Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 43 : Sweet Time Dua Keluarga


__ADS_3

Besoknya lagi dari sekian banyaknya besok. Hari ini Vano akan tidak berencana untuk ke kantor. Dia akan punya plan lain bersama dengan Siska. Keduanya akan mengadakan makan bersama dengan keluarga di rumah utama milik Duckwill terlebih dahulu. Sengaja tidak memilih makan di rumah Vano, rumah utama keluarga Angkara.


Setelah semalam semua anggota keluarga mengiyakan akan coll untuk makan bersama. Lagian jarang jarang aja ada quality time seperti ini. Ini mungkin saja hal yang akan membuat kedua orangtua mereka bahagia. Tak banyak ini itu, jam 09:00 WIB Mr. Johanes beserta istrinya akan sampai di lansan pribadi milik ANGKARA GRUP. (Read : ayah dan ibunya Vano yang akan segera tiba di Indonesia, karena keduanya sebelumnya berada di luar negeri). Tanpa ada perintah dari atasan, David sebagai asisten pribadi dan kaki tangan dari keluarga tersebut tahu akan tugasnya.


David bergegas langsung ke lapangan landasan jet pribadi mendarat sekalian dengan beberapa bodyguard untuk menyambut dan mengawal ke datangan tuan dan nyonya besar kembali di rumah utama ANGKARA GRUP.


Trutttttttttt!!! Scittttt!!! roda pesawat mendarat. Turunlah tuan besar Mr. Johanes beserta istrinya.


"Selamat datang tuan" David membungkuk untuk memberi hormat yang sopan. Mr. Johanes melihat gerakan itu dan membalasnya dengan senyuman ramah.


"Dimana dia?" (*Maksudnya Vano, anaknya)


"Tuan muda ya tuan. Beliau sedang di


apartemen bersama nona Siska. Dan sebentar lagi keduanya akan menuju rumah utama keluarga Duckwil"


Mr. Johanes mengangguk begitu juga dengan istrinya.


"Mari tuan. Mr. Herlino sudah menunggu anda di kediamannya" ucap David sambil merentangkan tangan mempersilahkan tuan besar Mr. Johanes dan istrinya untuk masuk ke dalam mobil (*intinya, salah satu bodyguard yang lain yang sedang mengawal membukakan pintu mobil).


***


Rumah utama keluarga Duckwil


Di sanalah, empat pasang pasangan sudah duduk di sana di depan meja besar yang menghidangkan makanan super mewah. Tapi bagi keluarga elit seperti mereka, itu hanyalah hal biasa. Sambil duduk, sesekali melemparkan tanya dan jawaban untuk plan Vano dan Siska untuk menikah.


Tak di sangka sangka, rencana itu tiba tiba saja di beritahukan oleh Vano dan Siska kepada orangtua paruh baya itu. Mr. Herlino dan istrinya jelas kaget tapi senang sekali mendengar berita yang bagus itu. Usaha mereka agar anak anak mereka bisa rujuk dan punya hubungan baik ternyata tidak sia sia.


"Oh dear, ini sungguh kan? Kamu tidak asal bicara dengan mommy" sambil memeluk tubuh anaknya itu Siska, yang tak hanya beberapa cm berjarak dengannya. Siska mengangguk dengan senyumannya "yes mom" unc unc menciumi pipi mommy nya (sekarang jangan di tanya, manjanya Siska kumat lagi. Ya wajar, namanya juga anak semata wayang hehehe. Bukan kah begitu?) Lalu beberapa data kemudian menoleh Vano. "Iya kan sayang?" (What sayang?! Iya, itu adalah panggilan Siska untuk Vano yang entah tiba tiba saja berubah semalam).


Vano berdehem mengiyakan "emm" sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


Lima menit berlalu ...


Akhirnya yang di tunggu tunggu pun datang, Mr. Johanes dan istrinya sampai juga di depan pelataran rumah besar itu. Dan di sambut oleh beberapa pelayan rumah tersebut hingga mengantarkannya masuk ke dalam.


