Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 27 : Kisah Dina, si gadis barista


__ADS_3

Hari sudah malam, bahkan jam sudah menunjukkan angka 11 lewat 17 menit. Dina si gadis barista (read: gadis yang bekerja di kafe Y) siap siap dan segera pulang.


Dari jauh, depan jalan. Dia sudah di tunggu oleh beberapa laki laki yang rata rata memiliki tubuh kekar. Sedikit takut? Iya, Dina tidak bisa menyembunyikan nya. Tapi, dia sudah terbiasa bertemu dengan mereka.


Mereka adalah orang orang bayaran Rafael yang bertugas untuk memantau setiap hal yang di lakukan olehnya. Dia tidak bisa semena mena melakukan hal yang ia mau, kecuali jika Rafael memberinya ijin.


Sesudah memastikan tidak ada pengunjung, kakinya membawanya secara perlahan keluar dan menghampiri tempat beberapa laki laki itu.


"Aku sudah siap, kita pulang" Dina segera masuk ke mobil terdepan. Sedangkan pengawal lain naik ke mobil yang lain, mengikuti mobil yang di naiki oleh Dina dari belakang.


✨✨✨


Dina langsung masuk ke dalam rumah besar itu tanpa melirik kemana pun. Terus menerobos masuk hingga sampai ke pintu utama rumah itu. Ya, tak lain itu adalah rumah kediaman Rafael.


Melewati setiap lorong pintu yang ada di rumah itu, hingga ia sampai di sebuah ruangan yang sengaja dikhususkan untuknya. Dia menutup pintu rapat rapat, melemparkan tasnya secara kasar di atas tempat tidur itu.


Berteriak sekencang kencangnya, melepaskan semua beban yang baginya itu semua adalah siksaan.


Hal yang paling ia benci sekarang adalah berada di tempat itu, di rumah Rafael. Bagai neraka yang selalu menyiksa nya, di paksa untuk melakukan hal yang bukan sepantasnya dia lakukan sebagai seorang gadis sepertinya.


Air mata terus menitik, tak henti hentinya membiarkan air matanya membasahi pipinya. Sesekali tangannya menyeka air mata itu. Dia terisak, lalu bersimpuh di bawah pintu. Menekuk kedua kakinya dan merentangkan kedua tangannya di atasnya. Masih begitu sangat terisak oleh tangis.


"Apa artinya aku ini?" Mengucapkan kata kata itu dengan suara yang serak dan terbata "apa?"


Dina menelungkupkan kepalanya di bagian kakinya. Tidak peduli dengan rambutnya yang dari tadi menutupi wajahnya. Kata kata Rafael yang ia dengar di Kafe tadi kembali menyayat hatinya. Begitu sakit.


"Ada apa denganku?" Hikss... terus terisak.


Dia ingin sekali keluar dari rumah itu, dan hidup normal seperti gadis lain di luar sana. Tidak ada bedanya hidup di rumah besar itu dibandingkan dengan di balik jeruji.


Dia bekerja dalam rumah itu hanya sebagai pemuas birahi tuan rumah tanpa dinikahi. Ya, dia adalah Rafael.


Dia membenci pria itu. Dia menyesal tidak bisa menghindar darinya, dengan suka rela memberikan tubuhnya yang masih perawan itu dulu di renggut oleh pria brengs*k seperti Rafael.

__ADS_1


***


Flash back on (dua tahun yang lalu)


"Apa? Aku tidak mau melakukannya!" Dina berusaha melepaskan tangan jijik Rafael yang begitu liar di bagian atas dadanya.


"Benarkah? Hahaha" Rafael tertawa menyeringai dan memeluknya erat dari belakang. Dina bersikeras untuk melepaskannya dan terus meronta "apa kau mau kedua orangtuamu hidup di dalam penderitaan di balik jeruji besi? Hah? Katakan..?" Bisikan Rafael membuat dia tidak bisa berkutik.


Dia di hadapkan dengan pilihan yang sangat sulit sekarang. Antara membiarkan tubuhnya di sentuh oleh Rafael atau hidup orangtuanya? Ya, orangtuanya terlilit hutang yang bernilai ratusan miliar kepada Rafael.


Akibatnya, Rafael mengancam akan membawa mereka ke pihak pengadilan jika hutang itu tidak akan di bayarkan dalam jangka lima hari kedepan. Manusia yang sangat picik! Bej*t!


Lama Dina berdiam, Rafael dengan tidak sabaran menarik baju miliknya dan gadis itu, Dina secara bersamaan. Entah bagaimana ia melakukannya.


