Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 20 : Plan Kencan Sepihak


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju kantor perusahaan, Vano menyandarkan tangannya yang satu di atas jendela mobil sambil mengelus kepalanya yang tidak sakit dengan jari jemari. Drama baru muncul lagi bukan?


'aku tidak bisa mengajaknya kencan dikarenakan lengannya' memutarkan otak cerdasnya itu 'tapi... jika hanya ku ajak makan pasti bisa' Vano berkedip sesekali. Antara iya dan tidak mengajak Siska berkencan, ragu ragu terlihat jelas dalam dirinya "come on ahh... dimana akal sehatmu?"


"Ma .... maaf tuan, apa ada sesuatu yang buruk dariku? atau yang telah kulakukan?" Jelas David segera memberhentikan mobilnya, dan menoleh ke belakang. Vano tidak sadar bahwa suaranya akan bisa di dengar oleh David.


"Tidak, tidak lanjutkan saja perjalanannya"


"Baik tuan"


✨✨✨


Kantor Perusahaan ANGKARA GRUP


Di sana, Vano kembali melanjutkan aktivitas lamunannya. Sepertinya gadis itu benar benar telah memenuhi hati sang direktur Devano.


"David... segera ke sini" lalu melepaskan tangannya dari tombol telepon genggam yang ada di atas mejanya.


Tak sampai detik ke sepuluh, David telah berada dalam ruangan itu. "Iya tuan, ada apa?"


"Bantu aku" tidak menoleh David dan malah memilih memutarkan kursinya menghadap ke arah luar jendela.


Entah bagaimana dia saat itu, seorang direktur yang dikenal memiliki otak yang cerdas, sempurna dalam segala hal bisa bisanya meminta bantuan dengan hal yang sepele? Apalagi dengan bawahannya.


Memposisikan tangannya di atas meja sambil menopang kepalanya dengan tangan kiri, posisi itu dia harus melakukannya. Agar dia tidak terlihat bodoh dan lugu di saat meminta bantuan itu, kodrat kesempurnaan yang dia miliki tidak boleh turun apalagi dengan seorang yang berada di bawahnya.


"Tuan?"


Vano tertegun lalu menoleh ke arah David


"kesini" David mendekat "itu... itu..." Vano malah membuatnya jadi tidak profesional untuk mengatakannya.


"Iya tuan, ada apa?"


"Bagaimana aku mengajaknya kencan? Aku mau membuat pengakuan dengannya"


David mengkorek daun telinganya dengan jari jari yang ia miliki, dia tidak salah dengar lagi? Bosnya benar benar telah berubah hanya karena gadis itu.


Sepertinya dia harus berterima kasih banyak kepada Siska, gara gara nya dan olehnya, dari Vano yang seorang direktur angkuh, dingin, sifatnya tidak mudah di tebak. Kini bertolak belakang dari aslinya, yaa walau pun kadang masih ada sifatnya yang tidak mudah untuk di tebak.


"Emm... Sebenarnya tuan, aku tidak terlalu percaya bahwa saranku yang akan saya kasih nanti berhasil"


"Apa?"


"....." David memberikan usulannya panjang lebar, dengan seksama Vano mendengar dan menyimak baik baik kata katanya


"Begitu kah?"


"Iya tuan" David mengangguk


'akhirnya, aku akan mencobanya saja' batinnya meronta senang "baiklah, aku akan mengikuti instruksi darimu. Persiapkan segalanya"

__ADS_1


"Baik tuan, saya akan melakukannya sebisa mungkin"


Vano memasang senyumnya lagi dengan giginya yang rata menggigit atas bawah bibirnya. Tidak sabar waktu itu cepat datang.


"Tuan, jadwal meeting yang telah di cancel tadi pagi..."


"Schedule sore ini meeting dengan investor dari perusahaan RK Grup" selanya cepat, tanpa menunggu David membacakannya panjang lebar. Vano terlalu bersemangat sekali.


"Biarkan manager Lin yang ikut dengan ku. Kamu persiapan segalanya untuk malam ini, jangan sampai ada masalah"


"Siap tuan, percayakan saja padaku"


Vano menargetkan agar meeting itu selesai dalam waktu singkat, dan secepat mungkin.


✨✨✨


Masih di tempat yang sama, Rafael dan Siska masih nyaman untuk mengobrol. Entah apa saja itu.


Asisten Zuy menghampiri tempat keduanya mengingatkan kepada atasannya itu bahwa meeting itu sore ini. Jelas, Rafael berdiri dan membetulkan dasi jasnya. Hal ini tidak boleh di laluinya lagi, walau sebenarnya dia masih ingin berlama lama dengan gadis itu.


