Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 40 : Kalung Berharga Fantastis Berlapis Diamond


__ADS_3

"Apa kamu bilang?! Gadis itu pergi dengan seorang pria???!!!!" Rafael meneriaki ke arah banyak pengawal bayarannya itu. Tatapan ganas dan emosinya meluap.


"Maaf tuan" salah satu dari pengawal tersebut berani berucap di saat Rafael sedang marah.


"Maaf?" Bruk!! satu tonjok kan mendarat di wajah pengawal tersebut hingga sedikit berdarah. "Ahh maaf tuan, sudah lancang"


"Cepat carikan gadis itu sampai dapat! Berani beraninya dia!" Melempar keca jendela dengan benda apa saja yang ada di dekatnya saat itu.


Crak crakk crakkkk !!!


"Jangan kembali sebelum gadis itu kalian temukan! Ingat itu! Bagaimana pun caranya bawa dia ke sini. Dasar tidak becus sama sekali"


"Baik tuan"


"Cih awas saja kamu Dina huahh"


Selama dua Minggu terkahir, emosi selalu menguasai kehidupan Rafael. Entah bagaimana itu bisa terjadi?


Belum lagi karna gadis yang ia sukai adalah tunangan dari orang yang di anggapnya sebagai musuh dan saingannya dalam ber bisnis. Kali ini dia akan jadi rival seorang direktur ANGKARA GRUP lagi? Akrhhh!!~


✨✨✨


Esok harinya ....


Persiapan untuk sebelumnya sudah fix sebagian terlaksanakan pagi ini. Tidak sia sia berkutat dalam pekerjaan lembur tadi malam. Sudah dua klien dari duta perusahaan luar negeri tertarik dengan cara kerja perusahaan ANGKARA GRUP. Good job! Investasi yang akan di masukkan begitu besar. Sangat besar keuntungan bagi perusahaan yang tengah di pimpin Vano saat ini, ANGKARA GRUP.


Tender yang dimenangkan kali ini bernilai ratusan bahkan jutaan miliaran. Selamat buat perusahaan ANGKARA GRUP.


Prok prok prok !!!


Seluruh hadirin yang telah hadir saat itu sangat antusias sekali menyaksikan pidato dari direktur utama ANGKARA GRUP, Devano Putra Angkara.


Crek crek crek ... Flash kamera saat itu sangat memenuhi gedung aula di mana pertemuan antara klien perusahaan perusahaan elit melakukan tender.


"Pembangunan ekonomi nasional saat ini begitu memburuk di kalangan masyarakat. Sesuai dengan review atau tinjauan, kedepan mungkin masyarakat 95% akan susah mencari pekerjaan yang menyebabkan angka pengangguran negara atau pun dunia akan meningkat. Oleh sebab itu, saya sebagai direktur utama perusahaan ANGKARA GRUP akan membuat plan jitu dan membangun sebuah proyektor membuat pembangunan gedung baru di kawasan daerah Jabodetabek dan sekitarnya (*khusus Indonesia dulu). Sehingga keterbatasan lowongan kerja akan terselesaikan. Dan semakin banyak pembangunan gedung maka .... and bla bla bla ..." Vano memberi tahu tujuan utama pembangunan gedung baru melalui pidatonya untuk lebih meyakinkan audiens untuk memahami dan lebih tertarik lagi " .... .... ... sekian. Salam berbisnis" Vano membungkuk untuk hormat di atas podium usai melakukan pidatonya.


"Bravooo!!!"


Pidatonya di sambut riuh gemuruh sejumlah pangkungan tangan yang bertepuk tangan terkagum dengan sok sok Direktur yang berdiri di atas podium tersebut.


Surat kerja sama pun di tanda tangani oleh beberapa pihak yang terlibat dalam proyek tersebut.


"Selamat pak Devano. Anda berhak untuk memenangkan tender ini. Saya begitu terkagum" salah satu dari sesama direktur memberi selamatan untuk Vano yang juga di sambut baik olehnya.


"It is plan so good. That really interesting!"


Ucap klien duta dari perusahaan luar negri.


