
Kedua pasangan itu menatap satu sama lain, mengapa pengumuman tanggal pernikahannya tiba tiba?
Siska mendesah dengan bola mata yang tidak menentu. Bergantian menatap Vano, Dady, terlebih mommy 'apa yang harus ku lakukan? Aku ga bisa menikah dengan Vano, aku ga suka Vano, aku tidak mengingini pertunangan ini'
"Nak Vano, Siska? Kenapa mematung saja. Ayo ke sini" Dady yang dari tadi diam membuka mulut.
Vano berdehem menatap lama ke arah Siska, tangannya memegang tangan gadis itu dan membawa ke dalam genggamannya.
"Apa yang harus kita lakukan?" dengan perasaan yang tidak tenang bercampur aduk. Vano bisa merasakan kegetaran Siska di saat tangan mereka bersentuhan "kita tidak bisa menolak dan memberi tahu bahwa pertunangan ini hanya formalitas belaka saja" bisiknya sembari tetap melemparkan senyum paksaan ke semua orang "tapi aku tidak mau menikah"
Vano menghela napas panjang dan meyakinkan gadis itu, entah bagaimana pun. Mommy benar benar membuat mereka dalam keadaan yang sulit. 'akkhhh mommy!' batin Siska. Dia tidak menyangka mommy diam diam akan mengadakan pengumuman tanggal pernikahan tanpa persetujuan darinya dan Vano.
Semakin lama, desah nafas Siska semakin kuat mengeratkan tangan Vano dalam genggamannya "pikirkan sesuatu, please... Aku tidak mau terburu buru menikah"
Vano kembali menatap mata itu lagi, di sana memang terlukis niat yang sama sekali tidak menginginkan pertunangan itu.
"Tapi..."
"Pikirkan cara agar pengumuman pernikahan bisa di undurkan... hiks" lebih menggenggam erat tangan Vano, bulir air mata mulai menjalar di dalam pupil matanya.
'mommy benar benar menginginkan aku menikah, tapi kenapa tidak meminta persetujuan dari ku terlebih dahulu?' hiks... Air mata Siska semakin kuat dan jatuh di sertai Isak tangisnya.
Apa yang terjadi? Jelas semua perhatian lebih terpusat kepada mereka lagi. Beribu pertanyaan dari undangan yang tidak bisa mengerti dengan sikap Siska yang tiba tiba saja menangis, dan pandangannya yang tak beraturan kesana kemari. Asumsi yang tidak tidak sepertinya mulai muncul di antara undangan yang hadir.
"Hei jangan seperti ini, coba tampil seperti biasa saja. Mata orang semua terpusat pada kita"
"Tapi aku ga mau membuat pengumuman tanggal pernikahan sekarang!" Lirik Siska pelan dan mengambil sikap mematung, pikirannya terasa kosong tidak tau harus berbuat apa untuk menghindar.
Mommy yang tau keadaan itu, reflek tangannya memegang mic, oh tidak... Dia tidak tahu kalau Siska akan seperti ini. Rencana untuk mempercepat pernikahan yang di rencanakannya berlangsung di luar dugaannya. Seketika menyesal telah mengambil langkah yang salah.
Kedua orangtua paruh baya itu saling berpandangan, dady menggeleng saja dan mengangkat bahu. Terlihat hanya mommy saja yang panik, jika Siska akan terus terusan seperti ini. Bisa bisa media akan membuat news dan menjadikan perjodohan anaknya adalah atas ketidakmauan Siska karena terpaksa. Itu akan menjadi perbincangan hangat orang orang nantinya.
"Dady ini bagaimana? Ini semua di luar dugaan mommy" menatap mata dady lekat lekat mengingini solusi darinya. Dady masih tetap menggeleng sesekali menatap pengawal yang berjaga untuk membatasi awak media yang mengambil gambar.
Siska terus saja memilih untuk menangis sambil memegang lengannya yang sakit. Vano menangkap gerakan itu, crekkk... reflek tangannya bergerak dan membuat lengan gaun yang dikenakan oleh Siska robek dan tergeser ke atas.
Menahan sakit "Apa yang kamu lakukan?" tanya Siska menatap Vano kembali meninggalkan sikap mematung ke bawah.
"Genggam lebih erat tanganku, dan pura pura pingsan saja.
