Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 18 : Ciuman Sebagai Gantinya


__ADS_3

Rafael terus berjalan dan menuruni anak tangga yang berderet sebelum dan sesudah keluar masuk perusahaannya itu.


Sambil bersiul kecil, menghiraukan bawahan lainnya yang dari tadi menunduk setiap melewatinya.


Hari ini akan ada meeting penting, meeting langsung dengan direktur dari perusahaan yang telah lama dinantinya untuk bekerja sama, ANGKARA GRUP.


Satu, dua, tiga sampai sepuluh orang mengawalnya hingga Rafael benar benar duduk aman dalam mobil. Wahh... orang yang terkaya dari yang terkaya. Di ikuti dengan pengawal yang jumlahnya puluhan, terlihat seperti sekelompok kawanan orang orang mafia saja dan Rafael yang menjadi pemimpinnya.


Salah satu dari mereka yang sepertinya adalah seorang kepala dari pengawal tersebut, memberikan perintah agar kembali ke tempat semula (mengawasi setiap sudut bangunan perusahaan).


Tidak ada komplain semuanya sigap dengan perintah itu. Asisten pribadinya masuk dalam mobil dan mulai menyetirnya.


Ting Ting Ting....


Pesan WeChat masuk ke ponsel asisten Zuy


πŸ’Œto As: Zuy RK Grup ~ from As: David ANGKARA GRUP


Atas nama perusahaan ANGKARA GRUP, saya minta maaf sekali. Direktur sedang tidak bisa melakukan meeting pagi ini, karena ada urusan mendadak yang harus beliau tangani. Jadwalnya pagi ini di cancel saja, dan nanti sore akan diteruskan. Permohonan maaf sekali lagi yang sebesar besarnya, atas nama perusahaan ANGKARA GRUP.


"Dari siapa? hah?" Tanya Rafael sambil membetulkan kancing lengan jasnya.


Bingung harus mau jawab apa, tidak ada alasan lain yang pantas untuk diberikan "maaf sekali lagi tuan" kepala menunduk hingga kursi mobil sejajar dengan kepala asisten Zuy "jadwal meetingnya pagi ini di cancel, dan dilanjutkan sore nanti..."


Membanting kaca mobil hingga terdapat sedikit retakan "direktur macam apa dia?! seenaknya saja membatalkan meeting!!" dengan nada suara yang meninggi.


Rasa dendam dan benci semakin muncul dalam dirinya untuk ANGKARA GRUP, perusahaan itu sudah terlalu naik daun hingga mengalahkan kepopuleran perusahaannya sendiri.


Dan sekarang dengan enaknya saja membatalkan pertemuan yang telah dinantikan oleh sang direktur RK Grup, Rafael "cih! dia mau main main denganku ternyata bajing*n ckckkckk" cekikin disertai umpatan kecilnya.


✨✨✨


David dengan tergopoh berlari lari kecil mengikuti langkah atasannya Vano. Menuruni lift hingga sampai ke lantai bawah dan membukakan pintu mobil "putar arah, saya mau ke apartemen sekarang?"


David menoleh belakang "a.. apartemen tuan?"


"Iya, lakukan apa saja yang saya perintahkan"


"Tapi jika ada yang mau tuan ambil di sana, saya bisa mengambilkannya saja untuk tuan"


"Hei! Saya mau bertemu dengan gadis itu sekarang, cepat jalankan mobilnya"


'tuan mau buang buang waktu kerjanya hanya bertemu dengan nona Siska? Apakah tuan Vano sudah menaruh hati terlalu dalam padanya sekarang' gumam David dan membuang muka dari hadapan bosnya menghadap ke arah jalan.


"Baik tuan" lalu memutar dan menyetir mobil ke bagian arah jalan dan menuju apartemen.


✨✨✨

__ADS_1


"Siapa sih?" Siska sedikit bergeser dan berdiri di atas sofa 'itu mungkin bi Lina' gumamnya saja.


Dia tidak peduli siapa yang datang lalu melanjutkan aktivitas menontonnya sambil dengan posisi tubuh yang terbaring, tangan kirinya menyandang kepalanya.


Tiba tiba saja, wajah Vano muncul dan menutupi layar besar televisi itu, sehingga hanya setengahnya saja yang dapat terlihat 'apa, bagaimana wajah itu muncul?' Siska membetulkan posisinya ke posisi duduk.


Mengusap matanya berulang, dia berpikir itu cuma wajah yang selalu ada dalam bayang bayangnya sebelumnya.


