
Seperti yang sudah di duga, Vano dan Siska sudah terjaga di atas tempat tidur di awal pagi hari. Tetapi kedua sejoli itu masih berada di posisi yang sama seperti semalam, berpelukan dalam satu selimut (baca bab sebelumnya).
"Emm" Siska berlenguh dan ingin sekali mau menutup matanya lagi. Semalaman dia tidak bisa tidur dengan baik. Yaa bukan gimana gimana sih habis Vano memeluk erat tubuhnya semalam hingga saat ini, jadi tidak terbiasa tidur apalagi jantungnya sudah deg degan untuk menahan nafasnya yang memburu akibat hal itu (bisa di bilang Siska masih malu tidur di satu ranjang dengan Vano). Ya begitulah meski Siska sendiri malu malu tapi mau huaaa.
"Sayang" ucap Vano di awal pagi hari itu dan sesudahnya mengecup kening Siska.
"Em iyaa"
"Selamat pagi" ucap Vano lagi plus love love darinya buat gadis itu. Entah bagaimana caranya untuk menyampaikan hal itu (author pikir, mungkin membuat kecupan lagi yaa? Hahahaha. Vano sweet banget sih).
Jadi malu rasanya mendapat perlakuan seperti itu lagi, akhh Siska ke baperan. Ia menurunkan kepalanya dari lengan Vano yang menjadi bantalnya dan membenamkan wajahnya di dalam selimut, menutupinya. Wajah Siska saat itu sudah sangat merah di bawah selimut.
Tangan Vano menarik selimut itu hingga wajah Siska kembali nongol ke atas "kamu kenapa sayang? Kok gitu hmm?"
"Enggak kenapa napa" padahal druss! 'jantung ku mau copot karena ulah mu' lirih Siska dalam hatinya sendiri.
"Baiklah. Kalo gitu ..." Vano membuat senyum smirknya lagi. Menunjuk nunjuk pipinya dengan jari telunjuknya "di sini" Vano minta di cium lagi.
"Ihw apaan sih?! Ga mau tau"
"Aku mau! Cepat" terus menunjuk pipinya bahkan Vano sampai memuncung muncung kan bibirnya ke depan. Gemessssss banget deh Vano.
"Enggak. Aku ga mau"
"Ayolah sayang" rengek Vano lagi bak anak kecil saja yang sedang meminta permen di depan Siska.
Hufff Siska menarik nafas panjangnya dulu hingga cup! Satu kecupan darinya mendarat di pipi Vano. Alhasil laki laki itu terkekeh kecil.
"Makasih sayang buat morning kissnya"
"Iya" jawab Siska pendek
"Iya saja?"
"Iya kenapa?"
"Lah iya lagi?"
"Emm" Siska berdehem tak mengerti dengan Vano "iya kenapa? Ada salahnya??"
"Iya salah"
"Apa coba?" Siska memutar bola matanya hingga wajahnya itu menghadap wajah milik Vano.
Cup! Satu kecupan mendarat lagi di wajah Siska, tapi bedanya di bibir. Vano mencium bibir gadis itu dengan lembut. "Tidak ada salahnya kamu bilang "iya" tapi katanya di tambahin lah sayang"
"Maksud mu?"
"Mana panggilan sayang untuk ku?"
__ADS_1
"Ahh kau ini"
"Cepetan. Aku mau dengar"
Siska tidak mau lagi terus terusan berdebat panjang lebar lagi. Ia memenuhi saja apa yang di minta laki laki itu kepadanya, yaa memberikannya panggilan 'SAYANG'
"Iya sayang"
"Nah begitu dong" ucap Vano lagi lalu kembali mengecup kening Siska dengan mesra. Setelah itu keduanya bangun dan bebersih segera (eitss ... Jangan berpikir yang aneh aneh dulu ya! Iya, mereka akan mandi. Tapi menggunakan kamar mandi setelah selesai mandi salah seorang dari mereka. Sepertinya pun Vano yang mandi terlebih dahulu).
Singkat cerita pagi itu, keduanya sarapan setelah bi Lina datang dan membuat kan sarapan buat mereka. Setelah itu Vano akan pergi ke perusahaan, Siska akan tetap berada dalam apartemen.
