Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 19 : Kita bertemu lagi, aku senang


__ADS_3

Wajah Siska begitu mengkerut saat itu, mendapatkan lagi perlakuan yang sama dari Vano. Dia menciumnya lagi dan lagi "akhhh!!!"


Bi Lina tidak masuk apartemen hari ini. Tunggu! Bi Lina tidak ke apartemen? Senyum sumringah sekaligus otak Siska mendapatkan pencerahan sesudahnya. Setidaknya, di sisi lain dia mendapatkan keberuntungan.


Bi Lina tidak ada di apartemen, berarti dia akan bebas melakukan apa saja untuk hari ini "huh!" Saking senangnya, bangku sofa dijadikan tempatnya untuk melompat bagai main trampolin.


Dengan tangkas, kaki Siska melompat ke bawah lantai, lalu buru buru masuk kamar dan bersiap siap. Rencananya kali ini, tak lain dan lagi mendatangi kelab nanti malam.


Tapi untuk siang hari... "Ahh masa bodoh! Pokoknya aku harus keluar, bosan dalam apartemen terus" sambil menyisir rambutnya membiarkan terurai.


Sampai di lobi apartemen, susasa dan mood Siska berubah gitu aja, so happy....


Melihat dan merasakan udara dan dunia di luar begitu menyenangkan dan mengenakkan, barulah untuk kesekian kalinya merasakan hidup yang benar, efek karena lama berada dalam apartemen terus dan jarang keluar.


"Ini semua gara gara dia, Vano hufff"


sambil mengepalkan kedua tangannya.


Yaa, semenjak dia berada dan tinggal satu atap dengan laki laki itu, dia tidak bisa melakukan hal yang apa saja dia sukai sesuka hatinya untuk bersenang senang 'dasar gila ngehhh' dengan mulut yang sambil beradu menggesek gesekkan kedua gigi atas dan bawahnya, Siska dengan segera lebih mempercepat kan kakinya buat menuruni anak tangga setelah menuruni lift.


✨✨✨


"Kita ... kita mau kemana tuan?"


"Putar balik saja mobilnya, aku mau mencari udara segar dulu di luar" ucap sang Rafael, kekecewaan karena tidak meeting masih ia rasakan.


Mobil yang membawanya dan yang di setir oleh sekretaris Zuy berhenti di salah satu depan restoran, di lihat dari luarnya. Sepertinya restoran itu menyediakan beberapa makanan yang mahal mahal, yang hanya kelas orang orang elit saja yang bisa makan di sana.


"Berhenti di sini"


"Baik pak" lalu turun membuka kan pintu bagian belakang mobil untuk bosnya.


Rafael berjalan pelan, santai sambil sesekali memegang batang hitungnya yang memang terlihat mancung.

__ADS_1


Dengan di ikuti oleh sang asisten dari belakang, penampilannya lebih mendukung, di sertai paras wajah yang dimilikinya cukup di bilang lumayan tampan. Tak jarang gadis yang mencoba menarik perhatiannya, akan tetapi Rafael sama sekali tidak akan termakan dengan godaan itu. Bahkan untuk melihat bodi seksi gadis yang entah siapa, yang sengaja membuat kancing baju teratasnya sengaja dibuka. Sehingga kedua bola dadanya tersembul sedikit ke atas.


Rafael melemparkan senyum sinisnya 'wanita tak tahu malu, bisanya cuma memperlihatkan bagian tubuh doang, Cihhh! aku bukan tipe pria yang cepat terpengaruh' gumamnya lalu memberikan aba aba untuk asisten Zuy yang dari tadi setia berdiri di belakangnya.


Tanpa bertanya gimana begitu, kode itu dapat dimengerti dan dicerna langsung olehnya. Dengan segera, Zuy menahan dan menyuruh gadis gadis itu semua untuk pergi menjauhi sisi Rafael. Sempat kesulitan awalnya, tetapi asisten Zuy berhasil membuat gadis gadis itu pergi meninggalkan mereka.


Lalu Rafael melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam restoran. Dia sengaja memilih duduk di sebelah ujung bagian samping jendela yang di buat dengan kaca jendela transparan. Oleh sebab itu, dia akan lebih bisa melihat pemandangan setiap sudut jalan yang di depannya, termasuk orang orang yang berjalan kaki.


