Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 48 : Pesan Singkat (3)


__ADS_3

Di dalam ruangan besar pribadi sang direktur utama perusahaan ANGKARA GRUP. Seperti biasanya Vano akan duduk di kursi direktur nya itu, berkutat dan berjibaku dalam pekerjaannya meninjau dan mereview ulang segala file dan berkas database perusahaan.


Hingga selang waktu lebih tiga puluh menit setelahnya, matanya beralih dari berkas file yang menumpuk di atas mejanya ke layar ponselnya. Sedikit menggeser kan kursinya menuju sisi kiri meja, karna ponselnya dia letak kan di situ.


Pesan masuk, dari notifnya saja dapat di ketahui pesan itu berupa kiriman foto. Pesan itu dari nomor asing, Vano kembali meletak kan ponselnya di atas meja kembali berkutat dalam pekerjaannya. Ia mengabaikan pesan itu saja (*hal yang seperti ini merupakan salah satu kebiasaan nya selama dia bekerja dalam perusahaan. Ia tidak mau mengalihkan konsentrasinya selama bekerja).


Dengan pulpen yang di main main kan di sela sela jari telunjuk dan jari tengah nya, Vano sungguh memusatkan perhatiannya penuh pada kertas yang ada di depannya itu. Sesekali mengusap pelipisnya berulang.


Entah di saat itu juga, dirinya tiba tiba saja ingin mau membaca pesan tersebut. Tidak mau membiarkan rasa penasarannya itu terus lama, kembali menghampirinya sudut meja kiri dan mengambil ponselnya, membuka pesan itu (melihat beberapa foto yang di send kan oleh nomor asing tersebut).


Seketika wajah Vano mencuat dingin, memerah karena emosi. Rasa percaya tidak percaya, kecewa, semua dan segalanya di rasakan nya berkecamuk di dalam dadanya. "Ini bukan dia kan? Dia tidak mengkhianati cinta ku kan?"


Arghhhkkk Vano mengepalkan ke lima jaringan bruakkk!! Meninju meja, menyingkirkan segala sesuatu yang ada di depannya saat itu.


"Rafael!!! Dia tidur dengan pria brengs*k itu!!! Be ..." Arghhhkkk ...! Segeralah Vano keluar tanpa memperdulikan segala sesuatunya. Yang ada di pikirannya hanya untuk memastikan apakah gadis itu (Siska) sungguh menghianatinya.


Drokkk! Mendorong pintu kuat dan keluar, wajah nya sungguh tidak bisa di baca.


Dengan tergopoh gopoh David mengejar langkah tuannya itu. Tidak mengerti dengan apa yang terjadi, di mana kah wajah yang memancarkan rona senyum tadi pagi? Kenapa sekarang senyum itu pupus.


"Maaf tuan" mencoba menghentikan langkah Vano meski David tau itu sama sekali tidak sopan "tuan mau kemana? Saya akan mengantarkan anda"


"David" wajah Vano sudah menatap nya dengan tatapan dingin yang berusaha memendam rasa kecewa, di perlakukan tak adil.


David pun menoleh pelan, kenapa dengan tuan Vano "iya tuan?"


"Apa kau pernah di khianati oleh cinta mu sebelumnya?"

__ADS_1


"Maksud anda tuan?"


"Pernah kah kau sebelumnya di khianati oleh cinta mu?"


David menggeleng, dia segera menebak pasti ini ada hubungannya dengan nona Siska. Dengan memberanikan diri David bertanya langsung "maaf tuan jika terlalu mencampuri urusan pribadi anda. Tapi apa hal ini berkaitan dengan nona Siska?"


Huh! Pelan pelan air mata terjatuh di sela mata miliknya, tidak mudah di percaya Vano akan secepat itu percaya pada hal itu (*sebelumnya, yang membuatnya begini akibat dari foto foto Siska yang sedang seolah tidur dengan Rafael).


