Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 56 : Mengharapkan Kedatangannya


__ADS_3

Vano kini menatap ke arah bawah, ya pada kedua kakinya. Ia berdiri mematung pada tempatnya. Ia ragu untuk masuk menemui Siska di dalam. Hufff nafasnya masih memburu tak menentu, mencoba untuk lapang dada jika Siska akan benar hamil.


Kemudian ia mendekati arah pintu dan__


"Tuan Vano?" Suara dari belakangnya yang membuat Vano urung niat untuk masuk ke dalam, ia segera berbalik.


"Bi Lina?"


Ternyata yang datang adalah bi Lina, wanita paruh baya itu datang sambil membawa kan sebuah rantang makanan yang di susun rapi olehnya. Lalu ia membungkuk memberi hormat sekaligus minta maaf, merasa bersalah karena ia datang begitu saja tanpa ada perintah dari tuan Vano sebelumnya.


"Maaf tuan. Tapi saya datang ke sini karena khawatir bagaimana dengan keadaan nona Siska"


"Emmm" Vano berdehem "dia sudah siuman kata dokter. Bibi boleh masuk ke dalam kok" Vano beringsut dari pintu, melepaskan tangannya dari kenop pintu yang belum otomasi terbuka itu.


"Tuan Vano udah masuk ke dalam tadi? Bibi masuk ya__ "


"Iya bi. Silahkan masuk. Nanti tolong beritahu saya bagimana kondisi tubuhnya"


"Maksud tuan Vano? Tuan Vano masih belum ke dalam gitu? Mungkin nona Siska sedang menunggu tuan lho. Bukan saya"


Vano berkacak pinggang "bi! Jika saya sudah memberikan perintah ya di lakukan!!!" Ucap Vano meninggi. Hingga sukses membuat wanita paruh baya itu menunduk merasa bersalah. "Maaf tuan"


Argghhhh!!! Vano mengusap wajah merahnya dengan kasar lagi. Baginya saat ini, semua hal sudah banyak berkembang dan berkecamuk tak jelas dalam otaknya. Pikirannya sungguh tak bisa berpikir jernih. Bahkan sekarang pun, rasa kepercayaan yang ia coba pertahanan beberapa hari sebelumnya terhadap gadis itu, sudah hilang_ bahkan ia berpikir kalau Siska sungguh hamil. Argghhhh hiks


"Tuan...?" Bi Lina melongo ke arah Vano. Ia bingung melihat Vano yang mengukir kan wajah merah bak bara api. "bibi minta maaf sekali. Bibi bukan bermaksud ..."


Belum lagi bi Lina mengucapkan segala kata katanya. Vano memotong ucapan itu dengan segera "aku tidak apa apa. Aku ada urusan penting dan mendadak. Aku harus segera ke perusahaan lebih dulu. Siska saya titipkan ya bi"


Tidak mau mendapatkan ucapan yang menyengat dari atasannya. Bi Lina mengangguk saja, mengiyakan dan mengerti paham dengan semuanya "baik tuan. Saya akan menjaga non Siska hingga benar benar sembuh"


"Bagus!" Vano hendak berbalik lagi "bi___?"


"Iya tuan? Apa ada yang bisa saya bantu??"


"Ehemmm" Vano berdehem sebelum mengatakan apa yang ingin ia katakan "itu, nanti. Jangan biarkan ada banyak orang yang tau jika Siska sedang sakit. Kalo bisa, hanya bibi yang tau aja dulu "


"Ohh baik, baik tuan" tanpa penjelasan panjang lebar oleh Vano. Bi Lina sudah sangat paham. Iya, maksud Vano agar hanya mereka aja yang tau. Orang banyak tidak boleh tau tentang hal ini. Apalagi keluarga mereka (*keluarga Angkara dan keluarga Duckwil).


Lalo Vano melenggang kaki untuk keluar dari RS tersebut menuju kantor perusahaan. Sembari tangannya di sibukkan untuk mencari ponselnya dari saku jasnya. Dan kemudian melayangkan jari jarinya di atas layar ponsel tersebut, hendak mengetik sebuah ketikan pesan singkat.