Hehehehe Vano tertawa bersahabat, sewajarnya untuk mencerminkan diri sebagai direktur untuk sesama kolega bisnis "thanks you ... bla bla bla"


"..."


"..."


"...."


(*Ehh readers, sampai di sini saja dulu percakapannya dalam bahasa Inggris yaa. Berhubung author juga ga jago bahasa Inggrisnya wkwkkw makhlum yaaa😅 intinya semua percakapan itu tentang pujian untuk sang direktur Devano kok).


***


Dua jam berlalu, akhirnya pertemuan itu selesai. Alhasil tender terbanyak di menangkan oleh perusahaan elit ANGKARA GRUP.


"Tuan ... Mari" David membuka kan pintu mobil untuk Vano yang berjalan mendahuluinya lebih dulu. Vano pun masuk. KUP!


"Tujuan kita kemana sekarang tuan?" David menoleh ke belakang.


Vano membual senyum smirk di bibirnya "antarkan aku ke tempat yang biasanya menjual perhiasan"


"Perhiasan?"


"Iya, pilih tempat yang lebih baik. Hubungi toko yang memiliki kualitas berlian paling terbaik"


"Baik tuan"


David mengambil ponselnya dari dalam sakunya. Calling ... (*Menghubungi pihak resepsionis perusahaan, barangkali tahu tentang toko perhiasan yang terkenal dan paling terbaik berhubung resepsionisnya adalah perempuan)


"Hallo, ini kantor ANGKARA GRUP. Ada yang bisa di bantu?"


"Saya as. David"


"Oh iya pak, maaf tidak tau tadi ..."


"Tidak apa apa" David langsung menyela.


"Ada yang bisa saya kerjakan pak?"


"bla ... bla ... bla" David memberi tahu apa maksudnya.

__ADS_1


"Oh baiklah pak. Saya akan mengirimkan alamat tokohnya"


Tut Tut Tut ... Sambungan telepon terputus.


"Tuan, rekomendasi tokonya adalah TIARA DIAMOND" David kembali menoleh ke belakang


"Segera kesana"


"Baik tuan" memutar gang gang setir dengan tujuan toko perhiasan TIARA DIAMOND. Rekomendasi toko perhiasan berlian yang paling terbaik.


✨✨✨


Berbeda dengan Siska yang dari tadi termangu bingung di dalam apartemen. Otak kecilnya masih terus terusan ke over thingking tentang kejadian yang belakangan ini terjadi. Selama dua minggu terkahir ini, Vano besikap protektif sekaligus posesif berlebihan dengannya sampai mengekang dirinya dalam apartemen. Tapi itu tidak masalah.


"Kenapa dia melarang ku untuk bertemu dengan Rafael. Apa mereka saling kenal? Kenapa keduanya saling menunjukkan rasa tidak suka?"


Puf puf puf "akh Cihhcihhh kenapa aku tidak tau!!" Kakinya menendang nendang bantal sofa bahkan meneriaki apa saja yang ada di depannya. Astaga Siska!!!!!!!


Bi Lina yang mendengar suara suara itu pun langsung menghampiri asal suara itu. Mata wanita paruh baya itu membulat melihat tingkah Siska "non, non Siska kenapa?"


Siska menoleh menghentikan kakinya dari aksi tendang tendangan kakinya hehehe


"Ga apa apa bi"


"Benar ya non?"


"He'emmm bi iyaaa"


"Kalo non Siska butuh apa apa. Langsung bilang ke bibi ya"


"Baik bi" usai itu, bi Lina kembali ke pekerjaannya.


~


Kembali dengan Vano dan David. Dimana atasan dan asisten itu tengak di sibuk kan untuk memilih perhiasan berlian di dalam toko tersebut. Sebenarnya bisa saja Vano menyuruh bawahannya untuk membeli perhiasan tersebut. Tapi sepertinya tidak untuk kali ini, dia sungguh memiliki niat untuk langsung mendatangi toko tersebut. Perhiasan yang di berikan kepada gadis itu (*Siska) harus tangannya yang memilih.


"Pak, ini adalah kalung berlian dengan lapisan diamond batu safir. Cocok sekali dengan kalung mode tren fashion saat ini"


"Ini yang paling terbaik?"


