Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 57 : Membuat Sebuah Pilihan


__ADS_3

Singkat waktu, akhirnya Siska di perbolehkan untuk kembali ke apartemen lagi. Tidak perlu di rawat inap di rumah sakit. Semua keperluan Siska selama ia di rawat di rumah sakit telah di kemas oleh bi Lina yang setia menemaninya selama tiga hari berturut turut berada di situ.


Sedangkan Vano, dia hanya datang menemuinya satu kali saja pada hari kedua. Itu pun waktunya begitu sangat singkat.


Sikap vakum dan dinginnya lebih parah dari sebelumnya terhadap gadis itu.


Sore itu, Siska akan kembali ke apartemen. Siska sudah beberapa kali mengetik semua pesan singkat WeChat untuk di send kan kepada Vano. Agar Vano mau menjemputnya kembali. Alhasil chat itu pun tidak di balas. Bahkan ketika Siska hendak mau membuat panggilan calling di nomor yang di tujunya tersebut, malah sibuk.


Huffff Siska mengenduskan nafas. 'baiklah. Mungkin dia sekarang begitu sangat sibuk. Diriku?? Jangan dulu berprasangka aneh aneh ya? Dia sedang bekerja sekarang. Semangat! Ok?'


Lalu Siska mantap turun dari ranjang tersebut dengan sedikit bantuan bi Lina. Hingga akhirnya pun, mereka keluar dari bangsal VVIP tersebut.


Ketika hendak mencapai pintu lift. Sebuah pesan masuk dan notif getarannya terasa sekali di kulit tangannya. Siska segera melihat pesan dan nama si pengirim pesan tersebut. Vano.


Uhhh! Entah bagaimana pun. Secercah senyum tersungging di bibir dan wajahnya yang masih ke lihatan pucat itu. 'sayang' lirihnya pelan dalam hati. Tanpa ada ini itu, jarinya di daratkan ke atas layar ponsel tersebut lalu membukanya. Membacanya secara berulang.


"Non? Apa ada sesuatu?" Tanya bi Lina yang sedari tadi menatap bingung nona mudanya itu. Iya, sudah dua menit berlalu Siska menatap layar ponselnya tersebut, bahkan membaca pesan yang masih sama.


"Itu dari tuan Vano ya non?"


"Heee'emmm bi" Siska mengangguk. Sedangkan yang menanya ikut mengangguk juga menciptakan bentuk lingkaran huruf O di mulutnya.


"Bi. Emmm"


"Iya non?"


"Kita ... kita di jemput sama David. Asisten pribadinya Vano"


"Pak David non? Lho bukannya tuan Vano?"


"Bukan bi. Vano lagi sibuk. Dia sudah menyuruh David untuk menjemput kita"


"Baiklah non"


Di tengah tengah pembicaraan itu, yang namanya di sebut sebut pun nongol dan muncul ketika pintu lift terbuka. David telah datang.


"Siang nona, bi Lina"


Keduanya serempak menoleh asal suara tersebut lalu mengangguk kan kepala sekali "iya pak" sambut bi Lina.


"Maaf nona. Mari, tuan Vano menugaskan saya untuk menjemput nona Siska di sini"

__ADS_1


"Baiklah" Siska mengangguk dengan berat.


Bagaimana tidak, hatinya sedikit kecewa. Bukan hanya sedikit, bahkan lebih lebih kecewa lagi. Kenapa sikap Vakum dan dingin Vano semakin terasa? Apa iya, dia sungguh tidak menginginkan dirinya lagi. Hiks Siska hanya bisa terisak saja dalam hati.


✨✨✨


Bagaimana dengan Dina? Ya, kita kembali dengan dia ya.


Sepertinya biasanya, gadis itu akan tetap bekerja di tempat biasanya ia bekerja. Semenjak David memberikan dan menyerbunya dengan beberapa pertanyaan. Hatinya semakin gundah, ragu sekali.


'apa akan lebih baik? Jika aku memberi tahu kepada David semua tentang aku dan ... si laki laki yang namanya tidak ingin aku sebutkan itu (*Rafael)' hal itu selalu saja mengganggu perkiraannya selama tiga hari terakhir ini. Semenjak David menanyakan hal itu dengannya.


Uhhhhh !! _#-#--##_@_$@!! Begitu bingung.


Dina terus terusan menimbang nimbang beberapa hal itu. Jika dia membongkar semuanya, semua tentang dia dan Rafael kepada David. Apa bagaimana seterusnya? Apakah ancaman Rafael sungguh akan terjadi? (nb: baca bab sebelumnya ketika Rafael memberinya ancaman untuk menyebarkan videoklip ketika dia melayani pria itu).


Masih saja seperti itu. Hingga akhirnya pun, malam sudah menggantikan posisi siang hari. Jam menunjukkan pukul 22:25. Dina segera berbesih. Dan setelahnya langsung pulang, bersama dengan beberapa pria yang selalu mengawasi nya setiap saat.


Dina sampai di rumah utama milik Rafael tersebut. Tempat dirinya tersiksa bagai di dalam neraka.


