Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 22 : Kecanggungan Diantara Kita


__ADS_3

Keduanya sudah berada di dalam mobil, tinggal hanya beberapa menit lagi mereka akan sampai ke apartemen. Tidak ada kata kata yang dapat dikatakan saat itu, jelas keduanya canggung terhadap satu sama lain setelah kejadian yang baru saja terjadi, bahkan untuk melirik kesana kemari pun tidak ada niat. Hanya keheningan yang ada diantara keduanya.


Vano terus hanya ingin berfokus pada jalan saja, pernyataan cintanya telah ditolak. Seumur-umur, baru pertama kali dia mendapatkan gadis yang bisa menolak dia yang sempurna itu, sama sekali pun tidak menunjukkan rasa ketertarikan.


Sedikit kagum, gadis itu tidak melihatnya dari sisi kayanya atau bagimana pun. Terlalu jauh beda dari gadis yang lainnya yang di luar sana, gila harta. Apa karena dia juga berasal dari keluarga DUCKWILL? Keluarga terpandang sekaligus ahli waris generasi kedua dari keluarga itu?


Vano tidak berpikir begitu, dia melihat gadis itu tidak terlalu tertarik dengan hal itu. terbukti saja sampai sekarang perusahaan DUCKWILL HD GRUP masih di hendel dan di pimpin oleh ayahnya Mr. Herlino. Oleh sebab itu, Vano tidak akan melepaskannya begitu saja, dia harus membuat Siska suka dengannya.


Di sisi lain, bagaimana pun... Vano masih agak risih dengan kata-kata Siska kepadanya 'aku benci kamu. Aku tidak menyukaimu. Kenapa terus terusan membuatku begini? Sampai kapan pun aku tidak pernah menikah denganmu. Aku hanya menganggap pertunangan ini hanya sebuah alasan saja'


Akhhh! Tangannya membanting keras setir mobil tanpa ia sadari hingga membunyikan suara klakson mobil tiba tiba, padahal sama sekali jalan terlihat sepi. Hanya jarang kendaraan lain yang berpapasan dengan mereka.


Siska menoleh pelan pelan ke arahnya ragu ragu. Di lihat dari rona raut wajahnya, sepertinya laki laki itu sedang jengkel dengannya.


'apa aku terlalu kasar karena menolak pengakuannya tadi?' lirihnya pelan dalam hati, menggigit bibir bawahnya terus terusan 'ya tuhan... Kenapa waktu begitu lama, aku ingin segera masuk ke dalam apartemen dan tidak mau melihat wajahnya terus menerus begini' rasa bersalah tercipta dalam diri Siska, mungkin kata katanya begitu kasar dengan Vano hanya karena menolaknya. Kenapa tidak diam saja tadi? Itu pasti akan lebih baik 'akhhhh'


"Siska..."


'apa? Dia benar memanggil nama ku lagi' Siska mengencang nafas "iya ke.. kenapa?"


"Turun"


"Hmmm"


"Kita sudah sampai, kamu boleh turun"


Siska menggaruk kepalanya yang tidak gatal "oh iya, aku masuk duluan" cepat cepat membuka pintu mobil


KUP...!!!!


pintu mobil tertutup, Siska melangkah dan menjauh dari mobil ingin segera masuk. Agar dia dan Vano tidak menaiki lift secara bersamaan. Itu lah yang ingin dia lakukan sekarang.


Dushh... Dushh... (Mobil berputar arah, dan sepertinya akan pergi lagi)

__ADS_1


Siska otomatis menolehkan kepalanya ke belakang 'dia.. dia mau kemana?'


"Va..Vano!!" ragu dan terbata memanggil nama itu. Vano membuka jendela mobil bagian samping tempat kemudi mobil lalu mendongakkan kepalanya keluar "apa? Jangan bilang kau juga ingin di antar sampai ke dalam apartemen" berusaha terkekeh.


'kenapa dia tersenyum segala sih?!'


Duh...! Rasa bersalah semakin besar dan dirasakan oleh siska. Dia bisa melihat bahwa Vano sedang berusaha membuatnya terkekeh sendiri. Senyum itu hanya senyum yang di buat buat saja.


"Kamu..kamu mau kemana? Kita kan baru sampai" 'akh siska! Kenapa kamu malah membuat kata kata mu seolah terdengar peduli dengannya' gerutunya dalam hati karena malu dengan ucapan yang spontan ia ucapkan.


