suka panggilan untuk aku barusan"


"Hubby?"


"Emm iyaa sayang"


"Kamu mau sayang? Eh maaf hubby?" Tanya Siska kikuk


"Panggil aku selalu dengan sebutan itu yaaa"


"Baiklah" Siska mengangguk mengerti mengiyakan lalu mengeratkan pelukannya ke tubuh pria yang sekarang sudah menjadi suaminya itu. Pelukan itu juga di balas hangat oleh yang dipeluk, Vano. Tak lama kemudian keduanya tertidur bersama, kembali berada di bawah alam sadar masing masing, menjelajahi dan mengarungi mimpi yang begitu indah di siang hari itu. Mengambil kembali kekuatan tubuh yang sedikit hilang, hitung hitung beberapa hal yang sudah sering mereka lakukan.


Dan besoklah mereka akan kembali ke apartemen lagi. Bukannya ini hari terakhir sih, mereka akan bisa tinggal di hotel ini. Mau sampai kapan pun bisa, tapi mengingat Vano yang memiliki kewajiban penting untuk perusahaan, dia harus mampu menyeimbangkan hidupnya sekarang. Antara melaksanakan kewajibannya sebagai direktur utama di perusahaan dan hak serta kewajibannya sebagai suami untuk istri. Yaa dia sudah mempunyai sebuah keluarga kecil yang harus ia jaga dan pertahanan dari sekarang hingga batas hari yang tidak ada ujungnya nanti. Meski kehadiran se sok sok bayi sedang mereka nanti nanti kan, termasuk orangtua mereka masing masing yang begitu berharap agar antara Vano maupun Siska mampu menghadirkan kepada mereka seorang cucu nantinya. Amin! Itulah doa semuanya. Lagian usia pernikahan mereka barulah mau menjelang tiga hari, jadi masih banyak waktu lagi.


***


Mommy yang sudah mendengar bahwa Siska dan Vano memilih untuk tinggal di apartemen mereka yang dulu lagi kebanding di rumah utama mereka sendiri. Dan bahkan mommy pun sempat meminta Siska untuk jangan tinggal dulu di apartemen, lebih baik menggunakan rumah sebagai hadiah pernikahan mereka waktu itu.


"Enggak mom. Siska sudah bilang ke Vano dan Vano pun ga masalah dengan itu. Cuma beberapa hari aja dong mom, habis itu aku sama Vano akan tinggal di rumah itu setelahnya" Siska ngenyel kepada mommy bertahan untuk tinggal di apartemen untuk sementara waktu. Entah apa alasannya untuk ngotot tinggal di situ? Apakah karena banyak hal hal yang bisa ia nostalgia kan di tempat itu, dimana ia dan Vano kala sering berantem tidak suka sama lain, hingga akhirnya waktu pelan pelan mengganti dan mampu menyatukan dua insan itu. Seperti yang telah tampak sekarang.


Tampak mommy hanya bisa menghembuskan nafas kasar dari ujung telfon sana "iya dear, tapi janji jangan lama di apartemen itu. Tempat tinggal yang cocok untuk membangun biduk rumah tangga itu harusnya di rumah sendiri. Dimana lagi kamu berlari dan bebas kalo bukan di rumah sendiri?" Ucap mommy panjang lebar menjelaskan. Sedangkan yang mendengarnya di sana pun mengangguk "iya mom. Siska janji"


Setelahnya, mommy menelfon bi Lina. ART yang dulunya bekerja di apartemen anak-anaknya itu setelah berhasil mendapatkan nomor hp nya dari Siska dan Vano. Menyuruh nya untuk segera bergegas ke apartemen. Agar packing packing baju cepat, supaya baju baju lama Siska di ganti untuk baju yang lebih layak. (Maksud author di sini, kan sudah kita tahu bahwa Siska adalah perempuan suka tipe modis. Lebih keseringan pake baju baju seksi yang mampu membentuk body tubuhnya).


Mommy senang sekali dengan putrinya yang patuh itu, tidak ada drama ngeyel untuk menolak. Mommy menggantikan semua baju baju itu dengan baju baju yang layak yang biasanya di gunakan oleh perempuan yang sudah beristri. Mengingat putrinya itu lagi bukan seorang gadis, tapi sudah menjadi seorang istri yang bersuami.


✨✨✨

__ADS_1


Up lagi readers❤️


__ADS_2