Lalu menciumi bagian leher gadis itu secara kasar, hingga sampai di bagian bibirnya. Dia terus menciuminya, menggigit, dan mereguh nikmat ciuman brutal itu. Hingga tubuh mereka menyatu.


Dina hanya bisa terisak tangis, merelakan keperawanannya di ambil oleh pria itu saat itu juga.


***


Secara perlahan lahan, Dina berusaha bangun. Memungut dan memakai pakaiannya satu per satu lalu keluar. Benar benar bodoh, dirinya seperti tidak berharga lagi.


Tidak ada bedanya dirinya dari gadis lain di luar sana yang suka melayani laki laki hidung belang, mereka sama saja. Bahkan dia pun lebih buruk dari itu, dia hanya memuaskan berani laki laki itu tanpa ada bayaran sepeser pun. Pikirannya begitu sambil terus terisak.


"Jangan pernah berpikir untuk pergi dari sini, hutang orangtuamu masih belum lunas semuanya" tiba tiba Rafael menahan tangannya "kamu harus tinggal di rumah ini. Jangan berpikir aku akan melepaskan mu begitu saja"


"Mak ... Maksudmu apa??"


"Aku masih membutuhkan tubuhmu" tawa dan senyum licik terekspresikan di wajah Rafael. Begitu sangat ngeri, membuat Dina ingin keluar atau pun menampar wajah laki laki itu sekarang kalau itu memungkinkan.


"Dasar kau brengs*k. Laki laki bej*t!!!!!"


"Aku membiarkan kamu menyebut ku seperti itu sekarang. Tapi tidak untuk selanjutnya" tawa Rafael makin menyeringai "masih banyak hutang orangtuamu yang harus kamu bayar untuk ku dengan harga tubuhmu"

__ADS_1


Dina mengepalkan tangannya geram mendengar ucapan pria itu barusan. Sebegitu rendahkah dirinya hingga dikatai seperti itu?


"Apa?! Kau mau meninju ku? Atau memukul ku? Di bagian mana hah? Ayo cepat pukul!!" Ternyata Rafael melihat gerakan kecil kepalan tangannya. Dina masih bisa mengatur amarahnya terhadap pria itu, dan memilih untuk keluar dari ruangan itu.


Seterusnya, dia tinggal di rumah itu. Dan tetap melayani Rafael jika setiap kali pria itu membutuhkan dirinya. Sungguh, dia benar benar telah menjadi orang bodoh dengan suka rela memberikan tubuhnya sendiri dengan dihargai jumlah hutang keluarganya.


***


Flash back off


Sekarang, Dina lebih memilih diam dan berhenti dari Isak tangisnya. Cepat cepat menghapus air matanya dan berdiri mendengar suara teriak pria itu dari luar memanggil namanya.


"Iya kenapa?" Membuka pintu dan keluar


"Kau masih bisa bertanya ya?" Rafael membuat tawa smrik nya "kau tau kenapa? Gadis itu berpikir aku menyukai dirimu"


"Apa aku salah? Aku hanya bekerja di sana. Mbak itu yang terus memintaku untuk berbicara"


"Akhhh!!!" Rafael mengusap bagian belakangnya dan menatap Dina dengan tatapan angkuhnya sekaligus mengancamnya "jangan sampai membuat gadis itu mendengar tentang hubungan kita. Awas saja kalau kamu berani buka suara. Aku pastikan hidup mu akan hancur"


"Kenapa dengan gadis itu? Apa ada masalah jika ia mengetahui segala kebusukan mu di balik tampangmu yang sok baik di depannya?"


Rafael menarik lengan Dina dengan kasar "jaga ucapan mu! Aku menyukai dirinya. Kau jangan pernah mengatakan hal yang aneh aneh yang akan merugikan dirimu nantinya" hardik Rafael lalu keluar meninggalkan Dina yang terpatung, mencoba mengolah baik baik setiap ucapan ancaman Rafael barusan.


Dia tidak bisa apa apa sekarang. Dia tidak mungkin melawan pada pria itu. Sekarang hidupnya bergantung di tangan Rafael.


Sekali tangan pria itu bekerja, maka hidupnya akan hancur. Karna pria itu akan terus mengancamnya untuk menyebarkan videoklip ketika dia melayani pria itu. Dengan begitu, tentu semua orang akan jijik melihat dirinya.


Hiks ... Kembali terisak, penyesalan muncul dalam dirinya meski itu sudah sangat terlambat. Mau tidak mau itu semua harus ia jalani sampai sekarang, walau orangtuanya telah meninggal setahun yang lalu.


✨✨✨


Bersambung...

__ADS_1


.


.


__ADS_2