Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 47 : Pesan Singkat (2)


__ADS_3

"Makasih pak. Saya akan turun di sini saja" usai berucap begitu, Siska turun dari mobil taxi tersebut dan melangkahkan kakinya di pelataran rumah besar itu. Yaa sebelas dua belas dengan rumahnya sendiri sih, makanya ekspresi Siska biasa saja. Tidak akan menganga seperti orang lain pada biasanya.


Sedikit lebih sedikit, langkah demi langkah kakinya hingga kakinya pun sampai di depan gerbang pintu utama rumah tersebut. Beberapa orang sudah menyambutnya dengan baik. "Silahkan masuk nona"


Tidak bisa di percaya, sedikit rasa kebimbangan ada yang tidak benar. Masa iya seorang gadis yang bekerja sebagai barista di sebuah kafe memiliki rumah sebesar dan semewah ini? Memiliki orang yang bekerja dengan nya lagi!


'ini sungguh alamat rumahnya?' kembali membuka lokscrinn ponselnya dan membaca pesan (share alamat rumah gadis barista tadi) dengan baik baik. Siapa tau dia salah alamat. Tapi benar, itu adalah alamat yang di kirimkan oleh gadis itu kepadanya.


"Permisi! Apa alamat rumah ini benar dengan alamat yang ini" tanyanya. menunjuk kan alamat yang ada di layar ponselnya.


"Benar sekali nona. Silahkan masuk"


"Baiklah" kemudian Siska pun masuk sembari kebingungan.


Pelan pelan kakinya membawanya ke setiap ruangan rumah itu. Tapi sedetik ini juga masih belum menemukan sok sok gadis itu.


'dia ada di mana? Katanya mau cerita sesuatu?' menggaruk kepalanya yang tak gatal dan setelah itu memutarkan badannya ke belakang. Beberapa pelayan perempuan di rumah itu dari tadi mengikutinya dari belakang "Emm permisi mbak! Nona pemilik rumah ini di mana ya (*iya, Siska pikir itu adalah Dina).


Belum sempat ia mendengar dari jawaban pertanyaan nya itu, DUPPP!! mulutnya tiba tiba seperti di sumpal sesuatu dari arah belakang. Itu adalah sapu tangan. Tidak di ketahui orang yang membungkam mulutnya siapa, yang sepertinya itu adalah bodyguard yang bekerja dengan Rafael.


"Lepaskan! Lepaskan!" Siska berusaha meronta melepaskan bungkaman tersebut. Tidak lama waktu berselang, nafas Siska lemah, matanya tertutup dan pingsan. Sapu tangan itu sudah di beri bius obat tidur.


Setelah itu, salah satu bodyguard yang lain membopong tubuh Siska dan membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan besar lagi. Tak asing jika di ingat, ruangan itu adalah kamar milik Rafael. Di sana pria itu sudah menunggu dengan sebuah gelas wine di tangannya sambil menggoyang goyangkan bagian bawah dari gelas tersebut.


"Permisi tuan. Nona ini sudah berhasil di buat pingsan"


"Bagus! Baringkan dia di atas tempat tidur. Lalu keluarlah"


"Baik tuan"


Rafael mendekati gadis itu, iya Siska. Sambil menciptakan senyum smrik nya yang gila. Membelai wajah gadis itu. Lalu mencium keningnya setelah menyeka rambut Siska yang telah berantakan. Kemudian mengangkat kembali kepalanya ke atas. Menatap Siska ...


"Hei girl, lama tidak berjumpa" kembali membelai wajah gadis itu "kamu tidak tau kan? Bagaimana perasaan ku terhadap mu" menatap dalam wajah gadis itu "aku mencintai mu Siska. Aku tidak tahu kenapa bisa" cih! "Lucu ya, aku mencintai seorang gadis yang udah bertunangan. Apalagi seorang tunangan dari musuh besar ku"


"Hahahaha" Rafael melepaskan tawanya "jika aku menyatakan perasaan ku. Pasti kau akan menolaknya bukan? Hahahaha" kembali tertawa lagi dengan liciknya.


"Kau pasti akan memilih pria itu, rival utama ku"


"sekarang. Aku ingin membuatnya hancur!!!"


Vano mulai membuka kancing baju milik Siska hingga sempurna bra yang di kenakannya itu nampak seluruhnya. Kemudian Rafael menutupinya dengan selimut.


