Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 71 : Welcome to the world baby boy


__ADS_3

Setelah beberapa bulan berlalu, perut Siska semakin membucit membesar. Membuat dirinya semakin susah dan terbatas untuk melakukan apa apa, apalagi dia baru pertama kali melewatkan sesuatu hal yang besar seperti kehamilannya pada saat ini. Mommy atau pun ibu mertuanya itu terus memberikan ia suport agar tetap harus semangat dan terbiasa menjalaninya. Karna wanita sudah sepatutnya melewati hal ini setelah menikah, ya mengandung dan melahirkan.


Siska juga sepertinya tidak mengeluh, ia ikhlas menjalaninya. Walau postur bentuh tubuhnya tidak seramping ketika ia masih belum hamil. Apalagi yang harus di kompleinkan? Siska sudah sangat bersyukur saja ketika Tuhan mempercayakan kepada dia untuk memberikan anak yang bersemayam dalam rahimnya itu.


Semua orang protektif dengan kehamilannya itu. Setiap saat, Siska akan di ingatkan ini itu, bahkan hal yang terkecil saja pasti di ingatkan di kalas Siska lupa melakukannya.


Bahkan pun, mommy tidak lagi mau bertoleran dengan permintaan Siska yang tetap tinggal di apartemen. Semenjak usia kandungan putrinya berusia 2 bulan, Siska dan Vano harus sudah tinggal di rumah mereka sendiri. Ya rumah yang diberikan oleh mommy dan dady sebagai hadiah pernikahan mereka. Sebenarnya Vano sendiri juga sudah mempunyai rumah sendiri sebenarnya. Bahkan semenjak dia masih berstatus lajang, hanya saja Vano yang lebih nyaman tinggal di dalam apartemen.


Mau apalagi, Siska dan Vano tinggal di rumah itu. Dan juga dengan bi Lina yang masih tetap setia bekerja sebagai ART. Tapi bedanya sekarang, bi Lina harus tetap standby dalam rumah seperti keberadaan ART pada biasanya. ART akan tinggal di rumah majikannya kecuali pada hari libur atau pun ketika mengambil cuti awal. Tapi hal ini tidak berlangsung lama kok, hanya beberapa bulan saja hingga akhirnya Siska akan melahirkan. Semuanya akan kembali ke kebiasaan awal, dimana bi Lina hanya akan tinggal selama setengah hari bekerja dan kemudian malamnya akan tidur kembali kerumahnya. Bukan sebab tanpa alasan sih, mengingat juga suaminya yang sedang sakit-sakitan di kampung. Bahkan tak jarang pun, keluarga majikannya itu memberikan biaya pengobatan melalui bi Lina. Tak henti hentinya pun wanita paruh baya itu mengucap syukur, bersyukur dan beruntung sekali ia mempunyai majikan seperti keluarga ANGKARA dan DUCKWILL.


***


Sama halnya di waktu yang sekarang. Siska sedang asyik ria menyiram tanaman hias di belakang gazebo rumah. Sempat beberapa kali bi Lina meminta nyonya majikannya itu agar tidak usah melakukannya, agar dia saja yang mengambil alih. Tapi Siska sendiri masih ngeyel keras untuk tetap melakukannya. Hingga bi Lina urung niat saja untuk berusaha, tidak bisa mencegah niat nyonya muda. Tidak ada yang bisa dilakukan selain hanya berdiri mematung tetap fokus memantau kegiatan nyonya muda hingga selesai dengan harap harap cemas. Bagaimana tidak? Usia kandungan Siksa sudah menapaki usia kelahiran bayi. Bisa saja Siska melahirkan kapan dan dimana saja.


"Nyonya Siska biar saja yang melakukannya. Siska istirahat saja"


"Tidak apa apa bi. Lagian aku sangat bersemangat sekali melakukannya" ucap Siska menolak halus dengan segaris senyum di bibir.