Malam itu, Rafael tidak ada di rumah. Ia sibuk dengan pekerjaannya di kantor perusahaan juga. Atau entalah? Mungkin begitu. Yang pastinya, lebih penting Dina tidak di paksa olehnya untuk melayaninya lagi.


Malam itu, Dina bisa tidur lebih awal. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya di dalam rumah itu, setelah selesai berbersih dan mengenakan pakaian baju tidurnya.


'bagaimana ini?' ia pun begitu bingung dengan pilihannya sendiri. Karena begitu, ia mengganti posisinya dari terbaring menjadi duduk di tepi tempat tidur.


Dengan jari jarinya yang di gigitkan di mulutnya. Dina memutar keras otaknya. 'aku harus bagaimana? Harus bagaimana? Aku sudah menantikan lama hal ini, tapi kenapa aku ragu ketika hal itu sudah ada di depan mata'


Ya, jauh jauh hari sebelumnya. Ia pernah merencanakan hal tersebut untuk memberitahu kepada David siapa dia dan kenapa ia selalu di awasi oleh beberapa mata pria bertubuh kekar. Bukan hanya pernah? Bahkan dia sendiri ingin mewujudkan niatnya tersebut. Mungkin dengan bantuan David, itu semuanya akan berjalan dengan baik.


Setelah lama berjibaku dan beradu pilihan dalam pikirannya sendiri. Saat itu, Dina mantap mengambil langkah dan membuat sebuah pilihan yang dia anggap itu adalah yang terbaik. Meski pun bisa saja, ia dapat menyesali nya suatu saat nanti.


Kemudian ia meraih ponselnya yang ia letakkan di atas nakas dekat tempat tidur nya. Membuat panggilan calling ...


"Hallo?" Ucapnya ketika ia merasa sambungan telfon sudah tersambung.


"Iya hallo Dina" balas David dari telfon "ada apa?"


Dina terdiam sejenak. Sepertinya yang menerima panggilan telfon juga ikut terdiam, menunggu sahutan dari Dina. Beberapa selang waktu kemudian, mulut Dina kembali terbuka dan mulai memberi tahu David alasan mengapa ia menelfon.


Seperti dugaaan David. Dina akhirnya menyetujui jika ia akan mau menjawab semua pertanyaan nya. Dan itu adalah besok hari, di dalam kafe Y. Tempat gadis itu bekerja. Dengan satu syarat, David harus mamakai pakaian yang casual ketika begitu ia masuk menemuinya. Jangan memakai pakaian formal lagi (jas).

__ADS_1


Guna untuk menghindari beberapa pasang mata yang akan mengawasi gadis itu. Karena sebelumnya, beberapa pria yang mengawasinya sudah wanti wanti terhadap tingkah dan sikap David.


Tanpa pikir panjang pun, David menyanggupi satu syarat tersebut. Tidak masalah baginya jika ia harus mengenakan pakaian yang casual bukan jas. Toh, itu juga ga nyampe dua jam. Begitulah pikiran David.


Lama berada dalam panggilan. Tut ... tut ... tut ... panggilan telfonan di akhiri. Keduanya tinggal menunggu hari esok saja.


Dina yang sudah membuat keputusan dan pilihan seperti itu. Ia segera berdiri lalu berjalan mengendap menuju kamar tidur si laki laki bej*t brengs*k tersebut. Tak lain lagi kamar Rafael. Dengan berjalan mengendap endap extra hati hati.


Jangan sampai ia tertangkap basah kelihatan masuk ke dalam kamar Rafael begitu saja. Sedangkan Rafael masih berada di kantor nya malam itu.


Tanpa ketahuan pun, Dina suskes keluar dari kamar tersebut. Lalu berlari sedikit, tidak mengendapkan langkah lagi. Sudah jelas, di dalam kepalan tangan kanan kecilnya tersebut. Sebuah benda mini ada dan di genggam eratnya di sana.


Hufff Dina menarik nafas panjang setelah berhasil menutup pintu kamarnya tersebut. Bersandar diri dengan memukul mukul dadanya pelan. 'jangan takut. Ini adalah keputusan dan pilihanmu' gumamnya dalam hati.


Setelah ia rasa hatinya sudah cukup tenang. Barulah ia berjalan mendekati tempat tidurnya. Lalu merebahkan tubuhnya di atasnya.


Menutup kedua katup matanya. Sembari terus menyelipkan doa doa dalam hatinya. 'jika video klip ku nanti akan tersebar. Setidaknya aku masih bisa hidup dengan baik. Dari pada aku harus di paksa untuk melayani pria itu setiap malam' desisnya. Hiks ... ia sedikit terisak.


'Tuhan. Tolong beri aku jalan. Aku sudah yakin dengan keputusan ku ini' lalu memejamkan mata lama, setelah meyeka air matanya. ia pun tertidur.


✨✨✨


Bersambung ...


mau lanjut apa enggak?


di koment ya😀


please juga like, komen dan votenya.


terus dukung author untuk menulis novelnya yaa !!


dukung author melalui komen komentar.


Tau!! author sangat senang ketika mendapat komentar dari readers semua 🤭🤭


peluk hangat dari author!


love you all muahhh hehehe


.

__ADS_1


.


__ADS_2