Sampai di leher pintu utama yang menghubungkan antara ruang luar dan dalam. Di sana sudah ada empat orang yang menunggu kehadiran itu. Yaa, tidak lain adalah Siska, Vano, mommy dan dady nya Siska. Mr. Herlino beserta istrinya.

__ADS_1


"Selamat datang kembali Mr. Johanes. Senang bisa bertemu lagi dengan mu" ucap salam dari Mr. Herlino dengan gaya bahasa yang masih formal tapi seraya memeluk tengkukan bagian bahu Mr. Johanes. Layaknya bak teman akrab (Iyah, mereka dari dulu teman akrab kok. Apa lagi merupakan partner kolega bisnis).


"Hei! Kenapa formal sekali bro. Panggil saja seperti biasanya" berbisik di telinga Mr. Herlino dengan gaya bahasa ala anak muda (ihh tak tau umur yaa ... Padahal sudah menginjak angka 60-an hahaha) "Johanes" seketika tawa keduanya pecah, mengingat masa masa dulu mereka semasih muda. Saling panggil panggil bro biar lebih keren aja. Ya begitulah dengan laki laki paruh baya itu.


Siska pun ikut tersentak saat mendengar panggilan 'BRO' itu. "BRO?" terkekeh namun berusaha tidak tertawa. Tangannya mencoba membungkam mulutnya sendiri. Agar suara cekikikan suaranya yang sedikit tidak terdengar.


Semua mata pun memandang kepadanya. Dan saat itu juga wajah Mr. Herlino mengkerut berasa anaknya itu sedang mengejek mereka. Aki aki yang sok cool wkwk.


"Ah Dady. Siska cuma ... cuma" bingung mau ngomong apa lagi. Siska menahan perutnya yang sakit akibat memendam tawanya "dad. Kapan calon mertua ku tidak di bawa masuk? Dari tadi loh kita berdiri di sini" ujar Siska dengan kata bla bla kan nya lagi. Entah dari mana kata kata itu di rangkainya. Padahal, baru semalam saja dia berani membalas pernyataan cintanya Vano. Mendengar ucapan itu dari bibir Siska, serempak semuanya tertawa menggeleng begitu pun dengan Vano yang dari tadi hanya diam saja tapi sekarang malah terkekeh.


"Oh iya, maaf. Dady hampir lupa. Ayo kita masuk"


***


Kembali ke dalam, kini terdapat empat pasangan lah yang berada di depan meja. Semuanya saling menatap dan saling melemparkan senyum terbaik dari masing masing untuk semua orang di ruangan itu.


"Emmm" Vano berdehem memecah semua gerakan senyum itu, menoleh ke arah Siska dengan mode mengedipkan mata sebelah tanda kode. Sebelum itu Siska meneguk wine yang di tuangkan salah satu pelayanan kepadanya di atas meja. Kembali memegang ujung gelas setelah meneguk satu kali.


"Cuahhh" suara mulutnya setelah selesai minum (*di sini, walau pun gadis ini di kenal gila minum alkohol. Tapi karena di depannya ada dady mommy dan bahkan ehem hehehe calon mertuanya maksudnya, Siska mencoba untuk tampil anggun. Ahh Siska!! Gila kene banget sih Wkwkkw (eh bentar, author jadi kepikir entah gimana nih kalo ia sudah menjadi istri seorang direktur ANGKARA GRUP nantinya. Vano maksudnya. Kebayang ga sih? Hihihi).


Siska mendekatkan dirinya ke arah Vano. Seolah membenamkan saja kepalanya di bahu milik Vano. "Sttt" Vano pun mendekat juga dengannya "kau tahu, kau yang mempunyai plan ini. Jadi jika ingin memberitahu hal ini kepada ayah dan ibu mu ... Kau sendiri yang bilang lah sayang" kembali mengangkat kepalanya dan kembali ke posisi semula. Vano mengerjap bola mata tiba tiba, entah kenapa sifat dinginnya dan gaya efesien akuratnya hilang bagai di telan bumi. Yang ada cuma seorang Vano yang pemalu. Yaa begitu sih, habis masa Siska yang duluan memberi tahu kabar kesetujuan mereka untuk menikah di depan orangtuanya sendiri lagi. Ya ampun Vano!!


