Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 5 : Bagaimana Keadaannya?


__ADS_3

Akhirnya Vano dan David bisa menghembuskan nafas lega. Database perusahaan benar-benar telah kembali, dan telah berhasil men-cancel semua peretasan database perusahaan dari orang yang sengaja melakukannya. Vano akan lebih memperketat lagi keamanan perusahaan, bukan Vano namanya kalau diam dan tidak bertindak. Dia menyuruh David untuk mencari orang yang telah berani meretas database perusahaan miliknya dengan beberapa bantuan dari bawahannya yang lain.


"Baik tuan, kami akan menemukan orang itu sebisa mungkin"


Vano mengibaskan tangannya ke arah David dan bawahan lainnya. Sekarang, tinggal hanya dia yang berada di ruangan tersebut. Dia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa dengan menyandarkan kepalanya di bagian kepala sofa.


"Arkhh masalah selalu saja datang" ucapnya sebelum beberapa saat menutup kedua bola matanya. Yang dia dapatkan malah bukan ketenangan, wajah gadis itu terbesit dalam pikirannya.


Vano membuka matanya dan berdiri "bagaimana dengan gadis itu?" Setahunya gadis itu masih belum pulang ketika dia hendak ke perusahaan.


Dia mencari kontak Siska di handphonenya untuk menanyakan apakah dia sudah pulang atau tidak "sial!" umpatnya, dia dan gadis itu belum pernah membagi kontak masing-masing sebelumnya.


Vano menarik jasnya yang ada di bagian belakang kursi kerjanya. Secapat mungkin dia menghampiri parkiran dan melajukan mobil yang ia setir dan kelab X adalah tujuannya.


Dengan mendadak, Vano menghentikan mobilnya melihat tubuh Siska di bopong oleh laki-laki asing. Tampak Siska sedang tak sadarkan diri karena mabuk. Segera Vano turun dan keluar dari mobilnya dan menghampiri keduanya.


"Hei! Kau bawa kemana gadis itu?!" Laki-laki asing itu menoleh ke arah Vano dengan senyum smirk nya


"Kamu tidak ada urusannya dengan dia"


"Kau mau apakan gadis itu?! cepat turunkan dia!"


"Hei bro tenang, aku tidak akan mengapa-ngapakan dia. Dia hanya butuh relax saja malam ini hahahaha"


"Turunkan gadis itu dari tangan jijikmu" ucap Vano menyeringai, seketika salah satu tangannya menonjok wajah laki-laki itu dan berhasil membawa Siska ke dalam dengkapannya.


Seterusnya terjadi perkelahian antara keduanya setelah Vano membawa tubuh Siska ke dalam mobil. Untung saja Vano berhasil mengelak dari serangan laki-laki itu, dan menyerang balik hingga membuat laki-laki itu terjatuh. Vano sesegera mungkin masuk ke dalam mobil dan pergi dari tempat itu.


✨✨✨


Siska membuka matanya perlahan-lahan dan berusaha bangun dengan kepala yang masih pusing. Dia terkejut ketika mendapati dirinya sekarang berada di kamar apartemen "kenapa aku di sini? Aku seharusnya berada di kelab sekarang?"


Dia mendapati ponselnya dan menekan mode daya "apa?" Siska mendongak dari atas tempat tidur melihat hari sudah pagi dan menunjukkan pukul 08:49.

__ADS_1


Dengan kepala yang masih pusing di sertai perasaan yang bingung, dia segera membawa tubuhnya ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari bau alkohol yang menyengat.


Tak lama kemudian, Siska selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan baju kaos casual miliknya. Perutnya terasa nyeri karena lapar, dia dan kedua kakinya membawa tubuhnya ke dapur hendak untuk mendapatkan beberapa makanan. Dia kebingungan melihat makanan telah disiapkan di atas meja disertai surat kecil yang sengaja di selibkan di bawah gelas.


Setelah kamu bangun, jika mendapati makanan di atas meja makan. Kamu harus memakannya, aku telah menyediakan minuman madu untukmu untuk meredakan sedikit mual-mual mu. Harap untuk di minum ~Vano


Siska setengah tak percaya mengetahui Vano menyediakan makanan untuknya. Sejak kapan laki-laki itu peduli dengannya? "Ahh masa bodoh" Siska dengan tidak sabaran melahap semua makanan di atas meja makan, perutnya sudah meraung-raung dari tadi untuk di kasih makan.


