
Sekarang kita kembali kepada dua insan pasangan lain ya. Siapa lagi kalo bukan David dan Dina.
Mereka sekarang sudah duduk berpagutan mesrah di sebuah rumah makan sederhana minimalis tapi ga asal receh saja. Rumah makan itu tampak sederhana memang, tapi arsitektur nya membuat bagian dalam maupun yang tampak dari luar sangatlah bagus astetik. Bisa membuat orang yang singgah di sana untuk makan terkagum kagum.
Dina pun begitu terkagum begitu masuk di dalamnya. Belum pernah ada dia jumpai tempat rumah makan yang minimalis sederhana tapi begitu mewah di mata. David sangat lah so sweet samanya!
"Kamu suka sayang?" Tanya David sembari membelai rambut Dina yang tengah bersandar di dadanya. Mengingat saat itu, kursi mereka berjajar selaras.
Tak ada kata kata yang Dina ucapkan, matanya terpejam menikmati sentuhan tangan David yang membelai lembut rambutnya. Matanya berembun kini, tak habis habisnya laki laki itu membuatnya terkagum dan menguncangkan jiwanya yang telah hilang dan haus akan cinta kini telah tumbuh dan bersemi kembali. Hanya anggukan kepala sebagai bahasa isyarat yang dia siratkan untuk menjawab pertanyaan laki laki itu kepadanya.
David menggeser bahunya itu semakin dekap agar Dina bisa bersandar senyaman mungkin dalam dengkapannya.
"Ternyata tempat ini kamu suka. Inilah jawaban yang ku nanti"
Dina mendongakkan kepala menatap David dengan seribu pertanyaan. Seakan menanya maksud David apa!
"Rumah makan ini adalah punya kita serta kelak kita punya anak-anak" ucap David tulus tanpa keraguan untuk mengucapkan setiap kata katanya.
Tidak kuat membendung air mata bahagia, perasaan hangat menyelimuti seluruh isi hati Dina saat itu. Tidak ada kata selain ucapan terimakasih kepada Tuhan karna telah mempertemukan dirinya dengan laki laki sebaik David.
Satu sisi lain memang, menerima sebuah kebaikan memang bukan hal yang mudah bagi Dina sendiri. Hutang budi terus menjadi penghambat dirinya untuk terus menerus menerima kebaikan orang lain kepadanya. Tapi sekarang, dia berusaha untuk menerima kebaikan David kepadanya. Sebab tanpa alasan David berlaku seperti itu kepadanya, dia ingin sekali memberi yang terbaik bagi Dina.
"Makasih mas" pelan pelan air mata itu menitik semakin deras dan membasahi pipinya. David pun menyadari hal itu.
"Stttt" sambil menghapus air mata gadis itu "jangan menangis sayang"
"Aku bukan menangis mas, aku bahagia" seuntai senyum di lebarkan oleh Dina di bibirnya seraya air mata itu terus menetes.
David pun memeluknya erat hingga keduanya kembali berpelukan. Setelah lama dengan posisi itu, David melepaskan pelukan itu.
"Mau pesan apa?"
Dina menggeleng
"Tunggu di sini saja, aku akan segera kembali" Dina masih tetap mengangguk. Pikiran serta hatinya masih sibuk merasakan kehangatan yang telah datang itu.
***
"HAPPY BIRTHDAY DINA ARIYANTI!!!"
Terdengar jelas oleh Dina ucapan yang barusan ia dengar, betapa bahagianya ketika matanya menoleh lalu menangkap se sok sok pria yang ia cintai itu kembali lagi.
David mengulang ucapan itu lagi. Ucapan ulang tahun untuknya. Ouhhh Dina masih kaku terharu sampai sekarang tidak bisa mengatakan apa apa.
Haru sekaligus bahagia tengah mengguncang perasaannya saat ini. Diam diam David membuat suprise ulang tahunnya. Bahkan di saat dirinya tidak tahu kalo hari ini adalah hari ia akan mengulang tahun dan bulan tanggal kelahirannya sendiri.
David mendekati diri, merentangkan tangannya selaras wajah milik Dina. Di sertai kue dan lilin yang menyala dengan angka ke 21 tahun. Dina menginjakkan usia yang ke 21 tahun.
"Di tiup lilinnya dong sayang"
__ADS_1
Mata sembab Dina kini kembali berkaca kaca lalu pelan pelan miniup lilin tersebut. "Terimakasih mas__" ucapnya. Hanya itu kata kata yang mampu ia ucapkan saat itu juga.
"Sama sama sayang" ucap David seraya meletakkan kue itu di atas meja. Lalu menjulurkan tangannya ke dalam kantong celana jasnya. Sebuah box kecil berwarna merah tengah ia pegang sekarang. Lalu membukanya di hadapan Dina.