"Kamu ke dalam apartemen saja, jangan kemana mana. Aku mau ke kantor dulu, masih ada yang harus ku persiapkan buat meeting besok" lalu melajukan mobil meninggalkan Siska yang tengah mematung menyisakan kebingungan.


Siska menggeleng saja dan masuk ke dalam apartemen. "Yahh.. biarkan dia pergi, lagian hal ini yang aku ingini. Aku tidak mau melihat wajahnya sampai besok pagi"


✨✨✨


Jarum jam menunjukkan angka 23:05. Vano terlihat masih nyaman untuk stay dalam ruangannya di bandingkan dalam apartemen. Apa mungkin dia masih malu dengan pernyataan cintanya yang di tolak itu?


"Akhhhh!!!" membanting dan melemparkan semua barang yang ada di atas mejanya. Merasa frustasi, langkah pertama buat mengutarakan rasanya kepada gadis itu gagal. Gagal sekaligus memalukan.


Tidak boleh ada yang berani menolak pengakuannya, apa lagi gadis itu, Siska. Yahh... begitu pikirannya sekarang. Terlihat sedikit ego bukan? Tapi kan yang namanya CINTA harus perlu di perjuangkan bukan? Semangat Vano!


Menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang berada di tengah tengah ruangannya. Segera melayangkan jari jarinya di atas ponsel miliknya. Calling...


"Ya tuan" deringan ketiga, David sudah menjawabnya. Sepertinya di sana, David terpaksa terbangun. Suaranya terdengar serak khas orang baru bangun dan terus menguap. Tapi, itu adalah tuan Vano. Mau tidak mau dia harus mengangkat panggilan itu.


"Segera ke kantor sekarang"


"Ke kantor?" David terkesiap dari matanya yang masih susah untuk di buka "ba..baik tuan, saya akan segera berangkat"


Tut... Panggilan di akhiri.


'ke kantor? Ada masalah apa lagi di kantor, bukannya tadi siang semua keperluan buat meeting besok telah fix ku persiapkan?' buru buru David ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air di atas wastafel. Kebingungan di suruh oleh bosnya meminta agar dia segera ke kantor, apa lagi tengah malam begini.

__ADS_1


✨✨✨✨


Huff ... huff ... huff ... nafas David terengah engah ketika sampai di dalam ruangan itu lagi.


"Ada apa tuan?"


Vano menolehnya dengan wajah yang frustasi. 'kenapa tuan Vano begini? Apa pengakuannya di tolak?'


"Tuan... apa ada sesuatu yang salah?"


"Plan pertama gagal total"


"Maaf tuan, maksudnya?" Tanya David seolah tidak tau apa apa, padahal sebenarnya dia sudah menebak jika pengakuan bosnya itu di tolak. Dia hanya ingin melihat bagaimana reaksi tuan Vano ketika mengucapkan kata itu hehehe. Sekarang David sungguh berani melakukan hal itu.


"Jangan banyak tanya. Atur plan selanjutnya buat ku" huff... "Aku sangat frustasi" Vano mengatakannya bla bla kan.


"Begitu kah tuan?" Ukh ... ukh ... terkekeh sekaligus membuat batuk yang di sengaja.


Vano mengkerut kan alisnya melihat hal itu.


Sehelai kertas di depannya di remaskan lalu melemparkannya kuat ke arah David "kamu menertawakan apa? Kamu sedang mengejek ku hah?!!!!!"


"Maaf tuan" David segera membetulkan posisinya dan kembali bersikap sebagai asisten yang komponten "saya akan segera menyiapkan plan selanjutnya sebisa mungkin"


"Bagus" Vano menyandarkan kepalanya di bagian belakang kepala kursi kerjanya, lalu memutar lama di sana sebelum beberapa saat membuat matanya merem "kamu boleh pergi sekarang"


"Pergi tuan?" Astaga! Tuan Vano benar benar... Akhh! Hanya dengan masalah seperti ini, dia memanggil David untuk segera ke kantor "tuan tidak pulang ke apartemen?"


"Aku berencana untuk tidur saja di sini. Besok aku akan pulang. Tolong, jemput bi Lina agar segera ke apartemen. Di sana hanya ada Siska" titah Vano.


Tidak bisa menolak, David mengikuti perintah itu saja "baik tuan. Permisi" lalu meninggalkan ruangan itu dan keluar, menyisakan Vano yang masih berada dalam posisi merem.


✨✨✨

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2