β¨β¨β¨
Beda di tempat lain, ya di rumah besar milik Rafael. Gadis yang dia tiduri semalam, Dina. Gadis itu merasa kesakitan dari sekujur tubuhnya dari bawah hingga ke atas. Apa lagi di area bawahnya, sangat begitu sakit akibat dari permainan brutal Rafael kepadanya semalam.
Rafael lebih dulu terjaga darinya, tinggal dia sendiri lah yang ada di atas kasur tempat tidur itu tanpa sehelai benang pakaian pun yang menempel di tubuhnya. Selain selimut yang menutupi auratnya tersebut. Hiks mungkin saja seperti biasanya gadis itu akan kembali menangis sesugukan.
Lalu ia bergegas untuk berdiri segera membersihkan badannya yang kotor itu (iya, cairan dari Rafael memenuhi bagian tubuhnya). Begitu sangat jijik bukan?
Kakinya segera menopangnya untuk berdiri menuju bilik kamar mandi. Hingga ia sampai di daun pintu, tangan dan kakinya gemetaran hingga tubuhnya itu terkulai di bawah lantai. Tidak mampu berdiri lagi. Hiks hiks hiks ia mulai terisak dari tangis yang ia pendam. Mengingat bagaimana Rafael memperlakukannya semalam hingga membuatnya seperti ini.
Flash back on (semalam)
"Jangan berpikir kau bisa lari dari ku" Rafael terus menggerakkan tubuhnya ke dalam tubuh gadis itu dengan kasar sehingga Dina mampu menjerit dengan histeris sekali. Tapi mulutnya masih mencoba bungkam untuk membalas semua ucapan Rafael kepadanya. Tangannya memegang erat kain sprei dan meremasnya.
"Tolong, jangan lakukan ini lagi ..." Wajahnya sungguh sudah kusut dan memelas lemah. Tapi akankah Rafael mempedulikannya? Tidak, bahkan kebrutalan nya terus meningkat. Menciumi bibir milik Dina dengan buas, ******* dan menggigitnya hingga sampai pada lekuk lehernya. Menumpahkan segala rasa berahinya dan menuntaskan hasratnya yang membuat gadis itu begitu tersiksa. Rafael tidak melakukannya atas dasar cinta, dia hanya memperalat tubuh gadis itu saja jika tiba tiba ia mau melakukannya bahkan tanpa memperistrinya. Sungguh keji bukan? Lebih dari monster!! 'aku sungguh membenci mu Rafael hiks huhuhu' desis lirih Siska lemah dalam hatinya di sertai Isak tangis.
Dina masih terkulai di bawah lantai itu dalam selang beberapa menit. Matanya sepertinya mulai bengkak dan kantung matanya membesar karena terlalu banyak menangis. Segeralah gadis itu berdiri dan melanjutkan tujuannya dari awal, ya ingin segera bebersih diri di dalam kamar mandi.
Setelah mandi, seperti pada kebiasaannya gadis itu akan pergi ke kafe tempat ia bekerja (kafe Y). Dengan beberapa bodyguard yang akan mengantarkan nya dan mengawasinya selama ia bekerja, agar dia tidak bisa berbuat macam macam lagi. Ouh ... Rasanya dirinya seperti di kekang!
Tapi sebelum beberapa saat ia pergi, Rafael lebih dulu menyita ponselnya tidak membiarkannya untuk memegang ponsel miliknya sendiri. Jika Dina memang mau bekerja dan tidak mau di siksa lagi. Dia harus menyerahkan ponselnya itu tanpa ada penolakan atas dasar perintah dari pria brengs*k tersebut. Dengan terpaksa Dina menurut saja, dia sungguh tidak bisa melakukan dan berbuat apa apa.
***
Apartemen
Beda dengan gadis yang satu ini. Yang sedang tengah asyik dengan lamunannya. Entah mengapa hal semalam selalu terngiang ngiang di pikirannya, yaa selalu ke over thingking dong hehehe. Ia membuat kedua tangannya menutupi wajahnya dan pipinya yang memerah itu. Huf huf huf "kenapa aku jadi gini" mengibas ibas kan jari jari tangannya ke bagian wajahnya. Jantungnya tak berhenti untuk berdencang kuat, hingga rasanya mau copot. Aww entah bagaimana rasanya itu, saking hebatnya semua hal yang yang sweet yang di berikan oleh Vano kepadanya mempu memengaruhi dirinya 'gila ya?' hahaha tertawa lepas setelahnya.