Meski sudah beberapa kali bi Lina sudah bersusah payah untuk meminta nyonya mudanya itu untuk melakukan pekerjaan yang berlebihan. Akan tetapi jawaban yang sama pun masih tetap ia dapatkan. Di sisi lain, begitu tidak enak hati jika terus mencegah keinginan majikannya itu untuk melakukan hal yang menyenangkan baginya.


"Baiklah nyonya Siska"


"Hmm nyonya lagi nyonya lagi. Bi, udah berapa kali sih Siska bilang. Jangan panggil aku dengan sebutan nyonya dong"


Waduh! Bi Lina kelupaan. "Iya__ iya Siska" bi Lina masih canggung untuk memanggil Siska dengan sebutan nama langsung.


Kegiatan yang dilakukan oleh Siska terus saja berlangsung. Siang itu awalnya ia tidak merasakan apa apa, atau apalah itu. Tapi di pertengahan ketika ia hendak menyelesaikan kegiatannya itu. Seketika ia merasa nyeri di bagian perut. Sepertinya perutnya berkontraksi, mungkin saja bayinya hanya menendang. Itulah pikirnya.


Tapi bukannya sampai di situ saja, bukan kontraksi yang terjadi seperti biasanya. Perutnya semakin sakit dengan gejala yang barusan ia rasakan itu. Sehingga selang pipa ditangannya itu pun terjatuh dibiarkan air mengalir di ujungnya. Ia menggenggam erat dasteran yang dipakainya cukup kuat. Lalu berteriak kesakitan.


"Bi!! Aduh! Bi sakit___ perut ku sakit!!!" Bi Lina yang melihat itu pun sekita panik. Dia harus apa? Apa nyonya Siska akan melahirkan??


Dengan cepat ia memegang dan membatu menopang Siska berjalan ke dalam rumah. Dan mendudukkan Siska di sebuah sofa.


"Tahan dulu Siska, bibi__ bibi akan menelfon tuan Vano" bi Lina semakin dibuat khawatir berkutat dalam kecemasan sembari dengan tangan yang sibuk memanggil nomor tuannya.


Sedangkan Siska terus saja meringis kesakitan. Dengan bibir yang digigit Siska menahan rasa sakit, tidak peduli apa saja benda yang ada di sekitarnya akan ia cengkram menahan sakit pada perutnya.


Kontraksi terus saja berlangsung, hingga akhirnya air ketubannya pecah. Bi Lina pun melihat itu, hatinya sangat khawatir sudah pasti Siska akan segera melahirkan.


"Siska, air ketubannya sudah pecah" ucapnya.


Lalu ia segera kembali meraih hp nya yang kini sudah tersambung kan itu. Deringan ke 2 Vano sudah menjawabnya.


"Tuan_tuan___ Vano. Anu itu anu__" masih bingung mengucapkan apa apa saking khawatirnya bingung untuk melakukan apa apa dengan mata yang fokus kepada Siska yang mulai lemah. "Nyonya Siska__"

__ADS_1


"Nyonya Siska kenapa bi?!" Vano ikut serta panik dari sana mendengar nama Siska di sebut sebutkan.


"Nyonya Siska tuan mau melahirkan. Air ketubannya sudah pecah"


Tanpa menyahut apa pun lagi. Sambungan telfon sudah di akhiri oleh Vano.


Sedangkan bi Lina masih khawatir cemas di tambah bingung dengan keadaan Siska sekarang.


"Sakit bi__"


"Iya iya bertahan sedikit lagi ya. Tuan Vano akan segera ke sini"


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh bi Lina selain terus berada di samping Siska pada saat itu. Entah mengapa nyonya dan tuan-tuan besar dari orangtua majikannya itu tidak teringat lagi. Hanya kepada tuan Vano saja ia ingat. Ia terus memegang dan menopang tubuh Siska yang semakin kesakitan itu. Dengan keringat dingin mulai mengucur di bagian wajah pucat Siska pada saat itu. Bi Lina terus memberikan kata kata suport agar Siska tetap positif thinking untuk melahirkan. Yaa itu adalah langkah utama pikir wanita itu. Ingin segera saja membawa Siska ke rumah sakit dengan taxi tapi ia tak cukup punya nyali keberanian.


