Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 15 : Aku telah Menyukaimu


__ADS_3

Kesana kemari, tempat ruangan besar kantor sang direktur Devano masih memiliki penghuni di dalamnya. Jarum jam sudah menunjukkan angka 23:01, sudah lewat satu menit dari jam sepuluh.


Vano berdiri lalu berjalan jalan di sekitar setiap sudut ruangannya itu. Lalu beberapa saat menghadap jendela yang sengaja di buka. Dari atas situ lah dia bisa melihat pemandangan kota Jakarta di malam hari.


Satu tangannya merogoh saku jasnya, dan di sana ia mendapatkan ponselnya ingin sekali menelfon gadis itu. Rasa ingin bertemu segera dengannya sekarang membuat Vano cukup sesak. Tunggu sesak? Apa begitu rasanya jika jatuh hati dengan seseorang? 'mungkin begitu' gumamnya dalam hati. Dia benar benar tidak bisa membedakan apakah dia kini telah jatuh hati dengan gadis itu atau tidak. Ahh... dasar Vano!


Mengetok kepalanya "mengapa kamu terus memikirkan dia? Dia itu gadis yang kau benci bukan?" Ucapnya sendiri.


'David?' Yap, orang yang paling bisa terhandal kan, Vano kembali mengetok kepalanya tapi dengan jari jemarinya. Otak cerdasnya kembali berfungsi dengan baik.


Dia meraih ponselnya lalu menghubungkan David


"Iya tuan, ada apa?"


"Kamu masih di lantai bawah kan? Cepat kesini! Ada sesuatu yang ingin kutanyakan"


"Ba...baik tuan. Saya akan segera kesana" lalu menutup dan mengakhiri panggilan.


Tok tok tok...


"Iya masuk" Vano memutarkan kursinya menghadap David yang sudah siap siaga memenuhi permintaan bosnya


Menghela nafas yang tak beraturan karena lari lari kecil "iya tuan... ada apa?"


Vano memainkan jari jemarinya memberi kode agar David mendekat.


DEG!


David merasa feeling tidak enak. Apakah ada sesuatu yang terjadi? Apa ada hal yang belum dia tuntaskan lagi? Apa atau bagimana kalau tuan Vano menendang dia keluar dari perusahaan itu?


Astaga David!!!! Pikiranmu begitu dangkal terhadap tuan Vano (*kalo seandainya author dapat peran di dalam itu. Author akan bilang gitu ke David xixixi)


"Tolong bantu saya dulu"

__ADS_1


"Maaf, tapi maksudnya tuan bagaimana?"


"Bla... bla... bla..." Vano memberi tahu satu persatu semuanya dengan posisi suara yang masih membisik di telinga David.


"Apa?! Tuan telah jatuh hati?"


"Ssstttt" menarik tangan David "jangan besarkan suaramu, OB yang sedang bekerja lembur malam ini akan mendengarnya.


"Iyah Iyah tuan... Maaf, saya tadi hanya tidak percaya saja kalau... Kalau..."


Vano menegakkan kepalanya serta menelan ludahnya. Memang malu membutuhkan bantuan seperti itu, di atas sifatnya yang tidak biasanya bahkan seperti sekarang ini. 'ahh bagaimana pun cuma David aja yang tau'


Setengah percaya tidak percaya bahwa yang di dengarnya sungguh benar ada nyatanya, bosnya meminta hal yang sudah jauh beda dan tidak ada hubungan pekerjaan di dalamnya. David memberikan beberapa bantuan yang sebisa mungkin sesuai dengan pengalamannya saja, yaa meskipun dia di bilang tidak seprofesional dalam masalah rujukan hubungan sih.


Habis setiap dia pacaran pasti berujung putus, kasihan sekali David bukan?


Memberikan dan menampakkan beberapa artikel dalam ponsel "kenapa dengan ini?" Vano kembali melihat David.


Secara tegas, teratur... David menjelaskan semuanya bagimana melakukan hal hal yang mungkin saja membuat perempuan terkesan dengan perilaku si laki laki. Wah itu gimana Vid? (Jangan ke tuan bosnya aja di kasih tau hehehe)


"Iya tuan, baiklah... Jika ada perlu apa apa. Tuan bisa panggil saya lagi"


Vano berdiri dari tempatnya "Emmm" menjawab David dengan agukan saja. Di pikirannya saat ini terus saja dengan gadis itu. 'bagaimana dia sekarang? Bagaimana aku juga harus mengajaknya kencan?' Gugup, mungkin hal itu yang ada di pikirannya sekarang.


