Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 58 : Diagnosa Itu Benar?


__ADS_3

'huffff huffff huffff' suara ******* nafas panjang Siska. Wajahnya kembali kusut setelah berjibaku lama dalam tangis. Kedua bola matanya bernanar merah, sehingga sukses mampu menciptakan kantung matanya sendiri.


'apa? Bagai mana ini?' lirihnya. Huhuhu hikss


Ia kembali lagi terisak. Dengan kaki yang di tekuk lutut, Siska membenamkan wajahnya di sela sela itu.


"Non___" panggil bi Lina yang tiba tiba muncul dari balik pintu kamar. Karena saat itu, Siska tengah mengambil posisi duduk di bawah sebelah tempat tidur milik Vano (kamar Vano). Dengan sambil membawakan secangkir teh buatnya.


Menyadari hal itu, Siska cepat mengangkat wajahnya lalu berusaha menyeka air matanya. Walau pun itu semua sudah terlambat. Wanita paruh baya itu sudah lebih dulu menyadari kalau dia sedang menangis. "Iyaa bi?" Sahutnya.


"Bibi masuk ya non"


Siska mengangguk dengan senyum yang pas pasan saja. Sangat susah buat tersenyum jika telah habis menangis.


Lalu bi Lina pun masuk dan mendekati tempat dimana Siska duduk. dan memberikan teh kepadanya. "bibi udah bikin teh buat non. Di minum non"


"Emmm" Siska berdehem mengangguk mengiyakan. Sembari menerima uluran tangan si pemberi cangkir teh itu kepadanya. Tersenyum. "makasih bi"


"Iya non" ucap wanita paruh baya itu sembari mulai memposisikan tubuhnya untuk duduk di depan Siska (nb : keduanya saat itu, sama sama duduk lesehan di bawah lantai).


"Non?"


"Emm bi? Kenapa?" Tanya Siska setelah satu kali menyesap tehnya, hingga setengah nya pun tandas.


"Bibi mau nanya. Tapi maaf kalo lancang. Tadi itu di rumah sakit. Kalo tidak salah dengar, dokter bilang tadi___"


"Emm bi. Siska boleh minta bantu kan bi?"


"Boleh kok non" sahut bi Lina yang mulutnya masih setengah mengaga dengan ucapannya yang terhenti.


"Siska tau. Pasti Vano selalu menanyakan gimana kondisi ku ke bibi selama beberapa hari ini" kali ini Siska menatap bi Lina sesungguhkan, sedangkan yang di tatap diam dan sedikit bergeming tanya 'darimana nona Siska tahu?' desisnya.


Lalu Siska melanjutkan kata katanya sembari meletakkan cangkir tehnya di atas lantai lesehan mereka saat itu "bi. Jika pun diagnosa kehamilan itu benar. Aku harus bagaimana? Aku takut biiii ... Hiks" huhuhu


"Sungguh. Aku ga tau harus gimana lagi. Aku sendiri pun bingung" hikss


Sudah di pastikan bi Lina kaget bukan main. Tangan kanannya saja sudah diangkatnya untuk menutupi mulutnya yang tercengang mendengar hal yang barusan di ucapkan oleh Siska. Dia mencoba mencerna setiap ucapan itu 'kehamilan?' 'apa diagnosa dokter waktu itu kepada non Siska adalah diagnosa kehamilan?? Huaaa' tidak percaya.


"Jadi non Siska sedang___" ucapannya terhenti mendadak. Lalu segera mengambil tindakan untuk menenangkan hati Siska. "Stttt... Non jangan nangis lagi. Tenang dulu!"


Sedangkan Siska menangis sesunggukan di dalam pelukan hangat bi Lina. "Entalah bi. Aku harap diagnosa itu ga benar. Aku saja merasa tidak di apa-apain oleh laki laki itu"


"Iya non. Bibi juga harap begitu. Lalu kata dokter apa non?" Tanya wanita paruh baya itu sembari mengelus lama kepala Siska.


