
Setelah malam berlalu, pagi di sambut baik oleh mentari yang bersinar hangat di langit yang berawan cerah. Samar samar hitam di awan pun mulai hilang. Matahari terbit dari ufuk timur, menyinari seluruh isi bumi dan dunia.
Kini David kembali bersiap dan bergegas pergi menuju ke perusahaan ANGKARA GRUP lagi tempat di mana sudah 6 tahun mengabdikan dirinya di sana sebagai asisten sekaligus kaki tangan dari perusahaan tersebut.
Drunk! notif Pesan WeChat masuk dan tampil di atas layar ponselnya. Dari tuan Devano.
💌 Vano
Pagi ini saya tidak bisa langsung ke kantor. Jika ada urusan perusahaan yang mendesak antarkan saja ke apartemen. Saya akan meralat ulang!
"Huah!" David menarik nafas panjang beberapa saat. "Baiklah semangat David" memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
~
David menyetir mobil yang ia tuganggangi dengan extra hati hati sesuai dengan batas kecepatan yang normal. Sesekali matanya menoleh ke sisi bangku lain, masih ada setumpuk berkas yang masih belum ia serahkan kepada tuan Vano. Tapi, sebelum itu dia harus ke perusahaan terlebih dahulu.
Sambil melirik kiri kanan, ia merasa dirinya melalui tempat yang sangat familiar di matanya semalam. Yap, David menghentikan mobilnya mendadak. Tiba tiba saja wajah Dina terbesit di pikirannya.
'yaa ini dia! Kos Dina' gumamnya lalu turun dari mobil.
"Kira kira dia ada tidak ya?" Terus berjalan. Sepertinya David tidak salah tebak, benar saja Dina ada di situ di teras kos kosan tersebut.
"Hai Dinaaaa!!" Panggilannya membuat Dina otomatis menoleh ke asal suara tersebut. Seketika Dina kembali mengerjap 'bagaiman laki laki itu ke sini lagi? Apa yang ia mau?'
"Iyaaa" Dina berusaha membuat wajah yang tidak kaku.
"Kenapa sudah di luar?"
"Aaaaa ..." Bingung harus mau bilang apa, apa iya harus bilang yang sebenarnya kepada David. 'enggak. Itu tidak boleh'
"Ah saya cuma ... cuma ..."
"Dina! Sampai kapan kau akan terus berbicara formal dengan ku? Sekarang anggap biasa saja"
"Hoo?"
David memiringkan kepalanya, tidak mengerti dengan sikap gadis yang ada di depannya itu. Dia pura pura lugu atau gimana sihh!!!
"Ah lupakanlah. Gimana dengan tangan mu?" David melirik tangan milik Dina yang sudah melepuh kulit kulitnya.
"Aww"
"Sakit? Apa kau udah oles obat yang aku kasih?"
Dina menggigit bibir bawahnya, membuka plastik keresek obat pun belum apalagi memakai obatnya. Ya ampun Dinaaaa!!!!
"Obat?"
"Iya"
"Emm udah kok" berbohong, padahal David sudah menebak kalo gadis itu asal bilang saja.
"Yakin?"
"Hee'emm"
__ADS_1
"Kalo begitu kita ke apotek saja sekarang"
"Apa? Aaa ... Apotek? Ngapain??"
"Buat beli obat oles baru, pasti obat sebelumnya sudah habis kan?"
"Tapi ... Tapi aku belum ..." 'duh! Kenapa aku harus berucap belum sih' menghentikan kata katanya.
"Belum kau oles obat itu kan?" Tanya David langsung.
Dina menelan ludah selavinya "maaf sudah merepotkan. Aku pasti akan memakai obat itu kok"
"Tidak usah lagi. Kita ke apotek saja sekarang"
"Tapi pak"
"Pak?" David menurunkan alis mata satunyam
"Maksudnya Dav ... David" kembali menelan ludahnya berulang "aku tidak mau ke apotek"
"Kita akan membelikan beberapa obat baru Dina. Supaya tangan mu cepat sembuh! Aku pun bisa tenang setelah itu" ucap David meyakinkan Dina untuk pergi ke apotek.
"Boleh aku minta yang lain jika aku tidak mau ke apotek. Janji setelah itu, aku tidak akan membebani mu kok. Anggap saja tangan ku sudah sembuh sekarang"
David tidak bisa mencerna apa maksud gadis itu berkata begitu.
"Apa itu?"
"Jika kamu ingin membantu ku, penuhi permintaan ku" meski pun Dina menyadari kalo ia sangat begitu lancang meminta sesuatu seperti itu. Apa lagi kepada seseorang yang belum lama ini ia kenal.
David makin tidak mengerti dan lebih memilih diam mendengarkan permintaan Dina, si gadis itu.
"Berikan aku sebuah CCTV mini"
"Apa? CCTV mini? Buat apa?" David membulatkan matanya lebar mendengar permintaan aneh gadis itu, hubungan CCTV mini denger tangannya yang melepuh apa?
"Iya, aku pun tidak akan merepotkan kamu lagi. Janji tidak akan membebani mu dengan tangan ku ini lagi"
"Tapi buat apa?" Tanya David ingin tahu sekaligus aneh dengan permintaan Dina.