"Mas... mau pesan apa?" Nada lembut suara terdengar jelas, membuat Rafael beralih menoleh ke sisi kanan. Benar saja, sesuai dugaan itu adalah pelayan restoran.


"Tolong menunya... Apa saja yang makanan seafood tolong di bawakan"


"Semua jenis makanan seafood pak? oh baiklah... Tunggu sebentar dulu ya pak, permisi" menundukkan kepala sekitar 30° dari posisi berdiri, lalu pelayanan itu kembali ke dapur restoran untuk mengambilkan pesanan dari Rafael.


What!!! Semua makanan berjenis seafood?! Di restoran ini tidak hanya menyajikan satu atau dua makanan jenis itu, bahkan ada sampai ratusan jenisnya.


Tak cukup untuk menunggu, semua makanan telah tertata di atas meja. Rafael hanya mencicipinya satu per satu dengan sedikit. Sesekali ia melihat keluar jendela... tiba tiba saja, matanya menangkap sok sok yang ia kenal dua hari belakangan ini 'itu Siska?' cepat cepat beranjak dan keluar sebelum sok sok itu hilang menjauh.


"Zuy, urus pembayaran makanan ini" dengan segera kakinya melangkah keluar dengan cepat "baik tuan"


✨✨✨


Ya, itu benar. Dia adalah Siska, merasa ada yang memanggil manggil namanya, dia menoleh ke belakang. Wajah Rafael terlihat mengkerut dengan nafas yang ngos ngosan. Terlihat banyak keringat yang memenuhi keningnya.


"Siska" sambil melebarkan senyum dengan kedua tangannya di sandarkan di bagian pinggangnya. Hufff ... Rafael membuang nafasnya terlebih dahulu, dan mendekati tempat Siska berdiri. "Akhirnya aku dan kamu bertemu" sambil berulang kali membuang senyum.


Siska menatap pria itu "Rafa... Rafael"


"Yeah girl, aku senang kita berjumpa lagi"


Siska membalas balik senyuman itu dengan senyum tipis. Hal itu mungkin saja akan lebih membuat Rafael semakin tertarik dengannya.


"Kamu ngapain di sini sendirian?" Rafael memulai obrolan

__ADS_1


"Aku cuma mau... mau" 'aduh gimana ini? Masa iya, aku kasih tahu bahwa aku diam diam keluar dari apartemen' Siska melihat ke sana kemari.


"Siska? Kamu tidak apa apa?"


"Ahh enggak, enggak kok"


"Tapi kami kayaknya tidak senang dengan keberadaanku"


'duh kenapa Rafael jadi merasa gitu, padahal kehadirannya tidak mengganguku sama sekali' lirihnya dalam hati "Emm enggak"


"Apa?"


"Maksudku aku ga terganggu kok jika kamu di sini"


Wuahhh... Senyum Rafael tidak bisa hanya sekedar di pendam saja mendengar kata kata yang barusan Siska lontarkan ke dia.


Siska menatap heran dengannya "lho kok senyum senyum? Ada apa sih?" terkekeh sesekali


Jelas Rafael cepat menyadarinya, dengan segera dia mengusap wajahnya dan berusaha tidak untuk tersenyum lagi, yaaa meskipun senyum itu masih belum terlalu hilang.


Rafael kembali menatap Siska dan matanya melihat perban putih yang membalut lengan gadis itu "Emm Siska, tanganmu kenapa? Apa aku membuatnya lebih parah ketika aku menyenggol lenganmu dalam kelab pas itu?"


Siska memegangi lengannya yang terluka itu "ahh enggak kok, ga apa apa, nih.. ini mau sembuh" Rafael mengangguk saja.


Keduanya memilih duduk di kursi yang tersedia di samping trotoar jalan tersebut di bawah pohon yang besar. Berbincang lama... sesekali keduanya sama sama melemparkan senyum, entah apa yang membuat mereka begitu.


Keduanya begitu cepat akrab bukan? Semoga saja Siska dapat memposisikan dirinya sebagai seorang yang udah bertunangan. Yaa meskipun tidak memiliki rasa dengan Vano untuk yang sekarang. Tapi setidaknya dia bisa menjaga pertunangan itu.


✨✨✨


Bersambung...


Happy reading guys❤️

__ADS_1


.


__ADS_2