"Hah? Apa yang kamu lakukan?"
"Kamu tidak mau kan membuat pengumuman pernikahan ini?" Siska mengangguk dan masih memegang lengannya.
"Lakukan apa saja yang ku minta"
__ADS_1
Detik selanjutnya, kebingungan undangan makin besar melihat Siska terjatuh pingsan di dalam pelukan Vano "apa yang terjadi?"
Mommy dan dady sigap menghampiri tempat Vano dan Siska berada. Namun Vano memberi kode mata agar keduanya tidak medekat terlebih dahulu. Kedua pasangan orangtua tersebut lantas mengurungkan niatnya dan membiarkan Vano membawa Siska berjalan ke luar hotel.
Langkah Vano kembali di persulit kan karena desakan wartawan yang ingin meliput mereka. Bagaimana tidak? Nona Siska menangis dan dadakan pingsan di saat tanggal pernikahan akan segera di umumkan.
Butuh waktu hingga lima menit atau lebih, Vano sudah berada di samping mobilnya. Lantas pengawal yang dekat di posisi mereka segera membuka pintu mobil dan kembali menutupnya setelah keduanya masuk.
"Maaf sekali tuan, tapi apakah tuan baik baik saja menyetir dalam keadaan seperti sekarang?"
"Saya akan menyetir sendiri, silahkan aman kan wartawan dan kameramen yang berhasil mengambil potret di dalam hotel"
Tanpa penjelasan panjang lebar dari Vano, pengawal itu sudah mengerti maksudnya dan segera melaksanakan tugas barunya "baik tuan, akan saya lakukan"
Vano menancap gas mobil yang sedang di setirnya meninggalkan hotel tersebut. Merasa sudah cukup jauh dari kerumunan awak media, dia memutarkan setir mobil ke bagian kiri jalan dan memarkir baik mobil tersebut.
"David?" Vano meraih ponselnya dan menghubungkan David segera
"Iya tuan, saya telah mengetahui ada sedikit masalah di acara hari ini. Apa ada yang bisa kulakukan tuan?"
"Segera datangi hotel D dan jelaskan semua kepada wartawan yang meliput di acara hari ini bahwa gadis itu pingsan karena lengannya yang sedang sakit. Buat alasan logis sebisa mungkin dan bisa di cerna oleh umum. Dan satu lagi, untuk pengumuman tanggal rencana pernikahan di undurkan terlebih dahulu"
"Baik tuan. Saya mengerti"
Tut... Sambungan terputus.
Akhhh... Bisa bisanya dia tidur di saat kepanikan melandanya tadi. Vano menggeleng senyum lalu kembali meraih gangang setir mobil. 'gadis yang unik' pekiknya.
✨✨✨
Di tempat yang berbeda, masih terdapat puluhan, ratusan wartawan dan kameramen masih berkerumun di sekitar lokasi hotel D.
Mereka begitu antusias untuk meliput hal yang barusan saja terjadi. Ini benar benar akan menjadi trending topik hangat terbaru di setiap blog dan artikel di semua media.
David menatap dari luar sekilas sebelum turun dari dalam mobil. Salah seorang bodyguard yang masih saja berjaga di sekitar lokasi mendatangi dan mendekat kepada David. Pengawal tersebut mengangguk paham dan mengalihkan pusat perhatian semua orang kepada David.
Menghembuskan nafas, mencoba mengingat ingat semua kata kata yang telah ratusan kali di susunnya "maaf untuk semua media yang sedang bertugas untuk meliput acara hari ini, semua undangan... bla bla bla......." Sangat profesional sekali, David memberi penjelasan yang cukup logis dan jitu.
Semua orang benar benar menerima baik alasan tersebut dan membubarkan massal wartawan yang meliput tersebut. Kini hanya benar benar undangan yang berada di dalam dan di sekitar hotel.
Dalam sekali gerakan, masalah telah clear. David kembali ke dalam mobil yang di setirnya perlahan meninggalkan lokasi hotel menyisakan beberapa pengawal untuk tetap berjaga.
✨✨✨
Setelah cukup lama menyetir, akhirnya keduanya sampai di lobi apartemen. Siska masih saja pulas dalam tidurnya.
