
Mau tidak mau Vano dan Siska harus menerima perjodohan yang sangat tidak di inginkan itu. Dengan berat hati dan rasa penuh sesal mengiyakan perjodohan itu.
Vano juga sebenarnya agak terasa risih dengan hal itu, dia akan menerima wanita lain apa adanya dari pada menikah dengan gadis itu akhhh Vano tidak mau menyebutkan namanya. Vano tidak bisa menolak sesuka hatinya, ayahnya pasti akan memaksa dia paling tidak, kalo dia tidak mau ayahnya mengancam akan menarik seluruh saham yang sepenuhnya masih bukan miliknya itu.
✨✨✨
Seminggu setelah pertemuan itu, kini Vano dan Siska akan benar-benar bertunangan. Acara yang di gelar di sebuah hotel mewah dengan dekorasi yang indah dengan ratusan mata orang yang menyaksikan. Mengingat keduanya sama-sama berasal dari keluarga terpandang tak heran jika undangannya adalah orang-orang ternama.
~
"Hei gadis?"
"hmmm"
"Ingat, ini bukan benar-benar. Aku tidak pernah mau bertunangan denganmu"
"Hahaha hallo... Yang mau benar-benar bertunangan denganmu juga siapa hah?"
Entah berapa lama keduanya sama-sama membela diri masing-masing di dalam ruangan yang besar itu (kamar ganti) setelah acara pertunangan itu selesai.
Pasangan baru itu terlihat tidak akrab satu sama lain, Vano tetap lah Vano yang dingin begitu lah dengan Siska yang sifatnya mudah akrab tetapi tidak untuk laki-laki yang satu ini.
Kedua orangtua masing-masing pasangan itu agak kewalahan sedikit untuk merujukkan anak-anak mereka. Entah masalah sesuatu apa yang terjadi di antara keduanya sebelumnya, hingga benar-benar begitu membenci dan tidak suka dengan diri pasangannya.
✨✨✨
"Sayang, mulai hari ini kamu dan Vano akan tinggal bersama, mommy dan Dady akan menyuruh bi Ira nanti untuk kemas barang-barang mu"
"Mom...!" Ucap Siska membelalakkan kedua bola matanya tidak setuju dengan apa yang mommy nya katakan
"Tidak ada tapi-tapian, kamu harus tinggal dengan Vano"
"Tapi Siska ga mau Vano mom"
"Makanya nurut"
"Siska? Kamu harus nurut dengan yang mommy bilang, ini juga keputusan Dady loh" limpah dadynya
"Pokoknya Siska enggak mau titik!"
"Sayang, kalian udah bertunangan. Kapan waktunya kalian akan rujuk kalau begini terus" tambah mommy lagi dengan nada bahasa lembutnya
"Tapi Siska ga mau mom"
Banyak perdebatan yang memenuhi ruangan besar itu, tempat dimana keluarga Duckwill akan selalu berkumpul di waktu luang seperti halnya di detik ini. Siska tidak bisa berkutik selain hanya menurut saja. Semua barang telah di kemas, Dady nya telah terlebih dahulu menyewa jasa seseorang untuk mengantarkan barang keperluan Siska ke apartemen milik Vano selama Siska berada di sana.
__ADS_1
Hei, apa aku gadis bodoh? Oh God... Kenapa harus memberikan hidup yang tidak adil untukku. Aku akan merasa mati jika setiap saat melihat wajahnya, apalagi tinggal di tempat yang satu atap dengan dia argghhhh! Benar-benar aku tidak menginginkan hal itu.
Dengan berat hati Siska melangkahkan kakinya keluar dan berpindah di apartemennya Vano.
✨✨✨
Vano menatap semua sudut apartemennya yang agak berubah itu. Kenapa ada begitu banyak barang di sini? Dia menatap David asistennya itu seakan bertanya, David menggelengkan kepalanya saja.
"Kamu boleh pergi sekarang"
"Baik tuan"
Vano mengibaskan salah satu tangannya ke arah David memperbolehkan dia pulang.
Tanpa tidak peduli, Vano berjalan menuju kamarnya berniat untuk segera membersihkan badannya yang penuh keringat setelah seharian penuh bekerja lalu tidur tanpa melirik apa pun setelahnya.
"Arkhhhhh dad, mom... Siska benci kalian bla bla bla...."
Vano langsung membuka matanya mendengar seseorang berucap, makin mengejutkan dia merasa tubuhnya di peluk dari belakang. Dia segera membalikkan tubuhnya dan mendapatkan wajah gadis yang tidak ingin dilihatnya itu. Dia menghempaskan tubuh gadis itu hingga menjauh dari tubuhnya, tapi tangan Siska terlalu kuat memeluk erat pinggangnya.
