Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 45 : Penyiksaan Setelah Dua Hari Menghilang


__ADS_3

Kini kita beralih ke seseorang yang lain yaaa ...


Iya Rafael. Entah bagaimana laki laki itu sekarang. Di dalam ruangan kamarnya yang luas itu. Ia menyendiri duduk di kursi tunggal ujung ruangan itu dengan tangan yang sibuk menggoyang goyangkan bagian bawah gelas yang berisikan wine. "ahhhh" bersuara setelah kembali meneguk wine tersebut dari gelasnya. Tidak puas dengan itu, dia langsung menyumpal bibirnya di bagain bibir botol wine itu.


Meneguk satu dua tiga hingga sampai empat botol. Cuahh! Benar benar kuat untuk minum.


"Ahhh" sekali lagi mengeluarkan suara itu ketika habis meneguk wine yang terakhir. Sambil memasang senyum yang di buat buat, perangainya sangatlah aneh.


"Cih! Dia adalah tunangan laki laki itu?" Berdecis dengan bibir yang masih seolah bisa tersenyum baik "hahahaha" melambung kan suara tawanya "jadi? Aku salah mencintai yaaa?" Gelas yang ada di tangannya pun sukses di banting ke lantai hingga pecah, membuat dua orang bodyguard yang bertugas di depan kamarnya malam itu kaget dan bergegas mengetok pintu dari luar.


Tok ... tok ... tok ...


"Tuan?" Panggil salah seorang bodyguard dari luar "tuan tidak apa apa?"


Tidak ada kunjung balasan kata. Maka dengan memberanikan diri kedua bodyguard tersebut nekad masuk ke dalam kamar tuannya itu tanpa ada ijin terlebih dahulu.


"Tuan?" Panggil keduanya setelah sampai di dalam kamar. Rafael masih tidak merespon dan hanya menatap mereka dengan tatapan amarah dan membunuh. Sukses lah kedua bodyguard tersebut bergidik ngeri.


"Apa aku sudah memberi kalian ijin masuk?"


Membungkuk "tidak tuan. Maafkan kami"


GRAKKK!!! Rafael melemparkan botol wine yang ada di dekat tangannya itu hingga pecah dan serpihannya mengenai kedua wajah milik bodyguard yang ada di depannya. Hingga menimbulkan sedikit bercak bercak darah.


"Keluarlah! Beraninya kalian masuk tanpa ada panggilan dari ku!!!!" Titah Rafael seram tanpa merasa bersalah.


Segeralah kedua bodyguard tersebut keluar setelah membungkuk di hadapan tuan Rafael. Ahh! Mungkin saja bodyguard yang bekerja di situ akan mengutuki dirinya masing masing karena telah bekerja dengan seorang majikan yang mempunyai perangai buruk dan tidak mempunyai hati sama sekali.


Rafael masih berada dalam fase emosionalnya. Gigi rata yang ia punyai masih berdecis dengan irama yang terara sempurna. Tapi di balik itu, ada secerca perasaan emosi dan ingin membuat plan jahat untuk menghancurkan kehidupan Vano sang Rivalnya itu. "Hahahaha" otak busuknya sepertinya telah bekerja dengan baik dan telah mendapat kan ide. "Cihh!! Kali ini kau akan hancur Devano! Sang direktur ANGKARA GRUP!!!"


Mengetok ngetok meja yang ada di samping nya itu. Hingga di sela sela waktu itu juga sebuah pesan WeChat singkat masuk dan muncul di atas layar ponselnya tersebut. Matanya menoleh ke situ, membuka lokscrinn ponselnya dan mulai membacanya baik baik. Hingga dia kembali bisa tertawa dengan liciknya. Terlalu ribet jika tangannya harus mengetik untuk membalas kepastian pesan tersebut. Rafael mempencet layar calling (*membuat panggilan telfon dari si pengirim pesan singkat tersebut. Itu adalah bodyguard yang di tugaskan nya dua hari yang lalu).


"Bagaimana sekarang?"