__ADS_1


***


Kembali dengan yang berada terbaring di atas ranjang pasien RS. Ya itu adalah Siska.


Sudah lebih dari sepuluh menit ia menunggu kehadiran dan kedatangan se sok sok Vano, orang yang sangat ia inginkan kedatangannya itu.


Sedikit pusing kunang kunang ia rasakan saat hendak memposisikan tubuhnya untuk duduk. Sambil meringis kesakitan, ia berusaha mencari posisi yang nyaman di atas ranjang itu.


"Irgggggss" ringisnya. Suntikan infus masih terpasang di tangan kanannya.


'apakah kamu akan datang?' desis harapan Siska dalam hati. Saat itu, memang ia mengharapkan kedatangan pria itu. "Huaaaa hufff" Siska menghela nafas panjang. Apakah seperti ini rasanya menunggu orang yang begitu penting? Siska mulai jengah dan bosan pada posisi tubuhnya. Lalu ia berbaring kembali.


Beberapa selang detik kemudian, Siska mengarahkan pandangan matanya ke arah pintu. Ketika mendengar detak langkah seseorang masuk dan memutar kenop pintu ke bawah. Harapan Vano yang datang semakin besar dalam harinya. Di sertai wajah yang masih pucat pasi di usahakan tersenyum.


'semoga dia ... semoga dia ... Please!!' Siska terus mengharapkan hal itu. Hingga pun saat orang itu masuk, wajah Siska berubah ke mode mengkerut. Mencuatkan bibirnya. Jelas, dia sangat kecewa arkkkk!


"Bi Lina?"


"Non?" Bi Lina segera menghampiri dan mendekat ke ranjang pasien itu. Lalu segera meletak kan rantang makanan yang ia bawa tadi ke samping meja. "Non Siska?"


"Iya bi. Lho bibi ke sini di antar sama siapa? David? Atau ... atau Van__"


"Bukan non. Bukan pak David mau pun tuan Vano. Bibi tadi naik angkutan umum. Angkot non hehehe" Bi Lina memotong langsung ucapan Siska yang sama sekali tidak ada benarnya tebakannya. Sembari berusaha mengkekeh.


"Ya non? Kenapa?"


"Kenapa tidak naik taxi saja. Bibi capek nunggu nunggu kalo angkutan umum"


"Ah tidak apa apa non. Bibi udah terbiasa kok" tersenyum "oh iya, non Siska baik baik saja kan? Ini bibi udah bawakan makanan buat non. Dimakan ya non"


Siska menghela nafas menggigit bibirnya berulang. Huff puff "aaaa bi. Aku masih tidak ada niat buat makan" huhuhu hiks seketika Siska terisak tangis "Vano bi? Hiks dia kenapa tidak ada di sini" hiks hiks hiks


Bi Lina yang tak tega melihat Siska mengangis mendekat lalu mendengkap bahunya. "Stttt sudah ya non. Jangan nangis"


"Hiks hiks bi, aku cuma mau dia datang ke sini saja aku sudah senang. Tak apa jika dia ga bisa lama lama. Tapi huhuhu hiks" Siska masih memecahkan Isak tangisnya dalam dengkapan wanita paruh baya itu "ta-tapi ... dia enggak datang bi huhuhu"


"Sttt ... non? Non Siska ndak usah bersedih ya. Jangan menangis. Sebenarnya, tadi di depan pintu. Tuan Vano menunggu lama non Siska untuk siuman bla ... bla ... bla ..." Bi Lina mencoba menenangkan hati Siska.


Menceritakan bagaimana Vano tidak bisa menjenguk dirinya sekarang. Ya, dengan alasan Vano sudah lebih duluan pergi karena tiba tiba ada urusan mendadak di kantor. Jika sudah selesai dan menuntaskan semua pekerjaan yang menumpuk. Vano akan kembali lagi ke RS ini. Menengok langsung keadaan gadis itu.