"Satu lagi pak, kalung lima lapisan berlian. Pertama kalungnya di desain khusus ... and bla bla bla"


"Berapa harganya?" Vano langsung to the point dengan harga. Sepertinya kalung kedua adalah pilihannya.


"2 M pak" harga yang fantastis dan tak main main.


"2 M? Baiklah" Vano mengucapkan kalimat harga kalungnya dengan enteng lalu menyuruh David untuk mengurusnya semua, bagi seorang Vano itu harga yang tak seberapa. Fix mengambil kalung itu dan pergi begitu saja.


"Baik pak"


Dengan langkah yang semangat, Vano melangkah keluar dari toko perhiasan tersebut.


✨✨✨


Apartemen


Vano menatap sekeliling ruangan apartemennya, menggaruk kepalanya ketika tidak mendapati gadis yang ia harapkan itu.


"SISKA!!!" panggilannya tak tak kunjung di balas oleh gadis itu "iya tuan muda" malah bi Lina yang datang menghampiri Vano.


"Dimana dia?"


"Nona Siska sedang di balkon tuan"


"Balkon?


"Iya tuan"


"Baiklah" Vano langsung melangkahkan kakinya lagi.


~


Di atas balkon apartemen ...


"Hei!"


"Astagaa! Vano!!!!" Siska terkesiap kaget karena Vano yang jahil memegang pundaknya tiba tiba dari belakang.


"Hahahaha" Vano tertawa "hehaheha elo malah ketawa" uhh ...! Mengelus dadanya.


Vano cuma tertawa saja gemas melihat wajah Siska yang memerah akibat mau marah.


"Iya deh, maaf" mengakui kesalahannya sambil memeluk tubuh Siska dari belakang secara spontan dan menghadapkan tubuh mereka berdua hingga mata mereka mendapati view luas di antara bangunan apartemen tersebut.


"Kau mau apa? Lepaskan ga? Pake acara peluk peluk segala!" Seketika Siska sadar bahwa tubuhnya di peluk oleh Vano 'ahh Vano! Kenapa kau selalu membuat ku seperti ini?' desisnya dalam hati. Vano memeluknya bukan berarti tidak suka lagi, tapi hal itu bisa saja membuatnya meleleh awww


"Sebentar saja sayang" Vano mengeratkan pelukannya bahkan menggenggam tangan Siska lebih erat.

__ADS_1


"Ih lepaskan ga?"


"Baiklah ... baiklah" mengalah saja dan kembali memegang pundaknya Siska untuk berbalik sehingga tubuh mereka saling berhadapan satu sama lain.


'apaaa ... apa yang dia lakukan?' Siska mau beringsut dari tempatnya ketika Vano mulai mendekatkan wajahnya ke wajahnya 'dia tidak berencana mencium ku lagi kan? Please jangan!!!'


Awww~ Siska hampri terjatuh akibat dari gerakannya yang terus menerus mundur beringsut kebelakang. Untung saja Vano menarik tangannya cepat hingga tubuhnya sampai lagi pada dengkapan Vano. Parahh!!! Malah sekarang wajah bibir mereka hampir bertemu, tinggal lima cm lagi!


Wajah Vano tersenyum, dan pelan pelan menundukkan kepalanya. Ah tidak, Siska menutup matanya. Rasa malu tidak lagi dirasakannya.


Semenit berlalu ... Tapi bibir keduanya tak kunjung bertemu yang membuat Siska terpaksa membuka matanya.


Begitu malu!! Ternyata Vano tengah memerhatikan wajahnya sedari tadi dengan senyuman smirk yang ia miliki. Arkkkk betapa malunya, tidak tau bagaimana wajah Siska saat itu.


"Ahh! Kamu apa apaan sih?!" Segera Siska melepaskan dirinya dari dengkapan dada bidangnya milik Vano.


Vano tersenyum menggeleng "bukannya kamu ingin di cium? Hehehehe" terkekeh, sekaligus menggoda Siska.


Duhh! 'ihh apaan sih! Enggak ahh" membantah hal itu, jelas jelas tadi dia menutup matanya. Astaga Siska ... Siska! (*Gini, Siska membantah hal itu sambil memukul mukul dada Vano).


