Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 60 : Kebenaran memihak Keadilan


__ADS_3

Flash back on (pagi sebelum Vano dan Siska berbaikan)


Kafe Y


Seperti yang udah terencana, David mengujungi kafe Y tempat dimana gadis barista itu bekerja Dina. Dia akan menggunakan pakaian yang casual non-formal. Bukan lagi jas atau semacam lainnya. Guna menghindari kecurigaan bodyguard mata mata dari Mr. Rafael.


(Hahaha author sedikit bicara boleh kan? Bukan bermaksud mau ambil peran yaa. Tapi cuma mau bilang, hidup ini memang ironis yaaa. Dari yang sudah ironis masih saja ada yang lebih ironis. Yang lebih licik juga ada. Habis di licikkin, apa salah jika di balas dengan main licik?)


Okee, kembali lagi ke cerita kita, curhat author nya ditinggal bentar dulu hehehe 😗😢


David masuk ke dalam kafe tersebut dan langsung mengambil tempat duduk di bangku yang paling sudut pojok kafe tersebut. Tempat dimana mata para bodyguard yang bertugas di luar tersebut agak susah menjangkau tempat tersebut. Bukan susah tapi memang benar benar enggak bisa. Sesuai dengan plan rencana semalam ketika Dina meminta untuk ketemuan. (Baca bab sebelumnya).


Tanpa ada kecurigaan sedikit pun, akhirnya David bisa duduk di tempat meja paling pojok tersebut. Yaa ga bakal berhasil sih sebenarnya, jika Dina ga memberi tahu David mana tempat yang aman sebelumnya. Untung saja David benar benar mengikuti instruksi darinya.


Merasa sudah waktunya, Dina akhirnya pun menghampiri David ketika ia sudah tahu bahwa David sudah duduk di tempat itu.


"Permisi mas. Mau pesan apa?" Suara lemah lembut ramah Dina menyapa David sebagai kode. Anggap saja, untuk berbasa basi.


David menoleh ke siapa asal suara. Akhh suara itu~


Entah bagaimana juga, David tidak bisa berbohong kepada dirinya. Mengapa sejak ia di pertemukan dengan gadis itu, makin lama, makin ingin sekali mendengar suara milik gadis itu.


"Mas??" Kode kedua dari Dina lagi.


'ini orang kenapa? Bagaimana nantinya kalo rencana ini gagal. Bisa mati gua huhuhu' Dina membatin dengan pikiran yang was was. Takut? Jujur iyaa. 'semoga saja, David dan aku. Bahkan Rencana ini bisa berhasil tanpa ada masalah apa pun Amin!' ucap Dina terus berdoa dan berharap baik dalam hati.


"Mas? Mau pesan apa? Coffee latte dengan cream ..."


"Oh yang itu saja. Boleh. Iy-iyaa yang itu saja" akhirnya pun David memberikan respon.


Dengan sigap dan cepat, Dina kembali ke meja barista. Membuatkan satu gelas coffee sesuai pesanan oleh David.


Satu dua tiga detik, satu menit dua menit. Coffee nya pun selesai. Satu tangan Dina yang di buat segesit mungkin untuk menyisipkan satu benda kecil di bagian bawah cangkir kopi. Lebih tepatnya di atas nampan yang ia bawah.


Kemudian ia berjalan membawa coffee tersebut ke meja nomor 18 tempat dimana David duduk.


"Silahkan mas. Semoga suka" tambah Dina dengan ucapan yang artinya kode agar kalo ada sesuatu di atas nampan tersebut. Menyuruh David untuk mengambil benda tersebut.

__ADS_1


David tersenyum seolah tidak ada apa pun yang sedang mereka mainkan. Iya, bermain drama seperti sekarang hahahaha. Ya ampun David Dina!


Sesegeralah Dina kembali ke meja barista sesudah David mengabil benda kecil tersebut.


'FLASHDISK + OTG?' iya, David bingung. Ini maksudnya apa?


Tanpa banyak tanya, David segera menghubungkan Flashdisk tersebut ke hp nya. Sesuai dengan apa yang diharapkan Dina. Ternyata David melakukannya juga.


David membuka file yang pertama ia temukan di dalam flashdisk tersebut. Sebuah dokumen, tapi dengan dok.name (mohon ikuti apa yang saya ketik-Dina).


Terheran-heran iya, penasaran apalagi. David mempencet dokumen tersebut hingga tampil beberapa ketikan. Sudah jelas kalo Dina yang mengetiknya. David percaya itu. Lalu membacanya dengan seksama dan teliti.


Tolong baca dan mohon ikuti petunjuk instruksi dari aku kali ini.


David, maaf kalo aku mau berbagi tentang ini kepadamu. Padahal kita ga sedekat ini. Lucu bukan?


Tho the point langsung, kamu sebelumnya pernah bertanya kepadaku. Kenapa dan bagaimana bisa nomor hp ku bisa di pakai oleh Pak Rafael. Akh lebih tepatnya pria brengs*k itu.


Dan kamu juga menanyakan apa hubungan kami kan?


Tapi maaf sebelumnya, aku ga bisa memberi tahumu secara langsung. Kamu pasti tau kan alasannya? Iya, aku takut jika beberapa bodyguard yang bertugas menjagai aku akan hal yang ku lakukan akan curiga terhadap mu dan aku.


