Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 8 : Merasa Jengkel


__ADS_3

Perlahan-lahan David menyetir mobil dan sesekali menoleh ke belakang melihat Vano yang di sibukkan dengan ponselnya. Apa ini waktu yang baik untuk memberi tahu tuan nona Siska berada di rumah sakit? Tidak, jangan dulu sekarang. Tuan lagi sibuk, mungkin nanti saja.


Sampai di apartemen, Vano pergi menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya di sana. Jadwal hari ini benar-benar padat.


"Kenapa apartemen begitu sepi?" Vano berusaha bangun dari tempat tidur dan duduk, tiba tiba saja dia heran tidak melihat dan mendengar suara berisik dari gadis itu.


"Apa dia pergi ke kelab malam ini lagi?" Vano berpikir begitu "ya mungkin saja" masa bodoh buat Vano. Dia tidak peduli bagaimana dan dimana gadis itu sekarang.


Notifikasi WeChat tampil di atas ponselnya, dan membacanya dengan berulang.


💌 David


Tuan, saya masih di lobi apartemen. Nona Siska berada di rumah sakit sekarang. Saya akan mengantar tuan jika mau pergi ke sana


Vano duduk terdiam tak menanggapi bahkan membalas WeChat dari David. Menimbang beberapa ada kemungkinan gadis itu di rumah sakit akhirnya dia berdiri dan berjalan menuju lift.


"Tuan, silahkan masuk" ucap David sambil membuka pintu mobil


"Tidak usah, kamu lebih baik pulang. Kenapa baru memberi tahu ku tentang gadis itu?!"


"Maaf sekali lagi tuan, saya tidak bermaksud...."


"Sudah sudah, bagaimana keadaannya sekarang?"


"Nona Siska terlihat baik-baik saja tuan, nona tadi terpeleset dan jatuh di kamar mandi"


"Apa?" Vano terkesiap mendengar kata-kata David barusan "siapa yang menjaga dia sekarang?"


"Saya telah menugaskan beberapa pengawal tuan, dan bi Lina juga ada di sana"


Tanpa menghiraukan kata kata dari David, Vano masuk dan melajukan mobilnya meninggalkan David yang masih berada di lobi apartemen.


✨✨✨


Bi Lina menoleh melihat siapa yang datang membuka pintu "tuan Vano"


"Dimana gadis itu, bagaimana keadaannya sekarang?"


"Nona sedang tidur tuan, kata dokter dia baik baik saja. Tidak perlu ada yang di khawatirkan" jelas Bi Lani dengan takut takut mengingat semua ini karna ulahnya yang lalai bekerja. Yah, walaupun sepenuhnya bukan salahnya.

__ADS_1


"Kamu boleh pulang sekarang"


"Maaf tuan...?"


"Kamu boleh pulang sekarang, kamu akan di antarkan oleh pengawal yang di luar"


"Nona bagaimana tuan?"


"Saya akan menjaganya malam ini"


"Ta..tapi tuan..."


Vano menatap bi Lina dengan mata dinginnya membiarkan wanita paruh baya itu semakin bersalah "ba... baik tuan, saya akan pergi"


Tubuh Vano mendekati Siska yang tengah tertidur pulas di atas ranjang pasien. Vano menatap infus yang di pasang di tubuh Siska di sertai balutan yang menutupi luka lengannya "dasar gadis bodoh" ucapnya lalu memposisikan tubuhnya untuk duduk di kursi di samping ranjang pasien dan tanpa sadar dia juga ikut tertidur.


Pagi datang, mata Siska pelan pelan terbuka. Kepalanya masih terasa pusing dan rasanya ingin memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Merasa tangannya tidak bisa di ajak kerjasama karena di pegangi. Matanya melirik dan menangkap se sok sok laki-laki yang tidak di sukai nya itu. Matanya melotot, dan dengan cepat dia menarik tangannya dari genggaman laki-laki itu.


