Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 25 : Dimana dia?


__ADS_3

Hari ini Vano lebih awal pulang dan langsung menuju apartemen saja, sambil bersiul siul kecil dengan tas kerja yang di ayun ayunkan oleh salah satu tangannya.


Jelas, semua karyawan kantor tercengang dan bingung melihat sikap atasan mereka yang akhir akhir ini berubah. Tidak sedingin dan semenakutkan sebelumnya. Bahkan, semua sifat itu tidak ada lagi dalam dirinya walau hanya kadang ada sih hehehe.


"Tuan, mari. Biar saya saja yang bawa tas nya" David menunjuk kan sikap kepeduliannya terhadap Vano sebagai asisten pribadinya.


Vano berhenti, membuat mulutnya berhenti bersiul sejenak "tidak usah, aku sudah bilang aku akan pulang sendirian. kamu ... Kamu tetap di sini dan persiap kan semua berkas berkas yang di butuhkan untuk meeting besok"


"Baik tuan" mengangguk saja. Jika pun dia terus meminta untuk mengantar atasannya itu, Vano. Mulutnya hanya akan capek untuk terus berbicara.


Vano menyetir sendiri, melajukan mobilnya di atas jalan raya. Perlahan lahan mobilnya meninggalkan halaman bangunan perusahaannya tersebut.


Mungkin hari yang baik, berulang kali bibirnya menyunggikan senyum tanpa sebab, yaaa ... itu semua karena Siska. Dia sengaja pulang lebih awal hari ini, untuk segera bisa bertemu dengannya "tunggu aku sayang" berharap dia akan segera sampai di apartemennya.


✨✨✨


Di tempat yang berbeda, Siska masih berada dalam kafe Y bersama Rafael dan si gadis barista tersebut. "Makasih mbak" ucapnya


Gadis itu hanya tersenyum saja dan menoleh ke arah Rafael yang terus menunduk kan kepalanya di bawah tak menatapnya sebelum beberapa saat dia kembali ke tempat barista.


"Kenapa kamu meminta kontaknya? Aku tidak tertarik dengannya" Tanya Rafael setelah gadis itu melalui tempat mereka duduk, dia masih bisa mendengar kata kata itu. Air mata menitik dari mata gadis itu tanpa ia sadari. Cepat cepat ia menyekanya dan menutupi wajahnya dengan nampan yang di peganginya. Berusaha seolah tidak pernah mendengar kata kata dari Rafael barusan.


Siska memonyongkan mulutnya "lho kok kau begitu, kalian tadi begitu akrab kan? Yaa jadi ga apa apa dong kalo kontaknya aku minta"


"Aku tidak butuh kontaknya"


"Hmmm Iyah Iyah, aku tau kamu malu buat memintanya. Udah deh, aku kan udah membantumu" terkekeh menggoda Rafael "aku ikhlas kok, janji ga bakal minta imbalan" tambahnya lagi.


Rafael menghembuskan nafas beratnya sembari mengusap wajahnya 'gadis ini kenapa? Kenapa terus terusan membuatku seolah terlihat suka dengan Dina (read: gadis barista)'


"Aku tidak menyukainya" jelas Rafael 'tapi aku suka kamu siska' ingin sekali mengucapkan kata itu sekarang kepada Siska.


"Terserah mu deh" Siska makin membuat Rafael ingin gemas dengan tingkahnya.


Tapi ... gimana pun dia harus menahannya, dia tidak bisa memarahi Siska. Toh, Siska sendiri tidak tau apa apa hubungannya dengan gadis itu.


Ring ring ring ... (Panggilan masuk dari ponsel Rafael)


"Iya ada apa?"


"Tuan, sebentar lagi meeting akan di mulai"


"Berapa menit lagi?"


"Lima belas menit lagi tuan"

__ADS_1


Mendengar menit itu saja, Rafael ingin sekali mengeluarkan kata umpatan. Siska ada di depannya sekarang, bukan di ruangannya. Lantas dia mengurungkan niatnya tersebut.


"Baiklah, saya akan ke kantor segera" menutup telfon.


"Dari siapa?" Tanya Siska


"Dari Zuy"


"Zuy? Zuy siapa?" Siska menggeleng bingung


"Zuy asisten ku di kantor"


"Asisten? Apa kau juga seorang direktur?" Siska menebaknya asal asalan. Yang dia tau, jika punya asisten, berarti orang itu adalah seorang direktur. Hehehe Siska ... Siska ...