"Hei! Woke up! Hei gadis kenapa kau ada di sini?" Vano berusaha membangunkan Siska, bau alkohol yang menyengat tercium dari nafasnya "arkhh jangan lagi!! Hei gadis sadar"
"Aku membencimu Vano. Vano Putra Angkara!!!" Ucap Siska asal karena mabuk di bawah pengaruh alkohol. Oh no dia meracau lagi.
Emmmm hoeekkk...
"Ahh jangan lagi! Hei bangun!" Vano berusaha melepaskan tangannya hingga Siska setengah sadar bangun dan langsung berdiri menuju kamar mandi. Untung saja dia tidak muntah di atas tubuh Vano lagi
Hoeekkk hoeekkk
Siska memuntahkan seluruh isi perutnya di atas wastafel kamar mandi. Setelah agak lama dia keluar dan mendapati Vano, wajah Vano benar-benar buruk. "Apa aku membuat kesalahan lagi?" Desis Siska dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya, merasa malu dengan perlakuannya terhadap Vano. Kebiasaan yang satunya ini tidak bisa dia ubah, dia ingat kalau dia pergi ke kelab sebelum dia sampai di apartemennya Vano. Akhh Siska, benar-benar memalukan bukan?
Keduanya duduk di atas sofa ruang tamu yang berhadapan dengan layar televisi lebar. Pemilik mulut keduanya bungkam dan diam seribu bahasa dan sama-sama menatap satu sama lain dengan penuh menyidik. Sesekali Siska menoleh ke sisi lain dengan kondisi tubuhnya yang masih tak karuan karena pengaruh alkohol, sebisa mungkin dia harus sadar sepenuhnya.
"Emmm aku... Ak..aku..."
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" ucap Vano cepat, dia merasa agak risih dengan kata-kata Siska yang terlalu basa-basi
"Aku..."
"Hei gadis bodoh aku sedang bertanya!"
"Aku bukan gadis bodoh!!! Aku punya nama!"
"So?"
__ADS_1
"Panggil aku dengan namaku bukan dengan gadis bodoh"
Vano menggertak, baru kali ini menemukan gadis yang berani mengkritik ucapannya
Ehhmmmm Vano mendesahkan nafasnya kuat karna mulai muak dengan tingkah Siska
"kenapa kamu bisa ada di sini?" Tanyanya sekali lagi dengan nada suara yang tidak buruk
"Aku akan tinggal di sini"
"Apa?!"
"Itu keputusan mommy dan Dadynya ku, aku akan bakal ogahan tinggal di sini kalo bukan permintaan mereka"
"Apa kau gila mengiyakan hal itu?! Hah!"
"Aku juga tidak mau, melihat wajahmu saja aku muak"
Setalah lama cukup berdebat antara siapa yang salah dan yang benar. Akhirnya mereka sepakat akan tinggal bersama, tetapi dengan beberapa syarat yang di tentukan oleh Vano
"Itu tidak adil"
"Harusnya kamu berterima kasih karna aku sudah mengijinkan kamu tinggal di sini
"Hanya orang bodoh yang akan mau berterimakasih dengan mu!"
"Hei gadis, tolong kontrol kata-katamu"
"Aku akan setuju jika aku menambahkan satu poin lagi di surat kontrak perjanjiannya. Gimana...?"
Vano mengangguk saja untuk setuju dengan apa yang Siska bilang "baiklah"
*SURAT KONTRAK PERJANJIAN*
Selama tinggal dalam apartemen satu atap, ada beberapa aturan yang akan berlaku :
1.Tidak boleh melakukan aktivitas sesuka hati di dalam apartemen sebagai pendatang baru kecuali pemilik apartemen mengijinkannya~Devano Putra Angkara
2.Karena masih pendatang baru, semua keperluan tuan pemilik apartemen atas nama 'Devano Putra Angkara' harus di persiapkan semuanya setiap dirinya membutuhkannya~Devano Putra Angkara
3.Selama berada di dalam apartemen, tidak boleh ada kontak fisik (menjaga jarak)~Devano Putra Angkara
4.Di dalam apartemen hanya terdapat satu buah kamar. Maka salah satu harus tidur di sofa ruang tamu (*yang dimaksud di sini adalah Siska)~Devano Putra Angkara
5.Sebagai pemilik apartemen, harus bertoleran dengan pendatang baru dalam apartemen. Dimana pendatang baru akan bebas melakukan aktivitasnya selagi itu bukan di dalam apartemen~Siska Amelia Duckwill
__ADS_1