
Apartemen
Kini mobil yang Vano dan Siska melaju dengan sangat kencang. Hingga mobil itu berhenti di lobi apartemen tanpa satu pun kata kata yang terlontar dari keduanya. Siska sungguh kelut lidahnya untuk berbicara dan terus berjibaku dalam isak tangisnya hiks ....
"Turun!" Ucap Vano datar tanpa menoleh lagi ke arah gadis itu. "Vanooooo ..."
"Aku bilang turun!!!!"
"Tapi percayalah aku sungguh tidak melakukannya hiks"
"Apa kau bodoh hah?!! Aku bilang turun!!!"
Gertakan ucapan Vano membuat Siska semakin menjadi dalam tangisnya. Dengan langkah yang berat ia pun turun dari mobil.
KUP! Vano juga keluar dari mobil dengan pintu yang lain. Sama sekali tidak menunjuk kan wajah yang ingin bertoleran. Melainkan hanya tampang datar yang tergambar di sana.
Pelan pelan Siska menghampiri tempat nya dan mencoba meraih tangan Vano "sayang huhuhu ..." Dengan secepat itu, Vano menepis tangannya. "Segera masuk! Aku mempunyai kesibukan!"
"Percayalah, aku tidak pernah tidur dengan Rafael" hiks mencoba meraih tangan Vano namun terus di tepis oleh Vano sendiri. "Van ..."
"Segera masuk! Aku akan segera menyuruh bi Lina untuk kembali ke apartemen. Aku mempunyai urusan yang penting!!" Menoleh ke sisi lain
"Sayang! Apa kau percaya dengan ku? Ku mohon, ini semua bukan seperti yang kamu lihat" huhuhu
Kepercayaan Vano sudah hilang, makin mendengar gadis itu berucap dengan isak, Vano geram. Dengan kasar, tidak ada lagi belaian yang lembut. Ia menarik tangan milik Siska lagi. Membawanya masuk ke dalam apartemen, terus menariknya melalui anak tangga hingga mereka sampai di depan lift, kembali menaikinya lagi. Hingga akhirnya mereka sampai ke depan pintu.
Glekkk !!! memutar kenop pintu dan mendorongnya secara kuat hingga menimbulkan suara keras dari pintu itu. Vano lalu menguncinya dengan genggaman yang tak terlepas dari tangan gadis itu.
"Sakit Vano" hiks hiks Siska mencoba memelas agar pria itu tidak menggenggam erat dan menarik tangan nya dengan kasar. Tapi akan kah Vano mempedulikan nya? Melainkan wajahnya sudah merah karena emosi.
Menarik kuat dan mendorong tubuh Siska hingga terlentang di atas sofa. Lalu menghimpit tubuh itu dari atas.
"Sayang ... Aku bersungguh! Aku tidak melakukannya" Siska masih terisak dalam tangisannya. Meyakinkan agar pria yang ada di depannya itu percaya dengan kata katanya.
Vano menatap wajah gadis itu dengan tatapan penuh amarah namun tidak bisa meluapkannya. Entah bagaimana dia bisa percaya dengan hal itu semua. Huhuhu bukan cengeng, air matanya mulai menitik keluar. Ia merasa dirinya telah di khianati, cintanya telah di sia sia kan oleh gadis itu, Siska.
__ADS_1
"Sayang ..."
Vano melepaskan topangan tangannya dari sisi tubuh gadis itu dan membuat tangan Siska terlentang ke atas namum tak lepas dari cengkeraman tangannya.
"Kamu tidak menghianati ku kan?"
"Dear ... Ku mohon agar kau percaya dengan ku. Aku sungguh ..." Hiks
hmppp hmmmpp Vano cepat melahap bibir miliknya, ciuman yang begitu sangat brutal melebihi dari kebrutalan Rafael menciumi lekuknya.
Menggigit dan ******* nya dengan buas, lalu melepaskannya "katakan!! Kau tidak pernah tidur dengan pria itu. Katakan!!!!"
Hmmmmppppp kembali melahap bibir itu dengan kasar. Siska terisak dalam tangisnya. Vano sungguh tidak percaya dengannya lagi. Dia hanya bisa terisak, Vano terus saja membungkam mulutnya itu dengan sumpalan bibir pria itu. Ciuman itu tidak ada lagi kasih cinta seperti sebelumnya di dalamnya, melainkan hanya sebuah kebrutalan yang ada.
Tangan Vano beralih ke dadanya, menyingkir kan jas pria itu yang di pasangkan olehnya di tubuhnya. Bra yang masih belum terbuka sempurna, dengan kasarnya Vano melepasnya hingga rusak. Crak! Ikatan yang membuat tali bra milik gadis itu lepas. Tersembul lah bola dada miliknya. Hiks Siska terdiam dalam tangisnya. Menciptakan jeritan tangis yang kuat.
