
Kembali dengan David ....
Di lihat dari cara duduknya di bangku mobil. Terlihat saja, bahwa David masih terus berupaya untuk membuat plan jitu untuk segera menuntaskan masalah yang terjadi antara atasannya, tuan Vano dan nona Siska.
Menekan nekan pelipisnya dengan jari telunjuknya. Satu tangannya masih sibuk menggeser sana sini layar ponselnya.
Tiga puluh menit setelahnya, mobil yang membawanya sampai di lobi apartemen.
Segeralah David berencana turun dan masuk ke dalam apartemen. Meninggalkan bodyguard yang menjadi supir dadakan itu di mobil.
"Tunggu di sini saja, saya akan masuk sendiri"
"Baik tuan"
David membuka pintu mobil, berdiri di sisi pintu setelah berhasil keluar. Sambilan memperbaiki kancing jasnya. Lalu berjalan hingga kaki nya membawanya ke dalam apartemen.
~
Dalam apartemen ...
Suasana ruangan di dalam terasa beda bagi David. Tidak siapa pun ada di sana. Ia memutar dan menerawangkan matanya ke mana mana, alhasil tidak ada satu pun seseorang yang ia dapatkan (baik Siska mau pun bi Lina).
"Bi Lina?" Mencoba memastikan di dalam apartemen ada orang atau tidak. Sat! Satu mata yang David miliki terarah di pintu masuk kamar tuan Vano.
Felling yang ia miliki, mengatakan pasti ada orang di dalam. Samar samar suara panik terdengar dari belakang pintu itu. David lebih mendekatkan dirinya menuju pintu itu. Penasaran dengan apa yang di dalam kamar itu. Hati hati David menarik kepop pintu itu ke bawah, apa! David membulatkan matanya lebar. Ketika wanita paruh baya itu mendekati tempat ia berdiri di samping pintu, sangat mengejutkan "pak David! Pak, non Siska ... no Siska sakit pak" ucap bi Lina dengan kepanikan tingkat dewa.
"Sakit?" Segeralah David menghampiri tempat tidur yang di atasnya terbaring Siska.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit. Segera hubungi tuan Vano"
"Tapi pak, non Siska bilang tadi. Jangan mengganggu tuan Vano dulu, karena beliau sedang bekerja"
Tidak peduli, David mengangkat tubuh Siska membawanya ke luar segera pergi ke rumah sakit. "cepat bi! Atau bi Lina mau kena marah dari tuan Vano?"
Bingung dan panik. Antara harus mematuhi perintah dari Siska dan David. Hanya bisa menelan ludah selavinya "baiklah pak" mengangguk. Lalu memutar badan, menggapai sisi meja yang ada telepon. Menghubungi tuan Vano ~
Rumah Sakit
Wajah pucat pasi setengah mati terukir di wajah milik Vano ketika mendengar dari telfon bahwa Siska sedang sakit. Dan sekarang dia telah di bawa di rumah sakit.
Tidak peduli dengan kekecewaan yang ia alami, Vano segera bangkit dari tempat duduknya di ruangan itu. Mengambil jas nya yang di hanged di tiang kayu belakang sudut kursinya.
"Baiklah, tolong bi Lina tetap di sana. Saya akan segera di sana. Hubungkan saya dengan David" titah Vano sembari terus berjalan hingga ia menggapai parkiran mobil di pelataran parkir perusahaan.
__ADS_1
"Ba ... baik tuan. Ini ada pak David" sahut bi Lina dari telfon dengan sedikit terbata.
Segeralah David terhubungkan "iya tuan. Saya sedang tengah di rumah sakit sekarang. Saya akan menjemput mu tuan?"
"Tidak usah. Saya akan menyetir sendiri. Tetap awasi bagai mana keadaan Siska sekarang. Tunggu sampai saya datang. Mengerti?"
"Baiklah tuan"
Kebut dan kebut, sedikit susah bagi Vano untuk mencari celah jalan pintas ketika mobilnya sudah sampai di perempatan jalan, sedikit jauh dari perusahaan. Saat itu juga, jalan ibu kota Jakarta sangat macet dan di padati oleh kendaraan.
Pikiran over protective terhadap Siska terus saja berputar dalam pikirannya. Siska dan Siska terus ...
"Akhhh!!" Saking lama menunggu nya, Vano menggertak sendiri dalam mobil dan membanting gang gang setir berulang kali.
Sudah sepuluh menit berselang lama, mobil yang ia tunggangi masih berada pada posisi perempatan jalan yang sama, hanya sedikit mobilnya berpindah.
Arghhhkkk!! Vano mengusap bagian belakang kepalanya dengan kasar di sertai dengan wajahnya juga. Sekilas, matanya menangkap sebuah motor yang memang sejajar dengan mobilnya pada saat itu. Tanpa pikir panjang, Vano segera turun dari mobil, menghampiri orang yang mempunyai motor tadi.
"Maaf. Tapi tolong bantu saya, saya sungguh mempunyai suatu hal yang sangat mendesaknya"
"Bapak Devano Putra Angkara?" Bukan main kagetnya, orang sang yang empunya motor terkejut. Benarkah yang di depannya sekarang adalah sang direktur Devano? Putra dari keluarga elit ANGKARA? Mengusap matanya berulang kali.
"Iya. Benar. Saya Devano Putra dari keluarga ANGKARA" jawab Vano.