__ADS_1


Mendengar ucapan itu semua. Siska melepaskan tangannya dari pelukan bi Lina. Lalu melongo ke atas sembari menyeka air matanya dengan kedua tangannya. "Bibi benar ya? Enggak bohong? Vano akan datang ke sini kan?"


Bi Lina menggangguk meyakinkan Siska "iya non. Masa bibi bilang bilang gitu aja"


Bruakkkk! Hati Siska terasa hangat sedikit. Meski pun belum tentu pasti pria itu datang kapan? Tapi setidaknya, ia masih bisa mengharapkan kedatangan pria itu.


Lalu ia kembali mengambil posisi duduk di atas ranjang itu senyaman mungkin. Kemudia menoleh rantang yang di taruh oleh bi Lina di atas meja samping ranjangnya tersebut.


"Non Siska mau makan? Bibi suapin ya?"


Siska mengangguk "iya bi"


"Aaakkk" Siska membuka mulutnya besar. Dia sudah sungguh lapar, karena hari semakin siang. Sedangkan yang menyuapi tersenyum dengan kekehan sesekali. Dia sangat senang jika nona mudanya itu makan melahap dengan semangat setiap masakan yang dikerjakan oleh tangannya. Meski pun dalam keadaan sakit sekalian.


Siska mengunyah makanan itu dan terus menerus mengacung kan kedua jempol jaringan ke arah wanita yang sibuk menyuapinya itu. "Emmm bi, masakan bi Lina yang uenaaakkkk banget. Siska suka sekaleeii" terus berucap demikian, wuahh mulutnya sudah di penuhi oleh makanan tersebut.


Bi Lina menyungging kan senyum "makasih non. Hmmm kali begitu bibi akan sering sering ya, buat makanan untuk non Siska"


"Iya bi. Ehehehe" yang sedang di suapi terkekeh "masaknya pake ala chef tapi"


Usai berucap begitu. Tawa keduanya pecah. Hingga pun tak sadar, makanannya sudah habis. Lalu setelah itu, bi Lina menawarkan minuman kepada Siska. Lalu Siska meminumnya hingga tandas "ahhhhh" mengusap mulutnya dengan tissue yang di ambilkan oleh bi Lina ke mulutnya.


Beberapa menit kemudian. Terlihat tiga orang perempuan yang berseragam putih masuk ke ruangan itu setelah mengetok pintu lebih dulu. Dan ternyata, itu adalah dr. Rere dan rekannya dr. Silvani. Dan satunya lagi seorang suster perawat.


"Nona Siska bagaimana kondisi tubuhnya?" Tanya dr. Rere. "Baik kok dok. Buktinya saya sudah makan banyak" sambil menunjuk ke arah rantang yang masih di pegang oleh bi Lina yang penutupnya masih terbuka. Pergerakan mata itu juga di ikuti oleh dr. Rere dan dua rekan kerjanya.


"Baiklah nona Siska. Itu sangat bagus. Sekarang kami akan melakukan check up untuk anda ya?"


"Check up. Bukannya saya sudah bisa pulang ya dok. Saya sungguh tidak kenapa napa" heran. Mengapa harus di lakukan check up lagi sih? Gumam Siska dalam hati.


"Sebenarnya iya nona. Tapi ada suatu hal yang harus kami pastikan dulu. Mohon kerja samanya ya nona"


Siska mengangguk saja sesudah menoleh ke arah bi Lina yang juga mengangguk meyakinkan Siska untuk mengiyakannya saja. "emmm baiklah dok"


"Baiklah. Biar dr. Silvani yang melakukan check up nya" ucap dr. Rere. Sedangkan yang di sebutkan namanya mendekati ranjang pasien untuk segera memulai tugas check up nya, dengan di bantu oleh suster perawat RS.


Sedangkan bi Lina sudah keluar sebelum check up nya di mulai tadi. Ia akan menunggu di depan pintu saja. Hingga proses check up nya selesai.


✨✨✨

__ADS_1


Bersambung ...


.


__ADS_2