Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 30 : Pelampiasan Emosi


__ADS_3

Kafe Y


"Lepaskan, lepaskan aku!!" Dina terus terusan mencoba melepaskan tangan yang menarik kuat tangannya. Lima orang dari suruhan Rafael menariknya dari dalam kafe hingga membawanya keluar secara paksa.


"Kumohon ... lepaskan aku, aku masih mau di sini ..." Hikss, Dina terisak sambil memohon kepada lima laki laki tersebut.


"Ini adalah perintah dari tuan Rafael, cepat! Jangan banyak penolakan" dengan tegas tanpa berbelas kasih, salah satu dari mereka menarik dengan kasar tangan Dina.


"Kumohon ... Lepasakan aku, aku ... aku masih mau kerja di sini ..." Tangis Dina semakin menjadi jadi, terus terisak dengan air matanya. Dia akan tau apa yang terjadi jika dia di rumah itu sekarang, apa lagi dengan Rafael yang ada di sana nantinya.


Uhh ... dia sungguh tersiksa dengan perlakuan yang di berikan kepadanya.


Tidak mau menunggu perdebatan dari gadis itu, Dina, salah satu dari mereka mengangkat tubuh gadis itu dengan mudah dan memasuk kan nya ke dalam mobil.


KUP!!! Pintu mobil tertutup rapat.


Dina tidak bisa memberontak lagi, dia tidak bisa melakukan hal yang bisa membuatnya keluar dan lolos dari orang orang itu, selain hanya memukul mukul kaca mobil dari dalam berharap ada orang yang mendengar teriakannya, namun itu sia sia saja tanpa hasil.


✨✨✨


Rafael yang dari tadi sudah menunggu kedatangan gadis itu duduk geram, emosi yang meredam dalam dirinya masih belum surut dan terus membumbung tinggi. Orang sepertinya mungkin saja akan menjadikan orang lain sebagai tempat pelampiasan kemarahannya.


"Dimana dia?! Kenapa begitu lama hah?!!" Dengan nada suara yang meninggi.


Dengan sekali tonjok kan tangannya, seorang pengawal yang memiliki nasib apes saat itu terlempar jauh di bawah lantai. Sambil memegang bagian lengannya yang sakit akibat dari hantaman yang di buat oleh bosnya "maaf tuan sudah membuat lama, gadis itu akan sampai bentar lagi"


"Saya akan menunggunya selama lima belas menit. Jika tidak ada, kau akan ku tendang keluar!!!" Ancaman Rafael membuat ngeri.


"Iy..iya tuan"


***

__ADS_1


Selang sebelas menit sesudahnya, mobil yang membawa Dina sampai di halaman luas rumah itu. Dengan kewalahan seorang di antara kelima pengawal tersebut untuk membawa ke dalam tubuh Dina, gadis itu terus meronta memberontak.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Dina terus meronta, hingga membuat lengan baju kaos berkancingnya sobek.


"Hei!! Jangan memberontak, tuan Rafael sudah menunggu mu di dalam. Apa kau lupa dengannya, masih tidak takut dengan ancamannya?" Salah satu dari kelima pengawal berucap karena merasa geram dengan Dina yang terus meronta.


Mendengar nya, seketika nyali Dina untuk menepis semua tangan yang mencoba membawa tubuhnya ke dalam rumah besar itu ciut. Hanya pasrah saja dan kemudian masuk.


Bayangan gadis itu sudah terlihat di ekor mata milik Rafael, menghela nafas nya kuat, dengan segera menghampiri tempat gadis itu berdiri. Mengangkat tubuhnya langsung tanpa berkata apa pun.


"Hei! Lepaskan aku! Turunkan aku, aku tidak mau ikut dengan mu!!!" Dina mulai menunjuk kan sikap yang menolak di hadapan Rafael, kakinya dibuatnya menggeliat.


"Diam!!!"


"Turunkan aku" memukul dada Rafael dengan tangannya yang lemah "lepaskan aku, aku tidak mau ikut dengan mu!!" Dina menggigit bagian leher milik Rafael kuat yang mampu membuat pria itu menjerit sekaligus meringis kesakitan.


"Dasar wanita jal*Ng!!!" Plakk,,, satu tamparan mendarat di pipi Dina "kau mau minta di cekik hah??!! Katakan, ayo cepat katakan?!" Lalu menghempaskan tubuh Dina dengan kasar ke atas kasur kamarnya setelah melalui pintu penghubung ruangan di rumah itu, menguncinya rapat rapat dari dalam. Tersisa mereka saja yang berada di dalam ruangan tersebut.