Entah berapa lama selang menit waktu berlalu dengan keadaan yang masih sama. Akhirnya Vano pun tiba, entah bagaimana pria itu sampai dengan cepat.


Tidak ada satu kata atau pun, belum juga ia mengambil nafas untuk dihembuskan keluar. Ia segera menghampiri Siska yang dipastikan mulai lemah. Membopongnya lalu keluar segera menuju mobil. Bu Lina pun diikut sertakan.


"Sayang, tolong kuatlah. Bentar lagi kita akan sampai ke Rumah Sakit. Bertahanlah" ucap Vano menguatkan istrinya itu di dalam mobil.


Siska mengangguk lemah dan memasangkan sebuah senyum sambil menahan diri di tengah rasa sakit yang mengguncang dirinya.


Tak ada tenang-tenang nya Vano saat itu melihat keadaan Siska yang begitu sakit. Sepanjang perjalanan, pikirannya kapan sampai ke rumah sakit. Mobilnya di pacu lebih ngebut membelah jalanan, saat itu juga situasi jalanan begitu macet. Tak jarang jika Vano meminta pengemudi mobil lain untuk memberi jalan dengan alasan istrinya akan segera melahirkan.


***


"Tahan sedikit ya sayang. Demi baby boy kita" Vano terus memberikan kata kata untuk mendorong Siska melahirkan. Siska mengangguk lemah di atas ranjang bersalin itu. Sebenarnya, awal Vano meminta untuk melakukan operasi tidak tega melihat Siska yang terus kesakitan. Tapi Siska menolak dan ingin melahirkan normal saja, sebab tidak ada kendala jika ia melahirkan dengan normal.


Dokter yang membimbing Siska untuk bersalin pada saat itu mengarahkan dan menuntun Siska.


"Bu siska tarik nafas dalam dalam ya. Ikuti instruksi dari saya" Siska mengangguk, sedangkan Vano masih setia berada di sisi istrinya itu. Sambil berdoa terus di dalam hati agar persalinannya berjalan dengan baik. Begitu juga dengan keluarga yang sudah berada di luar, Dina dan David yang beberapa jam sebelumnya sudah datang karena Vano sudah mengabarkan kepada mereka.


"Sekarang kita lakukan pembukaan pertama ya Bu. Bu Siska harus santai, dan tetap mengambil nafas setelah itu membuangnya"


Siska mengikuti penuturan dokter. Sedangkan masih tetap berada di sampingnya. Vano terus menguatkannya.


"Bertahanlah sayang, kamu pasti kuat. Demi baby boy kita. Demi aku juga, aku di sini untukmu"


Siska berusaha kuat mengecam, ia berusaha mengumpulkan tenaganya untuk mengeluarkan anaknya. Vano tidak apa ketika istrinya menggenggam tangan atau pun lengannya dengan kuat, bahkan lengannya mendapatkan cakaran kuku. Tapi rasa sakit itu tidak apa apa dibandingkan keadaan istrinya yang tengah susah payah melahirkan anak mereka.


"Baiklah bu, pembukaan pertama sudah siap. Anaknya akan segera keluar, kuat ya Bu. Saya akan menghitung, ibu harus mendorongnya agar bisa keluar"


Satu ... Dua .... Tiga ...


Huf! Siska berusaha mengeluarkan anaknya dengan kekuatannya yang masih tersisa. Tidak peduli sesakit apa, anaknya harus lahir dengan selamat. Itulah yang ia pikirkan untuk saat ini. Ia harus berjuang melahirkan anaknya. Naluri keibuan sudah mendekap sisi hatinya.

