
Flash back on
Di dalam ruang VVIP, bangsal di mana Siska di rawat. dr. Rere memeriksa bagaimana kondisi tubuh Siska.
Sepuluh menit berlalu ...
akhirnya pun Siska segera siuman "akhirnya, nona Siska tersadar juga. Saya akan segera keluar ya, dan ..."
"dok?" Siska menyela
"Iya nona Siska?"
"Aku cuma pingsan aja kan dok? Tadi? Tidak apa apa?" Siska memegang kepalanya dengan tangannya yang di pasangkan cairan infus.
"Akhh" meringis kesakitan sedikit.
"Tapi, saya harus berbicara terlebih dahulu ..."
"Dok?"
dr. Rere menarik nafas berat "Maaf sekali nona Siska, tapi saya masih belum bisa mendiagnosis pasti penyakit seperti apa yang sedang berjalan di dalam tubuh mu. Keadaan psikologis mu mungkin akan sewaktu waktu memengaruhi kesehatan diri mu"
"Maksud dokter? Keadaan psikologis saya bisa saja ..." Siska menggigit bibir bawahnya, tanpa di duga tangannya sedikit bergetar "baiklah dok, lanjutkan"
"Sebaiknya, anda harus menghindar untuk memikirkan sesuatu terlalu berlebihan. Hal itu akan bisa saja memicu kondisi psikologis nona Siska akan memarah" ucap dr. Rere terang terangan, karena atas dasar permintaan dari Siska.
"Oh begitu ya dok?"
"Iya nona. Tapi saya menganjurkan, jika ada sesuatu yang beda nanti terjadi pada tubuh anda ke depannya. Segeralah kunjungi rumah sakit"
Siska agak sedikit gemetaran dengan hal yang barusan ia dengar, takut akan bagaimana dan seperti apa penyakit yang akan ia idap ke depannya.
"Baiklah dok. Tapi ... aku mau minta bantu sekali dengan dokter. Mohon hal ini jangan kasih tau ke siapa siapa. Anggap saja saya hanya kecapean saja dan butuh istirahat yang cukup. Itu saja"
"Tapi itu cukup fa ...."
"Mohon ya dok"
dr. Rere menarik wajahnya ke atas dan menghembus kan nafas sembari meletakkan tangannya di dalam kantong baju dinas dokter nya. "Baiklah. Kalau begitu, saya permisi keluar"
"Iya dok" sahut Siska dengan suara lemah.
Tak lama setelah itu, bi Lina muncul dari balik pintu dan masuk ke dalam. Mengambil duduk di samping ranjang Siska, menjaganya sekaligus sembari menunggu kedatangan tuan Vano. Hingga akhirnya Vano pun datang ~
__ADS_1
✨✨✨
Flash back off
Apartemen
Setelah keluar dari rumah sakit. Akhirnya, Siska pun sampai di dalam apartemen dengan di temani bi Lina. Awalnya, Vano yang mengantarkan mereka. Tapi tak lama setelah sampai di apartemen, Vano segera kembali lagi ke kantor perusahaan. Ternyata sikap apatis cueknya terhadap Siska masih belum hilang.
'baiklah, tidak apa apa. Pelan pelan saja, buat dia percaya dengan mu. Bahwa hal itu tidak seperti apa yang ia pikirkan' Siska mendesis lemah dalam hati, ia duduk di kursi meja makan dengan siku tangan yang bertopang pada atas meja, sedangkan kesepuluh jari jemarinya berkutat menekan nekan pelipis nya. Kepalanya saat itu masih agak terasa pening.
Sembari menunggu bi Lina memasak makanan untuk nya, karena dari tadi dia masih belum makan apa apa. Siska meraih ponselnya yang ada di saku celananya. Memasuk kan tangannya ke kantong kiri dan kanan, tapi tidak ada ponselnya sama sekali di sana.
"Bi?" Panggilannya kepada bi Lina yang sedang memasak.
"Iya non? Kenapa?" Wanita paruh baya itu segera menghentikan kegiatan tangannya dan mendekat ke tempat Siska. "Kenapa non?"
