
Masih jam 11:08, hari sudah siang.
Druss druastt !!! Mobil yang di tunggangi oleh Vano terpakir sempurna walau tadinya sempat mendadak rem tiba tiba. Ia mengemudi mobil nya dalam kecepatan tinggi, melebihi kapasitas batas normal nya.
Kemudian ia segera turun dari mobil, dengan wajah yang terlihat acak acakan. Tidak lah berwibawa sama sekali dengan tampang nya yang seperti itu. Kemudian dengan terpaksa, kakinya membawanya masuk ke kantornya. Melewati anak tangga pelataran sebelum ia sampai pada pintu penghubung antara ruang luar dan dalam perusahaannya itu.
Security yang sedang berjaga beserta beberapa bodyguard yang di tugaskan khusus buat kantor perusahaan membungkuk memberi hormat untuk nya. "Pagi pak"
Tapi Vano tidak merespon hal itu, kepalanya tegap untuk segera menuju ruangan nya ke lantai paling teratas. Menaiki lift hingga ia pun sampai di ruang pribadi direktur nya.
Jelas bukan? Tidak heran jika beberapa dari karyawan kantor berasumsi aneh aneh. Entalah itu tentang sang direktur mereka tersebut. Sikap dinginnya kembali menyelam lagi dalam dirinya. Bagi para karyawan, itu adalah lampu hijau yang paling mereka takuti jika sewaktu waktu akan berubah dan beralih ke lampu merah (*maksudnya, sikap sang direktur Devano jika akan mengeluarkan amarah).
Crassss crassss crassss !!!!
Dari dalam ruangan direktur kantor perusahaan, semua barang barang pun terdengar sedang di lemparkan, di hancurkan, ke sana ke sini. Memunculkan suara keributan yang tak hanya sekali.
"Arghhhkkk !!!" Vano menoleh ke arah jendela kaca besar transparan ruangannya itu lalu mendekat. Matanya menangkap berbagai view di depannya. "Arghh !!!"
Segeralah tangannya di buat mendarat di kaca jendela itu, meninjunya seperti permainan boxing. Hingga membuat sedikit kaca kaca itu retak. Wajah dan mata yang dimiliki nya sudah nanar merah, emosi nya masih tidak bisa di surutkan.
Lalu mencoba menunduk kan kepala dengan tangan yang masih bertopang tinju di kaca jendela. Menatap ke bawah lantai lama, pikirannya kosong. Terfokus pada gadis itu dan si pria brengs*k yang tidak mau ia sebut kan namanya. Berdesis pelan, ingin percaya bahwa gadis itu tidak membohongi dirinya "sungguh kah kau tidak tidur dengannya? Hah?" Cih! Berkacak pinggang.
"Hahahaha" Vano memecahkan tawa yang di buat buat. "Benar, dia tidak akan pernah menghianati cintaku! Aku percaya kepada gadis ku"
__ADS_1
Kemudian ia berbalik badan, duduk di atas sofa di tengah tengah ruangannya. Menghempaskan dirinya sendiri. Pikirannya masih saja berkecamuk dengan berbagai hal. Mungkin saja Siska menghianatinya? Akhh Vano bersandar di atas kepala sofa tersebut. Menekan nekan pelipisnya dengan jari jari tangannya. Lama ....
Tidak bisa memendam emosi yang sudah kian memburu. Vano mencondongkan tubuhnya ke depan, tidak ada lagi kejernihan untuk berpikir lebih baik. Benda yang ada di depannya saat itu di hancurkan oleh tangannya. Melampiaskan semua kemarahannya "arhhhh!!! SISKA"
***
Seluruh karyawan kantor di buat heboh sekaligus di buat ngeri. Mendengar segala suara suara yang aneh dari dalam ruang pribadi direktur mereka tersebut. Ingin masuk, tapi sudah lebih dulu bergidik ngeri!
Beberapa dari mereka sudah mencoba untuk berunding buat masuk ke dalam ruangan itu. Akan tetapi, satu pun tidak ada yang bersedia.
Pihak pengamanan (bodyguard) yang bertugas di depan pintu ruang Direktur Vano segera menghubungi as. David untuk segera datang. (*As. David sedang tidak berada di kantor perusahaan utama. Melainkan sedang mengurus dan meninjau lokasi lahan untuk pembangunan Mega proyek di atas hak perusahaan ANGKARA GRUP sebelum sang direktur Devano meninjau ulang).