Vano menatap lama bagian dada tubuh gadis itu dengan tatapan yang ingin menyergap dan memburu. Lalu merem*s nya dengan kasar.
"Ahh sakit!!! Sakit!!!" Jeritan kesakitan Siska percah memenuhi ruangan apartemen itu.
"Katakan! Apa pria itu memainkan tangannya di dada mu seperti ini hah??!! Katakan!!"
"Vano ... Ku mohon, kau harus per ... Ahh sakit!!" Siska terus menjerit. Namun siksa tangan Vano terus menggerilya di atas dadanya. Tangan pria itu semakin lama semakin beralih ke bawah, menarik dan melepaskan bawahan miliknya hingga robek, sempurna lah CD gadis itu tertampak.
"Kumohon!! Huhuhu jangan siksa aku!! Aku sama sekali tidak tidur dengan nya" hiks hiks Siska memelas dengan lemah lagi, perlakuan Vano membuatnya kesakitan di sekujur area dadanya itu. Matanya nanar sayup akibat tangisannya. Ketika hendak tangan pria itu menarik CD miliknya, berhentilah di sana sebelum terbuka sempurna.
Lalu ia berilih pelan dengan mata merahnya juga "kau sungguh tidak melakukannya kan? Kau tau aku sangat mencintaimu" mengalihkan tangannya ke atas rambut gadis itu, menyekanya pelan.
"Sungguh ... Percayalah, aku sungguh tidak melakukannya. Ini semua hanyalah jebakan" hiks "aku ... aku ..." Kata katanya berhenti.
"Aku mencintaimu sayang, kau sudah tau kan bagaimana kegilaan ku jika kau benar melakukannya?"
Lalu Vano berdiri dan melepaskan apitan nya dari tubuh itu, memungut baju yang sudah terlempar di bawah lantai satu persatu. Berjalan ke arah keranjang sampah, lalu membuangnya. Dan kembali membawa pakaian yang baru.
Pelan pelan ia memasangkan pakaian itu sendiri di tubuh gadis itu. Memasangkan bra, baju, hingga bawahan gadis itu di pasangnya. Lalu mengecup kening Siska. "Tidak boleh ada orang lain yang bisa meniduri mu. Hak itu harus lah milik ku. Kau mengerti kan?"
__ADS_1
Siska mengangguk dengan isak tangis pelan tidak seperti sebelumnya. "Maaf kan aku, kau pasti kesakitan" memeluk tubuh Siska dan mengecupnya sekali lagi. Sedangkan Siska hanya terdiam dalam tangisnya. Menelungkup kan wajahnya di dalam dada pria itu. "Hiks sayang ..."
"Tenang lah. Aku tidak akan membuat mu seperti ini lagi" keduanya berpelukan dalam waktu yang cukup lama. Hingga bi Lina datang, barulah pelukan itu terlepas.
"Bi, jaga Siska dengan baik. Aku akan ke kantor, masih ada urusan yang harus ku urus"
"Baik tuan" setelahnya, segeralah kaki Vano melenggang dari tempat itu hingga punggungnya pun tak terlihat lagi dari pintu itu.
Bi Lina yang sudah mendengar segala sesuatu itu dari David. Dengan segera meletak kan di atas meja semua barang dapur yang di belinya itu di atas meja. Menghampiri tempat nona Siska nya duduk terisak pelan.
"Huhuhu bibi"
"Iya non" wanita paruh baya itu tak tega dan membawa kepala gadis itu bersandar dalam dengkapannya. Memperlakukannya sebagai seorang anak. Lalu memeluknya "bibi sudah mendengar semua non. Tenang lah sttt"
"Tapi bi, Vano ... Vano huhuhu hiks"
"Sttt non Siska jangan menangis. Bibi yakin, tuan Vano akan percaya dengan non" memeluk erat tubuh nona Siska nya hingga ia merasa bawah gadis itu telah baik baik saja. Barulah ia melepaskannya.
"Non Siska tidur ya, bibi akan memasak makanan yang paling uueeenakkkk buat non hehehe" mencoba menghibur Siska dengan gurau ala chef nya. Hal itu pun mampu membuat gadis itu terkekeh walau pun sedikit terpaksa. Dan mengangguk saja.
✨✨✨
Bersambung ....
untuk readers semuaaaaa !!!!
mohon maaf ya, jika eps ini terdapat sedikit scene vulgar!
Please dukungan yaaa buat author melalui komen komentar! komen dari readers adalah penyemangat author untuk melanjutkan menulis novel ini🙊
Love you all ☺️
.
.
__ADS_1