"Kalian dimana? Masukk!!!!" Titah Rafael entah ke siapa dan menoleh pintu.


Satu orang muncul dari luar pintu, itu adalah as. Zuy.


"Lakukan tugas mu. Buatlah plan ini berjalan baik"

__ADS_1


"Baik tuan" As. Zuy mulai melakukan tugas yang di perintahkan kepadanya. Dengan kamera ponsel yang telah di hidupkan. Mengambil beberapa gambar Rafael yang sedang memeluk tubuh Siska dan menciumi lekuk leher gadis itu. Tidak hanya dengan itu, Rafael sengaja membuat tangan gadis itu melingkar ke pinggangnya seolah olah Siska mau melakukan hal itu dengannya.


Crek crek crek beberapa gambar telah di ambil.


"Kamu boleh keluar sekarang! Aku akan menyelesaikannya sendiri sekarang. Urus semua kelanjutannya, begitu orang itu datang, biarkan saja dia masuk!"


"Baik tuan. Perintah akan di laksanakan"


Rafael mulai memuluskan aksinya di atas tubuh gadis itu, menciumi lekuk lehernya. Terus bermain main di sana. Tangannya pelan pelan menggerilya kan tangannya ke area bawah gadis itu. "Kau akan menjadi milik ku sekarang Siska"


Dengan senyum liciknya, Rafael membuka bajunya juga. Kemudian kembali menelentangkan tubuhnya di atas gadis itu dengan dua topangan tangannya.


"Uhhh" di waktu itu juga, Siska melenguh. Obat bius tidur yang di berikan masih dalam dosis normal. Sehingga Siska kembali sadar dalam waktu yang singkat. (*Semuanya atas perintah dari Rafael).


Siska memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Sekelilingnya terasa oleng. Pelan pelan ia membuka matanya perlahan lahan. "Aku ... aku dimana?" Duhh! Kepalanya masih sakit.


Masih belum terlalu sadar, Siska merasa tubuhnya di apit dari atas. Dan mendapati seseorang yang tak asing di depannya "Rafael"


Rafael tersenyum "ya girl. Kamu benar sekali"


"Kamu ... Kamu kenapa di sini?"


"Hahahaha" Rafael tertawa menyeringai, tanpa kendor lagi. Ia membenamkan kepalanya di lekuk milik Siska yang mampu membuat Siska tertegun dan sukses geli.


"Apa yang kamu lakukan?! Lepaskan lepaskan!!"


"Lepaskan aku! Rafael!!!" Hiks Siska mulai takut dan menjerit dalam tangisnya. Memohon dan memelas untuk di lepaskan. "Kau pria bajing*n!!! Ku pikir kau itu ... Hiks" Isak Siska berubah menjadi tangisan yang besar. Tangisannya pecah seketika. "Lepaskan bajinga*n kepar*t!!!"


Rafael tidak mempedulikan. Yang ada di pikirannya saat ini harus melakukan nya dengan gadis itu sekarang. "Hahahaha tenang girl, aku akan membuat mu relax, nikmati saja lah"


Plakkk! Siska menampar wajah Rafael. "Lepaskan aku! Bagai mana bisa kau melakukan hal yang menjijik kan seperti ini? Lepaskan" Siska berusaha memberontak.


"Coba saja girl, ayo!!! Lakukan lah dengan ku"


"Pria brengs*k" hiks hiks hiks Siska semakin terisak dan berusaha melepaskan dirinya.


Dari arah yang berlawanan, BRUKKKK!!! pintu kamar itu terbuka di dobrak dari luar. Vano akhirnya datang juga.


Wajah Vano sudah merah dan emosi nya tak terkendali lagi. Kepalan tangannya seketika menyambar wajah milik Rafael hingga pria itu terpelanting ke lantai dengan keras. "Pria bajing*n beraninya kau melakukan ini!!"


"Vanoo" teriak Siska, wajahnya sudah memelas dan membenarkan tubuhnya dari lentangan kasur. Mengambil selimut dan menutupi bagian tubuh yang sudah mulai telanjang itu.


Emosi terlalu dalam, Vano tidak memberikan celah bagi Rafael untuk melawan. Menghajar dan terus menghajarnya, beberapa kali ia memuntahkan darah pufff lalu kembali menyekanya.