__ADS_1
Tak tega membangunkannya, tangan Vano kembali membopong tubuh gadis itu dan perlahan menaiki anak tangga sebelum masuk ke dalam lift. Hendak membuka kenop pintu, Vano berpapasan dengan bi Lina yang tujuannya memang keluar untuk membeli bahan persediaan dapur.
Kecemasan di wajah wanita paruh baya itu kembali lagi melihat Siska di bopong oleh Vano dalam dengkapannya.
"Tu..tuan apa yang terjadi dengan non Siska?" buru buru memberikan jalan, niat untuk keluar terlebih dahulu di tundanya. Hal itu bisa nanti saja.
"Dia cuma tidur saja bi" Vano meyakinkan wanita itu "jadi tidak perlu cemas dan panik"
"Tapi tuan, sepertinya..."
"Kenapa bini bisa di sini? bukannya bibi sudah ijin untuk tidak datang ke apartemen hari ini. Bagaimana dengan suami bibi? Suami bibi tengah sakit kan?"
Bi Lina mengangguk "tapi sudah ada yang jagain kok tuan, itu anak anak tetangga" menepis senyum sedikit "kalau begitu, saya mau ijin keluar dulu. Permisi tuan" kenop pintu kembali di kunci lagi rapat rapat.
Vano membawa Siska ke dalam kamar dan membaringkan tubuh gadis itu di atas tempat tidur. Per detail, mata Vano memperhatikan wajah mulus yang di punyai oleh gadis itu hingga lengannya. Mata Vano berhenti di situ, dia harus mengganti perban itu dan membersihkan lengan itu.
Sebenarnya timbul niat untuk menghubungi dokter untuk segera datang dan mengecek kondisi tubuh Siska langsung. Tapi di urungkan saja, dia bisa melakukannya sendiri. Meskipun itu adalah baru awal baginya. Begitulah yang sedang di pikirannya.
Segera Vano beranjak dan mulai mencari kotak P3K yang biasa dia gunakan ketika dia berdarah atau semacamnya. Pelan pelan, dia membuka perban dan mengoleskan sedikit obat yang telah dibelinya di apotik sebelumnya sesuai dengan petunjuk dari dr. Ririn sebelumnya.
Setelah selesai, dia membersihkan semua perban yang telah terpakai dan membuangnya. Lalu kembali ke samping temlat tidur dimana siksa terbaringkan.
Gaun yang dikenakan Siska pada saat ini memang benar terlihat sangat tidak nyaman untuk dibuat tidur.
'apa aku harus melepaskannya dan mengganti pakaiannya?' batinnya.
Tapi...? Ada sedikit kecanggungan melakukan hal itu. Bagaimana mungkin dia melakukan hal semacam itu, sedangkan mereka masih bertunangan, itu pun cuma formalitas saja bagi keduanya.
'akkhhh ini bagaimana?'
Vano mengangguk dan melakukan haig five sendirian "Yap, bi Lina. Saya bisa menyuruhnya"
Vano mengerjap keluar tapi tidak mendapati bi Lina, dia ingat bahwa wanita itu sedang keluar untuk berbelanja kebutuhan stok dapur.
Tidak ada solusi lagi, Vano mau tidak mau membuka baju itu perlahan dan mengganti pakain Siska dengan piama. Apakah Vano terpengaruh di saat melihat tubuh seksi gadis itu? Sepertinya iya, bagaimana tidak mungkin, berulang kali Vano menelan ludah untuk kesekian kalinya. Itu adalah kedua kalinya baginya melihat tubuh itu lagi apalagi dalam jarak yang berdekatan. Meskipun masih belum sempurna terlihat bagian tubuhnya dikarenakan bra dan ****** *****.
Vano bergidik seketika dan langsung berdiri menjauhkan tubuhnya dari gadis itu lalu keluar. Malam ini lagi dia akan tidur di sofa saja sepertinya.
Terasa aneh memang, perubahan Vano yang sangat drastis terhadap Siska. Sikap perhatian lebih mulai dia berikan kepada gadis itu. Entah mungkin sekarang dia benar benar menyukai gadis itu? Atau gimana. Yang jelas itu masih rahasianya.
✨✨✨
Bersambung....
Hai readers semua❤️
__ADS_1
ini adalah novel perdaku di platform NOVELTOON😭 maaf jika alur ceritanya tidak sebagus yang readers semua harapkan.
please votenya, like, dan komentar dari readers❤️