Siska mengangguk saja dan mematung sendirian, Rafael telah pergi dan kini cuma ada dirinya di sana.


Apa yang harus dia lakukan? Dia tidak berencana untuk pergi ke kelab malam ini. Was was saja, siapa tau orang itu (Vano) akan cepat pulang hari ini. Dan akhirnya, Siska memilih untuk pulang saja ke apartemen.


✨✨✨


Rafael melihat dengan seksama wajah Direktur yang sedang duduk di depannya itu. Bukan Mr. Johanes, tapi malah berbeda dan lain? Di lihat dari penampilannya, pria itu setara dengan umurnya.


'sungguh ini wajah direktur perusahaan ANGKARA GRUP?' gumamnya.


"Senang bekerja sama dengan perusahaanmu Mr. Devano" mengulurkan tangannya dengan senyum smirk khasnya.


Rafael telah berhasil melangkah ke langka yang pertama, tinggal beberapa langkah lagi ia akan bisa mengetahui segalanya tentang perusahaan itu. Vano meraih tangan itu, sama sama membalas senyum smirk yang dimiliki masing masing.


"Semoga kedepannya, kita akan membangun hubungan bisnis yang baik tanpa ada kecurangan sekali pun di dalamnya" kembali terkekeh di hadapan Rafael, Vano membawa kata katanya dengan kelakar gurau.


Rafael juga membalas balik kekehan itu. Sungguh, susasa yang tidak bisa di baca di antara keduanya.


✨✨✨


"Ini apa apaan?" Siska di hadapkan dengan beberapa perempuan yang sepertinya itu adalah tukang make over. 'kenapa mereka ada di sini?'


"Mbak... mungkin kalian salah alamat apartemen. Di sini, tidak ada yang memberikan job kepada jasa make over"


"Tidak nona, ini alamat yang di kasih kepada kami"


Siska menatap bingung "siapa yang memberikan kalian job ini?"


Salah satu dari kelima make over itu menunjukkan foto David, si asisten pribadinya tuan Vano. Tidak mau terlalu banyak beban pikiran "yasudalah terserah kalian saja mau melakukan apa" beranjak dan pergi dari tempat itu.


"Nona, kamu mau kemana?"

__ADS_1


"Aku? Aku mau ke dapur, aku mau mengambil air, aku haus"


"Biar aku saja nona" salah satu dari mbak mbak make over menawarkan bantuan kepada Siska dan segera mengambilkannya


"Baiklah"


"Maaf nona Siska, bolehkan kami memulai untuk merias nona Siska?"


"Apa? Kalian mau meriasku?"


"Iya nona"


"Tapi ini ada apa?"


"Nona, tolong bantu kami. Kami hanya melakukan apa saja yang disuruhkan kepada kami"


Malas berdebat, Siska menurut saja dengan perkataan mbak mbak make over dan duduk di tempat kursi rias.


Setengah jam berlalu....


Polesan riasan di wajah Siska mulai terbentuk, dengan telaten mbak mbak make over merias wajah cantik milik Siska.


Lalu seorang lagi masuk ke dalam apartemen sambil membawa gaun yang sepertinya itu... 'apakah aku juga disuruh buat memakai gaun itu?' lirih Siska dalam hatinya melihat gau yang dibawa masuk itu.


Benar saja, Siska disuruh buat memakai gaun itu.


"Ini ada apa sih? Aku kenapa di dandan dandan kayak gini?" Awalnya sedikit penolakan dari Siska, mengapa tiba tiba saja dia di rias, apalagi di suruh memakai gaun itu lagi, gaun warna merah setinggi lutut.


"Kami hanya melakukan pekerjaan kami nona, kami tidak tahu apa apa"


Hufff... Siska menarik napas dan menghembuskan lagi keluar "baiklah"


Tidak memakan banyak waktu, Siska telah siap di dandan.


"Teruss apa lagi? Sekarang udah siap?"


Kelima pekerja make over itu mengangguk, lalu seorang yang lain lagi datang ke dalam apartemen. Itu adalah seorang bodyguard laki laki.


Menundukkan kepala dihadapan Siska "tuan Vano menunggu anda di bawah sekarang"


'apa! Vano? jadi ini semua... Akhh Vano'


"enggak, aku ga mau keluar. Ini juga ada apa sebenarnya?"


"Nona..."


Perasaan kesal terpampang di wajah Siska, dengan terpaksa dia menuruti segala instruksi dari bodyguard tersebut, lalu melangkah dan masuk ke dalam lift.


✨✨✨


Bersambung...

__ADS_1


Happy Reading (•‿•)


.


__ADS_2