"Pak? Saya sangat mempunyai urusan yang mendesak sekali. Atau gini, saya akan memakai motor bapak ini. Bapak boleh mengambil mobil saya yang ada di sana" sambil menunjuk tempat mobilnya "nah kuncinya" setelah selesai berucap, segeralah Vano naik di atas motor itu.
Klappp !!! Sekilas, tanpa mendengar persetujuan dari pak Harol. Vano sudah mengebut dengan motor tersebut. Melewati celah mobil yang padat di tengah kemacetan.
Dan pemilik motor, pak Harol tercengang tak percaya sembari kebingungan menggaruk kepalanya. Mungkin ini keberuntungan buatnya, mendapatkan mobil mewah bermerek Verari yang harganya sejuta langit. Awww~
***
Sedikit lama terjebak dan berjibaku dalam kemacetan. Akhirnya Vano pun sampai di halaman rumah sakit dengan motor yang di kendarainya itu. Ia sama sekali tidak memperdulikan sekitarnya lagi, bahwa setiap orang yang melihatnya tercengang kaget. Masa iya? Orang se elit direktur ANGKARA GRUP mengendarai sepeda motor yang hampir butut begitu.
Dengan berlari terbirit sedikit, Vano segera menembus pintu masuk rumah sakit setelah terbuka. Lalu menaiki lift untuk naik ke lantai atas, di ruangan VVIP. Di bangsal sanalah Siska di rawat. Setiap detik itu, tangan Vano tak lepas dari atas kepalanya bahkan terus mengusapnya secara kasar. "Arghhhkkk!!" Sungguh panik bukan?
"Tuan? Nona Siska sudah siuman" David segera menghampiri Vano setelah tuannya itu sampai di depan pintu kamar pasien VVIP dimana Siska di rawat.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Vano langsung masuk ke dalam. Mendorong pintu agak sedikit kuat.
Ceklek !!!
Ia melihat gadis itu terbaring di atas ranjang pasien, dengan di temani bi Lina di samping ranjang. Lalu sedikit mendekat di dekat sebelah kanan ranjang.
__ADS_1
"Tuan ... saya permisi keluar dulu. Non Siska sudah siuman sekarang" lalu segera lah wanita paruh baya itu keluar menyisakan Vano dan Siska di dalam bangsal itu.
"Kamu tidak apa apa?"
Entah bagaimana wajah gadis itu saat itu, Siska. Ketika mendapati Vano berdiri di depan matanya saat ini, di samping ranjang yang sedang menopang tubuh nya. Di tatapnya laki laki itu dengan mata nanar sayup, pucat pasi. Dengan bibir yang kekeringan putih, Siska berusaha untuk tersenyum ke arahnya.
"Vano ...." Ucapnya, sekilas mengangkat tangannya ke atas hendak meraba wajah milik pria itu, tapi tidak bisa. Tangannya sedikit agak gemetaran, yang membuat Siska urung niat akhirnya meraba wajah itu.
"Aku ... aku tidak apa apa"
Masih kaku untuk berbicara, Vano hanya terdiam vakum saja. Rasa ingin memeluk tubuh gadis itu di coba untuk di urungkan saja. Dengan wajah yang terlihat sedikit di buang ke arah lain, Vano berucap "kalau sakit, kenapa tidak bilang dengan ku?" Vano masih setia mematung di samping ranjang itu, dengan jarak yang agak jauh sedikit dari sisi ranjang.
"Aku cuma ... eh aku hanya sedikit kelelahan aja kok. Aku enggak apa apa" Siska menggigit bibir bawahnya.
Di selang itu juga, dr. Reren yang menangani Siska di bangsal itu masuk ke dalam. Menyela Vano untuk segera berucap.
"Permisi pak Vano?" Ucap dr. Rere
Vano segera berbalik menghadap asal suara itu, di dapatilah seorang dokter di hadapannya sekarang.
"Iya dok? Bagaimana dengan kondisi tunangan ..." Ucapan Vano berhenti sejenak, sekilas menoleh ke arah Siska. Sedang kan Siska cuma menundukkan kepala ke bawah dengan wajah yang memelas. Apa Vano tidak lagi akan mengakuinya sebagai tunangan nya?
"Bagaimana kondisinya?" Tanya Vano sekali lagi "kondisi tunangan saya?" Vano melanjutkan kalimatnya lagi, yang membuat Siska sedikit lega ingin mau berteriak saat itu juga. 'huah! Dia tidak benar benar benci dengan ku. Ku mohon lah, percaya dengan ku jika aku tidak melakukannya' lirih Siska dalam hati.
"Kondisi tubuh tunangan bapak memang baik baik saja untuk yang sekarang. Tapi ..." dr. Rere sedikit kaku untuk melanjutkan kata kata selanjutnya, lalu sedikit menoleh Siska yang terbaring di atas ranjang pasien.
Wajah Siska terlihat sedang membuat kode untuk jangan melanjutkan kata katanya. Dengan gelengan kepala yang lemah, Siska berusaha mencegah dokter itu untuk mengucapkan kalimat katanya selanjutnya.
"Tapi kenapa dok?" Tanya Vano.
"Emm pak, nona Siska hanya perlu istirahat yang cukup saja. Nona Siska boleh pulang hari ini, tidak perlu lagi di rawat inap"
"Ohw ... makasih dok"
"Baik pak, sama sama. Kalau begitu permisi" dr. Rere keluar dari ruang VVIP itu setelahnya.
✨✨✨
Bersambung ....
mau lanjut enggak?
di koment ya👍😀
__ADS_1
.