Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 66 : Aku Mengagumi dan menerima mu terlepas dari masa lalu mu


__ADS_3

Siang hari ini, semua aktivitas pekerjaan di dalam kantor perusahaan ANGKARA GROUP terhenti sejenak. Waktunya untuk break time sejenak untuk para karyawan kantor. Termasuk dengan David sebagai asisten pribadi sang direktur utama dalam perusahaan tersebut. Dari tadi pagi, ia sudah tidak terlalu di sibukkan dengan penyusunan berkas proyek pembangunan rumah makan di Makassar sebagai goals perusahaan untuk kali ini. Semalam dia sudah lembur untuk mengerjakan itu, kini dia bisa bebas menghirup udara segar semampuninya.


Tinggal besok siang, dia akan mengantarkan berkas itu untuk di tinjau oleh Vano atasannya apakah ada yang perlu dia ubah atau ralat dalam pengetikan. Sebelum mereka akan melakukan presentasi meeting dengan perusahaan lain yang telah diklaim sebelumnya untuk bekerjasama.


David pun melenggang dari ruangan kerjanya tepat di samping ruang sang direktur utama perusahaan berdiam. Sengaja ruangan David ditempatkan di situ, supaya jika Vano memintanya untuk melakukan apa apa, dengan sigap ia akan cepat sampai.


"Waktunya have lunch" David berencana untuk tidak makan siang di kantor untuk siang ini. Ia sudah mempunyai plan sendiri, ya dia mau mengajak Dina untuk makan siang. Entah itu di resto atau dimana nantinya, intinya saja dia dan Dina akan makan siang bersama.


Tak terlepas juga izin dari atasan yang lebih tua, Mr. Johannes. Sebelum David memiliki plannya ini, ia sudah lebih dulu meminta izin dari Mr. Johannes, ayahnya Vano. Harap-harap agar dia diperbolehkan keluar dari perusahaan walau hanya setengah hari. Tidak susah untuk mendapatkannya, Mr. Johannes memberinya izin.


Dalam mobil yang tengah ia kemudikan, David mengambil hp nya dari saku celana yang senada dengan setelan jasnya hari ini. Yaa warna toska, biru langit. Dia sengaja membuat dirinya lebih istimewa hari ini, tidak seperti biasanya.


Kemudian ia memutar gang gang setir untuk mengemudikan mobilnya di dekat trotoar jalan untuk sementara. Matanya tak lepas dari hp yang ia pegang, senyuman manis tercipta dari bibirnya melihat pesan masuk di atas layar hp nya. Notifikasi WeChat dari Dina.


Sesegera ia mempecet dan membukanya. Hahaha dari seutas senyum tipis kini beralih dengan tawa kecil. Dina mengirimkan foto di saat dia tengah memasak di kontrakannya sendiri ditambah dengan baju daster rumahan serta rambut yang asal di kuncir membuat sisi paras cantiknya semakin terlihat. Dan David pun mengagumi serta menyukainya.


💌Dina


Mas, aku tengah sibuk memasak nih. Maaf ga bisa mengangkat telfon mu tadi.


(+ Foto)


Kira kira begitu isi chat singkat Dina untuk David.


Apa sebentar! Dina memanggil David dengan sebuah mas?? Jadi gini, ketika David sudah benar-benar mantap menaruh hati untuk Dina, entah bagaimana ceritanya. David meminta Dina untuk memanggilnya dengan sebutan MAS.


💌David send to Dina


Tidak apa sayang. Aku akan segera menjemput mu sekarang. Kita akan keluar hari ini, segera bersiap-siap. Dalam perjalanan 20 menit lagi aku akan sampai di sana.


David pun menaruh hp nya dengan cepat tapi tak asal di dashboard mobil lalu kembali menancap gas mobilnya menuju kontrakan milik Dina yang tak jauh dari tempat ia memarkirkan mobilnya tadi. Dengan perasaan semangat David menyetir mobilnya.


