
"Mari tuan, saya antarkan. Direktur Devano sedang ada di dalam" manager Lin menuntun Rafael dan Zuy yang mengikutinya dari belakang.
"Selamat datang kembali Mr. Rafael" ucap Vano berdiri menyambut kedatangan Rafael lagi di kantornya sambil memperbaiki belahan kancing jasnya. Keduanya melemparkan senyum smirk masing masing.
"Mari duduk ..." Tuan Devano melangkahkan kakinya menuju sofa
"Oh iya"
Sambil menyilangkan kaki di atas sofa yang berada di tengah tengah ruang besar itu. Keduanya terlihat akrab, tapi siapa sangka sebagai kolega bisnis yang menjalin kerja sama tidak semulus apa yang di lihat di depan mata.
Dari sejak awal pertama menerima perusahaan RK Grup sebagai investor di perusahaannya, Vano sudah lebih dulu curiga dengan kerja sama bisnis itu.
Bagaimana dan perusahaan mana yang mau menanamkan modal uangnya ke perusahaan lain jika nantinya tidak ada pertambahan jumlah keuntungan yang masuk ke perusahaannya sendiri, bahkan kerugian yang di alami akan merusut besar.
Sama sama melemparkan senyum sinis yang memiliki arti.
"apa kita bisa mulai meetingnya tuan?" David menyela yang dari tadi berdiri di belakang Vano. Vano mengangguk.
"Tidak" semua mata tertuju kepada Rafael yang dengan santainya bersandar di bagian kepala atas sofa termasuk dengan Vano "kami datang kesini bukan untuk melakukan meeting untuk projek selanjutnya" sambil terkekeh kecil.
"Zuy ..." Lanjutnya lagi.
"Baik tuan" sambil membuka semua isi tas yang dibawanya, mengambil beberapa berkas berkas yang sepertinya rencana untuk projek yang sudah setengah jalan di jalan kan. Meletakkan nya di atas meja tepat di depan Vano
"Silahkan dilihat"
Vano melirik berkas itu baik baik, perkiraannya tidak meleset, ternyata perusahaan RK Grup sedang mencoba membuat motif lain untuk bekerja sama dengan mereka.
'ckkk' Vano membuat tampang yang seolah tidak terlalu terpengaruh dengan hal itu.
"Kamu tau itu apa?" Rafael memperbaiki cara duduknya dengan ucapan yang sangat informal kepada Vano "saya membantalkan semua kerja samanya dan akan menarik semua uang penanaman modal yang telah kami berikan. Perusahaan anda sama sekali tidak memberikan layanan terbaik untuk perusahaan kami"
Cihhh! Vano malah memilih lebih bersikap santai. "David ..."
"Iya tuan?" Mendongakkan kepalanya dari belakang mendekati meja letak dimana berkas itu semua ada.
"Silahkan urus semua ini, dan lakukan pembatalan semua kerja sama dengan perusahaan RK Grup"
'apa? Kenapa dia tidak panik? dengan mudahnya dia mengambil kesimpulan seperti itu' Rafael terkesiap kaget dari duduknya. Harapannya untuk melihat bagaimana reaksi Devano mengemis agar kerja samanya tidak di batalkan sudah jauh berbeda dengan apa yang ia harapkan sebelumnya. Akhh ...!!! Usahanya sia sia.
Tangan kirinya mengepal di tempat sandaran sisi kiri sofa yang ia duduki, terus menerus melirik Zuy asisten pribadinya yang berdiri tepat di belakangnya. Zuy membalas semua reaksi atasannya itu hanya dengan gerakan bahu serta tangannya yang terangkat. Dia juga tidak mengerti dengan arah permainan lawan mereka sekarang.
"Mr. Rafael ... Pembatalan kerja sama bisnis telah di terima. Silahkan pak, mohon tanda tangannya di sini" David mendekati tempatnya.
__ADS_1
"Ba .. baik, saya begitu senang karena tidak ada keberatan dengan pihak perusahaan ANGKARA GRUP" dan menandatangani surat pernyataan itu langsung. Vano hanya terdiam saja dan masih dengan sikap duduk yang menyilang.
"Baik, terimakasih atas kerjasama sebelumnya" tanpa basa basi lagi, Rafael meninggalkan tempat itu dan keluar yang di ikuti oleh Zuy dari belakangnya. Langkah awalnya untuk menghancurkan perusahaan rivalnya itu gagal.
✨✨✨
Vano tersenyum puas dengan performa yang ia lakukan dengan permainan Rafael.