"Akan ada pemeriksaan ulang bi, aku akan di chek up. Aku akan ke rumah sakit besok setelah Vano berangkat kerja"


Huahh Siska menarik tubuhnya dari dengkapan hangat itu. Mengusap wajahnya yang kusut air mata. Lalu mantap berdiri.


"Testpack-nya bagaimana non. Apa non udah coba?"

__ADS_1


"Testpack?" Siska sedikit mengernyitkan dahi menoleh ke arah bawah si asal suara itu.


'enggak. Sama halnya jika aku percaya bahwa aku beneran hamil jika aku melakukannya. Pokoknya aku tidak boleh menggunakan benda itu. Apa pun itu!' pikirnya.


"Bi! Aku akan langsung melakukan check up oleh dokter langsung di rumah sakit. Kemarin dr. Silvani sudah menghubungi aku untuk melakukan check up segera"


Bi Lina hanya mengangguk saja. Semoga saja, diagnosa itu tifak benar adanya. Amin! Itulah doa wanita itu dalam hatinya. Lalu segera berdiri dan hendak melenggang keluar.


Sedangkan Siska membaringkan tubuhnya di atas kasur kamar itu. Lalu ketika hendak mencapai daun pintu, Siska menghentikan langkah bi Lina "bi___"


Lalu sedangkan yang di panggil pun ikut menoleh ke belakang "iya non. Ada apa?"


"Tentang hal ini, jangan ada yang tahu selain aku dan bibi ya. Termasuk Va___"


Tapi!!! Siska menghentikan kata-katanya. Dengan cepat berusaha bangun dari atas tempat tidur. "Vanoo!!" Ucapnya. Ternyata yang datang adalah Vano.


Deg!


Wajah pria itu sudah berubah menjadi merah padam seketika. Dan langsung menghampiri tempat dimana Siska masih duduk di atas tempat tidur itu. Sedangkan Siska sekarang sudah panik, berusaha agar Vano tidak lebih dulu salah paham atas apa dengan ucapannya yang barusan.


"Vano!! Sayang ... Ini, ini bukan seperti yang kau dengar. Aku ... aku" hiks Siska mencoba meraih tangan milik Vano yang saat itu juga, dengan cepat di tepiskannya. Menyingkirkan tangan itu jauh jauh dari lengannya.


"Sayang..." Ucap Siska tak habis pikir. Bagaimana bisa Vano akan bersikap seperti ini dengannya.


"Van.. pleaseeee! Ini masih ga ada benarnya. Tolong percaya dengan ku"


Akan tetapi Vano pun tak bergeming untuk mendekati uluran tangan yang berusaha untuk meraih lengannya itu. Malah menciptakan raut muka yang tajam dan ya, mungkin emosional sudah kembali lagi menguasai dirinya saat itu.


Menutup pintu kamar itu rapat rapat. Walau sebenarnya, wanita itu agak khawatir dengan keadaan itu sekarang. Apa yang akan terjadi?


Kup! Pintu kamar pun berhasil di tutup. Kemudian Vano mendekati Siska, dan menekuk lututnya di hadapan kaki Siska yang tengah duduk di atas tempat tidur. Sehingga tubuhnya seperti tengah berjongkok.


Hiks "vanoo!"


"Sungguhkah ada nyawa seorang bayi dalam rahim mu ini? Hmmm" ucap Vano dengan lirih yang begitu putus asa. Matanya tak sedikit pun berpaling dari perut milik Siska. Bahkan perlahan lahan tangannya mulai meraba perut yang datar itu. "Katakan! Sungguhkah benih pria itu sudah tumbuh dalam sini? Dan berkembang hah?"


"Van. Sayang ..."


"Akrhhh" Vano berteriak sekencang mungkin setelah melepaskan rabaan tangannya itu. Mengusap wajah dan kepalanya secara kasar. Harapan bahwa dia yang akan pertama menjadi pria di kehidupan 'SISKA AMELIA DUCKWILL' sudah pupus.


kini tanpa di sadari pun, air mata Vano sudah menitik. Berusaha menerima kenyataannya. "Kamu sudah rutin menghubungi dokter kandungan?" Ucapnya lirih. Mungkin saat itu, Vano sedang berusaha mengerti dan ingin menghalau segala keputus asaannya.