"Oia tuan, lengan nona Siska kan sedang sakit. Apa pergi berkencan dengan kondisinya yang seperti itu, tidak menggangu nantinya?"


Pandangan Vano kini berubah ubah tak tetap 'ada benarnya juga' apa yang di bilang oleh bawahannya itu.


Terpaksa Vano harus melewatkan dan mengurungkan niatnya itu untuk sementara waktu.


"Maaf sebelumnya ya tuan, saya tidak bermaksud untuk mengganggu dan menghalangi rencana tuan buat..."


"Sudah sudah, kamu boleh pergi dan pulang sekarang. Malam ini, biarkan saja saya yang menyetir sendiri" ucap Vano cepat. belum lewat lima menit, sikap direktur dingin kembali lagi. David menurut saja "permisi tuan"

__ADS_1


Sang direktur Vano masih betah buat duduk duduk di atas kursi kerjanya itu, memutarkan badan di atasnya sambil menekan kepala dengan bagian penanya. Menarik dan mengeluarkan nafas secara perlahan.


Entah apa yang harus dilakukannya agar gadis itu terkesan dan tertarik dengannya. Yaampun... masalah yang tak main main, kini seorang direktur Vano memohon dan mengemis atas nama cinta? Benar, dirinya sudah terperangkap dalam drama kisah percintaan.


Mengapa bisa secepatnya luluh dengan gadis yang dia benci dari awal? "Akhhh!" Vano menggaruk kepalanya yang tidak gatal, otaknya berkecamuk berbagai hal saat ini.


Setelah cukup lama, barulah dia pulang, dia tidak terus bisa berlama lama. Di apartemennya ada Siska, akan takut gadis itu kenapa kenapa.


✨✨✨


Dia mendapati gadis itu sedang tidur pulas di atas sofa. Tangannya masih memegang remote televisi yang masih menyala di depannya.


Vano menatap pemilik wajah kecil itu lama, sebuah senyuman tersungging di bibirnya lagi. "Aku ingin sekali mengatakannya langsung bahwa aku menyukaimu" lalu mengecup kening itu dan mengusapnya. Meraih remote dan mematikan televisi.


Dengan sekali angkat, tubuh Siska di bopong olehnya lagi. Gadis itu mulai sekarang harus selalu tidur di kamar, bukan di sofa. Apa yang di lakukan Vano sebelumnya (*bunyi poin surat perjanjian kontrak untuk tinggal se atap) dia menyesalinya sendiri sekarang.


Pelan pelan ia menurunkan dan membaringkan tubuh Siska di atas tempat tidur. Menarik dan memasangkan selimut di tubuh kecil itu. Cukup lama memandanginya, Vano keluar setelah memberikan kecukupan sekali lagi. Siska melenguh, entah karena dia merasakan kecupan kecil itu atau tidak.


Malam ini, ia akan rela tidur di sofa lagi. Membiarkan gadis itu tidur di tempatnya. Cinta benar benar merubah segalanya bukan? meski pun oleh pendirian yang mantap sekaligus.


Vano terlebih dahulu membersihkan dirinya, dia masuk ke kamar mandi menyirami tubuhnya dengan air dingin yang bisa mampu membuat tulang sum sum ikut merasakan dingin.


Arghhhkkk!!!!


"Sial, ini benar benar dingin!" Vano yang tak terbiasa dengan memakai air dingin buat mandi jika malam malam begini mengumpat dirinya sendiri. Yang sabar ya Vano, siapa suruh memakai air dingin jika tak tahan dingin juga? (*author cuma ingatin tuan Vano aja deh hehehe)


Berselang dalam kurun waktu yang tak lama, cuma beberapa menit saja. Vano telah siap membersihkan tubuhnya. Jam makan malam di lewatkannya begitu saja dan langsung memilih buat tidur di sofa saja.


✨✨✨


Bersambung...


jangan lupa like, komen, dan votenya readers semua😭😭

__ADS_1


peluk hangat dari jauh...☺️


~Mei Er


__ADS_2