Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 16 : Rafael yang Seorang Direktur juga


__ADS_3

Dengan takut takut dan sempat ngeri, seorang manager yang telah dikirimkan untuk menggantikan posisi sang direktur di saat meeting di luar kota, masuk dan menemui tuan yang telah lama menunggunya di ruangan pribadinya (ruangan direktur utama RK Grup).


Memutarkan kursinya menghadap manager itu


"dimana laporan meetingnya?"


"Ini...ini tuan"


Lalu mengambilnya dengan agak kasar di tangan bawahannya itu, tidak mau terlalu banyak basa basi dan berisik. Dengan sekali main jari jemari, menyuruh manager itu keluar, lalu manager itu pun keluar (anggap saja namanya Zui).


Senyum sinis jelas terukir di bibir Rafael "ANGKARA GRUP?"


Dari dulu, Rafael telah penasaran dengan siapa direktur perusahaan yang selalu menjadi rivalnya itu. Sepertinya artikel Internet terus menerus selalu membicarakan hangat perusahaan itu.


"Kira kira presdir tua itu akan bisa melawan perusahaan yang aku pimpin?"


Tangannya yang satu melayangkannya jari jemarinya di atas layar ponsel, lalu bermain main lama di sana.


Wajah Mr. Johanes Putra Angkara terdapat dan tergambar jelas di sana (ayah Devano), sebagai pemimpin paling tertinggi di ANGKARA GRUP. Semua saham perusahaan tersebut masih belum di atas namakan atas nama Devano.


Rafael hanya melihat wajah itu dan tidak mempedulikan wajah lainnya. Padahal di bawah selanjutnya, wajah Vano sudah ada di sana.


Dengan senyum puas tapi banyak muslihat terkandung di dalamnya. Rafael menatap natap dan memperhatikan dengan seksama laporan dari meeting yang barusan dia dapatkan. Kerjasama bisnis telah di terima, dan perusahaan mereka jadi investor. Kini dia bisa lebih tahu dan bisa menyelidiki diam diam tentang perusahaan rivalnya itu.


"Jangan ada perusahaan yang bergerak lebih cepat dan tinggi dari perusahaan ku" ucapnya dengan nada tinggi lalu melemparkan surat surat laporan meetingnya, membiarkannya berserakan.


✨✨✨


Pagi hari selanjutnya, Siska terbangun dan mendapati dirinya di atas tempat tidur lagi dan lagi. Mengusap mata dan memperbaiki belahan rambutnya, hati hati Siska turun, dengan mulut terbuka karena menguap "huahhhw"


'mengapa selama dua malam ini, aku terus terusan tertidur di dalam kamar, kenapa bukan di sofa? Siapa yang memindahkan tubuhku? Tidak mungkin laki laki itu kan?' gumam Siska pagi pagi begini. lalu ingin segera mengetahui dimana laki laki itu juga sekarang.


Dia berjalan ke arah sofa, dan benar saja matanya mendapatkan Vano yang tertidur dengan selimut tebal. Siska melihat pemandangan itu, paras wajah yang paling tampan yang belum pernah ia temukan pada laki laki lain.


Memandanginya saja sudah cukup membuat nyaman 'aku ga nyangka, wajah laki laki ini bisa setampan ini kalau lagi tidur' batinnya berkata begitu, walau terus terusan bibirnya ingin sekali menolak kata batinnya itu.


Siska menatap ke arah sisi lain menyadari dirinya yang terlalu lama menatap wajah yang lagi tidur itu 'akh Siska, kamu apa apaan sih!! Ingat, dia itu laki laki yang kamu benci. Okay?!' lalu beranjak dari tempatnya lagi.


Masih dengan pertanyaan yang selalu membuat pikirannya terbebani, kenapa dia bisa tidur di kamar bukan di sofa?


"Ahh sudalah Siska, mengapa kamu terus terusan berpikir bahwa laki laki itu yang memindahkan tubuhmu di kamarnya hah!" Ucapnya sendiri dan tidak mau menebak bahwa yang membawanya ke dalam kamar adalah Vano

__ADS_1


Huffff....


Siska menarik napas, kakinya melangkah ke dalam kamar mandi. Menghidupkan keran air, membiarkan rambutnya di sirami dan basah. Salah satu tangannya ingin mengambil kondisioner untuk rambutnya.


"Awwww lenganku!!!" Tiba tiba saja, botol kondisioner terjatuh dari atas dan mengenai lengannya yang sakit. "Awww hiks" suara jeritannya berulang ulang.


