
Kelab X
Rafael sudah mengambil tempat duduk di sana. Dari tadi menunggu berharap gadis itu akan datang. Sudah sejam berlalu dia duduk tidak melakukan apa apa di sana. Beberapa gadis lain yang ingin menawarkan dansa bersama, tapi Rafael bersikeras menolaknya. Yang ia inginkan, gadis itu akan datang sekarang.
Ya gadis itu, tepatnya adalah Siska.
Rafael meneguk kan satu gelas bir yang ada di depannya, dua gelas sampai mau satu botol. Saking lamanya dan bosannya menunggu gadis itu. 'kenapa dia tidak kunjung datang?' sembari melirik kanan dan kiri.
Terbesit satu hal di kepalanya sekarang, dengan kilat cepat Rafael memindahkan tangannya yang memegang gelas minumannya itu pindah ke saku atas dalam jasnya. Mengambil ponselnya di sana.
Nama 'GADIS KELINCI KU' di sana tertera. Tanpa ragu Rafael mempencet nama itu (iya, itu adalah Siska). Segera next calling ....
Tut ... Tut ... Tut ... (Berkali kali Rafael membuat panggilan telfon tetapi tak kunjung di angkat oleh Siska)
Akhhh! Rafael membanting meja yang ada di depannya dengan keras, mungkin dia kecewa lah yaaaa. Kecewa yang berlipat ganda (*pertama, karena rencananya yang gagal menjatuhkan perusahaan ANGKARA GRUP pluss gadis itu tidak mengangkat panggilan telfon darinya).
"Kenapa dia tidak mengangkat panggilan telfon dari ku. Sedang apa dia?" Tanyanya sendiri tanpa ada siapa yang mendengarkannya. Akhhhh!! Teriaknya sekali lagi.
CRUSSS!
Rafael melemparkan botol minuman birnya ke lantai, hingga serpihan botol tersebut mengenai salah satu pengunjung kelab tersebut. Dari situ lah, terjadi adu mulut antara siapa yang salah dan tidak salah. Bla bla bla ... adu mulut tidak cukup, satu tonjok kan saling mendarat di pipi masing masing. Sejenak keduanya bergeming menikmati rasa sakit masing masing.
"Cih!! Kau masih punya nyali untuk melawan ku hah?!!" Tanya Rafael kepada pria lawan tinjunya itu (*anggap saja namanya Roy). Tanpa merasa bersalah sedikit pun, Rafael kembali menyambar wajah laki laki itu, Roy dengan tinju kepalan tangannya. Yang jelas sekali, tinju itu juga di sambut kasar oleh Roy.
Lama dan lama, tanpa ada peleraian dari siapa pun orang yang ada dalam kelab tersebut. Semuanya hanya menyaksikan adegan yang di pertontonkan di depan mereka, sebagian juga tidak ada yang tahu sama sekali tentang hal itu. Karena sibuk juga untuk mencari sensasi masing masing selagi masih di dalam kelab.
Roy hanya tersenyum sinis melihat Rafael yang terus menerus bermain main dengan wajahnya. "ckkkk" malah cekikikan di depan Rafael "apa hanya begini yang bisa kau lakukan?"
Rafael tidak menghiraukan atau bahkan mendengar ucapan Roy kepadanya. Dia tidak tau kalau ucapan kata kata itu adalah suatu peringatan dari Roy.
BRUKKK .... !!!!!
Dalam sekali hantaman kepalan tangan Roy, tubuh kekar Rafael terpelanting ke lantai. Bercak darah bekas tinjuan itu keluar dari mulut Rafael. Pfffff .... Memuntahkan darah itu ke lantai lalu membawa jari telunjuk nya ke bagian luar mulutnya untuk menyeka darah itu.
"Cihh! Dasar,,," Rafael kembali membalaskan tinjuan nya untuk kesekian kali. Hingga sang pemilik kelab meleraikan penyebab pemicu masalah itu.
Sesudahnya, semua orang berpencar kembali ke aktivitas masing masing dalam kelab tersebut. Berbeda dengan Rafael yang langsung keluar dari tempat itu. Memposisikan tubuhnya duduk di bangku setir dalam mobil.
Harapan untuk bertemu atau pun jumpa dengan gadis itu malah terbalik 100% bukan sesuai dengan apa yang di bayangkan. Malah malam ini, Rafael mendapat kan tinju yang membuatnya makin geram ketika mengingatkan hal itu.
Tanpa begini begitu, Rafael menancapkan gas mobil yang di tungganginya perlahan meninggalkan lokasi pelataran kelab X tersebut. Kadang jalannya terpontang panting akibat pukulan yang ia terima dari Roy sesudah turun dari mobil.
__ADS_1
✨✨✨
Kini kita beralih ke David ya ...
Berbeda dengan pria yang satu ini, pikirannya terasa kosong tiba tiba. Masalah pekerjaan kantor tidak bisa ia kerjakan dengan tepat dan akurat. Dengan terpaksa, mau tidak mau ia menyuruh manager Lin untuk membantunya.
Beberapa berkas, file yang harus ia siapkan buat jadwal meeting sang tuan muda Vano besok. Ketik ... susun .... Ketik .... susun .... Ketik ... Akhirnya siap. Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama, akhirnya pekerjaannya yang sempat membuatnya kalang kabut untuk menyelesaikan nya kelar juga.
