Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 13 : Perubahan Sang Direktur Devano


__ADS_3

Rumah kediaman keluarga Duckwill


Pagi dari sekian pagi, Semua pelayan dan bodyguard yang bertugas di rumah besar keluarga Duckwill tengah bersiap untuk menjalankan dan melakukan pekerjaan masing-masing. Rumah sebesar istana itu membutuhkan banyak tenaga pekerja yang banyak untuk mengurus ini itu.


Kini Ny. Jenita menyibukkan dirinya sendiri untuk bersolek di depan kaca. Beberapa pelayan make over pribadinya membantunya untuk memoles make up dan menata rambutnya "saya akan keluar hari ini, buat penampilan ku sebagus mungkin" titahnya. "Baik nyonya" sang make over mengangguk sambil dengan telaten menata rambut pemberinya job itu dengan extra hati hati.


Tok tok tok...


Pelayan yang lain datang dari luar dan masuk ke dalam ruangan itu, sepertinya itu adalah pelayan yang mengurus dapur dan makanan keluarga itu. Setengah badan membukuk sebelum menghadap langsung nyonya besar "maaf nyonya, sarapan sudah kami siapkan di atas meja. Tuan besar sedang menunggu di meja makan" lalu pelayanan itu kembali ke posisi berdiri. Ny. Jenita menanggapi dengan senyum saja "sudahi untuk ini, suami ku telah menunggu ku" lalu pergi dan keluar untuk sarapan.


"Mommy mau kemana pagi pagi begini sudah siap siap?" Sambil memasukkan satu persatu makanan ke dalam mulut, dady menatap mommy dengan penuh tanya.


"Dady lupa dengan anak kita? semalam Siska pingsan... Mommy mau melihat keadaannya"


Menghembuskan nafas sesudah menguyah makanan terkahir, dady kembali menatap mommy "bisakah kamu tidak selalu mengkhawatirkan Siska? Di sana ada Vano, tunangannya yang akan menjaganya. Dia akan baik baik saja"


Kini keduanya sama sama menatap diri satu sama lain, mommy menyadari kalau suaminya itu masih marah dengannya karena ulahnya yang semena mena membuat pengumuman pernikahan untuk anak mereka tanpa mimikirkan resiko terlebih dahulu, nama perusahaan keluarga mereka akan terancam jatuh.


Pertunangan itu bukanlah atas kemauan Vano dan Siska. Tidak tau harus berbuat apa lagi, keduanya diam saja.


Mommy mengurungkan niatnya untuk keluar menemui Siska.


✨✨✨


Di dalam ruangan besar lantai paling teratas, tempat dimana seorang direktur utama perusahaan dari ANGKARA GRUP, Devano Putra Angkara selalu berdiam di dalam dan mengadu berbagai kesibukannya.


Sesekali tangannya sibuk menekan nekan pulpennya di bagian kepalanya. Semakin lama di sana, wajah gadis itu muncul tiba tiba. Wajah yang belakangan ini membuatnya sering over thingking. 'apa dia sudah bangun sekarang? Sedang apa dia di sana?' batinnya. Gadis itu masih belum bangun ketika dia hendak keluar ke kantor.


Masalah pekerjaan sekarang bukanlah keutamaan baginya sekarang. 'sungguhkah aku tengah berusaha untuk mendekat dengan gadis itu?' pendirian yang plin plan menjalar dalam dirinya.


Berulang kali hal itu di singgirkan namun tetap muncul saja. Keprofesionalan dalam berkerja sama sekali tidak ada lagi dalam dirinya sekarang. Menghela napas panjang sesekali, lalu memalingkan wajahnya ke arah pintu di saat kenop pintu terbuka.


David asisten pribadinya muncul "tuan, sebentar lagi akan ada pertemuan kolega di luar kota, Cianjur. Hal mengenai kelanjutan pengembangan sistem peluncuran alat alat berat bagian konstruksi bangunan. Tuan sebagai direktur utama yang cukup berpengaruh di harapkan untuk hadir oleh keloge lain...." mulut David tak berhenti untuk membacakan setiap schedule untuknya.


"Itu saja jadwal yang harus tuan hadiri pagi ini" Vano memutarkan dirinya di atas kursi tempatnya duduk. Dengan tangan memegang ujung dasinya.


"Apakah pertemuan di luar kota (Cianjur) akan cepat selesai?" Lalu berdiri dan memakai jasnya.

__ADS_1


Terlihat keraguan sedikit ketika David mengiyakannya "emmm iya tuan"


Senyum sumringah di lemparkan oleh Vano kepadanya. Jelas itu bukan senyum smirk yang di buat buat oleh bosnya itu.