David menatap wajah Dina dengan penuh harapan, seutas senyum di daratkan di bibirnya.
"Did you will marry me?"
Begitu ucapan itu diucapkan oleh bibir David, betapa bahagia lebih dan senangnya hati Dina.
Laki-laki itu tengah melamarnya, Dina mengangguk sembari tersenyum. "Mau mas"
David pun tersenyum sumringah ketika lamarannya itu di terima. Lalu segera menautkan cincin itu di jari manis milik gadis itu "begitu indah" ucapnya.
Keduanya pun kembali berpelukan dengan waktu yang lama. Dan masing masing tersenyum dengan senyuman yang paling baik, senyum yang tipis dan seringan kapas namun penuh kebahagiaan.
Inilah kado yang paling spesial dan istimewa yang pernah Dina dapatkan!
"Terimakasih mas!" Bisiknya lirih
"Aku yang mengucapkan makasih samamu sayang. Terimakasih telah menerima lamaran ku, kau tidak menunjukkan penolakan"
Kemudian pelukan itu kini berganti dengan ciuman yang hangat.
***
Sama seperti Vano dan Siska juga yang tengah menanti kehadiran seorang anak kecil di tengah tengah mereka. Alangkah bahagianya kalo hal itu akan segera datang.
"I wish to it, Tuhan dengarkan doaku" ucap Siska ketika sedang berada di ruang tengah apartemen itu. Sudah seminggu dia dan Vano telah kembali ke apartemen itu. Di sertai dengan bi Lina yang selalu setia untuk menemani hari hatinya di sana selama Vano sibuk berkutat di dalam urusan perusahaan.
"Nyonya Siska mau makan?"
Siska menggeleng dengan senyum "enggak bi. Terimakasih"
"Baiklah non, kalo ada perlu apa-apa. Panggil bibi aja ya" ucap Bi Lina undur diri menuju balkon atas untuk menuntaskan pekerjaannya untuk menjemur pakaian yang sempat terhenti untuk memastikan bahwa nyonya mudanya mau makan atau tidak. Karena sebelumnya, pasti setiap pagi sebelum Vano berangkat kerja ia selalu mengingat kan bi Lina untuk memastikan Siska makan tepat waktu.
Mungkin karna masih jam 11:48, makanya nyonya Siska masih ga ada niat buat makan. Pikir wanita separuh baya itu.
Sekarang pun lebih baik, bi Lina tidak lagi kerepotan untuk menjaga Siska meski di jarak jauh sekaligus. Tidak lagi cemas urung uringan setiap keluar untuk belanja bahan dapur ketika habis. Sekarang, Siska benar dan sungguh berubah 160° dari yang sebelumnya. Entah semenjak kapan? Tapi sekarang Siska sama sekali tidak ada niat untuk main keluar sembarangan ataupun mengujungi tempat tempat kelab malam. Kesehariannya di isi dengan rutinitas yang positif saja.
Akhir akhir ini, ia sering ngeyel meminta bi Lina agar dia yang mengerjakan pekerjaan rumah. Seperti memasak, nyuci, bersih-bersih, atau apalah itu. Terakhir ini dia selesai menyiram tanaman bunga hias yang ada di balkon. Kadang, bi Lina sering dibuat tak enak. Untuk apa dia menjadi ART di situ kalo hanya berdiri berdiri saja, tinggal makan gaji buta! Begitulah yang dipikirkan oleh wanita itu.
Seperti sekarang, ketika bi Lina sedang asyik fokus menjemur pakaian di atas balkon. Siska memanggilnya dari bawah, sehingga segera wanita itu urung niat lagi untuk menuntaskan pekerjaannya itu lagi. Pikirnya ada sesuatu yang terjadi dengan istri tuannya itu.
"Iyaa__ iya nyonya?" Sambil ngos ngosan. Bi Lina mengatur ritme nafasnya yang tak menentu itu.
"Maaf bi"
"Maaf nyonya. Buat apa?"
__ADS_1
"Udah bikin bibi berlari terbirit-birit begitu" Siska terkekeh kikuk dengan ulahnya mengusap kepalanya yang tidak gatal.
"Nyonya ga apa apa. Apa ada sesuatu yang terjadi dengan nyonya. Nyonya ga apa-apa?"
"Eh bi, panggil Siska aja dong biiii! Siska kelihatan tua aja dari bibi"
Bi Lina tertawa kecil tak enak hati atas permintaan majikannya itu "tapi nyonya__"
Siska mendelik mata tapi tak begitu serius hehehe "iya sis__ Siska"
"Nah gitu dong bi. Rasanya ga enak kalo bibi panggil Siska dengan sebutan nyonya atau apalah itu. Panggil gitu kan enak, enak ku dengar hahaha"
"Iya nyon__ eh salah. Iya Siska"
Keduanya pun lantas tertawa bersama.