"Ada saja. Tapi jika tidak, enggak apa apa kok" menghela nafas panjangnya "Oia, kalo gitu aku pergi dulu. Byeeee Dav..."
"Kau mau kemana? Bukankah ini adalah kos mu?"
Dina menghentikan langkahnya mendengar David berucap dengan kata katanya 'astaga! David mengira ini adalah kos ku aaaa'
Memundurkan langkahnya lagi dengan posisi badan kembali menghadap David "iya ini kos ku. Tapi aku akan pergi ke ... ke ..." 'aduh Dina...! Mikir dong'
Otak kecilnya bekerja sempurna "iya, aku mau ke tempat kerja ku. Kafe Y. Sebentar lagi kafe akan buka"
"Oh" David mengangguk percaya saja "baiklah"
"Maaf? Baiklah?"
"Enggak apa apa. Sekalian ku antar saja ya, lagian kafe Y searah dengan perusahaan tempat aku bekerja kok"
__ADS_1
"Tidak usah, aku bisa pergi sendiri saja. Entar aku akan merepotkan mu lagi" tawaran David di tolak Dina dengan cara yang halus.
"Ayo, tidak apa apa" David berjalan menuju tempat di mana ia memarkir mobilnya di tepi jalan sambil membukakan pintu mobil. Yaudah, mau tidak mau Dina hanya menurut saja.
~
Dalam mobil ....
Dina memegang erat kaki bajunya sambil terus meremas di sana dengan mulut yang agak komat kamit. Entah mengapa? David yang sedang fokus untuk menyetir bahkan melihat gerekan kecil itu. Dina tidak menyadarinya sendiri.
"Dina..?" Reflek Dina menoleh dan segera melepaskan tangannya yang memegang kaki bajunya tersebut "kamu kenapa? You okay?"
Mengangguk saja "aku ga apa apa hahaha" mencoba membulat kan tawa "iya aku ga apa apa"
David hanya menggeleng kepala saja melihat tingkah Dina. Gadis itu terasa aneh sedikit, apa yang sedang dia pikirkan? Apa dia mempunyai suatu masalah?
Yaaa setidaknya begitulah yang David sedang pikirkan tentang gadis itu. 'mungkin saja dia punya masalah ya'
Selama sepuluh menit berlalu, menyetir dan menyetir. Tiba tiba David menghentikan mobil yang mereka tunggangi berdua. Padahal mereka masih belum sampai di depan kafe Y.
"Kenapa?" Tanya Dina.
"Tunggu di sini saja, ini ga akan lama"
membuka pintu mobil lalu keluar. Sedangkan Dina hanya mengiyakan saja dan tetap duduk di dalam mobil.
Tidak lama kemudian pun, David kembali ke dalam mobil. Tidak membutuhkan waktu yang begitu lama, sehingga membuat Dina tidak bosan lama untuk menunggunya.
KUP! pintu mobil kembali di tutup dari dalam. David merentangkan tangannya yang satu untuk memegang gang gang setir, sedangkan yang lainnya di rentangkan ke arah Dina dan memberikan sesuatu yang sepertinya adalah sebuah benda kecil.
"Ini apa?" Tanya Dina kaget dengan barang yang di berikan oleh David kepadanya
"Aku telah menyanggupi permintaan mu" David mengangguk sambil mengatur gas mobil lalu pelan pelan melajukan mobil tersebut.
"Terimakasih. Aku tidak akan merepotkan kamu lagi"
David terus menggeleng dengan sikap Dina yang terus aneh dia rasa. Hanya sebuah CCTV mini? Bagaimana dia mau meminta benda yang seperti itu? Apa lagi sepertinya dia sangat senang dengan mendapatkan benda seperti itu. Terus merasa aneh sepanjang perjalan hingga mereka sampai di tempat tujuan mereka, kafe Y tempat Dina bekerja.
"Baiklah, hanya sampai di sini saja aku bisa mengantarkan mu. Aku akan pergi"
"Tidak, aku yang sangat berterima kasih banget" Dina menyunggingkan senyum yang benar benar tulus "dan ... Terimakasih untuk ini" sambil menunjuk CCTV mini tersebut.
"Ok"
"Ku harap, aku tidak lagi merepotkan mu. Tangan ku sungguh tidak apa apa sekarang. Dan anggap saja, kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Permisi"
"Tidak pernah bertemu sebelumnya? Apa maksudmu Dina?"
"Iya begitu. Maaf sudah berani meminta mu untuk memberikan ku ini (*CCTV mini). Permisi!" Lalu turun dari mobil tersebut sambil melambai kan tangannya ke arah David dari luar, sebelum beberapa saat Dina masuk ke dalam kafe tersebut.
David terus di buat bingung oleh gadis itu. 'akrhh yasudah. Masalah dengan gadis itu selesai. Bukannya aku harus senang bukan?' memutar mobilnya lalu kembali menancap gas bergegas menuju perusahaan. Tersisa lima belas menit lagi baginya untuk sampai ke perusahaan.
✨✨✨
Bersambung ...
__ADS_1