David memiringkan kepalanya ke samping 90° lalu kembali membacakan jadwal yang di lakukan Vano selanjutnya. Kebingungan dan heran bercampur baur melihat sifat dan tingkah bosnya berubah seketika.


Selesai membaca jadwalnya, David mengundurkan diri untuk keluar menyiapkan mobil serta mengurus apa saja yang di perlukan oleh bosnya nanti sesuai dengan jadwal.


'apa yang terjadi? Saya bukan sedang menyaksikan sebuah drama di televisi kan? Dari laki laki yang bersifat dingin menjadi... Akhh' batin David terus bertanya. Jarang jarang melihat tuan Devano sang Direktur yang dikenal dingin sebelumnya yang tersenyum.


Melanjutkan aktivitas yang tertunda, yaitu lamunan sebelum berangkat. Vano mengambil sikap duduk sambil menutup matanya "Siska..."


Ya, nama itu berulang kali ia sebutkan lagi.


David yang masih belum otomatis melangkahkan kakinya keluar sempatnya mendengar itu 'apa itu alasannya?' lalu melanjutkan langkahnya sambil tergeleng tak menyangka seorang direktur Vano mungkin telah jatuh hati sekarang? Iya siapa yang tau.


✨✨✨


Di dalam apartemen, Siska menguap dan melenguh di atas tempat tidur.


Dia meraba tubuhnya, merasa aneh dengan piyama yang dikenakannya "lho kok ini yang kupakai? Dimana long dress itu? Tangannya menarik leher piyama itu.


Lalu keluar dan mendapati bi Lina yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuknya "eh non... Udah bangun? Ayo makan. Bibi udah siapin sarapan, yang pasti uenakkkk sangat hehehe" sambil terkekeh melakukan gaya selayaknya koki handal.


Siska ikut dengan kekehen melihat tingkah lucu itu. Pertanyaan mengapa dia bisa tidur di kamar apartemen dan baju piyama yang tiba tiba berganti hilang saja.


"Ayo non makan"


"Iya bi, aku juga udah laper banget nih"


Lalu mengambil nasi dalam jumlah ladle besar


"bibi bantu non. Takut tangan non kenapa-napa"


"Emm iya deh bi"


Siska makan dari piringnya dengan lahap. Dia ingat kalau belum makan apa apa dari semalam. Bi Lina sangat senang melihatnya lalu undur diri dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai ART di situ.

__ADS_1


"Iyah bi"


Druk... druk... druk...


Panggilan suara dari Vano masuk, Siska otomatis menoleh ke arah ponselnya. Ini baru pertama kali laki laki itu menelfonnya 'Vano?' menoleh ke depan dan memejamkan mata sebentar 'ngapain dia telfon telfon? Sungguh laki laki sama sekali tidak jelas' batinnya begitu.


Membiarkan panggilan itu terus menerus, Siska sama sekali tidak ada niat untuk menjawabnya. Dia malah tengah asyik menikmati sarapannya, lalu pergi ke ruang tengah meninggalkan dapur. Di sana kebiasaannya selama lebih seminggu berada dalam apartemen adalah menonton serial drama kesayangannya.


Oh dia benar meninggalkan ponselnya di atas meja makan tanpa memberikan mode silent terlebih dahulu.


Bi Lina yang dari tadi merasa kupingnya terganggu dengan dering ponsel itu, keluar dari kamar setelah siap siap bersih mencari asal bunyi itu dimana.


"non... non... no Siska, ponselnya non" memberikannya kepada pemilik ponsel itu.


Dengan terpaksa Siska mengeluarkan tangannya untuk menerimanya, dengan mata yang masih tak terlepas dari layar televisi


"mmmm... mana bi, cepetan"


Buru buru memberikannya "non..."


"Iya bi, apaan? Aku lagi nonton. Please jangan di ganggu dulu"


"Iya non, tapi tuan Vano sedang menelfon non... Masa di biarkan gitu aja" lalu pergi begitu saja buat melanjutkan pekerjaannya.


Siska membatin 'ah masa bodoh!' melemparkan ponselnya ke sisi sofa lain dan memperbaiki tempat duduknya di atas sofa lalu berbaring. Sebegitu bagusnya serial televisi itu? Hehehe


Bersambung...


✨✨✨


Dear readers semua🖤


Hari ini, author telah membuat eps baru di novel ini.


thanks buat like yang banyakkk


dan terimakasih juga buat para readers yang mau menjadi view di novelku ini, Love you all🖤

__ADS_1


~please komen, like, dan votenya ya!!!


__ADS_2