Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 2 : Tempat Asing


__ADS_3

Di atas tempat tidur, Siska masih terbuai tidur karena dia terlalu mabuk semalam. Dia tidak tau kalau ini udah pagi, jam sudah menunjukkan 07:05.


Pelan-pelan dia tersadar dan bangun mencoba membuka matanya yang susah untuk di buka. Matanya menerawang kemana-mana, dia memandangi setiap sudut tempat yang besar itu dengan menyidik


"Aku... A..aku dimana sekarang?" Desisnya dalam hati ketika sudah tersadar bahwa dia berada di tempat asing, yang tidak familiar dan tidak dia kenal. Pelan-pelan dia membuka selimut yang menyelimuti tubuh kecilnya itu hingga dia berhasil berdiri di tepi tempat tidur.


Dia melihat dirinya di atas pantulan cermin besar yang ada di kamar itu, dia memandang jijik dirinya, dengan bau tak sedap yang menyengat. Matanya mencari kamar mandi berniat untuk membersihkan dirinya hingga beberapa detik kemudian kedua bola matanya menangkap pintu kamar mandi


"Mau kemana?"


Suara lantang yang terdengar dari belakang Siska mengagetkan Siska apalagi itu jelas-jelas suara seorang laki-laki. Dengan cepat Siska membalikkan diri mendapati laki-laki dengan paras wajah yang dapat membuat Siska meleleh di tempat, tapi Siska dengan cepat menyadari hal itu.


Sebisa mungkin dia menampilkan tampang yang ok di depan laki-laki itu yang ternyata itu adalah Vano.


"Hei girl, jawab aku. Kau mau kemana hah?"


"Aku... Ak..aku tidak kemana-mana" jawab Siska terbata-bata "kamu siapa, kenapa... kenapa aku bisa ada di sini?"


"Kamu masih bertanya dengan ku hah? Atas apa yang kamu lakukan terhadapku semalam"


"Hmmm apa? Lakuin apa?"


"Masih bertanya?"


Siska tidak bertanya dan memilih untuk diam dan mencoba mengingat apa yang dia lakukan semalam


"Samalammm...."


Siska memutar otaknya dengan penuh usaha, dia mengingat bahwa dia mabuk berat setelah keluar dari kelab hingga bertemu dengan seseorang "seseorang?" Desisnya dalam hati, apakah ini orang yang membawanya ke tempat ini? Apakah ini rumahnya atau apartemennya? Ouh Siska melewatkan untuk mengingat momen dimana dia dengan asyiknya memainkan tangannya semena-mena di atas dada bidang milik Vano lalu muntah di baju laki-laki itu.


"Hei, apakah kau yang membawaku ke sini?!" Dengan nada yang tinggi, Siska melontarkan kata-katanya


"Apa... Apa yang kamu lakukan denganku?!" ucapannya lagi asal sambil menutupi bagian atas dirinya dengan kedua tangan kecilnya. Otaknya traveling kemana-mana berharap tidak ada sesuatu terjadi kepadanya, lebih-lebih jika laki-laki itu... Akhh semoga saja tidak.


"Hei gadis! Kamu jangan berpikir aneh-aneh tentang aku. Aku tidak mengapa-ngapa kan tubuhmu!" Hardik Vano tak terima di tuduh yang bukan bukan.


Lama berdebat, keduanya akhirnya sama-sama diam setelah menyadari keberadaan David, asisten pribadinya Vano.


"Kapan kamu sampai? Kenapa tidak mengetok terlebih dahulu sebelum masuk?!"


"Maaf maaf pak, saya bukan bermaksud..."


"Sudah-sudah, ayo berangkat sekarang"


"Baik pak" David menurut saja dengan apa yang Vano perintahkan kepadanya, walau baginya terkesan aneh baru pertama kali melihat atasannya itu membawa seorang gadis di dalam apartemennya.


"Hei! Aku bagaimana? Ini tempat apa? Rumahmu atau apartemen milikmu hah?"


"Kamu boleh keluar saja, tapi ingat... Aku tidak mengapa-ngapakan kamu jadi..." Vano mengehentikan kata-katanya sejenak lalu menatap David, David mengerti apa maksudnya lalu sesegera keluar dari kamar itu.


"Apa hah?"


"Pokoknya keluar dari sini!"


"Huh tanpa kamu suruh, aku akan keluar baj*ngan!!!"


"Berani-beraninya kamu memaki seorang Vano" tak terima dengan makian Siska, Vano menangkap bahu gadis itu berniat untuk menyingkirkannya di hadapannya. Tapi, cup...

__ADS_1


Keduanya terjatuh di atas tempat tidur, tubuh Siska yang lemah tak kuasa menahan hentakan tangan Vano di bahunya, sekilas bibir keduanya bersentuhan.


DEG!


Ciuman pertama untuk keduanya "Oh my God! My first kiss" desis Siska dalam hati, lalu berusaha untuk melepaskan dirinya dari tubuh Vano. Vano dengan spontan menjauhkan mukanya dan tubuhnya dari Siska, akhh dia mengutuk dirinya sendiri. Itu juga adalah ciuman pertamanya, tapi kenapa harus dengan gadis ini?


"Tuan? Kita berangkat sekarang, kita akan telat nanti, hari ini kita kedatangan klien dari perusahaan X GRUP"


"Baik, tunggu aku di mobil" Vano memberi aba-aba kepada David yang juga tiba-tiba nongol dari balik pintu untuk menunggunya di mobil saja.


"Kamu keluar dari sini"


"Aku juga ogahan berada di sini" Siska berdiri lalu pergi dari tempat itu, yang dianggapnya neraka sehari dalam hidupnya


"Hei, kamu melupakan tas mu!"


