Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 24 : Pertemuan yang hanya Kebetulan


__ADS_3

Kini Rafael melayang layangkan jari jarinya di atas layar ponsel miliknya. Membuka tutup layar beranda. Sedikit ke tidak mantapan tumbuh dalam dirinya. Tidak seperti biasanya.


Antara ya atau tidak mempencet nama yang tertera di atas layar ponselnya 'gadis kelinciku'


Gadis kelinciku? Ya, itu adalah nama kontak Siska dalam ponselnya. Terakhir kali mereka bertemu, dia sudah memintanya kepada Siska. Tanpa bersusah payah untuk mencari bahkan untuk memintanya saja, Siska membagikan kontaknya begitu saja.


Nama itu (read: gadis kelinciku~Siska) dia menyukainya. Waktu pertama pertemuan mereka di dalam kelab. Siska terlihat liar sebelumnya, tetapi dugaannya salah. Gadis itu tidak seperti demikian. Dan Rafael menyukai hal itu, tidak ada perdebatan. Sekarang dia sudah mantap untuk menyukainya, dia akan berjuang untuk mendapatkan hati Siska.


***


Author POV~


Wah wah ... kini pria itu juga menyukai gadis yang sama disukai oleh Vano. Rival baru bukan buat Vano? Sesama kolega bisnis akan mencoba memperebutkan dan memenangkan hati seorang gadis sekarang.


✨✨✨


"Apa?" Tangan Rafael mempencet nama itu secara tidak sengaja. Calling...


Rafael menyungging kan senyum seketika, gadis itu mengangkat panggilan darinya huh!


"Akhirnya"


"Iya..." Rafael masih diam seribu bahasa di dalam kesenangannya. Lama dan lama, hingga tersadar bahwa Siska tengah berbicara dari tadi.


"Hallo..."


"Siska ini aku Rafael"


"Oh Rafael, ada apa Fa ..."memanggil nama Rafael sangat terlihat akrab. Itu saja membuat Dia makin oleng untuk mendengarnya. Tidak ada sebelumnya yang berani memanggil namanya seperti itu.


"Tidak ... Tadi cuma iseng doang buat telfon. Buat mastiin saja hehehe" terkekeh


Lama dan lama, cukup memakan sedikit waktu. Tak terasa mereka sudah lebih dari dua puluh menit melakukan panggilan telepon.


"Kamu senggang malam ini?" Tanya Rafael tiba tiba.


Siska ke bingungan menjawab, sebenarnya sih dia punya banyak waktu untuk senggang. Tapi hanya karena dia tinggal di apartemen itu sekarang, bukan suka sukanya kalau ia keluar.


"Emm ... gimana ya? Aku ..."


"Gimana?"


"Bukan ga ada waktu tapi... cuma aku ..." Suara siska jelas terdengar terbata dari dalam ponsel.


Rafael menengadah 'kenapa dengan dia?' di putarkannya pandangan nya itu.


"kamu tidak punya waktu ya malam ini? Tidak apa apa kok, boleh lain kali saja" terpaksa mengucapkan kata kata itu, sedikit merasa kecewa.


Sedangkan Siska dari sana, terdengar suara nafasnya yang ditarik dan di hembuskannya berulang kali. Akhirnya panggilan pun di akhiri. Tut ... Sambungan telepon terputus.


"Akhhh!!!" Rafael malah meninju atas mejanya, kekecewaannya tidak bisa ia pendam. Gadis itu benar benar mempengaruhinya sekarang, sebegitu kah besarnya rasa sukanya kepada Siska, gadis itu.


Perlahan Rafael duduk di kursinya, terus menengadah membuat bayang bayang Siska berada di pikirannya 'gadis kelinciku' tersenyum beberapa saat 'siska ....'


"Aku akan berusaha mendapatkan mu. Kamu telah membuat aku candu dengan diri mu"


✨✨✨


Hadehhh ....

__ADS_1


Terus membuang nafasnya dari tadi, Siska tengah memikirkan cara supaya dia bisa keluar malam ini. Apa ia mau memenuhi permintaan Rafael kepadanya untuk bertemu?


Terus di putarkan otaknya, berjalan mondar mandir di depan layar televisi lebar itu. Terus memikirkan caranya ... "Apa aku minta bantuan sama bi Lina saja?"


Dia hanya mendapatkan ide seperti itu, lalu mencari wanita itu di setiap sisi sudut apartemen. Akhirnya, dia menemukan wanita itu sedang menyirami bunga di balkon.


"Bi ..."


"Iya non ada apa?" Memutar arah kebelakang dan menghadap Siska


"Bi ... Siska mau ..."


"Iya non, non Siska mau apa? Mau makan? Biar bibi ambilin atau masakin?" Buru buru meletakkan air penyiram di tempatnya.


"No no no, bi ... bukan yang itu"


"Terus apa non?"


"Siska mau keluar, bosan di apartemen terus" sambil memasangkan puppy eyes nya berharap wanita itu memenuhi permintaan darinya.


Wanita itu sebenarnya tidak tega melihat Siska begitu, dia tahu rasanya jika selalu tidak di bolehin keluar. Iyah, dia mau membiarkan Siska untuk keluar. Tapi jika tuan Vano tahu hal itu, dirinya bisa berabe.


"Bi ..."


"Maaf non, bibi tidak bisa bantu. Tuan Vano memberi perintah kepada bibi supaya non Siska tetap berada dalam apartemen, agar tidak kemana mana"


"Ah bibi!" Siska mencoba merenngek walau pun sia sia saja tanpa hasil.


