Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 54 : Pertanyaan Bak Interogasi


__ADS_3

David memutar gang gang setir dan memarkir dengan mantap mobilnya di depan kafe Y, tempat di mana Dina bekerja. Lalu ia berjalan ke dalam mendapati Dina yang tengah melayani pesanan pelanggan. David tidak peduli dengan beberapa orang pria yang menatapnya tajam dari luar.


"David?" Dina mendelik, sekilas menghentikan aktivitas tangannya dari Coffee pot yang isinya hendak ia tuangkan ke cangkir kopi.


"Mau pesan kopi apa?" Lanjutnya lagi "bentar dulu ya, biar saya siapkan pesanan mas yang satu ini"


David hanya mengangguk saja, menunda pertanyaan yang akan segera di tanyakan nya langsung pada gadis itu.


Hufff David membuang nafas panjang, memilih duduk di meja sebelah ujung tembok paling belakang kafe itu. Setidaknya, pandangan beberapa pria yang memang dari tadi sudah menatapnya aneh dari luar ia bisa hindari.


Sedikit penasaran 'siapa sebenarnya mereka?' gumam David dalam hati. Mengapa setiap kali ia melalui atau pun tak sengaja bertemu dengan Dina. Sekumpulan pria itu sepertinya sedang memantau Dina setiap saat.


Dua menit menunggu sedikit lama, Dina menghampiri meja tempat di mana David duduk. Sebenarnya sedikit ragu sih untuk menghampiri David, sekilas sebelum melangkah untuk menghampirinya. Dina menoleh ke luar.


"Maaf nunggu lama ya? hehehehe" Dina berusaha terkekeh sendiri yang di balas dengan tatapan seribu pertanyaan oleh David kepadanya. "Oia. Mau pesan apa?"


"Duduk!" Titah David. Entah kenapa keduanya bisa saling menggunakan bahasa yang tidak formal ketika berbicara. Apa sekarang benar keduanya sudah dekat? Ya, mungkin begitu kali ya.


Dina awalnya kebingungan dengan David yang tiba tiba seenaknya saja menyuruh nya untuk duduk. Akhirnya Dina pun menurut saja.


Setelah mengambil posisi yang nyaman untuk duduk. Dina bertanya kembali "jadi mau bilang apa? Apa ada sesuatu ...."


Slakkkakkkk !!! David meletakkan ponselnya di atas meja, sengaja di geser sedikit. Hingga ponselnya berhenti tepat di depan Dina.


"Kenapa dengan ini? Ini nomor kontak kan?" Tanya Dina masih polos tidak paham dengan maksud David


"Kamu tau nomor itu punya siapa?" Tanya David, lalu mencondongkan badannya ke depan dan menaikkan siku di atas meja dan bertopang di situ. Dengan dagu yang di buat menempel di tangan yang menopang di atas meja.


Dina memperhatikan nomor itu, itu adalah nomornya. Lalu menaikkan alisnya "ini nomor ponsel milik ku"


Setelahnya, David lalu melayangkan satu jari telunjuknya untuk menggeser beralih ke tampilan apk WeChat. Membuka pesan dari Siska.


"Tolong katakan. Apa maksudnya ini semua?"


"Maksud ... maksud mu apa?"


Risih untuk berbicara dan berpenjelas secara panjang lebar, David to the point saja "apa hubungan mu dengan Mr. Rafael? Kenapa nomor kontak mu bisa di pakainya untuk menjebak tunangan dari tuan Vano, atasan saya"


DEG! Dina seakan terperanjat sendiri dari duduknya. Bagaimana David menanyakan hal seperti itu kepadanya? Batinnya. Mulutnya hanya bisa bungkam, bingung harus mau mengucapkan apa dan bagaimana.


"Aku tidak tau!" Jawab Dina cepat tanpa menunggu sahutan lain lagi dari David. Ia segera berdiri dan berbalik membelakangi David yang tengah duduk itu. "Aku tidak mengenal siapa Mr. Rafael yang kau maksud.


Jika kamu tidak ingin memesan sesuatu, kamu boleh keluar dari sini!" Jari telunjuknya menunjuk ke arah pintu keluar kafe.

__ADS_1


Setelahnya, Dina segera meninggalkan tempat itu. Dan bergegas melangkah menuju meja barista. Namun secepat itu lah David menarik dan menahan tangannya. Hingga mampu membuat tubuh Dina tidak seimbang dan oleng, akhirnya Dina jatuh ke pangkuan tangan David.


Tiga detik, empat detik, lima detik, bahkan sampai menjelang satu menit. Keduanya masih nyaman dengan posisi yang sedang mereka buat itu. Dimana tangan satu David tengah melingkar di bagian pinggang milik Dina.


Drutt !! Bunyi notifikasi WeChat yang masuk ke ponsel milik David menyadarkan keduanya. Segeralah Dina berdiri dengan muka ronanya yang mulai memerah, entah kenapa bisa begitu.


"Maaf, aku tidak sengaja terpeleset tadi" membungkuk


"Sttt" sedangkan David merentangkan vertikal jari telunjuknya, memberi kode agar Dina diam dulu. Sembari mengangkat telfon tersebut, tangan David yang satu segera menahan tangan gadis itu yang hendak pergi.


David mengeja kata katanya dengan nada suara yang tidak keluar sedikit pun. Bibirnya hanya bisa mentranslet bahasa yang ia sampaikan dengan ejaan huruf terhadap Dina.


Dina geleng geleng kepala tidak mengerti maksudnya. Dan terus memperhatikan pergerakan bibir David.


"J-A-N-G-A-N P-E-R-G-I !! T-U-N-N-G-U S-E-B-E-N-T-A-R"


"Apa?" Tanya Dina dengan ekspresi wajah polosnya. Memang ia tidak tau apa yang di katakan oleh David kepadanya saat ini.