'maksudnya ini?' David penasaran. Sekilas melirik ke arah Dina yang juga tengah di sibukkan oleh beberapa pesanan pelanggan kafe.


Meski begitu Dina sempat sempatnya melirik ke arah David juga di waktu bersamaan. Mengedipkan satu mata dengan muka dan raut wajah yang gemetaran ke arah David.


Lalu David kembali ke layar hp nya. Men-scroll ke page dokumen selanjutnya.


Satu video yang ada dalam flashdisk ini adalah video klip ketika Rafael memaksaku untuk melayani dirinya. Dan satu video klip lainnya, adalah ketika Rafael bersama gadis lain. Dan kurasa itu adalah nona Siska. Tapi aku ga yakin juga.


'apa? nona SISKA?' David semakin dibuat penasaran laginya.


Kamu pasti terkejut ketika aku mengatakan ini. Selama ini, aku tinggal di kediaman laki laki bareng*k itu. Hanya untuk melayani rasa berahinya ketika ia mau. Tapi ku mohon jangan salah paham terhadap ku, aku melakukannya bukan karena aku mau. Ancaman laki laki itu membuat aku takut hingga aku memilih bungkam mulut selama ini.


Awalnya, ia memintaku untuk melayaninya dan dihadapkan dengan satu pilihan jika aku tidak mau.


Dengan permainan liciknya, jika aku tidak mau. Maka orangtuaku yang akan jadi sasarannya.

__ADS_1


Dulu, orangtuaku terlilit hutang uang banyak kepadanya. Hingga jika orangtuaku tidak mampu melunasi hutang hutang tersebut di waktu yang cepat, maka ia akan menjebloskan mereka ke balik jeruji besi.


Aku pun yang saat itu sangat bingung, hingga bodohnya aku saat ini mengiyakan saja apa yang ia mau. Lebih tepatnya ketika aku lengah dan habis tenaga untuk berlari dari apitan tubuhnya pada saat itu. Dan saat itu, ia mencuri bagian dari kegadisanku. Tidak ada lagi yang patut aku banggakan sebagai seorang perempuan. Hidupku hancur! Seperti yang kamu lihat sekarang.


Dia mengancam aku, jika aku mengungkap semua kebenaran ini maka videoklip yang ia punyai ketika aku melayaninya akan ia sebar luaskan. Maka di pastikan hidupku akan lebih hancur!


Aku pun bingung, hingga sampai sekarang aku masih terkurung dalam penderitaan serta penyiksaan ini.


Saya ingin mau keadilan saja. Tak apa resiko yang akan terjadi selanjutnya kepada aku, jika semua ini akan terungkap. Tapi setidaknya aku mendapatkan keadilan, aku mau pria brengs*k bajin**an itu merasakan apa yang sudah ku alami. Biar dia merasakan bagaimana penderitaanku.


Ku mohon, bantu aku. Aku tidak tau harus mau minta bantu ke siapa. Memang aku tidak tau malu, langsung meminta kamu untuk membantu ku. Tapi aku sungguh tidak tau harus gimana lagi.


Maaf jika merepotkan mu untuk kali ini lagi. Dan terimakasih untuk hadiah CCTV mininya yang kamu berikan samaku sebelumnya. Aku sangat berterimakasih, tanpa itu mungkin aku tidak bisa mendapatkan video klip ini.


Sekian-----


Dina.


Terkejut bukan main. David tak hampir percaya jika Dina, gadis barista yang belum lama ia kenal ternyata ....


akhh, mengapa ia merasa kecewa ketika ia mengetahui kebenaran ini? David mengusap wajahnya dengan kasar.


Mempencet videoklip tersebut, video tanpa settingan tampil di layar handphonenya. Dimana dengan kejinya Rafael memuaskan dirinya terhadap tubuh milik gadis itu, Dina. Melihatnya, entah kenapa David kini emosi berotak atik dalam dirinya.


'Pak Rafael benar benar bajin**an bareng*k!!!' umpatannya dalam hati kepada Rafael.


Setelah itu, lanjut pada video yang kedua. Terkejut sekaligus dimenangkan, akhirnya fakta kebenaran tentang masalah NONA SISKA DI HARI SEBELUMNYA mendapatkan pembenaran dari videoklip CCTV tersebut.


Segera mungkin, David mengirimkan video yang berdurasi 35:16 detik itu kepada atasannya Mr. Vano melalui WeChat atau e-mail. Entalah. Yang pastinya video itu telah terkirim kepada atasannya itu.


Setelahnya, David melirik ke arah gadis itu. Yang ternyata masih berkutat dalam kesibukan melayani pelanggannya. Memandang lekat gadis itu, mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut inci demi inci, meskipun beberapa pelanggan yang memesan kadang menghalangi pandangannya.


'benarkah kisah hidupmu seperti itu??' David sedikit kecewa dengan pembenaran tersebut. Entah mengapa ia yang bukan siapa-siapa gadis itu keberatan berat akan hal itu. Arkhhh!!!! Kecewanya David hingga berulang kali mengusap wajahnya kasar.


✨✨✨


**kira-kira habis ini apa yang terjadi pada Dina?

__ADS_1


Rafael juga bagaimana yakkk?


Like dan komen dong readers biar author semangat up-nya lagi. okeee ILV all♡**


__ADS_2