
Mata Vano menatap lama setiap sisi tubuh gadis itu, dari ujung kaki hingga sampai bagian kepala. Matanya tak berkedip sekali pun, sepertinya dia ingin memuaskan matanya untuk melihat pemandangan yang ada di depannya itu sekarang.
"You very beautiful baby" melontarkan kata itu tiba tiba "so beautiful, I like that..." Mengulurkan tangannya.
Ekspresi untuk terbuai dengan kata kata itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap Siska. Wajahnya masih menampilkan tampang bad girl, menatap Vano dengan tatapan jengkel.
"Ayo" uluran tangannya masih belum disambut oleh Siska, malah menoleh ke arah bodyguard yang mengawalnya dari dalam apartemen untuk membukakan pintu mobil untuknya.
Tidak ada kompromi dengan Vano, bodyguard itu menurut saja dengan apa yang di perintahkan oleh Siska kepadanya. Vano yang tidak terbiasa dengan suasana seperti itu jelas merasa kesal dan jengkel. Kalau pun bukan Siska yang memberikan perintah itu, dia bisa saja memecat bodyguard itu sekarang.
"Hmm yah!!" Vano menurunkan tangannya yang tidak ada sambutan itu, lalu menghembuskan nafasnya panjang.
Dia mengambil tempat di bangku setir, hanya mereka saja yang akan pergi tanpa bodyguard yang mengawal mereka. Ini adalah acaranya dan gadis itu, Siska.
'semoga saja ini berhasil tanpa ada penolakan' tersenyum tak sabar menit itu akan datang.
"Kamu mau membawaku kemana sih?"
"Kencan" jawab Vano bla-blakan
"Apa? Kencan?"
Vano mengangguk dan ingin terus berfokus pada jalan.
"Kita enggak pernah ada janji untuk berkencan. Turunkan aku!" Siska merengek untuk turun.
"No baby, please .. kali ini saja. Aku mau menyampaikan sesuatu untukmu"
'apa? Dia mau menyampaikan sesuatu. Apa itu? Jangan bilang kalau dia membuat pengakuan?' Siska berpikir seperti begitu, mungkin laki laki ini benar menaruh hati untuknya.
"Enggak, aku ga mau. Ini namanya plan kencan sepihak. Kamu merencanakannya tanpa memberi tahu kepadaku sebelumnya. Pokoknya aku ga mau. Titik!"
Vano memutar setir mobil dan mengarahkan mobil terparkir dengan baik. Keduanya turun dari mobil, sepertinya mereka sedang berada di dermaga. Tunggu! dermaga? "Mengapa kamu membawa aku ke sini? Apa rencanamu?" Siska menatap Vano penuh menyidik "kau mau membuangku di laut ini, dan supaya kita tidak jadi menikah? Begitu?" Ucapnya santai.
__ADS_1
Siska mengeratkan bagian bawah rok gaunnya dengan salah satu tangannya. Angin laut dermaga sangat kencang, cukup membuat sisi bawah gaunnya berterbangan. "Kalau pun memang begitu. Aku juga tidak akan menikah denganmu"
Vano menelan ludah, bisa bisanya pikiran gadis itu sedangkal itu padanya. "Kesini" menarik tangan milik Siska "ih apaan sih?! jangan tarik tarik, bilang aja apa yang mau kau bilang"
"Tutup matamu"
"Hah? Apa? Jangan ngaco deh, sebenarnya apa sih yang mau kau bilang? Bilang aja, kalo enggak. Aku pergi"
Susah di ajak untuk kerja sama, Vano menyerah saja untuk membuat Siska menutup mata. Lalu menarik tubuh gadis itu dan membopongnya untuk kesekian kalinya, membawanya mendekat ke tepi dermaga.
"Turunkan aku! Hei... Kau benar mau membuangku ke laut? Please... Turunkan aku, aku ga mau..." mulut Siska menganga dari setiap kata yang ia ucapkan.
'apa? Permainan apa lagi ini? Kenapa kita ada di sini?' Ya, dia dan Vano sedang berada di atas kapal pesiar sekarang. Kapal pesiar yang mewah, dan sepertinya itu kapal pribadi milik Vano. Pelan pelan kapal itu menjauh dari dermaga.
Vano menurunkan Siska pelan pelan "terimakasih sudah menurut" Vano tersenyum. Lalu menarik lembut tangan Siska mendekati meja yang sepertinya itu meja tempat mereka makan nantinya. Benar saja, di atas meja itu terdapat banyak hidangan makanan.
Siska menurut saja tanpa penolakan lalu duduk, masih terkejut. Ternyata laki laki yang ia benci itu bisa se sweet ini.
