Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 32 : You're So Beautiful Baby


__ADS_3

"Terimakasih pak Devano, mempunyai kerja sama bisnis dengan perusahaan ANGKARA GRUP adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami" klien dari perusahaan yang investasi nya diterima oleh Vano sebagai pimpinan perusahaan elit ANGKARA GRUP berdiri membungkuk di hadapan Vano.


"Tidak usah terlalu berlebihan, saya senang bekerja sama dengan perusahaan kalian" Vano mengulurkan tangannya yang dengan cepat di sambut baik oleh klien tersebut "mohon kerja sama yang baik"


"Baik pak, terimakasih"


"Mari, kopinya masih belum habis" dengan kekehan yang akrab, Vano menawarkan kembali klien baru perusahaannya itu untuk menyeruput kembali kopi masing masing.


Berbincang lama tentang perusahaan, tak terasa sudah hampir tiga puluh menit berlalu. Pertemuan singkat itu di akhiri ~


***


David yang dari tadi masih setia menemani atasannya melangkah ke meja barista untuk membayarkan semua tagihan selama mereka ada di sana.


"Mbak, permisi! Total tagihannya berapa?" Tanyanya kepada pekerja barista dalam kafe tersebut, yang ternyata adalah Dina. Dina tidak mendengar bahkan atau melirik, dia terlalu fokus untuk membuat kopi lainnya.


"Mbakkk!!"


"Astagaa aaaww...!" tangan Dina terkena air panas dari kopi tersebut saking kagetnya dengan suara David yang berucap lantang sekali ke arahnya "eh maaf mas, maaf ... saya tadi terlalu fokus untuk ... Emm aaaww aaww" tangannya semakin melepuh akibat siraman air panas tadi.


Segera David menarik tangan milik Dina dengan rasa bersalah "maaf mbak sebelumnya, sini biar ku lihat dulu" huf ... huf ... David menghembus hembus kan nafasnya berniat agar tangan gadis itu tidak semakin memburuk.


"Enggak apa apa mas, saya begitu ceroboh tadi" kembali menarik tangannya lalu kembali meniupkan nya sendiri.


"Sungguh?"


"Hee'emm" Dina mengangguk "Oia, mas mau tanya apa tadi?" Kembali ke awal dan to the point.


"Ah itu, aku hampir lupa hehehe" David mengusap kepalanya yang tidak gatal sama sekali "berapa total tagihan nya mbak untuk meja 09?" menunjukkan tempat dimana Vano dan klien baru perusahaan ANGKARA GRUP duduk.


"....."


"Ohh ini mbak" David membayar nya dengan uang kes saja. Terlalu ribet kalau pake kartu deposit.


"Makasih mas, silahkan mampir lagi lain kali kalo ada waktu" Dina membuat senyum yang biasanya dia lakukan untuk setiap pelanggan yang datang ke kafe tersebut, dia sudah menjadikan hal itu sebagai kewajiban nya. Senyum kepada setiap orang.


"Baik mbak, permisi"


✨✨✨


Di dalam mobil Vano di sibuk kan dengan ponselnya, dan melayangkan ke sepuluh jarinya untuk terus mengetik dan mengetik. Dia membuka dan mencari beberapa artikel bagaimana kencan bisa berhasil dan berbagai hal lainnya.


Tap, suara pencet tangannya untuk setiap sentuhan jari jemarinya di atas layar ponselnya. Yaaa, dia menemukannya. Tempat rekomendasi kencan yang cocok.


"David!" Panggil nya


Dengan terburu buru David menghampiri tuanya itu "iya tuan.. Ada yang perlu saya lakukan?"

__ADS_1


"Urus semua ini" memberikan tablet itu kepada David, David melihatnya dengan mata yang teleti. Memahami baik baik apa maksud artikel tersebut. Tak butuh waktu yang lama, David segera meninggalkan pekerjaannya untuk di kantor. Dia akan mengurus tugas barunya dari bosnya, kali ini Kencan dari tuan Vano tidak boleh gagal lagi. Pikirnya.


Akhir akhir ini, David akan terus terusan menerima tugas tambahan dari bosnya. Selain dari pekerjaan kantor, dia akan melakukan hal hal yang sama sekali tidak masuk akal. Membantu tuan sang Direktur Vano yang dikenal sempurna dalam segala hal, tapi untuk yang satu ini sepertinya David lebih sempurna. Hehehehe David!


Vano kembali dengan ponselnya. Dia mencari nama kontak gadis itu 'GADIS KECILKU' yaaa, itu nama Siska di kontaknya. Calling ...


"Iyaaaaaa ...." Suara berat Siska terdengar dari ponsel setelah keduanya terhubung dalam panggilan.


"Segera siap siap!"


"Hah?!"


"Segera siap siap saja"


"Lah maksud mu ... Siap kek gimana?"


"Sebentar lagi Aku akan ke sana segera (apartemen), tetapi terlebih dahulu David akan sampai di sana"


"Aku makin tidak mengerti maksud mu" Siska terpaku bingung dengan setiap ucapan Vano kepada nya "apa ..."


"Aku akan membawamu keluar" ucap Vano memotong ucapan Siska yang terlalu basa basi dalam bertanya.