"Arghh!!!" Tidak menjawab pertanyaan, Vano melenggang segera pergi. "Segera cari tau alamat Mr. Rafael. Sharelock melalui via chat"


David paham akan segala sesuatu itu, meski pun tidak sepenuhnya ia akan percaya dengan itu semua. Pasti ini adalah suatu jebakan. Pikirnya. "Baik tuan, segera saya melakukannya. Saya akan mengirimkan beberapa pengawal untuk mengawal tuan sampai ke sana"


"Tidak usah" Vano menolak "saya bisa sendiri saja" huh matanya bisa di pastikan sudah menggambarkan perasaan kekecewaan, percaya bahwa cintanya sungguh di khianati oleh gadis itu. Lalu melanjutkan untuk melenggang pergi.


***


Entah bagaimana cara Vano mampu sampai ke pelataran rumah itu dengan sangat cepat. Mobilnya bagai di rasuki oleh sesuatu. Sepuluh menit perjalanan mobilnya itu sampai di pelataran rumah besar itu. Vano membanting gang gang setir ke samping kanan dengan kasar dan segera keluar menutup pintu mobil.


Segera berlari dengan kepalan tangan yang sejak dari kantor di kepalnya. "Dimana pria brengs*k itu?! Berani beraninya dia!!!" "Katakan dimana??!!!" Teriak Vano mencengkeram kerah baju keseluruhan bodyguard yang ada di depan pintu. Bruk!! Satu tunjukan tangannya sudah mendarat di wajah salah satu bodyguard tersebut. Pppffff meludahkan bercak darah dari wajahnya.


Mata merah Vano tak ada henti hentinya. Sungguh sakit jika hal itu benar terjadi. Hatinya sudah lebih dulu tersayat. Segeralah tangannya kembali menarik bodyguard tersebut, menghajarnya habis habisan.


Ingin sekali melakukan penyerangan balik kepada Vano. Tapi as. Zuy memberikan kode dari arah lain untuk jangan melakukannya. Bodyguard tersebut lantas tidak melanjutkan niatnya.


"Biarkan saja dia" ucap as. Zuy


Puas menghajar keseluruhan bodyguard tersebut "cihh!!"

__ADS_1


"Hei katakan dimana ada pria brengs*k itu. Katakan!!!" Kembali mencengkeram kerah baju baju tersebut. Tidak ada respon sekali pun untuk setiap pertanyaan nya. Brukk! Vano melancarkan tangannya sekali lagi di atas wajah bodyguard itu semua. Lalu nekad untuk masuk.


Hingga tubuhnya pun sampai di depan pintu sebuah kamar besar. Pintu nya sudah di kunci dari dalam, sudah berapa kali ia memutar mutar kan kenop pintu itu walau usahanya tak ada hasil.


GRAKK BRUK BRUK BRUK !!! Vano mendobrak pintu itu dengan badannya. Sekali lagi menjauh dari pintu dan mendorong pintu untuk dengan sangat keras ...


BRUKKK !! Pintu terbuka.


Sudah di pastikan lagi, Vano sungguh percaya dengan apa yang di lihatnya "dia sungguh melakukannya?"


"Dasar pria brengs*k !!!" Menghampiri tempat tidur dimana Rafael sedang mencoba menciumi lekuk leher Siska dengan kebrutalan.


Singakat cerita, di dalam ruangan kamar itu terjadilah adu tinju. Entah siapa yang lemah dan terkuat, Rafael membiarkan tubuhnya terpelanting ke lantai hingga beberapa kali dan mau menerima segala kepalan tinju yang dindaratkan oleh Vano di wajahnya. Siska menangis histeris, semua rasa takut berkecamuk di dalam dirinya. Antara percaya atau tidak percaya bagimana Rafael mau mencoba melakukan hal itu kepadanya. Di sisi lain, ia takut Vano tidak akan percaya kepadanya. Hiks


Sedangkan Vano? Vano sudah meredam dalam emosinya yang membumbung tinggi ke dalam dirinya, dirinya sungguh di luar kendalinya lagi. Matanya nanar merah menatap gadis itu setelah puas menghajar pria brengs*k itu, lalu menarik tangan gadis itu dan membawanya keluar dan melenggang pergi dari pelataran nya (readers sayang,,, baca bab sebelumnya yaaaa).


✨✨✨


Bersambung ...


Dear readers ❤️


please vote, like and komennya yaaaa!


author akan tunggu! love you all😘


.

__ADS_1


.


__ADS_2