"Ah enggak mom. Cuma tadi ada sedikit sesuatu yang ku katakan sama Vano. Iya kan sayang?" Kembali menoleh Vano. Loh dari ekspresi nya, Siska di tebak juga ikutan malu dan ragu juga saat itu toh. Parahh!!!


"Tidak apa apa mbak Jenita. Saya maklum, mereka kan masih pasangan muda. Ya wajar sekali seperti begitu" tiba tiba ujar Ny. Dela sedangkan Mr. Johanes hanya diam saja sambil terkekeh sesekali begitu pun dengan Mr. Herlino.


Tangan Ny. Dela meraih sebelah tangan Siska yang tak jauh dari dirinya yang terlentang di atas meja. Entah kenapa juga Siska tiba tiba menelentang kan tangannya.


"Nak? Apa kalian udah memutuskan bagaimana rencana pernikahan kalian ke depan ini? Tante sangat ingin sekali mengharap kan kabar baik dari kalian" menghela nafas "Tante sama om capek capek datang ke sini loh" menatap suaminya itu setelah beberapa saat kembali menatap Siska lagi.


Aduh aduh aduh!! Siska malah di buat kelagapan salting di depan semua orang.


"Aaaa Tante ..." Menganga kan lama mulutnya.


"Siska sama Vano akan bilang sesuatu ke om dan tante. Tapi setelah acara makannya selesai ya. Soalnya kan, makanan nanti akan keburu dingin" mencari alasan panjang lebar agar dia dan Vano lebih punya waktu lagi untuk mempersiapkan diri mengatakan plan mereka kepada orangtua mereka (*cuma Mr. Johanes sama Ny. Dela karena orangtua Siska sudah mengetahui kabar itu terlebih dahulu).


"Oh iya, boleh dong sayang" terkekeh. Ny. Dela mengangguk sembari menyunggikan senyum.

__ADS_1


Srappp!!! Semua pelayan bagian dapur yang dari tadi berdiri di belakang mereka maju serempak mendekati meja. Mempersiapkan makanan untuk tuan tuan mereka di atas piring. Yaa walau sebenarnya sudah tersaji sih.


Setelah selesai di siapkan. Seluruh pelayan pun kembali ke tempat semula. Tinggal kepala pelayan dapur lah yang masih berdiri di tempat.


"Tuan, nyonya, dan nona silahkan di nikmati hidangannya"


Semuanya mengangguk lalu bergegas makan. Sebelum itu, semuanya serempak untuk meneguk wine terlebih dahulu. Dan melakukan cheesers.


Ting ... Ting ... Ting ... Suara piring dan sendok yang saling bergesekan. Sesekali canda tawa gurau di lemparkan.


Agak lama sedikit, acara makan pun selesai ~


"Huahh!!" Siska dan Vano menarik nafas serempak.


"Ayah, ibu" Vano berubah pikiran. Dia akan memberi tahu langsung tentang plan pernikahan mereka ke orangtuanya.


"Katakan saja nak" barulah Mr. Johanes kembali membuka suara lagi.


"Sebenarnya agak kecepatan. Tapi aku dan Siska akan membuat plan pernikahan. Dua Minggu depan lagi, kami akab mengadakan viting baju pengantin"


"Sungguhkah?"


"Iya yah, Bu. Kami telah setuju untuk melakukan pernikahan ini"


"....."


"...."


"...."


"...."


Kini, kedua orang tua dari dua keluarga pun itu tenang. Sekarang tidak akan ada lagi kendala untuk segera menikahkan kedua putra putri mereka itu.


✨✨✨


Bersambung ...

__ADS_1


.


.


__ADS_2