Gerakan reflek itu, membuat Vano terbangun dari tidurnya. "Kamu sudah bangun?" Sambil menguap Vano berusaha berucap


"Kenapa kamu ada di sini?! dan dimana bi Lina?"


"Apa apaan kamu. Aku masih butuh bi Lina! Bukan kamu"


"Hei gadis bodoh, saya juga tidak mau berada di sini. Masih banyak urusanku yang penting di kantor di bandingkan dengan dirimu, kalau kau bukan saja tunanganku dan orangtuaku menyuruhku untuk bertanggung jawab atasmu. Saya akan tidak peduli denganmu"


"Kamu pergi saja! I don't need help from you!"


"Cihhh" Vano mendengus kesal menyesal telah menjaga gadis itu lagi dan lagi "saya akan pergi sekarang!"


"Tunggu..."


"Apa lagi?!"


"Apa mommy dan Dady sudah mendengar bahwa aku masuk rumah sakit?" Vano menggeleng saja tak merespon pertanyaan dari Siska dengan kata kata.


"Aku bertanya!"


"So?"

__ADS_1


"Setidaknya kamu jawab"


Tok tok tok...


"Maaf pak mengganggu, apa dengan pak Vano wali dari bu Siska?" Tanya dokter Ririn


"Iya saya dok. Ada apa?"


"Melihat dari keadaan Bu Siska sekarang, keadaannya tidak memburuk. Dia tidak perlu lama lama di rawat inap dan bisa pulang ke rumah"


"Ohh baik dok"


"Tapi, satu lagi. Bu Siska di larang melakukan aktivitas fisik yang berlebihan yang bisa membuat lengan bu Siska akan semakin parah. Jadi, harap bu Siska selalu dalam pengawasan"


"Iya dok. Akan saya laksanakan" limpah Siska dari atas ranjang, tidak memberi kesempatan bagi Vano untuk berkata


"Mari pak, silahkan mengurus administrasinya terlebih dahulu" ucap seorang suster yang berada di samping dokter Ririn.


Vano menggeleng tanpa penolakan menurut saja dengan instruksi suster tersebut dan keluar mengikutinya untuk mengurus administrasi rumah sakit.


✨✨✨


Vano membuka pintu mobil dan mempersilahkan Siska untuk turun. Tanpa aba aba dari Vano, Siska lebih dulu turun dari mobil dan beranjak menuju lift tak sabar untuk sampai ke dalam apartemen.


"Hei gadis, tunggu aku. Aku juga butuh lift untuk naik" tanpa respon atau pun menoleh Vano, tangan Siska dengan cepat menekan tombol lift untuk naik ke lantai 15, segera pintu lift tertutup meninggalkan Vano mematung yang terlambat untuk masuk ke dalam. Vano kesal sekaligus jengkel dengan sikap perlakuan gadis itu terhadapnya.


"Huh!" Siska merebahkan tubuhnya hati hati di atas sofa yang telah beberapa lebih dari seminggu menjadi miliknya. Sambil memegang lengannya dengan salah satu tangannya yang masih di balut dengan perban putih.


Vano datang dengan bentuk wajah yang tidak sewajarnya dan menatap Siska yang tengah berbaring di sofa dengan muka datar


"Kau kenapa?"


"Gadis bodoh! Kamu siapa di sini? Semena menanya menggunakan lift dan membiarkan aku tertinggal"


"Hahaha" Siska cekikin tertawa puas melihat Vano yang jengkel dengannya "emang gue peduli??!"


Vano sedang berada di fase untuk tidak mau berdebat lagi. Dia terlalu malas untuk meladeni Siska si gadis yang sewaktu waktu pernah membuatnya nyaman untuk tidur lalu pergi ke kamarnya.


"Argghhhh bodoh kamu Vano!" Ucapnya sendiri sambil memukul jidatnya dengan tangannya sendiri, mengutuki hidupnya kenapa harus di pertemukan dengan gadis gila itu. Sikap apatis nya muncul lagi terhadap Siska dan tidak mau peduli gadis itu tidur di sofa.

__ADS_1


✨✨✨


__ADS_2