"Hai gadis kecilku" wajah itu tersenyum lebar ke arahnya. 'apa... apa! Dia berbicara' batinnya semakin kuat bahwa itu benar benar Vano yang nyata. 'tapi kenapa di kesini, bukannya dia sedang berada di kantor sekarang?'


Pelan pelan, tangan kekar laki laki itu menyentuh rambutnya dan mengelus lama di sana.


"Vano?! Kenapa kau ada di sini?" Menarik tangan itu dari atas kepalanya "satu lagi, saya ingatkan kepadamu. Jangan semena mena mencoba menyentuh kepalaku seenaknya"


Vano mendekat mencium cepat keningnya sambil berbisik "aku punya hak atasmu, kamu adalah tunanganku. Toh sebentar lagi kita akan menikah" wajah Siska memerah merinding mendengar kata kata itu.


Menelan ludah berulang kali dan menjauhkan dirinya dari tubuh yang dari tadi mencoba menghipitnya dalam rangkulan "kalau kamu mau ambil sesuatu, ambil saja terus keluar"


Huh! Lalu merangkul pundak gadis itu dan menariknya hingga kepala Siska bersandar berada di atas dada bidangnya "aku cuma mau bertemu denganmu sayang"


Suka atau tidak dengan posisi itu, Siska mencoba untuk melepaskan diri dari rangkulan itu. Tapi sepertinya usaha itu sia sia saja. Dengan berat hati, Siska membiarkan dia dirangkul oleh laki laki itu, Vano.


"Sebentar saja, lima menit saja. Habis itu saya akan kembali ke kantor" lalu kedua matanya di buat merem.


"Astaga! Apa orang ini sudah gila" Siska berkata pelan, dia tidak tahu Vano masih bisa mendengar kata katanya


"Sayang? Aku bukan gadismu. Lepaskan!"


"Tapi kamu adalah tunanganku" kembali meraih tangan Siska dan melingkarkan tangan itu di lingkaran pinggangnya.


Siska membuang nafas jengkelnya dan menarik kembali nafasnya dalam dalam. Apa laki laki ini telah benar menyukainya?


Vano membuka matanya dari meremnya lalu menoleh dan menatap mata milik Siska "apa kamu sudah memakan makanan yang aku kirimkan tadi pagi?"


Siska menggeleng bingung "makanan yang mana?"


Vano melepas rangkulan eratnya hingga tubuh mereka berdua berada dalam posisi berhadapan. Siska tak mau menatap mata itu lalu menoleh paket makanan yang ada di atas meja yang masih utuh, belum di makan sama sekali atau pun membukanya "apa maksudmu paket makanan yang itu?" Vano mengikuti jari Siska yang menunjuk di atas meja.


"Kamu belum memakannya?"


"Hee'emm"


"Sama sekali?"


"Iya"


"Kenapa tidak kau makan?"

__ADS_1


"Aku sudah lebih duluan makan sebelum paket itu datang" berbohong, padahal sebelumnya paket itu datang lebih dulu dari pada makanan yang dipesannya.


"Makanan dari mana? Apa bi Lina memasak?


Tidak mungkin bi Lina"


"Kenapa dengan bi Lina?"


"Saya menyuruhnya untuk tidak datang hari ini ke apartemen"


"Apa?" Tanya siska, kini dia menatap Vano. Pantesan dari tadi, dia tidak menjumpai wanita paruh baya itu dalam apartemen sejak pagi tadi


"jadi ini alasannya kamu mengirimkan aku makanan ini?"


Vano mengangguk "makanya makan"


"Enggak, udah kenyang"


Sepertinya usaha Vano sia sia, dia juga tidak mungkin memaksa Siska buat makan makanan itu.


Tidak ada pilihan lain selain membuang makanan itu. Padahal dia sudah merogoh ratusan juta kocek buat bayar chef yang memasaknya. Ya ampun Vano...!


CUP


satu ciuman mendarat lagi di bibir Siska, otomatis tangan Siska memegang bibirnya "ini sebagai gantinya" Vano beranjak dari sofa setelah melakukan ciuman itu.


Mata Siska membelalak "Vanooooo!!!!!"


meneriaki Vano yang telah membelakanginya dan keluar dari apartemen kembali ke kantor.


Cih cih cih...


Siska memukul mukul kuat bantal sofa 'apa? Kenapa aku membiarkan dia menciumiku lagi!!!'


"Akhhh benci benci benci" Siska kembali mengusap bibirnya dari bekas ciuman itu. Usaha itu sia sia saja, ciuman tetaplah ciuman.


✨✨✨


Bersambung....


Happy reading~


peluk hangat dari author buat readers semua yang udah mau jadi view di novel iniπŸ˜™πŸ˜™


Mei Er


.

__ADS_1


__ADS_2