Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 23 : Drama Pagi Pagi Buta


__ADS_3

Huah ... huah ... huah...


Siska mengerjap sambil mendesah dengan nafas yang tidak beraturan sesudah terjaga dari tidur panjangnya semalaman.


Pagi ini, rasa itu tiba tiba saja datang. Dengan menopang dagunya dengan kedua kakinya yang sengaja di tekuk.


Mengingat apa yang barusan terjadi semalam 'pengakuan cinta untukku ...' tersenyum cumbu, jelas pipinya merona saat itu. Lho kok jadi begitu? Apa yang sedang ia rasakan saat itu. Bukannya telah menolak pengakuan cinta itu? Kembali mendongak kan kepalanya ke dalam tengkukan kedua tangannya.


'apa dia sudah pulang semalam?' Siska tidak tahu apakah Vano sudah pulang dan kembali ke apartemen atau belum.


Dia begitu langsung tidur saja semalam, berencana agar tidak melihat wajah laki laki itu. Tapi pagi ini, dia begitu ingin melihatnya ahhh... Siska mencubit pipinya dan membuatnya sakit sendirian.


Keinginan untuk mencari tahu apakah Vano sudah ada di kamarnya atau belum tidak bisa ia urungkan atau pun di tolak oleh bibirnya. Batinnya terus memaksanya untuk melihat apa yang sedang laki laki itu lakukan sekarang.


'apakah dia sudah bangun?' mengendap endap dan berhati hati, kakinya mulai berjalan menuju ke arah kamar Vano.


Pintu terkunci, mungkin dia menguncinya dari dalam. Pelan pelan mendorong dan menarik ke bawah kenop pintu itu hati hati. clekk... terbuka...


'pintunya tidak terkunci' mendongak kan kepalanya ke dalam dengan hati hati 'dia tidak ada di dalam' mematung, tidak mendapatkan tanda tanda kehidupan dari dalam kamar itu


"Dia ada di mana?" Ucap Siska kembali menutup kenop pintu lalu berbalik arah pandangan "mungkin dia sedang mandi?" Siska tak yakin, dia sama sekali tidak mendengar keran air yang di hidupkan atau pun gemuruh air dari dalam sana.


'ckkk' sedikit linglung dengan suasana. Pikirannya terus menerus menanyakan di mana ada laki laki itu. Apakah mungkin dia tidak pulang semalam? dan ... dan tidur di ruangan kantornya.


Hikss... semakin bersalah dengan Vano telah membuat laki laki itu frustasi dengan caranya menolak pernyataan cintanya. Siska berjalan sambil menunduk kan kepala, terus berjalan .... dan terus berjalan...


"Awww" memegang kepalanya yang sedikit sakit, dia menabrak sesuatu.


Hupp....


Spontan menyeka wajahnya yang tidak berantakan berulang kali.


OMG! Dia menabrak laki laki itu, Vano. "Maaf tidak sengaja" kembali menurunkan kepalanya, menunduk.


"Kamu habis ngapain? Kok sepertinya berjalan dari arah kamarku hmm?"


Siska kembali mengerjap dan berusaha menatap Vano 'kenapa dia bisa tahu aku barusan melihat dalam kamarnya?'


"Enggak ... Tadi, aku cuma cuma ..."


"Cuma apa?" Tanya Vano lagi yang tiba tiba saja pulang pagi ini.


"Aku cuma mau mengambil air untuk ku minum" jawab Siska bla bla kan


Terkekeh geli "benarkah kamu mengambil air? dari dalam kamarku? hmm?"


'astaga Siska!! Kamu membuat dirimu dalam masalah' baru menyadari alasan itu tidak masuk akal. Dapur sama kamar Vano kan berlawanan arah, seharusnya untuk ke dapur harus berjalan menuju ke sisi kiri.

__ADS_1


Meremas lengannya yang sepertinya hampir sembuh. Alasan apa lagi yang harus dia pakai? Pagi pagi begini harus ber akting demi sebuah drama ke pura puraan. Payah!


"Iyah... itu, tadinya kan aku mau ambil air, tapi tiba tiba lengan ku sakit karena tersenggol benda ini" menunjuk ke arah bawah, sebuah pot bunga yang masih tetap berada di tempatnya. Bahkan tidak bergeser sedikit pun.