"Baiklah____ saya akan segera ke sana. Tetap awasi tuan Vano dari jarak jauh" ucap David dari telfon setelah meng-conent panggilan. Sembari memutuskan sambungan. Tut ... Tut .. Tut ...
Dengan langkah kaki terburu dan terbirit birit, David menghampiri tempat mobilnya di parkir. KUP! Menutup pintu mobil, menancap gas mobilnya. Khawatir akan sesuatu terjadi kepada tuan Vano.
Kantor Perusahaan Utama
David segera menghampiri pintu dan menarik kenopnya kebawah tanpa mengetok pintu terlebih dahulu. Suara suara pecahan barang barang dari dalam terus menerus terdengar, tak henti hentinya. Hingga saat pintu pun terbuka ...
CRAKKK !!! Guci yang super besar pun terlempar ke arahnya, pecah! Duhh ... Untung aja tidak tepat mengenai tubuhnya. Lalu segera lah ia menghampiri tuan Vano yang sudah berdiri acak acakan dengan wajah merahnya. Sebelum seluruh isi ruangan itu di buat hancur olehnya.
"Tuan? Tuan tidak apa apa" David memberanikan diri mengambil sebuah vas bunga di tangan Vano, sebelum vas itu di lempar ke arah jendela. Vano menatapnya dengan tatapan mata nanar merah, beraninya tangannya di tahan. Emosional yang dimilikinya detik itu juga semakin lama membumbung tinggi. Tidak peduli lagi, di depannya itu adalah David. Bruk! Menampar wajah milik pria itu, as. Pribadinya hingga membuatnya terpelanting keras ke lantai.
__ADS_1
Segeralah David berdiri, mengusap wajahnya yang kesakitan akibat tamparan keras itu. "Aakhh" meringis kesakitan di bagian wajah. "Tuan tenanglah! Tolong jangan larut dalam emosi. Coba tenangkan dirimu baik baik"
"Basi!! Bagaimana aku bisa tenang jika masalah seperti ini muncul?" (*Masalah Siska benar atau tidaknya tidur dengan Rafael).
Mencengkeram kerah baju David yang tidak bersalah, yang membuat pria itu sedikit menganga tak percaya. 'apa kah ini sungguh tuan Vano yang menyamai singa jika marah?' sebelumnya, jika sedang marah. Mungkin saja Vano tidak akan se emosional gini.
Vano mendekatkan wajahnya, berbisik dengan nada yang di buat kecil "hahahaha" tertawa sebelum beberapa kata akan tersampaikan "tolong katakan, apa yang akan kamu lakukan jika hal seperti ini terjadi pada mu hah? Tolong bilang kepada ku jika kau akan bisa tenang. Dan menerimanya saja! Katakan !!!!"
"Maaf tuan. Tapi saya tidak bermaksud ..." David menghela nafasnya lalu mantap untuk berucap kembali "alangkah lebih baiknya jika ada beberapa bukti bahwa nona Siska yang suka rela memberikan tubuhnya sendiri kepada Mr. Rafael, barulah tuan membenci nona Siska jika dia memang salah"
Mendengar ucapan dari David itu, Vano melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah baju milik asistennya itu.
Mencondongkan badan ke belakang dengan tampang dingin yang di milikinya. "Bagaimana cara nya?" Tanyanya. Ternyata kata kata David barusan mampu sedikit meredakan amarahnya. Setidaknya, secerca harapan masih ia selibkan di dalam hatinya. Gadis itu tidaklah mau tidur dengan pria brengs*k itu. Kepastian tetap lah kepastian, itu lah yang di mau oleh Vano sekarang.
"Saya akan segera mencari dari berbagai sumber informasi tuan" "huahh" menarik dasi dari lehernya supaya Terulur sedikit, karena dasinya sungguh mencekat di leher setelah di cengkeram.
"Cari baik baik. Saya hanya akan menunggu hasil yang baik" hendak mau berjalan ke arah kursinya ketika sedang berjibaku dalam pekerjaan "ingat! Kamu harus membuat hal ini tidak di ketahui oleh media. Reputasi *dua perusahaan akan di pertaruhkan jika publik mengetahui skandal ini" (*Dua perusahaan : Perusahaan ANGKARA GRUP dan Perusahaan DUCKWILL HD GRUP),
David membungkuk di depannya "baik tuan. Perintah akan segera di laksanakan" David lalu melenggang pergi.
✨✨✨
Bersambung ....
__ADS_1
Happy reading^
.