Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 9 : Don't Dare Touch Me


__ADS_3

Pagi datang lagi, Siska membuka matanya perlahan dari tidur nyenyaknya. Dengan mata yang berat dia duduk di atas sofa, ventilasi jendela berhadapan langsung dengan sofa yang dia tiduri. Sinar matahari masuk terang menderang mengganggu tidurnya.


Matanya menangkap ponsel miliknya lalu mengambilnya dengan salah satu tangannya, sebanyak puluhan kali panggilan tak terjawab dari bi Lina. Siska benar benar tidur pulas semalam hingga dia tidak tau bi Lina menelfonnya berulang kali.


Tanpa pikir panjang, jarinya mempencet nama yang tertera di layar ponselnya. Dan pada deringan kedua bi Lina menjawabnya


"Iya non..."


"Kenapa bibi menelfon saya semalam"


"Bibi hanya khawatir aja, bagaimana keadaan non sekarang?"


"Emm Siska baik bi, Siska sudah di apartemen sekarang"


"Oh syukurlah" wanita paruh baya itu mengelus dadanya, setidaknya dia bisa tenang sekarang.


"Bi Lina masih di mana? Kenapa ga sampai sampai ke apartemen?"


"Oh itu non, maaf sebelumnya. Hari ini bibi mau minta ijin ke non... Bibi ga bisa datang ke apartemen hari ini, suami bibi tengah sakit... bla bla bla" panjang lebar bi Lina memberi penjelasan dan pengertian terhadap Siska yang membuat Siska akhirnya mengalah saja dan membiarkan bi Lina tidak datang ke apartemen, padahal di waktu keadaannya yang seperti sekarang dia sangat membutuhkan peran wanita paruh baya itu untuk membantunya.


Siska bingung harus bagaimana, dia tidak mungkin menyuruh mommy nya ke apartemen dan melihat kecerobohan anaknya itu.


Bisa bisa Siska akan tidak di ijinkan untuk melakukan aktivitasnya semaunya selama beberapa bulan, seperti terakhir kali dia mengalami hal yang sama semasih dia duduk di bangku SMA "ahh mommy sih terlalu protektif banget!!!" Gerutunya sendiri.


"Apakah aku harus minta bantuan Vano?" Otak cerdasnya berpikir begitu tapi... "Lebih baik enggak ah, aku kan Siska. Aku bisa melakukannya" ucapnya dengan rasa percaya diri yang tinggi tanpa memikirkan tangannya yang masih sakit itu.


"Aaahhwww!!!!" Siska menjerit sakit berulang kali, memaksakan lengannya untuk bekerja memijat rambutnya yang tengah di keramasin. Telinga Vano yang sedang tidur menangkap suara suara itu, terdengar risih membuatnya terbangun "apa lagi yang di perbuat gadis gila itu pagi pagi buta gini?!"


Dia tertegun menelan ludah melihat tubuh siska yang seksi hanya di tutupi oleh bra dan ****** ***** berwarna pink berdiri membelakanginya. Siska tidak sadar ada mata yang tengah memperhatikannya dari luar pintu kamar mandi. Dia tengah sibuk dengan rambut nya dan lupa bahwa pintu belum di kuncinya dari dalam.


Vano benar benar menikmati pemandangan indah itu. Diam diam dia mesum di atas sifat dinginnya. Jujur saja, ini juga baru pertama kali matanya menyaksikan pemandangan yang semacam ini dalam hidupnya. Memperhatikan dan terus memperhatikan lebih lama, Vano benar benar menikmatinya "inikah spesialnya tubuh perempuan?" desisnya dalam hati sambil berulang ulang menelan ludah.


Lama dengan posisi yang seperti itu, akal sehat dan jernihnya kembali lagi. Dia begitu malu pada dirinya sendiri yang tiba tiba mesum melihat bagian dari tubuh gadis itu "ahh Vano kamu tidak begitu profesional! Bisa bisanya kamu tergoda begitu saja!" Ucapnya mengukutuki dirinya sendiri lagi dan lagi, tanpa tersadar kakinya tergelincir dan membawa tubuhnya tepat di bawah kaki gadis itu.

__ADS_1


Spontan Siska berteriak dan tangannya meraih sebuah handuk yang di hanged tak jauh dari tempatnya menutupi tubuh kecilnya, walau tindakannya sedikit telah terlambat. Mata Vano telah sempat melihatnya.


"Kenapa kamu bisa di sini! Laki-laki mesum! Dasar brengs*k!!!" Ucap Siska di sertai makian terhadap Vano dan menghindar dari situ "sejak kapan kamu berada di situ dan berani mengintip ku?!! Hah??!!!" tangannya menunjukkan pintu kamar mandi dan kembali menatap Vano menyidik sekaligus kesal dan marah ingin mencakar cakar wajah laki laki itu.