David tidak menyahut lagi dari setiap ucapan Dina kepadanya, sekaligus itu adalah sebuah pertanyaan.


"...................."


"Manager Lin akan segera ke sana. Saya akan segera menyusul"


"Jadwal meeting di luar kota harus di tunda lebih dulu. Tuan Vano sedikit beririsan, ia sedang dalam kondisi yang tidak baik. Mengerti?"


"..................."


"Tutup telfonnya, tiga puluh menit lagi saya akan sampai di cabang perusahaan bagian proyeksi pembangunan Mega proyek. Persiapkan seluruh berkas tinjauan yang sudah berhasil direview di dalam pembangunan gedung gedung besar" jelas David lalu memutuskan sambungan telfonnya. Lalu David kembali meletakkan ponselnya pada tempat semula.


"Ehemm Dav ..." Dehem Dina sedikit berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan David. David mengerti dengan pergerakan tangan kecil itu, lalu ia melonggarkan sedikit genggaman tangannya sendiri tanpa melepaskannya.


"Tolong ... kali ini saja, biarkan aku menanyakan beberapa hal dengan mu"


"A-aku? Kamu mau tanya apa?"


Sebelum berucap dan mendaratkan pertanyaan yang ingin ia tanyakan, David menuntun gadis itu untuk duduk di kursi. "Duduk dulu" Dina hanya menurut saja "kamu jawabnya dengan jujur nanti yaaa"


Dina mengangguk sekaligus menggigit bibir bawahnya 'apa yang ia tanyakan pada ku?' sedikit kegundahan dalam hatinya. Sepertinya David akan menanyakan hal yang serius dengannya.


"Iy-iyaa ...."


"Baiklah" David mulai menatap menyidik wajah Dina, layaknya sikap interogasi.

__ADS_1


Deg! Akh ... entah karena David tidak profesional kali ini, dia merasa malu sendiri ketika gadis itu membalas tatapan matanya.


David mengalihkan matanya itu lagi, membuat batuk yang di buat buat saja. "Maaf, aku agak sedikit risih tadi"


"Baiklah, aku akan menanyakan beberapa hal" lanjutnya lagi. Sedangkan Dina masih setia untuk mengangguk kan kepalanya.


"Kamu tau dengan beberapa pria yang selalu mengambil tempat di luar itu kan?" David menunjuk jari ke arah kaca jendela kafe yang transparan itu, terdapat beberapa orang di sana yang tengah memantau isi kafe. Untung saja, David dan Dina mengambil tempat duduk paling pojok belakang. Yang membuat beberapa pria itu sedikit kesusahan memantau mereka.


Dina terperanjat kaget dengan pertanyaan yang di lemparkan kepadanya oleh David "me-mereka aaa ak-aku ..."


"Dan .... apa kau kenal dengan Mr. Rafael dan kenapa dia bisa menggunakan nomor ponsel milikmu"


Deg! Malah pertanyaan dari David membuat Dina tidak bisa mengerjap sedikit pun. Mulutnya menganga saja. Entah apa yang harus ia jawab dari kedua pertanyaan itu. 'bagaimana dia tahu tentang ini semua? Hiks' batinnya yang mencoba menahan Isak tangisnya karena takut.


"Dina?"


"I-iya" menggigit bibir bawah miliknya. Saat itu, David bisa merasakan kegetaran tangan gadis itu.


"Kamu tidak apa apa?"


Kegemetaran tangannya tidak sampai di situ saja, kini mata milik gadis itu memburu dan menatap ke sana sini. Sesekali menoleh ke luar, ke arah beberapa pria itu tadi. David sungguh tidak mengerti dengan sikap gadis itu 'pasti ada apa apa di balik semua ini. Tapi apa?' batin David penasaran. Ingin segera semuanya menuntaskan pertanyaan itu sekarang. Tapi sisi lain, David berpikir dia harus memberikan waktu sedikit untuk Dina untuk menjawab semuanya.


"Tidak usah menjawabnya sekarang. Kamu boleh menceritakan semuanya ketika hatimu benar benar siap" David berdiri dari kursinya "aku akan menunggu jawaban itu semua dari mu. Aku pergi dulu, saya masih mempunyai pekerjaan yang harus di selesaikan"


Dina mengangguk "iya" hanya kata itu saja yang keluar dari mulutnya. Sedangkan matanya terus menatap bahu milik David yang terus berjalan ke luar arah pintu hingga sang pemilik bagi itu pun tak terlihat lagi.


"Huahhh" Dina meletakkan tangan kanannya di atas dadanya, menepuk nepuknya pelan. 'bagaimana dia menanyakan hal itu? Apa dia diam diam sudah tahu tentang aku?' batinnya. Dina tak habis percaya. Kini, rasa takut pun kembali menjalar dari dalam tubuhnya. Jika dia akan memberitahu tentang 'dia dan pria brengs*k itu' mungkin Rafael akan membunuhnya! Akhhh! Dina sungguh frustasi sekali, tanpa di sadari titik air matanya jatuh.


Hiks .... dengan sigap segera, Dina


menyadarinya, menyeka air matanya dengan usapan tangannya. Lalu kembali pada tempatnya, meja barista. Melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


"Maaf semuanya, mbak mas" Dina membungkuk dengan rasa bersalah. Semenjak David keluar dari kafe tersebut, telah beberapa antrian panjang terbentuk. Segeralah Dina melayani pesanan pelanggan tersebut. Meski pertanyaan David kepadanya tadi terus terngiang dalam pikirannya.


✨✨✨


Bersambung ...


Say so sorry telat update 🙏😢


Ayo! tinggalkan jejak komentar ya readers, author akan tunggu !!


.

__ADS_1


__ADS_2