'ckkkk' "kolega bisnis yang buruk!" Cihh!
"Tuan? Apa membatalkan kerja sama itu tidak akan membuat perusahaan kita akan bangkrut. Pembangunan telah di jalankan setengah jalan" ucap David yang membuat Vano melirik ke arahnya.
"Berapa perusahaan yang investasi nya telah pernah di tolak oleh perusahaan kita sebelumnya?"
"Sekitar empat perusahaan tuan"
"Alihkan projek itu dengan menerima investasi dari salah satu perusahaan yang ada"
"Tuan? ..."
"Setting dan tinjau ulang semua bagian proyeksi yang masih belum di kerjakan. Suruh manager Lin untuk membuat pengumuman kepada seluruh karyawan perusahaan untuk segera ke ruang meeting sekarang" ucap Vano lihai, sikapnya sebagai direktur kembali lagi.
David menurut saja, mengikuti arah pemikiran atasannya itu
"baik tuan. Permisi ..."
✨✨✨
Wajah Rafael berubah memerah, bagaimana bisa dia kalah dari Vano. Terus membanting banting kaca mobil hingga sedikit retak.
"Arkkkk!! Devano Putra Angkara ... " Terus mengepal kedua tangannya dari tinjuan nya.
"awas saja, kamu bisa menang dari ku kali ini"
"Cepat jalankan mobil, saya ingin ke rumah utama sekarang"
"Tapi kantor bagaimana tuan ... apa .."
"Hei!! Lakukan saja apa yang ku bilang" Rafael meninggikan suaranya dengan emosi yang masih menjalar dalam dirinya.
"Baik ... Baik tuan. Maaf" lalu Zuy menyetir mobil tersebut.
Emosi masih membumbung tinggi dalam dirinya, Rafael mengambil ponselnya dari saku jasnya. Calling ...
__ADS_1
"Iya tuan. Ada yang bisa ku lakukan?" Tanya pengawalnya dari telfon
"Cepat bawa gadis itu ke rumah utama sekarang (read: Dina)"
"Baik tuan, perintah akan segera di laksanakan"
Tut ... Telepon di tutup oleh Rafael
✨✨✨
Di waktu yang sama tetapi pada tempat yang berbeda, Siska malah terkulai dalam lamunannya. Ya, akhir akhir ini wajah pria itu terus menerus berada dalam benaknya.
Dia membentangkan kakinya di atas meja depan sofa dimana dia duduk dan bersandar di situ. Dengan tangan yang dijadikan sebagai bantalan.
"Aduh! Bagaimana ini? Kenapa wajahnya terus terus saja muncul" memukul mukul pelan wajahnya dengan kedua tangannya. Mungkin itu karena dia menyukai pria itu, Vano.
"Aaaww ...!!" Dia membuat dirinya sakit sendiri, pukulan tangannya di wajahnya sedikit sakit. Hahaha Siska ... Siska ...
Hufff ... Huff ... Huf ... (Mengambil sikap duduk dan bangun dari sandarannya sambil mengendus kan nafas)
"Okay Siska, kamu jangan membiarkan dirimu terus memikirkan dia, pria itu. Kamu tidak menyukainya kan? Ya, betul sekali. Kamu membencinya lebih dari apa pun" Siska berusaha mengelak dari Keadaannya yang sekarang, yang terus memikirkan Vano, hingga membuatnya terus ke over thingking dengannya.
Tapi ... Itu tidak berhasil, malah wajah itu selalu muncul "ahhkk Siska!! Kamu bodoh! Kamu goblok" menendang nendang bantal sofa, perasaannya terhadap Vano sekarang tidak bisa dimengerti olehnya.
"Non ... non Siska kenapa?" Tiba tiba saja bi Lina menghampirinya. Wanita itu setengah takut mendengarnya menjerit jerit tidak jelas apa lagi mendengang nendang sofa.
Siska malu sendiri dengan tingkahnya "ehh bibi ... Hehehe"
"Non kenapa? Kenapa teriak teriak? Ada yang terjadi dengan non Siska?"
"Enggak bi, Siska tadi cuma ... cuma ... Pokoknya enggak kenapa napa deh. Bibi tenang aja"
Wanita paruh itu baru baru bisa tenang dan mengelus dadanya "astaga non, bikin bibi takut saja"
"Iyah bi, Siska minta maaf"
"Kalo gitu bibi ke dapur dulu ya non. Mau masak" pergi sambil geleng geleng dengan tingkah Siska.
✨✨✨
Bersambung ...
Happy reading♡
__ADS_1
.
.