"Hufff ahhhhhh ....." Barulah David menarik napas leganya.
"Permisi pak" asal suara itu membuat David dan manager Lin menoleh ke arah pintu "ini kopinya pak, silahkan di minum" petugas OB yang memang sengaja mengambil lembur malam itu masuk membawakan kopi kepada orang orang yang adalah masih atasannya di dalam kantor perusahaan tersebut.
"Oh iyaa, terimakasih" ucap David dengan sikap formal.
"Sama sama pak, itu sudah kewajiban saya sebagai OB. Permisi" kembali ke lantai bawah dan meninggalkan dua orang atasannya itu untuk kembali bercengkerama membahas bagaimana kegiatan perusahaan.
Menyeruput kopi masing masing dengan selang waktu yang tak begitu lama dalam keheningan.
"Pak, saya boleh pulang kan? Mohon maaf sekali, saya tidak bisa mengambil lembur terlalu malam hari ini .... " Alasan dari manager Lin di dengarkan baik oleh David. Sebagai kaki tangan sekaligus asisten pribadi yang terpercaya di ANGKARA GRUP, Vano memberinya ijin untuk pulang. Jadi, tinggal hanya dia lah yang ada dalam ruang kerja tersebut.
Dengan menyandarkan tubuhnya ke belakang kursi "apa kencan tuan Vano dan nona Siska berjalan dengan baik?" Sela sela waktu itu juga, dia mengingat tuan mudanya, sang Mr. Vano. Uhh David, kamu memang asisten yang sungguh baik dan kompenten. Di setiap waktu kamu selalu memberikan waktu untuk mengetahui bagaimana aktivitas tuan mu hehehe.
'oh iya, bagaimana dengan tangan gadis itu?' pikiran David teralihkan ke orang lain. Kini dia menanyakan entah bagaimana kabar gadis itu, Dina. Si gadis barista. Perasaan bersalah masih tertanam dalam dirinya. Karna dia, tangan Dina tersiram air panas.
"Ya, selagi ada waktu aku harus mendatangi nya" ucap David percaya diri berdiri dari kursi kerjanya dan keluar meninggalkan bangunan perusahaan ANGKARA GRUP.
Berbagai hal yang ia pikirkan, jika ia pergi ke sana. Akankah terasa aneh jika hanya beralasan untuk memastikan tangan gadis itu baik baik saja? Niat David datang kan hanya untuk memastikan itu saja.
"Tidak, lebih baik saya mampir ke apotek untuk membeli obat oles terlebih dahulu" dengan cepat tangan David memutarkan gang gang setir mobil ke arah kiri menuju apotek terdekat dengan bantuan GPS.
~
Kafe Y
David masuk ke dalam bangunan itu, bangunan yang di bangun dengan model arsitektur bercampur Itali. Dengan mantap David melangkah kan kakinya ke dalam. Matanya langsung menerawang tertuju pada sebuah meja kasir barista. Tidak salah lagi, itu adalah gadis yang kemarin. David mendekati tempatnya.
"Ada yang bisa saya bantu lagi pak?"
"Hah? Maaf?" David mencondongkan badannya ke depan, yang membuat Dina sedikit terekspos mundur ke belakang dari tempatnya.
"Ap ... Apa ada yang salah pak?"
__ADS_1
"Enggak ... " David menggeleng kan kepala dengan gaya bahasa yang informal sekali "apa kamu lupa dengan ku? Hmmm?"
Dina menjawab dengan gelengan kepala
"Owh"
"Pesan kopi varian rasa apa pak? Latte coffie atau ..."
"Tidak mbak. Saya datang ke sini bukan karna itu"
Dina memiringkan kepalanya "apakah ada yang bisa saya bantu pak?" Dina terus terusan memanggil David dengan sebutan 'PAK' gaya bahasa yang formal.
"Apa tangan mu kemarin baik baik saja sekarang?" David menghujuk tangan Dina yang kulit kulitnya sedikit melepuh berair.
Mendengar ucapan David tadi, reflek tangannya sengaja di sembunyikan di belakang celana kerjanya 'kenapa orang ini masih datang ke sini jika hanya menanyakan hal itu?'
"Ahh enggak kok pak, tangan saya baik baik saja"
"Sungguh kah? tapi nona saya merasa bersalah sekali"
"Sungguh. Saya tidak apa apa pak"
"Pak? Rasa kemarin mbak panggil aku 'mas'? Entah dari mana David dengan percaya diri menanyakan hal yang seperti itu.
"Lupakan" dengan was was saja, sesekali Dina menoleh ke arah luar kaca jendela kafe. Di sana terdapat beberapa pengawal yang tengah memantaunya dari jauh.
"Kamu kenapa? Apa ada sesuatu yang kamu takut kan?" Tanya David yang membuat Dina mampu kaget seakan pria yang ada di depannya itu tahu jika ia sedang di perhatikan oleh beberapa orang dari luar jendela kafe itu.
"Enggak, bapak mau pesan apa?"
"Hufff bapak lagi? Yaudah tidak masalah, pesan Coffie cake aja"
"Baik, tunggu sebentar yaaa" David hanya membalas nya dengan senyuman saja "itu di bungkus saja. Saya akan membawanya ke rumah"
"Oh baiklah"
✨✨✨
Bersambung ...
.
__ADS_1