Memaju majukan bibirnya sendiri tanpa ia sadari bi Lina tengah memperhatikan dirinya sedari tadi. Wanita paruh baya itu jelas tergeleng geleng sendiri. Tapi dia mengerti kok, namanya aja 'gadis yang sedang bercumbu dalam asmara cinta hahaha' pantas saja nona mudanya bertingkah begitu.
Tidak mau mengganggu kesenangan nona Siska nya. Bi Lina kembali melakukan banyak pekerjaan di apartemen tersebut (bersih bersih).
Kita kembali dengan Siska yaa.
Iya gadis itu masih dalam sikap yang seperti tadi. Membayang kan bagaimana bibirnya di belai lembut oleh Vano semalam. Terus seperti itu, sesekali tangannya memegang belahan bibir pink nya itu bak yang sudah di pasang liptint padahal enggak sama sekali.
Layar televisi yang sedang menampilkan acara K-Drama favoritnya pun tak di hiraukan nya lagi. Pikirannya seluruhnya sudah di tutupi dan hanya ada tentang Vano di dalamnya. (*Siska sedang duduk di atas Sofa tepat berhadapan dengan layar televisi).
__ADS_1
Drunk!! Sela sela itu juga, lamunannya dari pria itu buyar. Perhatiannya beralih dari notif pesan singkat yang tampil di atas layar ponselnya. 'nomor tidak di ketahui?'
Segera Siska membukanya dan mencoba membacanya baik baik. Itu bukan spam yang selalu ia terima sebelumnya.
π08 ......... (Pokoknya nomor ponsel si pengirim SMS)
Mbak, maaf sekali menggangu. Tapi aku sungguh membutuhkan bantuan mu kali ini. Mbak kenal dengan ku kan? Si gadis barista yang mbak pernah minta nomor kontaknya. Itu aku mbak. Tolong bantu aku mbak, aku membutuhkan bantuan sekali. Aku bingung harus mau minta bantu ke siapa lagi.
Membaca setiap isi pesan tersebut dan menyimaknya baik baik 'gadis barista?' Siska memiringkan kepalanya mencoba mengingatnya. "oh I know, Yap gadis barista yang Rafael suka" akhirnya Siska mengingatnya juga. "tapi dia membutuhkan bantuan apa?" Tangan Siska mengetik ketik ketik dan mengetik ... (Membalas pesan singkat tersebut)
πSiska send to 08 .....
Tidak apa apa kok. Maaf ya, saya juga baru ingat. Btw, aku bisa membantu mu dengan apa?
Usai mengetik pesannya, cepat jari Siska mempencet layar send. Menunggu balasan pesan selanjutnya.
π08.......
Aku butuh teman untuk curhat mbak. Mbak mau ya datang ke rumah ku.
π Siska send to 08 .......
Ke rumah mu?
π08 .......
Mbak mau ya. Meski aku lancang sih, padahal kita kan masih belum akrab. Tapi please ... aku tidak tau harus minta ke siapa lagi.
Siska kembali membaca pesan itu lagi. Sebenarnya Siska memang mau berniat untuk pergi, tapi kan ... Vano melarangnya untuk keluar apartemen. Haduhhhh!!!
Menimbang nimbang niatnya itu. Hingga satu hal terbesit dalam pikirannya. 'tunggu! Kan gadis barista itu adalah perempuan kan? Pasti tidak masalah dong jika aku pergi ke rumahnya'
Segeralah Siska kembali lagi membalas pesan itu dengan singkat.
πSiska send to 08 ........
Baiklah. Share alamat rumah mu. Aku akan segera ke sana
π08 ........
Makasih mbak (di sertai share alamat rumah)
Setelahnya Siska langsung keluar dari apartemen menuju alamat rumah sesuai dengan yang di share kepadanya tanpa meminta ijin kepada Vano. 'aku bisa bilang ke Vano nanti. Lagian orang itu juga seorang perempuan. Enggak masalah kan?' pikirnya.
β¨β¨β¨
Bersambung ....
.
__ADS_1
.