"Hahahaha" Rafael memecahkan suara tawanya dan berdiri, memilih tidak membalas permainan tinju meninju kepada Vano "selamat datang tuan ANGKARA" membungkuk sembari membuat wajah sinis "bagaimana? Anda terkejut bukan? Gadis mu lebih memilih melakukanya dengan ku di bandingkan dengan mu hmmm hahahaha"


"Enggak Van. Jangan percaya. sayang ... percaya lah aku tidak pernah mau melakukannya dengan pria brengs*k sepertinya. Ini hanya jebakan ak ...." Siska menghentikan ucapannya, mata Vano sudah memerah dengan tatapan seakan mau membunuh. Kekecewaan sudah mendalam dalam dirinya.

__ADS_1


"Vanooooo ...."


"Diam di sana!!!" Vano membentaknya, dia sudah termakan dengan omongan Rafael.


"Sayang ...." Hiks "percaya aku tidak pernah melakukan hal gila ini"


"Ayolah sayang, kita lanjutkan lagi permainan ini" Rafael menyela dengan kata kata liciknya, mencoba memanas manasin Vano 'rasakan! Setelah ini kau pasti akan hancur Devano'


"Kauu!! Jangan berani mengarang. Aku tidak pernah mengijinkan kamu menyentuh ku. Bagaimana bis ..." Mulut Siska bungkam dengan kata katanya sendiri, hiks bergidik ngeri seketika melihat wajah Vano yang menatapnya dengan tatapan menyidik, sepertinya Vano tidak percaya dengan kata katanya. "Sayang ___"


Mata Vano memerah, menatap keseluruhan tubuh gadis itu dari atas hingga ujung bawah. Matanya berhenti di bagian dada gadis itu. Bra Siska sudah terbuka sedikit, hingga memunculkan buah dadanya ke atas. Dan menatap gadis itu lagi. Menghela nafasnya panjang dengan memburu, menutup matanya sembari mengepalkan kedua tangannya.


Arghhhkkk!! Vano menghajar habis habisan tubuh Rafael "dasar pria bajing*n!!!"


Vano segera dengan cepat menarik tangan Siska dengan kasar. Tidak mau tau lagi apakah gadis itu akan kesakitan atau tidak. "Vano ..." Hiks


Vano menoleh beberapa saat ketika gadis itu berucap dengan tangisan "percayalah aku ... aku tidak melakukannya"


"Ahhh kita keluar dari sini! Jelaskan semuanya di apartemen"


"Tapi ..."


"Tapi apa hah? Kau mau tinggal di sini! Mau melayani laki laki ini kembali. Begitu??!! Jawab hah jawab?" Melepaskan tangan gadis itu dari genggaman erat tangannya.


Hiks Vano sungguh tidak percaya dengannya "percaya sayang, sungguh aku tid ..."


Emosi dan kekecewaan sudah sukses membabi buta dalam dirinya. Menarik kuat lengan Siska lagi. Vano menyadari bagian dada gadis itu masih terbuka dengan kancing kancing yang telah terlepas. Ia membuka jas nya dan memasang kan nya ke tubuh gadis itu.


"Sini!" Kembali menarik tangan Siska hingga mereka sampai di pelataran luar rumah itu. Dan membawanya ke dalam mobil, pergi dari situ ~


Sedangkan di dalam Rafael sudah duduk dari posisi terkulai nya dari lantai. Puff memuntah kan darah bibirnya dan menyekanya. "Cihh!!"


As. Zuy segera masuk "tuan? Apa anda tidak apa apa?"


"Panggil kan saya dr. Jeva" (*dokter pribadi Rafael)


"Baik tuan, akan segera saya panggil kan" segeralah as. Zuy berputar badan mau melakukan perintah dari Rafael. Tapi sebelum nya kembali membalik kan tubuhnya lagi "tuan? Apa Mr. Vano di biarkan pergi begitu saja?"


"Biarkan saja! Aku mau lihat, dia akan seperti apa setelah ini hahahaha" Rafael memampukan diri untuk tertawa dengan wajah yang kesakitan. Rafael kau sungguh licik!


"Baiklah tuan"


✨✨✨


Bersambung ....


.

__ADS_1


__ADS_2