Huhuhu sama sekali tidak berbakat dalam ber akting. Vano sudah tahu jika gadis itu sedang mencari banyak alasan, dia tahu kalau gadis itu memang dari arah kamarnya dan melihat dalam kamarnya tadi. Tapi malah banyak dalih dan tidak mengakuinya saja.


"Jadi, aku mau mencari kotak P3K ..."


"sudah siap aktingnya?" Terkekeh, Vano menatap Siska lebih menyidik, seketika Siska beringsut dan ingin pergi meninggalkan tempat itu sekarang.


"Jangan kemana mana dulu, jawab pertanyaan ku" Vano menahan pundaknya cepat.


"Aku tidak mengerti maksud pertanyaan mu. Lepaskan aku!"


"Apa kamu sudah memutuskannya?"


"Tentang apa?"


"Untuk menarik kembali kata katamu yang semalam. Dan ..."


"Lepaskan aku! Jangan katakan yang tidak tidak"


Vano mencoba lebih mendekat dan berbisik "kau mulai menyukai ku? Katakan saja"


Urghhh...


Dan kini keduanya sama sama berada dalam posisi yang sangat berdekatan, bahkan tubuh Siska sedang terlentang di atas dengkapan dada bidang Vano.


DEG!


'apa yang aku lakukan?' buru buru berdiri, tapi Vano lebih erat menahan pundaknya bahkan membawanya ke dalam rangkulannya dan memeluknya.


"Lepaskan ... Lepaskan brengs*k!!"


"Lima menit saja sayang, aku suka dengan posisi seperti ini"


Siska melototkan matanya "laki laki mesum" cihh! Berusaha melepaskan pelukan Vano


"lepaskan aku"


Terus meronta agar di lepaskan, Siska menyerah. Dia kini menelan ludah selavinya dalam dalam. 'hanya kali ini, awas saja kalau kau akan melakukannya lagi' lirihnya dalam hati.


Tetap berada di posisi seperti itu. Keduanya tidak tersadar kalau bi Lina sudah berdiri tak jauh dari tempat mereka melakukan hal itu, yaa berpelukan.. hehehe


Tersadar akan hal itu, Siska langsung berdiri dan mencoba melepaskan rangkulan erat Vano pada pinggangnya.


"Lima menit lagi belum siap..." Rengek Vano yang masih tidak tersadar akan keberadaan bi Lina. Wanita paruh baya itu geleng geleng dan tersenyum. Entah apa maksud senyum itu. Lalu meninggalkan keduanya segera beringsut ke dapur.

__ADS_1


"Bi Lina melihat kita!"


"Apa? Dimana? Dia dimana?" Vano melepaskan tangannya dari pinggang Siska dan mengambil sikap duduk di atas sofa.


"Terlambat! Dia sudah pergi ke dapur" Siska beranjak menjauh darinya. Segera pergi ke dapur menemui bi Lina, entah apa yang harus dia bilang kepada wanita itu agar dia tidak salah paham dengan kejadian tadi.


Sebaliknya. Vano malah diam dengan senyum sumringah nya "tidak sia sia aku memegang pundaknya"


Ring ring ring ....


Panggilan masuk dari ponselnya tiba tiba. David?


"Iya David ada apa?"


"Tuan, meeting dengan karyawan perusahaan akan segera di mulai"


"Baiklah. Saya akan segera bersiap"


"Aku akan menjemputmu tuan"


"Tidak usah, hari ini dan seterusnya saya akan tetap menyetir sendiri. Terkecuali jika aku benar benar tidak bisa melakukannya"


"Tapi tuan itu ad..."


"Jangan menyela" titah Vano kembali dengan sifat dinginnya


"Baik tuan" panggilan pun di akhiri


Vano beranjak dan pergi ke kamar mandi membersihkan dirinya, mengganti pakaiannya dengan setelan jas yang baru.


Lalu segera bersiap pergi lagi ke kantor setelah siap sarapan pagi dengan Siska.


Matanya dan bibirnya terus menerus mencurahkan senyuman di hadapannya. seolah tidak memperdulikan bahwa gadis itu telah pernah menolak pernyataan cintanya.


✨✨✨


Bersambung...


Hai readers semua😙


author ingin sekali berkenalan dengan kalian.


WA : 082223899587💌


.


.

__ADS_1


__ADS_2