"Aku benar-benar hidup sekarang" Siska menghempaskan tubuhnya ke atas sofa ruang tamu yang berhadapan dengan layar televisi lebar. Pikirannya kembali lagi berkecamuk dan seribu pertanyaan melandanya "kenapa aku bisa sampai ke apartemen? Siapa yang membawaku ke sini?" Tidak mungkin Vano bukan? Dengan berusaha Siska mengingat kejadian yang semalam.


Seingatnya, sebelumnya dia dihampiri oleh laki-laki asing di dalam kelab dan... dan "jangan bilang dia menyentuh tubuhku!" Jerit Siska memandang dirinya "ahh tidak-tidak, itu tidak mungkin. Tapi kenapa Vano bisa tau aku mabuk semalam?"


Pertanyaan lain lagi muncul membuat Siska makin bingung. Dengan usaha yang keras, dia mengingatkan bahwa ada seseorang yang membawa tubuhnya ke dengkapannya dari bopongan seseorang, tapi sayang dia hanya mengingat wajah samar orang itu.


"apakah itu Vano?" Setengah percaya tidak percaya dia menebak itu Vano, kenapa dia bisa sampai ke apartemen malam itu kalo bukan Vano yang membawanya pulang.


"Ahh Siska, kamu benar-benar gadis bodoh" Siska mengutuki dirinya sendiri karena malu. Sekarang dia juga harus berhutang dengan Vano karena dia telah menolongnya semalam. Kalau bukan Vano, entah bagaimana nasibnya sekarang.


"Nona udah bangun?"


"Saya ART baru di sini non, nama saya Lina. Tadi pagi baru saja saya sampai di sini atas perintah dari Tuan Vano"


"Vano?"


"Iya non, saya di tugaskan untuk menjaga non agar tidak kemana-mana hari ini"


"Sebegitukah aku harus dilarang untuk keluar rumah? Dia siapa berani ngatur-ngatur aku?"


"Maaf non, perintah tuan Vano tidak bisa saya bantah. Dia akan memecat saya. Kasihani saya non, saya akan susah mencari pekerjaan lain jika dipecat, baru saja saya mendapatkan pekerjaan ini. Jadi tolong saya non"


Siska sedikit iba dengan wanita itu dan memilih untuk diam saja dan meninggalkannya sendirian mematung di tempat.


✨✨✨

__ADS_1


Vano melirik ponselnya berkali-kali, entah ini sudah keberapa kalinya. David yang dari tadi melongo bingung melihat atasannya itu.


"Maaf tuan, apa ada yang perlu saya lakukan?"


"Tidak tidak, saya tidak perlu apa-apa. Kamu boleh kembali bekerja"


"Maaf sebelumnya, tapi tuan sepertinya butuh sesuatu"


"Apa kamu tidak dengar, saya tidak butuh apa-apa!"


"Iya tuan, maaf sudah mengganggu" David mengundurkan diri dan menyisakan dirinya yang tengah bingung atas perubahan atasannya yang begitu signifikan.


Di waktu yang sama, mata Vano tetap tak bisa lepas dari layar ponselnya. Apakah dia harus menghubungi gadis itu dan menanyakan kabarnya? Sia-sia saja usahanya untuk mendapatkan kontak gadis itu semalam jika tidak ada gunanya. Tapi bagaimana gadis itu sekarang? Untuk masalah yang seperti ini, dia bisa mengandalkan David dan mengurungkan niatnya untuk menghubungi gadis itu.


"David?"


"Iy..iya tuan, ada apa?"


"Tolong pergi ke apartemen sekarang dan cek bagaimana keadaan gadis itu. Kabarkan kepada saya nanti"


"Baik tuan, saya permisi pamit diri"


"Satu lagi..."


"Iya tuan apa?"


"Kamu hanya melihat bagaimana keadaannya saja. Jangan katakan yang lainnya lagi apalagi memberi tahu bahwa aku yang menyuruhmu"


"Baik tuan, apa ada lagi yang mau dikatakan?"


"Sudah-sudah, hanya itu saja"


David mengundurkan diri dan hendak pergi menuju ke apartemen sesuai dengan yang Vano perintahkan kepadanya.

__ADS_1


Akan terasa aneh jika seorang Vano yang dikenal dingin tiba-tiba peduli dengan seseorang apalagi itu adalah seorang gadis yang seperti siska. Tidak mungkin secepat itu Vano menyukai Siska, tapi kalau memang begitu, kan itu tidak ada salahnya. Siska adalah tunangannya juga.


"Ahh apa aku memang bodoh sekarang? Kenapa aku harus peduli dengan gadis gila itu. Huh!"


__ADS_2