"Tapi Siska mamggil-manggil bibi tadi apa perlu apa?" Kembali ke masalah awal.
Siska menjeda tawanya yang hampir selesai "emmm bi, ajarin Siska buat masak lagi boleh? Siska kepengen tuh jadi istri yang baik bagi suami. Bisa melayani suami dengan baik. Aku kepengen sekali suami Siska bisa merasakan masakan Siska sendiri. Boleh ya bi, bibi mau yaa??!!" Ucap Siska dengan pupy eyesnya.
"Ya ampun Siska. Kenapa harus meminta begitu sama bibi. Itu kan sudah kewajiban bibi untuk menuruti semua kemauan majikan"
Bi Lina sungguh tak percaya, bahwa Siska selama ini adalah se sok sok orang yang baik hati, lemah lembut hatinya. Beruntungnya tuan Vano menikahnya. Pikir wanita itu.
"Yaudah kita masak yok bi. Ajarin Siska!! Siska jadi ga sabaran melihat Vano nyicipin makanan buatan tangan Siska"
Bi Lina mengangguk, bergegaslah keduanya menuju dapur. Berbagai masakan yang diajarkan oleh bi Lina untuk di masak. Bi Lina juga memberi tahu satu rahasia yang besar untuk Siska. Yaa bukan gimana gimana sih, bahwa Vano suka makan makanan yang sederhana. Lebih lebih lagi seperti makanan pecel lele, nasgor + sayur-sayuran. Entah mengapa selera pria itu sampai ke makanan itu. Padahal masih banyak makanan yang lebih enak di luar sana yang bisa dibelinya meski merogoh uang kocek yang besar meski bagi mereka orang orang kaya dan elit itulah tidak seberapa. Tak jarang orang yang mengetahui itu memang. Ternyata seorang Vano menyukai makanan seperti itu.
"Vano menyukai makanan itu? Bi??" Siska pun yang mendengar nya kaget sendiri dengan penuturan yang telah di dengarnya.
"Iya. Selama bibi bekerja di sini sebagai ART. Tuan muda Vano sering menyuruh bibi untuk menyajikan makanan yang seperti itu"
Siska mengangguk mengerti saja. Selera makanan laki laki itu tidaklah sulit untuk disajikan. Begitulah pikirnya.
Keduanya pun memasak bersama, walaupun kadang bi Lina agak kerepotan dan kewalahan mengajari Siska yang baru-baru saja mau belajar memasak. Katanya kepengen jadi istri yang baik bagi suami 🤭 (I aggre with you Siska. Verry cool wkwkwk)
Rutinitas kegiatan Siska yang baru itu tetap ia jalani. Ia akan terus berusaha belajar mencapai keingginan nya itu. Ia sudah membayangkan bagaimana raut wajah suaminya nanti ataupun ketika hari yang pas untuk menyajikan makanan di hadapannya. "Mungkinkah ia menciumi ku??" Hehehe Siska diam diam menginginkan hal itu juga. Ampun deh Siska!!
Akhir akhir ini juga, ketika ia bosan di rumah. Kadang ia keluar untuk mencari udara segar. Siapa yang ga bosan jika terus di dalam bangunan? Apalagi Siska yang notabenenya sendiri adalah orang yang tidak terlalu suka di kekang. Tapi perlahan lahan Siska akan mengubah kebiasaan nya itu. Meski kerap kali ia tergoda akan melangkahkan kaki lagi untuk masuk ke dalam kelab itu.
Tapi Siska segera menepiskan keinginan angan angannya itu. Agar lebih tidak tergoda, ia kerap kali mengajak Dina sebagai temannya itu untuk keluar jika bi Lina tidak benar benar bisa menemaninya. Dan Siska pun mengerti akan keadaannya ART nya itu juga.
Dina yang belum lama telah menjadi temannya itu, atau boleh karna keakuran mereka lebih dari sebuah teman. Bisa di bilang keakraban sahabat la yaa.
Kedua perempuan itu sering berbagi cerita, curhat sana sini. Apa apa itu pasti di ceritakan. Keduanya pun sering datang ke salon kecantikan seperti spa. Atau paling enggak Travelling. Begitulah, mereka akan menjalini kehidupan ataupun kebiasaan gadis gadis normal biasanya. Tapi tidak terlepas dengan ijin pria satu sama lain. Iya, sebelum pergi keluar, sekali pun tempat yang mereka datangi itu dekat. Siska harus mendapatkan izin dari Vano begitu pun dengan Dina kepada David yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
✨✨✨
Up lagi, Terimakasih atas komentarnya 🙏
__ADS_1