"Kumohon ... Komohon .... Komohon ... Kali ini, lepaskan aku. Jangan siksa akuuuu uhuhuhu" pinta Dina dengan suaranya yang melemah saat itu. Rafael tidak menggubris perkataan itu semua, dan malah mendekatkan dirinya kepada gadis itu dan membuat tubuh itu telentang di atas kasur.


Rafael menatap gadis itu dengan tatapan ***** yang memburu, kedua bola mata miliknya sempurna berair melihat pemandangan yang di depannya. Lengan baju Dina yang sobek itu membuat kedua bola dadanya tersembul sedikit ke atas.


Uhuhuhu hiks ... hiks ... Dina terus terisak, dia tahu akan apa yang seterusnya terjadi dengan dirinya.


Dengan mata memerah dan wajah yang memelas dia bermohon "tolong ... aku, aku" hiks, air mata tidak bisa berhenti membuat nya menangis "tolong lepaskan aku ..."


Rafael tidak mau tahu dengan permohonan gadis itu kepadanya, dengan buas dia melahap bibir Dina. Menggigitnya, ******* hingga ke sela sela paling dalam, dan bermain main lama di sana.


Dina hanya terpaku diam dalam tangisnya, ingin memberontak saat itu juga tapi tidak bisa. Pria itu memegangi kuat kedua tangannya dan menelentang kan di bagian atas kepalanya. Sementara mulutnya di buat bungkam akibat dari ciuman brutal yang di lakukan oleh Rafael kepadanya.


Slakkk,,, kancing baju kaosnya terbuka dan tercecer kemana mana di atas lantai itu. Hingga membuat dirinya sempurna telanjang dan di susul oleh tubuh telanjang pria itu, Rafael. Dalam sekali hentakan, tubuh keduanya menyatu. Gadis itu hanya mendekam di dalam tangisnya. Rafael benar benar menyiksanya dengan kejam. Dia menjadikan tubuh yang di miliki oleh gadis itu sebagai pelampiasan emosinya yang meredam dalam dirinya.

__ADS_1


✨✨✨


Jauh berbeda dengan emosi yang membuat Rafael menggeram. Vano dengan bersemangat dan senang masuk ke dalam apartemennya itu. Bersiul kecil melewati lobi sebelum kedua kakinya menginjak kan di dalam lift.


Tut ... Tut ... Tut ... Enam digit angka di masukkan nya untuk membuka pintu. Pintu pun terbuka. Matanya dibuat menerawang ke segala setiap sisi ruangan itu. Tepat sekali, wajah gadis yang dari tadi ingin mau di lihatnya berada di sana, duduk di sofa. Lalu mendekati tempat itu.


"Sore" sapanya, hari sudah menjelang sore juga.


"Emm iyaaa, sore juga" Siska membalas sapaan itu sembari memperbaiki sikap duduk nya. Kakinya di turunkan nya ke bawah menyentuh lantai "tumben cepat pulang? Emang ga ralat di kantor? Hmmm?"


Vano berdehem saja untuk menjawabnya, sedangkan Siska hanya mengangguk saja. Walau terlihat tiba tiba aneh Vano cepat pulang. 'kenapa dengan dia lagi?' lirihnya dalam hati menatap wajah milik pria itu dengan menyidik karena rasa penasaran nya yang besar.


Vano berangsur dan duduk tepat di sampingnya. Sedikit dan perlahan, pria itu menghimpit dirinya hingga sampai ke bagian sisi sofa. Ehehehe astaga Vano!!!


"Kau kenapa sih? Main geser geser gitu aja!" Siska menghembuskan nafasnya. Pria itu malah menatap wajah miliknya seakan tidak bersalah dengan apa yang ia lakukan, menghimpit tubuh Siska.


"Aku mau mengisi ulang daya stamina tubuh ku"


"Hah?!" Siska menepis yang membuat kepala Vano yang ingin bersandar di pundaknya jatuh ke bawah "apa maksudmu?"


Melebarkan senyum "dengan berhimpitan dengan tubuh mu, stamina tubuh ku akan terisi kembali sayangggggg hehehe" terkekeh. Urghhhhhh ... Siska menggeliat geli mendengar kata kata itu dari Vano lagi.


✨✨✨


Bersambung...


untuk readers semua, maaf jika plot atau alur ceritanya sedikit memiliki konten dewasa.


happy reading 🖤🖤


.

__ADS_1


__ADS_2