"Aku akan menganggapnya ini kencan pertama kita" bisik Vano mendekat. 'pria ini sepertinya sudah gila' lirik Siska dalam hati melihat tingkah Vano yang tidak masuk akal baginya. Bukankah Vano juga tidak menyukainya dari awal?
Bagaimana dengan Vano? Mungkin saja ia masih gugup untuk membuat pengakuan secepat itu terhadap Siska. Benar memalukan, mengapa cinta itu datang tiba tiba dan tumbuh dalam dirinya?
Waktu terus berjalan, hingga keduanya siap makan. Vano mengambil sikap mematung, sepertinya ini dia waktu yang tepat untuk membuat pengakuan terhadap gadis itu sekarang, lalu beranjak dari kursinya berlutut di bawah Siska yang duduk di atas kursi.
"Astaga! Kamu sedang tidak gila hah?" Siska menggeleng melihat Vano, sangat tidak dimengerti.
Siska masih tidak terpengaruh bagaimana Vano memperlakukannya malam ini, dia begitu tidak peka. Akhh Siska!
Vano tidak peduli dengan kata kata yang ia dapatkan barusan dari Siska, malah tetap berlutut dan merogoh saku jasnya bagian kanan. Mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah di sana.
"Maukah kau bertunangan denganku?"
Membuka kotak itu dan di dalamnya ada cincin.
__ADS_1
"Huh! Kita memang sudah bertunangan. Apa kau sedang sakit? Bagaimana kamu bisa seperti ini" Siska terkekeh, masih saja menganggap itu sebuah permainan dari Vano
"Aku bersungguh sungguh sekarang. Aku mencintaimu Siska, Siska Amelia Duckwill. sangat mencintaimu... Aku tidak tau mengapa rasa ini muncul tiba tiba, rasa ini muncul begitu saja" menarik nafas panjang "aku malu... sempat mengatakan bahwa kita hanya akan menjalankan pertunangan ini pura pura, tapi malah sekarang aku mengingini pertunangan ini"
Siska tertegun, apa yang ia dengar barusan itu benar? Mendapatkan pengakuan dan pernyataan cinta tiba tiba?
'tidak aku tidak bisa menerimanya, aku tidak siap untuk ini' lalu beranjak dari kursi dan berdiri "kamu... Kamu sedang apa?"
"Aku menyukaimu, aku mau memilikimu" Vano mengucapkan kata kata itu, terdengar sedikit ego. Dan berdiri mencoba mendekatkan dirinya kepada gadis itu. Melihatnya, kaki Siska pelan pelan mundur kebelakang dan terus mundur kebelakang.
Vano menahan langkah itu dan menarik Siska sehingga wajah mereka kembali bertemu, dan pelan pelan mulai menyentuh bibir milik Siska dan menutupnya dengan bibirnya. Oh tidak, Siska tidak menunjukkan penolakan, dia menikmati ciuman itu sejenak.
'apa yang aku lakukan, kenapa aku malah memancingnya untuk berciuman?' tiba tiba Siska menyadari hal itu dan menggigit bibir milik Vano dan mendorongnya.
"Awwww" Vano memegang bibirnya "kenapa kau menggigit bibirku?"
"Apa yang kamu lakukan? Jangan berani macam macam denganku?"
"Kupikir kamu bersenang senang dan menikmatinya"
Cihh! Siska terus terusan menyeka bibirnya dengan tangannya "aku benci kamu, aku tidak menyukaimu. Kenapa terus terusan membuatku begini? Sampai kapan pun aku tidak pernah menikah dengan mu. Aku hanya menganggap pertunangan ini hanya sebuah alasan saja"
Sakit? Yaaa hati Vano sedikit tersayat dengan kata kata itu. Pernyataan cintanya ditolak. Tapi bagaimana pun dia harus menerimanya, dia akan tetap menunggu gadis itu sampai membuka kan hatinya terhadapnya.
"Ok, tidak apa apa kalau kamu menolaknya sekarang. Aku akan terus berusaha hingga kamu mau menerimaku, dan menganggap pertunangan itu bukan hanya formalitas saja" ucapnya dengan percaya diri, tidak peduli jika gadis itu menolaknya berulang kali kedepannya.
Lalu kapal pesiar itu berbalik arah ke dermaga. Kencan pertama yang buruk, tidak sesuai dengan keinginan yang diharapkan oleh Vano. Meski sebenarnya dari awal telah menyadari gadis itu akan menolaknya.
✨✨✨
Bersambung...
Happy Reading~
__ADS_1
.