"Mengintip?! Hei gadis bodoh, jangan asal bicara! Aku..."


"Kalau bukan mengintip terus apa hah! Laki laki mesum huh"


Vano tak membalas ucapan Siska dan memilih diam, ada benarnya ucapan gadis itu. Dia berdiri dan mendekati gadis itu dengan tatapan dinginnya yang berubah ubah, rasa ingin menerkam telah menyelimuti dirinya. Meski begitu, dia masih bisa mengontrol dan mengendalikan dirinya.


"Apa kamu bilang? Laki laki mesum hahahaha"


"Don't dare touch me!! Laki laki gilaaaaa!" Jerit Siska takut menghindar dari tangan Vano yang menyentuh ke dua bahunya. Sewaktu waktu tangan itu akan liar, lebih baik dia harus menghindar dari tangan itu


"Hahaha be relax baby. Santai saja, aku tidak akan mengapa-ngapakan kamu. So... santai saja" bisik Vano yang membuat Siska asli merinding


"quietly! diam! Jaga sikapmu, aku akan memberi tahu kepada mommy dan Dady ku kalau kamu mau..."


"Dasar licik!" Siska berlari keluar dengan takut melepaskan tangan Vano dengan kasar dari tubuh kecilnya. Vano tersenyum puas melihat gadis itu ketakutan karena ulahnya. Dia hanya mencoba menakuti gadis itu dan tidak berpikir akan melakukan hal yang bodoh. Hanya saja gadis itu begitu takut melihatnya seperti itu, lalu kembali terkekeh lagi.


✨✨✨


Siska melotot melihat layar ponselnya memberikan pemberitahuan bahwa besok adalah tanggal jadi ulang tahun pernikahan mommy dan dadynya "apa? Bagaimana aku hampir lupa?"


Melihat tangannya yang masih berbalut perban putih, benar membuat dia mengurungkan niatnya untuk pergi ke acara itu. Tapi! Bagaimana dia tidak pergi? Besok adalah acara istimewa bagi kedua orangtuanya. "Ahh bingung" Siska berpikir seribu kali memutarkan otak cerdasnya agar dia bisa pergi ke acara itu tapi dady dan mommy tidak boleh melihat tangannya yang berbalut perban "akan kah laki laki itu ikut?"


"Kenapa linglung?"


"Hmmm" Siska menoleh mendapati wajah laki laki itu lagi dengan malas sekaligus malu


"kenapa kamu selalu muncul dimana mana?!"


"Ini apartemen ku, ya wajar kalau aku ada di mana mana" ucap Vano dengan menyeringai "apa kamu masih malu dengan kejadian yang tadi hmmm???"

__ADS_1


"Diam kamu brengs*k!!!"


"Hei gadis bodoh! Jaga kata katamu atau aku akan... Hei.. hei..." Siska meninggalkan Vano yang masih berkutat dengan kata katanya.


"Masa bodoh!"


Vano mendekat lalu membanting bantal sofa dengan kuat, dia merasa dirinya telah kalah lagi dari gadis itu, dan memghempaskan dirinya di atas sofa itu. Selang waktu selanjutnya dia menerima pesan dari calon mama mertuanya. Ternyata diam diam dia memberi nama Ny. Jenita Duckwill 'calon mama mertua' akhh sangat tidak di duga bukan?


💌 Calon mama mertua


Ada waktu luang mu nak buat ketemu sama mommy? Jangan lupa ajak Siska. Mommy juga kangen sama anak mommy satu satunya.


Vano membaca pesan itu berulang ulang mencoba menyimak baik baik maksud pesan itu. Kenapa mommy tiba tiba mengajak dia ketemu?


"Hallo tuan, iya ada apa?"


"Apakah jadwal saya di kantor hari ini padat?"


"Tidak begitu memadai tuan, tapi pagi ini akan ada meeting dengan karyawan perusahaan"


"Ok, saya akan ada urusan sebentar pagi ini. Saya mau agar kamu menggantikan saya di meeting nanti. Kamu bisa menghendel semua urusan meeting, saya memercayai mu" usai begitu, Vano menutup telfon tanpa menunggu jawaban dari David lagi. Kemungkinan besar, tidak ada penolakan dari perintah atasan nya itu.


Vano kembali ke menu layar utama ponselnya, dan membuka pesan teks dari calon mama mertua (read : Ny. Jenita Duckwill) lalu mengetik beberapa kata sambil melayang kan jari jemarinya di atas layar ponselnya


💌Vano send to calon mama mertua


Vano mempunyai waktu luang. Dan saya akan mengajak siska.


Tak perlu menunggu lama, notif ke dua tampil di atas layar ponsel Vano lagi


💌Ny. Jenita Duckwill


Nice, thanks Vano. Mommy akan menunggu di restoran TZ (disertai sharelock restoran TZ)

__ADS_1


__ADS_2