
"Bi... bibi..?" Siska mencari cari keberadaan bi Lina 'dimana sih dia? Huffff' lalu berjalan menyusuri anak tangga satu per satu untuk ke lantai bawah "bibi.... bi Lina? bi... bibi?" Terus menerus memanggil nama itu.
Merasa tidak ada yang menyahut, Siska menyerah untuk mencarinya lagi dan lebih memilih untuk diam dan duduk. Menyandarkan tubuhnya di atas sofa, terus rebahan. Niat untuk menonton drama televisi favorit, untuk yang sekarang hilang begitu saja. Pikiran gadis itu melayang entah kemana. Memejamkan mata beberapa detik 'Vano'
Tiba tiba saja, wajah itu lagi muncul dan menyerang ketenangannya pagi ini 'kenapa sikapnya ke aku bisa tiba tiba perhatian gitu sih? Lain pas awal ketemu' sambil menggaruk kepala lalu kembali menelungkupkan kepalanya di sela sela pembatas sofa itu "what happen?!
Kenapa aku harus terus menerus memikirkan si gila itu. Akhhh Siska... Siska... Kamu bodoh!"
Aduh... Siska, kenapa begitu lama peka dengan cara Vano memperlakukanmu sihðŸ˜
Terus begitu saja dan berlangsung lama "Emm bi Lina dimana sih? Apa dia keluar hari ini?" Lalu berdiri dari atas sofa. Memegang perutnya yang dari tadi terus menerus ingin di isi oleh makanan.
Pagi ini dia belum makan apa apa.
Kakinya membawanya ke dapur, tapi tidak mendapati makanan yang biasa dia makan. Tersisa tinggal sedikit lagi roti sendwichnya 'pasti ini sisa makanan mas Vano' gumamnya begitu saja.
Siska... sejak kapan kamu
memanggil tuan Vano dengan sebutan mas? Benci sih benci, tapi kenapa selalu ke over thingking dengan dia huaaa....
Dengan tak sabaran, Siska meraih ponselnya dan akan memesan makanan online, delivery makanan "Emm aku mesan apa ya? Kfc chicken plus saos, terus aku mau minuman bersoda aja deh, kira kira apa... Emm yaudah, aku pilih ini aja deh" mulutnya masih terbuka lebar untuk mengucapkan satu persatu makanan yang akan di pesannya.
Ting ting ting....
Sepertinya apartemen memiliki tamu sepagi ini "siapa sih? mungkin bi Lina?" lalu berjalan dan membukakan pintu.
"Selamat pagi, dengan nona Siska?" Siska mengangguk "ini ada paket kiriman makanan. selamat menikmati nona"
Siska menarik matanya yang sebelah, dan kebingungan "eh mas, aku ga mesan apa apa loh sama mas"
__ADS_1
"Ini di ambil ya mbak, lagian ini juga sudah di bayar" tidak ada pilihan, Siska akhirnya menerimanya saja "baiklah akan aku terima, makasih mas" lalu kembali menutup pintu apartemen.
'apa yang harus aku lakukan dengan makanan ini? Aku tidak mau memakannya'
ihw! Siska kembali menghempas tubuhnya di atas sofa sambil menunggu makanan lain datang, dia sungguh tidak makan makanan itu.
✨✨✨
Seperti biasa Vano akan berada di tempat duduknya, sambil duduk dengan pikiran yang melayang layang kepada gadis itu, Siska
'sudahkah dia memakan makanan itu?' Vano telah mengirimkan kurir makanan untuk mengirimkan makanan ke dalam apartemennya.
Masakan chef yang profesional di bayarnya ratusan juta rupiah hanya untuk mendapatkannya.
Dengan berharap penuh, gadis itu pasti telah memakannya "hehehe puas" tak di sadarinya, David yang tengah mematung di sampingnya yang bersiap untuk membacakan jadwal yang akan mereka lakukan hari ini, menatap aneh bosnya itu, Vano.
"Maaf sebelumnya tuan, tapi apa tuan baik baik saja?" Sontak Vano terkejut dengan keberadaan itu "ahh David! Kenapa bisa masuk sembarangan!"
Menggaruk terus kepalanya yang tak gatal sembari memperbaiki sisi setiap rambutnya yang memang sudah rapi, Vano malu sedikit tertangkap tidak profesional selama bekerja dalam kantor.
'tuan benar benar sedang mengalami sydrom cinta' David terkekeh sedikit "apaan? Kenapa senyum senyum hah! Keluar cepat"
"Tapi tuan, jadwalnya..."
"Cancel semua jadwal pagi ini. Saya hanya punya waktu sore hari. Jadi, atur saja schedule sore hari"
"Baik tuan" lalu dengan segera keluar, menghadapi sikap bosnya yang tidak sewajarnya akhir akhir cukup membuatnya agak susah. Kadang lembut dan friendly, tapi sang asisten David akan sempat ngeri jika tiba tiba saja karakter seorang direktur dingin dan angkuh muncul. Yang sabar ya David.... (*Author ngasih semangat ke David yeeee)
✨✨✨
__ADS_1
Di dalam bangunan yang berbeda juga, Rafael duduk di atas kursi kerjanya, kursi yang hanya di duduki oleh orang paling tertinggi jabatan saja di perusahaan itu. Yaa seorang direktur RK GRUP.
Keinginan untuk ingin bertemu dengan gadis itu 'akankah ia mendatangi kelab malam ini?' berharap begitu. Dua hari tidak saling bertemu membuatnya untuk segera bertemu dengan gadis itu lagi, Siska.
Membuat senyum yang lebar lebar, terpampang jelas di matanya, Rafael pasti sedang mencoba untuk dekat dengan gadis itu. Mengingini kedekatan yang lebih dari sekedar teman. Jika seperti begitu, dia menyukai Siska? Apakah begitu? Entalah, terlalu cepat jika dia suka dengan gadis itu. Hanya butuh dua hari saja setelah mengenal dan mengetahui nama Siska, bisa bisanya Rafael suka dengannya.
Tangan kanannya reflek tiba tiba meninju tumpukan kertas di atas mejanya membiarkannya berceceran berserakan di lantai "mengapa aku lupa mengambil dan meminta kontaknya? Kemana otak cerdas ku saat itu. Akhhh!!!"
Asisten pribadi sang tuan Rafael masuk mendengar atasannya itu seperti sedang mengalami kesulitan.
"Tuan.. maaf mengganggu. Tapi apa ada yang bisa saya... saya bantu?" Dengan terbata menanyakan itu kepada bosnya.
"Siapa yang menyuruhmu masuk!"
Melemparkan sebuah surat yang sengaja di remaskan ke arah asisten pribadinya itu "beraninya kamu masuk tanpa ijin dariku"
"Mohon beribu ampun tuan, maafkan saya. Saya akan segera keluar" buru buru kembali menutup rapat rapat pintu.
Menghadapi sikap Rafael yang seperti ini, sudah puluhan asisten pribadinya yang telah mengundurkan diri. Dan paling lama bertahan cuma seminggu dua minggu, setelahnya akan berganti lagi dengan orang yang berbeda. Benar benar pemimpin yang buruk!
Berdiri dengan kedua tangan dipasangkan di pinggang, huffff... Rafael mengeluarkan nafas beratnya. Lalu mengambil posisi duduk di atas meja dengan menarik tutup buka beranda ponsel.
'aku harus mendapatkan nomor kontak gadis itu, bagaimana pun! Harus' rasa buat bertemu dengan gadis itu kini telah membabi buta dalam dirinya.
✨✨✨
Bersambung...
Happy reading~
__ADS_1
.