Siska berdehem dan mendesis lama 'apa? Dia mengajak ku untuk keluar lagi! Apakah itu semacam kencan? Dan itu adalah kencan kedua kami nanti?' otak kecil miliknya mulai traveling kemana mana. Ketika mendengar Vano mengatakan kata katanya barusan, entah kenapa dia sangat bersemangat tiba tiba gitu aja. Cieee mungkin saja perasaan berbunga bunga mulai tumbuh (gilaaaaa keneee Siska wkwkkw)


"Baiklah"


"Emmm" Siska berdehem saja untuk mengiyakannya dari sana.Tut ... Tut ... Sambungan telepon putus.


Vano kembali menciptakan dan menyungging kan senyum seketika. Rencana Kencannya mungkin akan berjalan baik kali ini, apa lagi tidak ada penolakan dari Siska.


Glekkk! Vano menarik kenop pintu ke bawah lalu pergi meninggalkan ruangan nya itu.


✨✨✨


Apartemen


Di dalamnya, Siska sangat di sibuk kan untuk mengurusi dandanan nya sendiri. Dia ingin meriasnya dari hasil tangannya sendiri. Meski dia tau, dia tidak terlalu bisa untuk make over.


"Permisi!" David mengetok pintu kamar yang ada Siska di dalamnya. Siska menghiraukannya saja tanpa melirik atau menoleh ke belakang.


"Nona Siska, apakah butuh bantuan? Biar saya sewa jasa make over kalau memang ...."


"Enggak usah! Aku bisa sendiri"


David tidak mau berdebat lagi, apa lagi itu Siska. Tunangan dari bosnya, jika dia membuat gadis itu marah hanya karena dia ngotot maksa untuk membantu nya ... Sama halnya kalau ia tidak menghormati Vano.


"Baiklah. Jika butuh apa apa, panggil aku saja" David membungkam kan mulut setelah itu dan lebih memilih untuk bergabung dengan belasan orang make over yang telah di sewa jasanya sebelumnya.

__ADS_1


***


Lima belas selanjutnya, selang waktu itu Vano sudah sampai di lobi apartemen. Dengan tidak sabaran kakinya dia percepat sedikit dari biasanya. Entah bagaimana semangat nya saat itu.


Glekkk! Kenop piintu dari luar untuk masuk ke dalam berputar ke arah bawah pintu. Vano masuk dan hanya mendapati beberapa orang di dalamnya (read : jasa make over) dan orang yang paling di kenalnya, David.


"Dimana dia?"


"Nona Siska masih ada di dalam tuan, dia masih bersiap siap" jawab David cepat.


Glekkk ... Glekkk ... Kenop pintu kamar terbuka. Siska keluar. Tidak terlalu buruk, dandanan Siska benar benar tidak bisa di remehkan kali ini. Outfitnya sangat bagus, gaun yang sengaja di buat pendek kaki bawahnya hingga sepaha mengembang. Di tambah lengan yang pendek.


Vano terpaku di tempat nya mengagumi betapa cantiknya Siska, gadis yang ada di depannya saat ini. Menghampiri nya tanpa ragu ragu. Siska menggigit bibir bawahnya dan melihat wajah Vano setengah menunduk, dia kira dandanan nya membuat dirinya jelek dan buruk saat itu.


"Ke ... Kenapa melihat Ku seperti itu?" Tanyanya terbata "jelek ya? Ya, aku sudah tau pasti. Tunggu dulu, biar ku ganti kembali aku"


Tangan Vano cepat meraih tangannya yang hendak kembali ke kamar lagi "you're so beautiful baby. I like that" mengucapkan kata itu dengan begitu romantis ala Jack di film romansa cinta itu hehehe (*btw, author juga kurang tau apa nama filmnya, yang penting aktornya bernama Jack dan filmnya ber genre romantis).


Siska tersipu malu untuk mendengarkan hal itu dari Vano. Bisa di bilang, dia akan bisa meleleh di tempat saat itu juga. Pipinya memerah rona, tersenyum cumbu tak karuan.


"Ahh biasa aja kaleee"


"Sungguh"


"Oh ya, thanks buat itu" terkekeh kekeh, Siska mencoba tampil untuk tidak terlihat berpengaruh dengan cara Vano memuji penampilan dan kecantikannya saat itu.


Sedangkan jiwanya begitu meronta di dalam. 'huf huf huf Siska ... Tenang Siska, jangan membuat dirimu tampil tidak profesional di depan Vano. Please ...' Siska mendesis berulang dalam hatinya.


"Yok kita berangkat" Vano membuat lengannya yang satu sedikit berkacak pinggang agar Siska meraih dan menempatkan tangannya di sana.


"Tidak usah, aku bisa berjalan sendiri"


Vano menunduk kan kepalanya lagi dengan sikap Siska yang main pergi aja, apalagi tidak menggubrisnya yang mencoba agar terlihat romantis. Tapi malah sebaliknya, dia malu dengan beberapa make over yang ada di situ disertai David yang dari tadi mencoba menahan tawanya.


"Apa lho senyum senyum hah?!" Ucap Vano apatis terhadap David, tidak peduli dengan gaya bicaranya.


"Maaf, maaf tuan"


Tidak peduli, Vano menyusul Siska ke luar apartemen.


✨✨✨


Bersambung ....


Happy Reading ❤️❤️❤️❤️


.

__ADS_1


.


__ADS_2