Dia tidak peduli dengan Vano yang memanggilnya, sekarang dia hanya perlu untuk cepat-cepat keluar dari gedung itu yang jelas itu memang sebuah apartemen.


Vano mengutuk dirinya lagi untuk kesekian kalinya menghadapi gadis itu. Dia menyesali telah membawa Siska ke apartemennya, seharusnya dia membiarkan gadis itu pingsan di jalanan.


✨✨✨


Dengan mengendap-endap, Siska masuk ke dalam rumah berharap dia tidak ketahuan dengan momynya apalagi Dadynya "God? Semoga saja mommy dan dady tidak di rumah"


Sebelum mencapai daun pintu kamarnya yang hanya beberapa meter lagi jaraknya dari tempat dia berdiri, sebuah tangan memegangi pundaknya dari belakang


"Non..." Siska sontak kaget mau mati rasanya. Akhh ternyata bibi Ira. (Maaf sedikit ngasih tau, bi Ira adalah seorang kepala ART di rumah Siska yang merupakan orang yang mengatur segala kebutuhan majikannya sekaligus orang paling terpercaya di rumah itu di antara pekerja lainnya).


"Ahh bibi"


"Non ngapain mengendap-endap jalannya?"


"Tuan dan nyonya sedang tidak di rumah sekarang non"


Siska mengelus dadanya, setidaknya dia bisa tenang sekarang.


"Kenapa bibi di sini?"


"Ahh tadi bibi mau ke kamar non Siska"


"Ngapain?"


"Kukira non Siska masih belum bangun, bibi udah siapakan sarapan untuk non"


Siska mengangguk saja dan langsung ke kamarnya. Dengan sesegera dia membersihkan dirinya yang dari tadi baunya tidak sedap.


"Non Siska sarapan nanti"


"Heee'emmm ok bibi"


✨✨✨


"Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang mana pun, salah satu cabang kedepan akan kami usahakan semaksimal mungkin mencapai titik hasil yang bagus bla bla bla...." Vano mempresentasikan beberapa proyek dari perusahaan ANGKARA GRUP di depan layar monitor dengan gaya yang efesien sesuai dengan sifatnya, untuk menarik minat klien dari perusahaan X GRUP untuk bekerjasama. Klien bertepuk tangan mengagumi Vano direktur utama perusahaan tersebut "bravo" hasil presentasi yang Vano lakukan sangat memuaskan.


"Saya sebagai Direktur utama ANGKARA GRUP, mohon untuk kerja sama yang baik" lalu keduanya mejabat tangan masing-masing untuk setuju melanjutkan proyek pembukaan cabang baru di bidang perindustrian.


~

__ADS_1


Drukk....drukk....


Dalam deringan kedua, Vano mengangkat telfonnya melihat nama ayahnya di layar handphonenya


"Yah ayah?"


"Bagaimana dengan perusahaan nak, apakah kamu masih di sibukkan dengan pekerjaanmu?"


"Oh tidak yah, barusan Vano meeting dengan klien"


Lama bercakap-cakap tentang perusahaan, akhirnya ayah Vano langsung sampai pada inti mengapa dia menelfon Vano


"Nak, apakah kamu punya waktu luang sebentar?"


"Ya ayah, tentu"


"Baiklah, kita ketemu di luar saja. Ayah mau membicarakan hal yang serius denganmu. Nanti ayah akan kirimkan alamatnya denganmu. Oia, mama juga akan gabung dengan kita"


Vano menutup telfon setalah mendengar kata terakhir dari ayahnya. Selang menit selanjutnya dia menerima pesan dari ayahnya. Mereka akan ketemu di restoran CC yang hanya 15 menit bagi Vano untuk sampai ke tempat itu. Selagi ini juga mau siang, sekalian saja Vano akan menyelesaikan makan siangnya saja.


✨✨✨


Sekeluarga itu makan bersama, jarang-jarang Vano mempunyai waktu luang karna di sibukkan dengan pekerjaannya.


"Udah lama banget kan sayang?"


"Emm iya mah" Vano mengangguk


Ketiganya bercengkerama ria membahas kehidupan masing-masing yang mereka miliki.


"Oia yah, ayah tadi mau bicara apa sama Vano. Kok keliatan serius banget"


"Bentar dulu sayang, kita menunggu seseorang dulu" balas mama sambil menantikan kedatangan seseorang, sedangkan papa diam saja


"Nah itu dia, orang yang kita tunggu akhirnya datang juga"


"Hai Jenita" sambil cipika cipiki, kedua wanita paruh baya itu antusias dengan pertemuan keluarga yang mereka adakan


"Kamu lagi! Hei kenapa sih kau selalu ada dimana-mana" ucap Siska tiba-tiba melihat Vano tepat di depannya.


"Loh emang udah saling kenal?"


"Dia ini mom, orang..." Kata-kata Siska terhenti dan memilih untuk membungkam mulutnya dari kejadian yang tidak mau dia ingat bersama laki-laki itu.


"Kalian kenal dimana sayang, kok kenal Vano?"


"No no no Siska ga kenal dia"


"Hei gadis, kau pergi dari sini saja. Jangan buat ulah lagi" ucap Vano tiba-tiba


"Vano? Ga baik loh kayak gitu dengan Siska"


"Tapi ngapain dia kesini mah?"


"Mom? Dad? Ini sebenarnya apa sih?"


"Siska, ini dia Vano. Yang akan di jodohkan denganmu" respon mommy nya Siska lembut tanpa tau konflik yang terjadi antara Vano dan anaknya itu.

__ADS_1


"Whattt!" Ucap Siska dengan nada tinggi, dia merasa lebih baik mati dari pada menerima perjodohan itu apalagi dengan Vano si laki-laki brengsek itu.


__ADS_2