"Sayang! Apa yang kamu katakan? Diagnosa itu masih belum tentu_"


"Tolong dengar kan kata-kata ku. Aku bukan tipe orang yang mau mengulang ucapan"


"Tapi ..."


"Please stop! Kalau udah saya bilang sudah atau tidak. Kau tinggal jawab!!!" Kali ini Vano meneriaki ke arah Siska yang membuat gadis itu sedikit takut.

__ADS_1


Siska yang merasa perubahan nada suara laki laki itu segera beranjak dan turun dari atas tempat tidur. Mendekati nya. Siska mencoba meraih pergelangan tangannya, saat itu mulutnya sangat bungkam untuk mengucapkan sesuatu. 'apa yang harus ku katakan. Tolong jangan percaya dulu hiks' batinnya.


"Van..." Siska hendak meraih apa tangan itu, alhasil tangannya pun kembali di tepiskan. Ini sudah yang ketiga kali.


"Sayang .. hiks" ucap Siska lirih dengan Vano.


"Kenapa kau tiba-tiba kasar dengan ku" huhuhu saat itu juga, Siska memecahkan tangisannya. Bahkan Vano sendiri pun tidak menggubris nya. Ia membelakangi tubuh gadis itu, bahkan tanpa meliriknya.


"Kau tanya mengapa hah?" Hahahaha Vano tertawa hehaheha dengan di buat-buat. Anggap saja sebagai tawa dari penawan hatinya yang telah sakit di cabik-cabik saat itu. Sedangkan matanya tidak bisa berbohong, sedikit demi sedikit air matanya menitik di bawah kantung matanya bahkan di wajahnya yang sudah memerah karena meredam emosi.


"Kau masih bisa menanyakan hal seperti itu hmmm?" Ucap Vano dengan suara yang semakin serak parau, lalu membalikkan badan untuk menoleh wajah Siska. Vano merentangkan tangannya dan menangkap pundak gadis itu, sedangkan kedua bola matanya memandangi perut datarnya inci demi inci. Pandangannya lama di situ.


Hiks hiks hiks Siska masih berperang dalam tangisannya. Apalagi dengan Vano yang semakin percaya bahwa dia tengah hamil saat itu. "Ap-apa yang sedang ... sedang kamu lakukan?" Tanyanya lemah. Sedangkan ia sendiri membiarkan saja pria itu memegang pundaknya. Iirghhh! Ringisnya. Ya, sentuhan tangan Vano di pundaknya sedikit sakit. Sedangkan Vano lebih menguatkannya.


"Aku tidak akan melarang mu untuk melahirkan bayi ini"


"Tapi aku akan__"


"Dengar! Jangan pernah berpikir untuk melakukan aborsi. Minta pria brengs*k itu untuk bertanggung jawab. Ini adalah benihnya"


"Vano!! Please hear me!" Kali ini Siska pun yang meneriaki "diagnosa itu masih belum pasti"


"Jadi?"


Siska tidak lagi berpikir panjang, pikirannya sudah tertutup. Mengapa di satu sisi Vano tidak menaruh sedikit pun kepercayaan kepada dirinya. Hal itulah yang membuat dirinya terpojok "aku akan melakukan testpack untuk membuktikannya kepadamu"


" ...."


✨✨✨


Bersambung ...


Dear readers ❤️


maaf ya, say sorry banget yaaa 😭


author baru bisa update lagi eps novelnya.


karena minggu ini, full author ga bisa buat nulis. karena author sakit😓


tp puji Tuhan. author mulai sehat lagi kok. sebagian itu karena doa-doanya readers semua buat author🤭


Yee author kepedean bangett buat di doain wkwkkw


ok, sekian.


tetap nantikan nex eps barunya yaa.


tetap dukung juga melalui kolom komentar, agar author semangat buat nulis!!!

__ADS_1


love you banyak-banyak❤️❤️❤️


.


__ADS_2