
Rafael menatap Siska "sungguh kah?"
"Iya" Siska mengangguk menjawabnya dengan anggukan kepala menunduk. Kini Rafael melayang dalam emosinya lagi, hatinya seperti yang di cabik cabik oleh ujung pisau dapur.
'apa? Dia adalah tunangan dari rivalku?'
"Katakan sekali lagi? Sungguhkah kamu tunangan pria itu?!"
"Iya, benar Rafael. Kenapa aku harus berbohong"
Akhrr Rafael benar benar terpukul saat itu. Mengapa dia harus mencintai gadis itu? Kenapaaaaaa?!!!!!!
"Rafael kau ga apa apa. Are you okay?"
Memegang bahu Rafael, Siska mendekati tempat di mana pria itu berdiri. Tapi Vano cepat menarik tangannya hingga niat itu pun tak berhasil.
"Vano?"
"Apa yang kamu lakukan? Hah?!" Vano sudah menatap Siska dengan tatapan ngeri, sesekali membuang tatapan membunuh yang sama juga di balaskan oleh Rafael.
"Ayo pulang!"
"Enggak. Please bentar lagi"
"Tidak bisa"
Aaaa ~ tubuh Siska telah berada dalam dengkapan Vano dan segera membopongnya dengan mudah. "Turunkan aku! Apa yang kamu lakukan?" Terus mengibaskan kakinya.
Vano membawa Siska sampai ke pelataran luar restoran tersebut, Rafael tidak tinggal diam saja. Dia mengikuti keduanya dari belakang.
"Turunkan dia!!!" Cegah Rafael ketika Vano hendak membuka pintu mobil dan memasukkan Siska ke dalamnya. Rafael terus berikukuh hingga Vano terpaksa menurunkan Siska, dengan redangan emosi yang membabi buta dalam dirinya. Lebih tepatnya sebagai emosional yang muncul karena cemburu.
Arghhhkkk!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Satu kali tonjolan dari kepalan tangan Vano membuat Rafael terpelanting ke tanah. Siska mengerjap melihat adegan itu. Berusaha menjadi penengah ketika keduanya beradu tenaga untuk meninju. Rafael pun turut membalasnya.
"Can stop!!! Please ... Hentikan!!" Teriak Siska spontan.
"Apa yang kamu lakukan? Awas dari situ, kamu masuk ke dalam mobil saja?"
"Enggak Vano, kalian sebenarnya kenapa sih!! Udah saling kenal rupanya?"
"Cihh!! Gadis keras kepala, masuk ke dalam mobil sekarang! Ini adalah perintah" Saking emosi sekalian protektif, Vano meneriaki ke arah Siska dengan muka yang memerah. Tidak peduli bagaimana siska menanggapi kata katanya saat itu.
"Vano ..."
__ADS_1
"Cepat masuk!!"
Tidak ada lagi drama untuk menolak, Siska masuk ke dalam mobil. Vano sungguh menakutkan di saat dia tengah marah. Dengan duduk menundukan kepala di samping bangku setir, Siska berulang kali menyeka matanya agar air matanya jangan keluar. Hiksss ... Sia sia saja, kini air mata itu turun. 'ahh Siska! Mengapa kamu menangis? Kenapa kamu nangis ketika pria itu memarahi mu huhuhu'
Sedangkan kedua pria di luar mobil tersebut, masih melanjutkan adu tinju satu sama lain. Entah siapa yang memukul siapa, dan Vano pun langsung masuk ke dalam mobil tanpa berkata apa apa. Meninggalkan Rafael yang tergeletak di tanah.
BRUKKK!! Vano mengunci pintu mobil kuat kuat hingga membuat Siska menyadari keberadaan pria itu lagi.
"Kamu ... Kamu apakan di .. dia????"
Vano menatap Siska lekat dan dingin, jelas Siska tidak berani lagi menatap wajah itu dan lebih memilih untuk berpaling ke sisi kiri luar jendela mobil.
Vano menancap gas mobil dengan kecepatan tinggi, tidak peduli lagi bagaimana dia harus menyetir dengan baik.
✨✨✨
Apartemen
Ting ... Ting .. Ting ... Lift sudah terbuka. Segera Vano memutarkan gang gang kenop pintu. Menyeret tubuh Siska hingga terpelanting ke atas sofa.
"Va ... Vano kenapa .."