Brakk!


Suara dorongan pintu yang kuat dari luar, dengan panik Vano membawa Siska ke dengkapannya lalu mendudukkan gadis itu ke atas samping bagian wastafel.


"Kamu ngapain ke sini?" Tanya Siska sambil meringis menahan kesakitan. Vano menatap wajah Siska dengan garang namun penuh perhatian.


Uhh! 'kenapa dia selalu muncul!' batin Siska melihat wajah laki laki itu.


"Kamu masih bertanya kenapa aku di sini? Kamu kenapa terjerit jerit dalam kamar mandi? Hah?" Lalu menarik lembut lengan Siska yang terluka "kenapa kamu membiarkan botol ini mengenai luka lenganmu?"


Siska menatap heran Vano, sungguhkah ini Vano yang dikenalnya pas awal bertemu?


"Aku... aku cuma mau keramas saja dan..."


"Cereboh!"


Tanpa menjawab dan menunggu persetujuan dari gadis itu, Vano membawa turun tubuh Siska lalu perlahan memijat rambutnya dan perlahan mencucinya.


Siska otomatis mencoba menolak tangan itu "kamu ngapain?!"


Vano menahan tangan itu dan kembali menatap lekat lekat wajah Siska "tenang saja, biarkan aku membantumu"


"Tapi aku bisa..."


"Sssttt... menurut saja" jemarinya di tempelkan di atas bibir milik Siska agar tidak ada penolakan. Siska tidak bisa menolak lagi, membiarkan Vano yang mengambil alih untuk mencuci keramas rambutnya.


Dengan telaten dan tangan itu penuh kelembutan memijat kepalanya. Siska merasakan itu. Perlahan lahan matanya menatap wajah Vano tapi kadang juga membuang muka dan beralih ke sisi lain.


'yaampun mengapa kini jantungku berdebar?' Siska mencoba tampil biasa saja, tapi matanya terus menerus menatap wajah itu, wajah milik Vano.


Vano yang dari tadi di sibukkan, reflek menatap balik tatapan itu lalu tersenyum. Tatapan keduanya bertemu dengan saling berbalas senyum.


Lama dan lama, Siska menyadari sikapnya di depan Vano. Cepat cepat mengalihkan pandangannya menatap ke arah sisi lain


"emmm busa shampo mengenai rambutmu" kata kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.

__ADS_1


"Benarkah? Bukannya kamu dari tadi terus menatap wajahku yang tampan ini? Hehehe" terkekeh. Vano mencoba menggoda Siska.


"Apaan sih! Hello, wajahmu kau bilang ganteng? Muka standar begitu saja kok di bangga banggain?!" Siska membalas balik kekehan itu dengan logat tawa yang mengejek.


"Apa? Coba bilang sekali lagi?"


"Yaa muka standar..." Duhh! Mulut Siska berhenti berbicara, lalu berjalan mundur perlahan lahan. Tubuh Vano semakin mendekat dengannya.


"Kamu kenapa sih? Pergi tidak?!" Astagaa! Kini wajah mereka bertemu dan begitu sangat dekat, dekat sekali.


"Kamu merendahkan wajah ini? Wajah yang paling tampan yang semua orang ingin sekali memilikinya? hmmm?" Semakin mendekat dan...


Siska mendorong tubuh Vano "jangan macam macam denganku. Aku bisa saja menendang mu jika..."


"Jika apa?"


"Sudah, kau keluar saja. Aku bisa melanjutkan keramasku. Aku ga butuh bantuanmu" mendorong tubuh kekar Vano keluar dan menguncinya di dalam.


Huffff...


Siska menarik nafas panjangnya, kenapa pagi pagi begini dirinya begitu apes? 'oh God mengapa mempertemukan aku dengan orang ini?'


Mencoba memikirkan berbagai kemungkinan hal "apakah dia mencoba mencium ku tadi?" Sambil memegang bibirnya, seketika Siska bergidik ngeri "oh no no... Jangan sampai dia mencoba coba melakukannya lagi" lalu mengambil handuk dan mengusap perlahan rambutnya.


✨✨✨


Bersambung...


Hallo readers semua...


Maaf baru bisa up date lagi eps novel selanjutnya, lain kali author akan sebisa mungkin buat up date tepat waktu.


Makasih sudah menantikan up date terbaru novelnya 😙


Love you all❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa votenya readers, biar author akan lebih semangat buat up date eps novel selanjutnya.


Happy reading~


.

__ADS_1


__ADS_2