__ADS_1


Dengan penuturan dari dokter, Siska masih berusaha mengeluarkan anaknya. Keringat dingin sudah mengucur membasahi seluruh wajahnya, wajahnya pucat pasi sedangkan bibirnya terus bergetar dengan rasa sakit yang menghantam.


Vano terus mendorong istrinya dengan kata kata semangat. Akh! Begitu bodohnya dirinya pada saat itu, istrinya sekarang sedang bertaruh nyawa untuk melahirkan anak mereka tapi ia tidak bisa berdaya melakukan apa apa. Andaikan saja, posisi itu bisa digantikan. Maka ia akan menggantikan istrinya itu untuk melahirkan, itu tidak mungkin juga bakal mustahil terjadi.


"Sebentar lagi sayang tetap kuat! Aku di sini, aku mencintaimu sayang"


Untuk terakhir kalinya Siska menghembuskan nafasnya keluar dengan tenaga sisa yang ia miliki. Akhirnya sesuatu keluar menjulur keluar melalui belahan pahanya. Tak lama kemudian, terdengar tangisan bayi.


Dokter segera mengambilnya "bayinya sudah lahir Bu, Pak"


Siska tersenyum lega setelah rasa sakit yang ia lalui. Akhirnya, dengan normal ia mampu melahirkan anaknya.


"Terimakasih Tuhan" Vano mengelus kening istrinya itu dan mengecupnya tak peduli keringat yang masih menempel di sana "terimakasih sayang. Kamu begitu hebat, baby boy kita sudah lahir"


Dokter pun segera membawakan baby boy kepada orangtuanya. Sedangkan perawat yang ikut serta dalam proses persalinan segera keluar memberi tahu kepada keluarga dan kerabat yang diluar bahwa persalinan sudah siap, anak dan ibu melahirkan dan lahir dalam kondisi yang sehat dan baik. Semuanya pun masuk dengan perasaan khawatir yang segera diganti dengan rasa lega dan syukur.


"Makasih sayang, kamu telah lahir dengan sehat" Siska mengecup pipi munggil putranya itu. Air mata hangat menitik di pipinya, yang disertai pelukan hangat yang di berikan Vano.


"Kamu kuat sayang, kamu sudah berusaha keras melahirkan anak kita. Aku mencintaimu, terimakasih untuk hadiah yang begitu indah ini"


Keluarga kecil yang belum beberapa lama lengkap anggota keluarganya itu berpelukan hangat bersama. Kebahagiaan mereka benar benar lengkap saat itu.


Adegan mengharukan itu membuat seluruh orang yang menyaksikan tersentuh hatinya. Termasuk dengan keluarga dan kerabat yang baru saja masuk. Betapa bahagianya!


"Selamat dear, terimakasih sudah menghadirkan mommy cucu" ucap mommy setelah Vano dan Siska melepaskan pelukan.


"Iya mom" Siska tersenyum.


"Mau gendong cucunya?"


Mommy mengangguk mengulurkan tangan untuk menggendong cucunya yang baru lahir itu. Di susul bergantian oleh dady ayah dan ibu.


"Selamat tuan Vano atas kelahiran anaknya, saya turut senang" David memberikan ucapan "terimakasih" yang di balas hangat ucapan itu oleh Vano.


Sedangkan Dina lebih memilih untuk memeluk Siska "Selamat Ka, baby boynya ganteng" keduanya terkekeh kecil dengan ucapan Dina di akhir "selamat juga karena sah menjadi seorang ibu" lanjutnya lagi.


"Makasih Din, aku harap kau pun akan segera menyusul"


"Amin Ka" keduanya pun melepaskan pelukan.


Akhirnya, anggota keluarga kecil itu pun lengkap sudah dengan kehadiran sok sok anak.


Kabar itu pun, terdengar di semua telinga orang hingga sampai ke kantor perusahaan. Tak jarang orang yang memberikan ucapan.


"WELCOME TO THE WORLD BABY BOY"

__ADS_1


✨✨✨


Up date nex part lagi


__ADS_2