"Kami telah menemukan gadis itu tuan di sebuah teras kos yang melalui jalan X"

__ADS_1


"Segera bawa dia ke sini! Jangan biarkan gadis itu kabur dan menghindar dari ku lagi. Mengerti?" Ujar sang Rafael "hahaha" dan malah kembali tertawa dengan liciknya bak seorang mafia saja.


"Baik tuan. Perintah akan segera terlaksana kan"


Tut. ..Tut ... Tut ... (Panggilannya di akhiri duluan oleh Rafael).


Kembali mengetok meja setelah meletak kan ponselnya kembali sembari menantikan kedatangan gadis itu. Yaa itu Dina. "Wanita jala*g!! Cih! Tunggu saja, beraninya kamu mencoba kabur!!"


✨✨✨


Teras Kos X


Di sanalah Dina selalu mendiamkan dirinya selama dua hari berlangsung. Tidak apa jika harus tidur di depan teras kos tersebut. Walau sebelumnya para pengguna kos tersebut sempat terganggu akan kehadirannya.


Dina bertingkah selayaknya seperti seorang tunawisma yang tidak mempunyai siapa siapa. Sehingga mampu membuat para pengguna kos itu membiarkan dia tidur saja di sana.


Seperti malam ini, dia kembali dari kafe Y tempat ia bekerja. Walau sebenarnya tadi ia hampir di temukan oleh beberapa bodyguard yang mencoba mencarinya. Untung saja, Dina masih sempat melihat orang orang itu dari dalam kafe sehingga dengan cepat meminta ijin dari manager kafe untuk pulang lebih awal dengan alasan penyakit maag nya kambuh lagi. Idap penyakit maag? Jangan percaya deh, itu hanya permainan dari Dina saja. Agar jika sesuatu hal yang seperti yang terjadi sekarang ini bisa terelakkan jika tiba tiba saja terjadi. Bukan bermaksud jahat sih membohongi manager kafe, tapi bagaimana pun Dina terpaksa melakukan hal itu.


Dina duduk di atas lantai teras tersebut dengan beralasan tikar seadanya saja yang di berikan oleh salah seorang anak kos yang memang merasa kasihan kepadanya.


"Huahh!" Mencoba untuk membuat nafasnya lega tapi tidak bisa dan sia sia saja tanpa hasil. Mengetok ngetok kepalanya itu dengan salah satu tangannya. "Bodoh!" Ucapnya membodohkan dirinya sendiri.


Ia mengangkat kepalanya beberapa saat untuk menyeka air mata yang telah menitik di pipinya itu dan kembali lagi menelungkup kan nya di sela sela tengkukan kakinya itu.


Sambil berdesis meratapi hidupnya dalam hati 'kenapa aku hidup seperti ini? Hiks kenapaaaaaa?' seakan mau berjerit dan menumpahkan segala perkara itu keluar dari dalam dirinya. Hingga suara tangisannya pun mulai terisak terdengar keluar. Huhuhu hiks hiks hiks.


Masih terus berkutat dalam tangisannya dan tiba tiba saja sepertinya ada tangan yang menarik paksa tubuhnya untuk berdiri. Dengan gemetar Dina menoleh ke atas ke arah tangan yang memegang tangannya itu.


"Jangan berpikir untuk mencoba kabur lagi! Cepat ikut dengan kami!!" Titah orang itu, Dina sempat menolak perlakuan tarik menarik di tubuhnya itu. "Lepaskan!" Dina menolak untuk di tarik. Iya, Dina tahu semua pria yang berhadapan dengannya sekarang ini adalah pasti suruhan dari Rafael untuk mencarinya.


"Lepaskan! Aku tidak mau ikut dengan kalian!"


"Hei nona. Jangan membantah dan menolak!"


Tidak mendengarkan, plakkk sebuah tamparan keras mendarat di wajah milik Dina. Huhuhu seketika tangis Dina kembali pecah.

__ADS_1


"Menurut saja nona. Kamu tidak akan mendapatkan tamparan ini jika kau tidak menolak lebih dulu" salah satu pria yang memegangi kuat tangannya itu menariknya dan menyeretnya ke dalam mobil. Dina terus merengek untuk di minta di lepaskan. Tapi usaha itu sia sia hingga mobil yang membawa dirinya dan beberapa pria bodyguard tersebut sampai di pelataran luas rumah milik tuan Rafael.