"Aww aww sakit"


"Cihh! Jangan berpura pura sakit! Hanya segitu juga udah ..."


"Aww sumpah aku ga bohong Siskaaaa" Vano pura pura terpelanting ke atas lantai. Siska yang melihat hal itu jelas auto panik.


"Van! Vano! Are you okay? Jangan nakut nakutin dong"


"Awww arkkkk!!!" Vano malah mantap berteriak sambil menutup kedua katup bola matanya. Fix, adegan itu mampu membuat Siska panik bahkan tanpa di sangka air mata sudah membasahi pipi gadis itu "Vano!! Aku ga sengaja tadi huhuhu" mencoba menyeka air matanya "kita akan pergi ke rumah sakit, bertahan sebentar yaa" mencari ponselnya di saku celananya, entah dimana lahh.


"Siska ...."


"Yahh Van! Please bentar dulu" masih panik


"Siska ahhh" Vano memegang dadanya itu. Entah apa lagi rencananya kali ini. Siska melihat gerakan tangannya itu. Tanpa bertanya langsung memegang dada Vano dan mengelus lama di sana.


"Apakah ini yang sakit?"


Vano mengangguk "Emm" pelan pelan matanya terbuka.


"Masih sakit?"


Vano tersenyum puas melihat Siska yang peduli dengannya. Vano percaya bahwa gadis itu mulai menaruh perhatian kepadanya. Memegang tangan Siska dan menahannya di atas dadanya "jika kamu memegang ini, apakah kamu merasakan denyutan jantungku"


"Maksudmu?" Siska malah bingung.


"Kamu tahu bahwa aku mencintaimu"


menghentikan ucapannya sebentar menatap serius wajah gadis itu "kamu juga menyukai ku kan?"


Siska melepaskan tangannya dari genggaman tangan Vano "apa maksudmu?" Lalu berdiri, sudah jelas jantung gadis itu saat itu deg degan sekali. Jika ia berkata tidak, tapi mengapa dia harus meleleh di saat bertemu dengan Vano setiap saat. Arghhhkkk !!


Sungguh malu untuk mengakuinya. Padahal dulu, dia sangat membenci pria itu.


Vano pun ikut berdiri "baiklah, tidak apa apa jika tidak menjawabnya saat ini" lalu merogoh saku jasnya bagian kanan.


"Tutup mata mu" ujar Vano


"Kenapa harus?"


"Come on sayang"


Vano kembali membalikkan tubuh Siska hingga tubuh gadis itu membelakangi nya dari belakang.


"Kau mau apa?"


Vano tidak menjawab, dan dengan cepat kalung yang dibelinya tadi di toko perhiasan sudah melingkar di leher Siska.


"Apa ... Apa ini?" Siska memegang permata kalung itu "ini untuk ku?"


"Cantik sekali" Vano menatap lama bagian leher Siska. Siska terpaku saja melihat kalung itu.


"Aku ingin kau memakai benda ini setiap saat. Ingat!!"


"Kenapa harus?"


"Jangan banyak bertanya. Turuti saja apa yang ku mau" Vano kembali pada sikap dinginnya yang membuat Siska tidak lagi ber protes.


"Aku akan kembali ke kantor terlebih dahulu, tetap di apartemen"


"Emm" Siska mengangguk saja dan menatap bingung bagian belakang pria itu yang membelakanginya melangkah untuk kembali masuk ke dalam apartemen meninggalkan dirinya sendiri di balkon luar apartemen. Vano hanya datang ke apartemen untuk menengok dirinya saja? Ahh Vano!


"Huahh!" Siska menepuk mepuk dadanya memegang kuat kalung itu 'dih so sweet banget' jiwa dalamnya meronta. Fix, kali ini Siska tidak bisa menyangkal hal itu. 'yahh, aku mulai menyukai mu Vano. Devano Putra Angkara' ucapnya lirih dalam hati sambil tersenyum cumbu tak karuan.


✨✨✨


Bersambung ...

__ADS_1


jangan lupa votenya ya readers, berserta like, dan dukungannya melalui kolom komentar. author akan tunggu!🙊


.


__ADS_2