Kita ulas sebelumnya tentang tempat tinggal Dina. Ya, Dina sekarang tinggal di sebuah kontrakan kecil namun nyaman untuk di tempati. Kira-kira dua minggu setelah masalahnya dengan Rafael selesai, Dina memilih untuk menyewa sebuah kontrakan yang pas dan cocok untuknya ia tempati. Awalnya, David sempat menawarkan agar ia tinggal di apartemen yang dekat dengan rumahnya. Tapi entah kenapa Dina bersikeras tetap menolaknya, hingga akhirnya David membatalkan niatnya itu. Padahal David sudah lebih dulu menyewa apartemen itu untuknya.


"Maaf mas, aku ga bisa tinggal di tempat seperti itu" ucap Dina menolak namun dengan halus


"Kenapa? Apa arsitektur ataupun lingkungan sekeliling apartemen tidak cocok dengan mau mu?" David berusaha keras agar Dina tidak menolak keinginannya.


Dina menggeleng tidak membenarkan apa yang David katakan "tidak mas. Bagi ku itu udah lebih baik. Tapi aku tetap tak enak hati tinggal di situ"


"Kenapa? Apa tentang masalah uang sewanya?" David menebak "tenang saja, aku sudah menyewanya kok. Jadi tinggal di sini aja, lagian kalo kamu tinggal di sini akan aman kok"


Malah Dina lebih tidak di buat enak lagi karena David telah menyewa apartemen itu untuknya. Bukan gimana-gimana sebenarnya, masalah untuk tinggal itu adalah hal yang mudah. Tapi Dina masih ga bisa menerima setiap apa yang David berikan kepadanya, ia merasa kebaikan David sungguh banyak kepadanya meski terlepas sekarang mereka adalah sepasang kekasih.

__ADS_1


"Bukan masalah itu mas"


"Jadi?"


"Aku cuma ga enak aja, mas udah banyak baik untuk ku. Padahal aku belum melakukan apa apa untuk mas" Dina menunduk malu.


"Anggap biasa aja lah Din. Di ralat ya dengan apa yang barusan kamu bilang tadi ke aku. Kamu tidak melakukan apa apa untuk aku?"


Dina mengangguk dengan pertanyaan yang barusan David tunjukan kepadanya namun dengan kepala yang masih menunduk malu.


"Ngomong apa sih Din. Kamu cukup selalu bersama ku dan menerimaku menjadi kekasihmu pun itu sudah lebih dari cukup. Aku yang malah bersyukur bisa mendapatkan hatinya kamu" ucap David panjang lebar saat itu agar keraguan Dina pada saat itu bisa pupus. Dia sangat menyukai wanita itu.


Dina hanya bisa bungkam tak bisa bicara apa-apa. Tak ada daya untuk berucap. Kata kata David barusan begitu mengena di hatinya. Bagaimana David mengatakan begitu? Bukankah seharusnya ia yang berucap begitu? Bersyukur ia dipertemukan dengan seorang pria yang mencintainya dengan tulus serta menerima masa lalunya yang buruk dengan baik.


Ia merasa tak pantas jika yang bersanding dengan David adalah dirinya. Seharusnya itu adalah wanita yang baik, mempunyai karir yang baik setimpal dengan dirinya. Bukan dengan dirinya yang tidak ada apa apa ini. Apalagi dengan dirinya yang bukan kembang peraw*n lagi. Mahkota kegadisannya yang seharusnya ia jaga itu telah lama hilang di tangan orang yang begitu kejam dan biada*b. Akhh__ sudahlah tidak perlu membahas tentang itu lagi.


"Dina?" Ucap David pelan sambil memegangi pundak Dina.


"Kamu ngomong apa sih mas, malah aku yang seharusnya bilang gitu. Aku bersyukur bisa dipertemukan dengan pria yang baik seperti kamu" David pun tersenyum mendengar ucapan itu. Lalu seraya memeluk hangat tubuh itu.


"Apa pun dan bagimana pun kisahmu di masa lalu, aku tidak mempermasalahkannya. Lagian itu sudah terjadi dan biarkan berlalu. Tidak perlu di ungkit kembali. Tuhan sudah mengatur jalan masing-masing orang, tidak ada kehidupan yang dilalui tanpa lika-liku. Semata, itu semua terjadi bukan karena kamu yang menginginkannya. Jadi lupakan. Kita harus mulai membuka lembaran hidup yang baru. Sama-sama bangkit dari titik nol. Aku mencintaimu dengan tulus, jadi jangan merasa kamu tidak enak dengan ku"


Huaaa Dina dibuat seakan memejamkan mata untuk selamanya. Mendengar kata-kata yang begitu indah yang pernah ia dengar. Tak pernah menyangka bahwa masih ada pria yang mempunyai hati yang baik dan tulus seperti David.