Huffffff


Siska jengkel dengan hal itu, lalu kembali masuk ke dalam apartemen meninggalkan bi Lina di luar balkon.


Masih sore, Vano tidak akan tahu kalau ia keluar. 'lagian laki laki itu biasanya pulang tengah malam'


"Okay" pelan pelan, Siska bersiap dan segera keluar ke apartemen.


Cusss ...


Kini dia berada di dalam mobil taxi.


'Apa yang akan aku lakukan sore ini?' menggigit bibir bawahnya berulang "kita ke kafe Y aja ya pak"


Lalu supir taxi itu memutarkan setir mobil, manancap gas melajukan mobil di atas jalan raya.


***


Kafe Y


Siska mengayun ayunkan tangannya di atas kopi miliknya dengan sendok. Menopang bagian dagunya dengan satu tangannya yang di tekuknya di atas meja. Bingung dengan apa yang harus dia lakukan, telah hampir setengah jam dia berada dalam kafe tersebut. Menyendiri di bangku tanpa ada yang menemaninya. Kelab masih belum di buka di jam jam seperti ini. Dia harus menunggu lebih lama lagi.


Huffffff....


Dia memalingkan wajahnya ke tempat dimana barista melayani pelanggannya. Matanya mendapati sok sok yang ia kenal.


Seperti ... "Apa itu Rafael?" Siska yakin itu pasti Rafael.


"Tapi sedang apa dia di sana?" gumamnya lagi sambil memiringkan kepala untuk lebih leluasa melihat gadis barista yang sedang bercakap dengan Rafael.


Terlihat sangat akrab sekali.

__ADS_1


Sedang asyik memandangi objek di depannya, tiba tiba Siska memalingkan wajahnya dan mencoba melambaikan tangannya. Rafael menoleh ke belakang mendapati Siska tengah melambaikan tangannya ke arahnya. Mereka bertemu lagi, apa itu karna kebetulan mereka bertemu lagi?


"Hai girl" sapa Rafael menghampiri tempatnya


"Emm iya, hai juga"


"Kita bertemu lagi" memasangkan senyum "apa ini sebuah kebetulan?"


Siska lagi lagi menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Rafael malah tengah asyik mengambil kursi dan duduk tepat di depan nya. "Sejak kapan kamu ada di sini?" Tanya Rafael sambil memperbaiki cara duduknya.


"Aku barusan ada di sini" berbohong, padahal dia sudah lama berada di sana. Rafael mengangguk percaya begitu saja.


"Maaf"


"Buat apa?" Rafael menatap bingung ke arah Siska


"Siapa gadis itu? Kelihatannya kalian akrab sekali"


Rafael mendengkap, tegang dengan posisi duduknya 'kenapa dia bertanya seperti itu? Apa dia mengira ...' Duhhh! Hatinya seperti di menangkan oleh kehangatan, berasumsi Siska akan menyukainya.


"Aku cuma tanya aja sih" Siska terkekeh. Mendengar itu, kehangatan di hatinya memudar. Asumsinya seperti nya mustahil untuk ada. Siska malah tengah berpikir Rafael dan gadis barista itu saling menyukai.


"Mbak" Siska melambaikan tangan memanggil gadis itu.


'apa apaan! Kenapa dia malah memanggilnya ke sini' Rafael mengusap usap bagian bawah bibirnya. Lalu menoleh ke arah belakang, dia membelakangi tempat barista.


Rafael menatap gadis itu, spontan langkah gadis itu berhenti sejenak menatap balik tatapannya. Rafael mencoba memberi kode untuk jangan menghampiri mereka, dengan mulut yang mengeja kata kata "J-A-N-G-A-N K-E-S-I-N-I" tanpa mengeluarkan suara.


Siska malah menghampirinya dan menarik tangan gadis itu, membawanya duduk di meja Rafael dan dia duduk. kini di sana mereka ada bertiga.


"Maaf mbak. Mau pesan kopi apa? Saya akan membuatkannya untuk mbak" mencoba menghindar dari Siska


"Tidak mbak, ke sini dulu deh, sebentar saja ya"


Rafael akan di buat gila, kenapa harus di dalam kafe ini mereka berpapasan dan bertemu? Kenapa bukan di tempat lain saja.


"Tidak mbak, saya masih mau melayani pelanggan. Permisi"


"Bentar dulu, nomor kontak mbak ada?" Siska mengulurkan tangannya. Gadis itu bingung entah apa yang harus dia lakukan. Apa dia menuruti saja permintaan Siska kepadanya? Lalu menoleh Rafael takut dan menunduk susudah itu.


"Mbak? Mbak tidak apa apa?" Tanya Siska


Hanya menggeleng kepala saja dengan sikap diam


"Raf" Rafael menoleh ke arah siska dan menaikkan alisnya setengah mengkerut.


Menghembuskan nafas, terpaksa menuruti apa yang di bilang Siska. Sejak kapan seorang Rafael dapat di suruh suruh?


Melihat Rafael yang langsung meminta nomor kontaknya, dia memberikannya. Walau sebenarnya keduanya sudah saling memiliki kotak satu sama lain.


Siapa gadis itu? Kenapa dia begitu takut dengan Rafael? Tidak membiarkan sembarang orang memiliki kontak ponselnya kecuali Rafael memperbolehkannya.


✨✨✨


Bersambung...


.


.

__ADS_1


__ADS_2