KUP !! Pintu mobil kembali di tutup setelah Dina di bawa keluar dan segera di seret di dalam rumah besar itu.


***


Di dalam, Rafael telah menunggu. Hingga gadis itu di bawa di hadapannya, tepat di seret ke bawah lantai di dekat kakinya. Dina tertelengkup dengan posisi menghadap kursi yang di duduki oleh Rafael, pria brengs*k berhati iblis itu.


Rafael berdiri mendekati gadis itu dan berjongkok "hahaha" melepaskan tawa sinisnya seraya memandang gadis itu. Lalu mencengkeram mulut gadis itu dengan tangannya "hei!" Dina sama sekali tidak menoleh atau pun menatap laki laki itu. Dia sangat benci jika melihatnya. "Tatap aku gadis jala*g" titah Rafael kepadanya namun masih sama sekali tidak mau menolehkan kepalanya. Rafael geram dengan sikap gadis itu dan mengangkat salah satu tangannya. plakkk tepat di wajah gadis itu lagi, satu tamparan mendarat lagi di atas wajah mulusnya tersebut.


"Ouhhh" Dina memegangi wajahnya dan meringis sakit. Hiks mulai terisak lagi.


"Beraninya kamu mencoba kabur dari ku hah!!"


Tanpa ba bi bu dengan brutal dan kasarnya, Rafael menarik lengan gadis itu secara paksa. Dina jelas berteriak se histeris mungkin akibat dari lengannya yang di tarik kasar tersebut. Dengan wajah yang kusut karena air mata, wajahnya memelas untuk di lepaskan.


"komohon ... lepaskan aku! Jangan siksa aku lagi" hiks.


Rafael tidak peduli dengan permohonan itu dan semakin menarik kuat lengan gadis itu. Hingga sampai lah keduanya di dalam kamar besar itu. Rafael menghempaskan tubuh kecil Dina di atas kasur tempat tidurnya dengan kasar dan secepat itu juga tubuhnya beralih ke belakang dan mengunci pintu kamar itu rapat.


Hiks hiks hiks Dina meronta untuk di lepaskan namun tidak bisa. Tubuh Rafael sudah menghimpit tubuhnya dari atas.


"Jangan berpikir untuk mencoba untuk kabur lagi!!" Ujar Rafael dengan suara yang menggertak. "Jangan berani kabur dan menghilang dari hadapan ku!" Melepaskan himpitan tubuh itu. Rafael membiarkan Dina beberapa saat dan turun dari tempat tidur bergegas langsung pergi ke kamar mandi. Pria itu tiba tiba ingin mengeluarkan isi perutnya (muntah). Mungkin akibat dari meminum wine yang terlalu berlebihan (*sebelumnya Rafael meminum wine terlalu banyak).


Di waktu itu juga, Dina bangun dari atas tempat tidur itu. Memungut tas nya yang berada di bawah lantai itu (*kan sebelumnya Rafael menyeretnya dengan kasar di dalam kamar itu. Hingga tasnya terjatuh ke bawah lantai begitu saja).


Cari dan mencari. Tepat, tangannya sudah menggenggam sebuah benda kecil dengan bentuk mini. Segeralah Dina memasang kan benda itu di antara bunga bunga meja yang ada dalam vas yang berhadapan langsung dengan tempat tidur itu.


Setelah berhasil, Dina kembali melemparkan tasnya itu seperti bentuk semula di atas lantai. Dan kembali di atas tempat tidur. Tidak mungkin dia kabur, sedangkan pintu kamar itu sudah di kunci oleh Rafael. Mau bagai mana lagi, dengan pasrah Dina membiarkan tubuhnya di ambil kendali oleh Rafael setelah pria itu keluar dari kamar mandi. Dan menumpahkan hasrat gairah yang membabi buta nya di atas tubuh milik gadis itu lagi dan lagi.


✨✨✨


Bersambung ...


Happy reading ❤️

__ADS_1


.


__ADS_2