"Bi, bibi tau ada di mana ponsel milik ku?"
"Ahh ponsel nya non. Ehehehe" terkekeh "maaf ya non. Bibi tadi meletakkan di atas meja kamarnya tuan Vano. Bibi panik tadi saat nona Siska sakit. Tunggu ya non, biar bibi ambilkan"
"Oh. Tidak apa apa bi, biar saya saja yang ambil"
"Biar bibi saja ya non, kan non Siska sedang sakit. Non Siska duduk saja dulu"
"Baiklah bi" Siska mengalah saja, jika pun ia terus menolak. Tapi wanita paruh baya itu pasti akan selalu bersikukuh agar dia yang mengambil ponsel tersebut.
Tidak butuh waktu lama, ponsel Siska pun sampai di tangan nya. Sedangkan bi Lina kembali melanjutkan pekerjaannya untuk memasak.
"Makasih bi"
"Iya, sama sama non"
Segeralah Siska membuka lockrin ponselnya. Membuka log panggilan telfon dari nomor asing waktu itu (*ketika Rafael menjebak nya dengan nomor itu).
'08 ....... ' Siska memiringkan kepalanya lalu menggigit ujung jari telunjuk nya. Memutar otaknya, meski pun pening kepalanya masih terasa. 'Rafael? Si gadis barista?' arghhhkkk ...! sungguh sulit sekali.
Entah kenapa juga, setelah waktu selang dua menit memaksakan otaknya untuk berpikir. Terbesit David di dalamnya "ya David, dia pasti bisa membantu ku"
Calling .... David.
"Iya nona Siska?" Sahut David dari telfon
"David, ini aku mau minta bantu dengan mu"
__ADS_1
"Boleh. Saya bisa melakukannya"
"Tolong cari pemilik nomor telfon asing yang sudah ku kirim kan kepada mu. Waktu itu, Rafael menjebak ku dengan memakai nomor itu"
"Nomor asing? Oh baiklah"
Tut Tut Tut .... Panggilan di akhiri.
💌Siska
08 ........................... (Share nomor asing)
Setelahnya, Siska mematikan daya ponselnya. Menyandarkan tubuhnya di bagian penahan kursi. "Huahhh" menarik nafasnya dalam. Beberapa saat pun, lalu ia makan setelah bi Lina sudah siap memasak. Sembari berharap, agar Vano percaya dengan dirinya. Iya, Vano memang sudah mengatakan kalo ia percaya dengan nya. Tapi melihat sikap Vano yang sedikit vakum dengannya setelah kejadian itu, Siska sedikit ragu jika pria itu masih belum sepenuhnya percaya dengan dirinya.
✨✨✨
Kembali ke David ....
Ia sedikit tercengang melihat nomor kontak yang barusan di share oleh Siska kepadanya. Nomor itu tidak lah asing dengan nya bahkan sangat familiar sekali.
Kemudian ia menutup beranda WeChat nya. Mengalihkan jarinya untuk berpindah ke layar kontak. Mencocokkan nomor tersebut dengan sebuah nomor kontak yang ia ketahui.
Enjlakk!!! Tepat sekali! Nomor kontak itu sesuai dengan nomor kontak yang dimiliki oleh Dina. "Apa hubungannya dengan semua ini? Mungkin Dina juga tau hal ini?" Otak David mulai berkecamuk.
'Rafael? Dina?' David bangkit duduk dari posisi duduknya. "Kenapa nomornya bisa di pakai oleh Rafael untuk menjebak nona Siska ya?" Akhh sangat susah untuk di cerna.
David meraih ponselnya kembali yang ia letakkan di atas meja. Mencoba menghubungi nomor kontak milik Dina.
Calling ...
Cih! "Sial!!!" Nomor itu sedang tidak aktif. David sudah mencoba menghubungi sebanyak lima kali, alhasil nomor itu tidak kunjung menjawab.
Segera lah David melangkah kaki keluar, menghampiri langsung tempat di mana Dina bekerja. Kafe Y.
✨✨✨
Bersambung ...
Dear readers ❤️
please vote, like, dan komennya yaa !!!
Happy reading❥
__ADS_1
.
.