"Jadi gimana tentang tadi?"


"Emmm aku__" masih bingung, David pun sabar menunggu dengan jawaban Dina kepadanya dengan harapan jawaban yang tidak mengecewakan.


"Maaf mas, aku masih ga bisa nerima untuk tinggal di apartemen itu"


Ternyata Dina masih mempertahankan keinginannya itu yang membuat David sedikit kecewa.


"Jadi kamu akan tinggal dimana jika bukan di apartemen itu?"


"Aku sudah menyewa sebuah kontrakan kecil kok. Nyaman untuk kutinggali sendiri" Dina tersenyum meyakinkan David "lagian uang sewa rumah kontrak itu tercukupkan dengan uang tabungan ku selama aku bekerja di kafe. Sewa kontraknya sudah di perpanjang selama 6 tahun kedepan"


David hanya bisa menghembuskan nafasnya, ia juga tidak bisa melarang Dina untuk kemauannya.


"Yasudah. Tapi jika ada apa apa yang perlu kamu bilang aja ke aku. Janji?"


"Janji mas" Dina pun menyunggingkan senyum tipis menebar, David pun menatap pergerakan bibir itu yang membuatnya kikuk untuk segera menciuminya.


"Boleh aku mencium mu?"

__ADS_1


Astaga! Dina terkejut mendengar apa yang barusan David ucapkan. "Apa?"


"Boleh aku mencium mu?" David mengulang ucapannya namun dengan sungguh sungguh.


Dina pun mengangguk pelan. Kemudian dengan pelan David mendekatkan wajahnya ke pemilik wajah cantik itu. Sedikit menunduk karena badannya yang sedikit tinggi untuk Dina.


Dengan lembut David membelai bibir wanita itu dengan lembut dengan bibirnya. Penuh dengan cinta dan kasih sayang.


Ciuman itu begitu sempurna dan indah--- begitulah yang Dina rasakan. Baru pertama kali ini ia mendapatkan sebuah ciuman seperti itu, ya ciuman tanpa kekerasan dan pemaksaan.


Lalu perlahan ia membalas setiap ciuman yang di berikan oleh David untuknya. Setelah cukup lama, ciuman itu akhirnya terlepas.


"Aku juga mencintaimu mas" lirih pelan Dina. Keduanya pun tersenyum seraya berpelukan lagi. Begitu sempurna dan indah.


____________


Flash back off


Tok tok tok


Buru buru Dina membukakan pintu. Tepat sekali, ternyata David memampuni kata-katanya dan tidak melenceng sedikit pun dari apa yang ia bilang. 20 menit tepat ia sampai dan siap menjemput Dina.


"Udah siap?" Tanya David duluan. Matanya seakan sedang di buat manja menatap wajah kecil yang menatap wajahnya juga. 'cantik sekali' ucapnya membatin dalam hati.


"Masss? Kenapa? Apa baju ini tidak pas untukku?? Bentar yaa biar aku ganti"


"Enggak, ga usah" David menahan langkah Dina yang hendak pergi untuk segera berganti baju "kamu sungguh cantik mengenakan baju ini" sambung David lagi dengan tatapan yang tak lepas dari penampilan Dina. Yang di tatap pun di buat salah tingkah.


"Akh mas bisa aja" Dina mengeyel dengan pujian itu, padahal dalam hati brakkkk! Ritme jantungnya sedang tak normal. Hahaha ampun deh Dina!


"Ga mau masuk mas? Minum air atau makan siang dulu sebelum berangkat"


"Enggak usah. Kita makan siang di luar aja"


Dina pun mengangguk mengiyakan saja, lalu keduanya pun menuju halaman kontrakan yang tak seberapa luas itu dimana mobil terparkir. Semenit kemudian, keduanya melenggang pergi dengan mobil.


✨✨✨


Kepengen punya cowok kayak David👉👈


Haaiiii up lagi yaa, semoga suka❤️


tks buat komentarnya, author berterimakasih banget☺️

__ADS_1


ILV buat readers♡


.


__ADS_2