"Diamm!!!" Mengapit tubuh kecil Siska dari atas dan menatap hunus "ketakan sampai di mana hubungan mu dengan pria itu. Katakan!!!!!" Mengguncang tubuh milik Siska.
"Apa maksudmu? Lepaskan aku, kenapa kau terus terusan menanyai ku hal yang tidak aku tahu"
Lalu dengan mata yang merah, Vano menarik kedua tangan Siska ke atas dan menahannya. Dan menelentang kan tubuhnya sejajar di atas tubuh milik Siska.
"Apa yang kamu ... Kamu lakukan hah?" Siska berusaha melepas diri dari apitan tubuh pria tersebut. "Jangan bua ...." 'hmpp hmppp hmmmpp'
Dengan gerakan cepat Vano sudah menempelkan dan menutup mulut Siska dengan bibirnya dengan buas. Tidak memberikan celah bagi gadis itu untuk menghindar dari terkaman mulutnya.
'hhmmm hmmm' Siska sangat tersengal dan sulit untuk membuang nafas "le ... lepaskan ... hmppp aahh"
Ciuman itu makin brutal, semakin dalam semakin memanas. Vano mulai menggerilya kan bibirnya ke seluruh area wajah milik Siska hingga mampu mengecup ecup begian lehernya.
Arghh "apa yang kamu lakukan! Lepaskan!" Entah bagaimana Siska melakukannya, dengan sekali tendangan tangan kepala Vano kembali ke atas melepaskan ciuman itu.
"Dasar brengs*k!!" Sambil berusaha duduk
'ckkk' Vano meraih pundak Siska, membawa wajah gadis itu berdekatan dengan wajahnya juga. "Aku harus membuat lebih banyak tanda di sana sayang!" Bisiknya dengan tangan yang meraba raba pundak yang telah di beri tanda kecupan tersebut "kamu adalah milik ku!"
'kkkyyyaaaaaa ini pasti adalah mimpi. Kenapa dengan mendengarnya mengucap kata itu hati ku terasa deg deg kan sekali' satu sisi hati siska meronta ingin mau berteriak sekencang kencangnya.
Melihat tangan Vano yang makin nekat bergerilya liar di tubuh miliknya. Siska menepis cepat pegangan tersebut.
__ADS_1
"Jangan macam macam!!"
"Aku hanya mau ...! Akhh sudah lupakanlah!"
Vano menarik hembuskan nafasnya. Kembali berusaha mengontrol dirinya dan emosinya terhadap hal yang baru saja terjadi. "Tatap aku"
"Hhmmm" Siska menoleh Vano dan menatap bingung "apa maksudmu??"
"Mulai hari ini .. kamu ga usah keluar keluar lagi. Tetap berada di dalam apartemen saja. Kau tahu!!!"
"Tappppiiii ...."
"Aku melarangmu bertemu dengan dia!!"
"Van ..."
"Mulai sekarang, kamu tidak boleh menerima setiap ajakan untuk bertemu dengan pria itu!!" Siska terdiam dalam kebingungan 'apa ini semua? Kenapa Vano dan Rafael seperti musuh saja, bahkan lebih dari sekedar musuh bebuyutan'
"Tapi Van ..."
"Sekali lagi kamu berani menemuinya. Aku akan menggila ... Kau tidak akan tau aku bagimana di saat itu" menarik dengan tangkas ponsel milik gadis itu, Siska.
Vano membuka lokscrinn ponsel tersebut, tidak ada kompromi lagi. Vano menghapus kontak pria yang namanya adalah Rafael dari ponsel milik Siska sekaligus membuat pemblokiran.
"Dengarkan aku kali ini. Jangan pernah angkat telfon dan terima pertemuan dari sia pun sebelum ijin dengan ku termasuk pria itu (*Rafael)" usai berucap, Vano berdiri dan melangkah masuk dalam kamarnya meninggalkan Siska yang terpaku termangu kebingungan.
✨✨✨
Bersambung ...
dear readers semuaaaaa ❤️❤️❤️
makasih telah selalu mampir di novel author ini. author sangat senang, so many thanks yaaaa!
terus dukung author untuk menulis novel ini hingga selesai. karna dukungan dari readers semua adalah penyemangat author 🤗🤗
jangan lupa vote, like, bahkan komen yang banyakk. author akan menunggu!!
follow akun author juga yaa😘😘
ig : @meihura
atau add akun Facebook author :
FB : Mey Ernita Hura
__ADS_1
see you more di next eps selanjutnya ❤️
.