Rafael mengangguk saja dan segera pergi dari tempat itu, walau sebenarnya berat buat kakinya untuk berjalan lalu menoleh Siska "ku harap kita bisa bertemu lagi" ucapnya.


Siska menggeleng saja "yahh ... Kurasa akan begitu" dan kembali menyeruput kopinya.


✨✨✨


Membuka kenop pintu hati hati dan segera masuk ke dalam apartemen. Vano berjalan dengan santainya, matanya segera melihat ke arah sofa tempat biasanya gadis itu merebahkan dirinya setiap dia datang.


'kenapa dia tidak ada di sana?' pikirannya mulai kemana mana 'apa dia diam diam keluar lagi?' Vano melemparkan tasnya ke arah sofa itu.


"Bi ... bi ... Bi Lina?"


"Dimana dia" menunjuk kan sofa dengan telunjuk tangannya "dimana gadis itu?"


Wanita itu bingung bercampur dengan rasa panik "tuan em .. itu .."


"Itu apa? Katakan dia ada dimana?"


"Bentar tuan, biar saya melihat nona Siska di kamar tuan" Vano mengangguk "baiklah"


...........................................


"Dia ada di dalam?" Vano segera beranjak dari tempat ia berdiri menuju pintu kamarnya. Tapi wanita paruh baya itu menggeleng, dengan takut takut memberitahu kan bahwa Siska sekarang sedang tidak berada dalam apartemen.


Jelas, di wajahnya terpampang rasa bersalah, dia lagi lagi lalai dalam bekerja.


"Apa?!!!"


"Maafkan saya tuan. Tapi saya sungguh tidak tau kalau non..."


"Sudah sudah, aku akan mencarinya saja" Vano menebak bahwa Siska tengah berada di kelab sekarang. Segera membelakangi bi Lina yang dari tadi menunduk kan kepala karena merasa bersalah.

__ADS_1


'tunggu ... hari masih terlalu sore. Tidak mungkin ada kelab yang terbuka di jam seperti ini' akhhh! Vano mengusap bagian belakang kepalanya dengan tangan kanannya, kembali menghadap bi Lina yang mematung dari tadi.


"Bibi tau Siska pergi kemana tadi?" Menggeleng saja


"Tapi tuan, sebelumnya non Siska sempat memintaku untuk mengijinkan dia keluar. Tapi aku tidak mengijinkannya. Tapi non Siska diam diam nekat buat keluar"


"Baiklah bibi di sini saja, saya akan keluar sebentar buat mencarinya"


✨✨✨


Kembali menyetir mobilnya lagi, sambil mencari ponselnya di dashboard mobilnya 'dimana? Cepat dimana?' tangannya terus mencari ponselnya.


"Akhh! Sial" dia tidak menemukan sama sekali ponselnya di sana.


Matanya melirik bangku kursi belakang, dia mendapati ponselnya yang satu. Segera memberhentikan mobilnya lalu mengambil ponsel tersebut. Segera mencari nama 'David' dan mempencet nya. Calling ....


"Iya tuan"


"Gadis itu tidak ada dalam apartemen, saya sedang mencarinya. Cepat suruh semua orang kawalan yang ada di sana untuk mencarinya"


"Baik tuan, segera kami akan mencari keberadaan nona Siska" David segera meninggalkan pekerjaannya di perusahaan meminta manager Lin menyiapkannya.


Sekarang, dia di sibuk kan untuk mengurus masalah nona Siska. Beberapa pengawal di kerahkan untuk mencari gadis itu. Wah ... Sebegitunya mencari Siska? Hehehe


"Beri usaha yang terbaik. Cepat temukan dia"


Tut ... Panggilan di akhiri.


Akh ... Akh .. akh ...


Vano membanting banting ganggang setir 'gadis bodoh! Kalau memang mau keluar. Setidaknya beri tahu aku, kita akan pergi bersama kemana pun kau mau' batinnya terus menerus menanyakan dimana ada gadis itu sekarang.


✨✨✨


Bersambung....


hai readers semua ❤️


author telah kembali meng- up date eps novel barunya.


terimakasih sudah selalu menantikan eps selanjutnya. love you all☺️


happy reading♡


.

__ADS_1


.


__ADS_2